
Keluarga Ferdian tengah menikmati waktu santainya, menunggu penerbangan mereka menuju Sydney, Australia. Pesawat yang akan membawa mereka menuju ibukota New South Wales itu akan tiba beberapa jam lagi. Ini adalah bagian dari kejutan yang mereka persiapkan untuk bertemu dengan Arsene di Australia. Ferdian merebahkan tubuhnya di atas sofa lounge sambil memperhatikan Finn yang sedang berdiri menyusuri sofa. Sementara itu, Ajeng tengah melihat peta dan buku panduan Kota Sydney. Zaara ikut memperhatikan adik ipar kecilnya yang masih belajar berjalan.
Awalnya memang Zaara saja yang akan berangkat. Tetapi mengingat ini adalah penerbangan pertama gadis itu dan keberangkatannya langsung ke luar negeri, membuat Ajeng memberikan ide brilian, apalagi Arsene tidak jadi pulang ke Indonesia karena tetap ngotot untuk tidak mau menggunakan uang hasil keringatnya. Padahal Ferdian telah membujuknya beberapa kali bahwa tiket kepulangannya akan dibayarkan oleh orangtuanya, tetap saja pemuda itu bergeming dengan keputusannya sendiri. Jadilah mereka memutuskan untuk pergi bersama sekalian berlibur sebentar saja mengisi hari meski hanya satu minggu. Sedangkan Zaara akan tinggal lebih lama di sana seperti rencananya bersama Arsene. Gadis itu akan menemani suaminya selama kurang lebih dalam sebulan ketika perkuliahannya libur.
Sebuah pengumuman terdengar dari mesin pengeras suara. Penumpang menuju Sydney diharapkan segera menaiki pesawat mereka yang berangkat di pagi hari itu. Zaara berjalan dengan tas ransel kecil di punggungnya, sambil menuntun Kirei yang inisiatif memegang tangan kakak iparnya itu. Sementara Rainer berjalan santai di belakang anggota keluarga lainnya. Terpaksa kedua remaja itu, Rainer dan Kirei, izin tidak masuk sekolah selama seminggu penuh.
Zaara duduk di samping jendela, sementara Kirei diapit olehnya dan Rainer. Ajeng, Finn, dan Ferdian berada di kursi depan mereka. Zaara terlihat antusias di penerbangan pertamanya, meskipun rasa gugup melandanya ketika pesawat baru saja menaikkan rodanya dan permukaan tanah tidak terasa lagi. Telinganya berdengung karena tekanan udara di ketinggian. Awan-awan putih dengan bentuk aneh terlihat dari ketinggian pesawatnya yang telah mengudara, yang kadang ia bermain dengan pikirannya sendiri untuk menebak seperti apa rupanya. Guncangan kecil terasa ketika pesawat mulai memasuki ketinggian yang lebih atas, menembus gumpalan awan tipis. Matahari terlihat sangat indah berkilau bagai emas bercahaya. Langit biru yang cerah dan bersih terasa lebih dekat seolah bisa menyentuhnya dari ketinggian ini. Begitu pula dengan hati gadis berhijab itu, kini semakin dekat saja untuk bertemu dengan kekasih hati yang sudah lama dirindukannya.
Sementara itu beberapa jam setelahnya, Arsene harap-harap cemas berdiri di antara orang-orang lain yang menunggu kedatangan sanak saudara atau kerabat. Pria itu sesekali menengok ponselnya. Matahari sudah terlihat berlari ke barat. Harusnya Zaara sudah tiba di sana dan mungkin saja sedang diperiksa di bagian imigrasi. Ia cemas karena dipikirnya Zaara pergi sendiri dan ini adalah pengalaman pertama gadis itu. Ia menekan tombol di ponselnya untuk menghubungi istrinya. Sambungan itu terhubung, berarti Zaara sudah mengaktifkan ponselnya yang juga berarti gadis itu telah tiba di kota paling padat di Australia ini.
“Halo?” sapa suara lembut.
“Kamu udah sampai?” tanya Arsene cemas.
“Iya ini baru keluar dari kantor imigrasi.”
“Alhamdulillah. Aku udah di depan ya!” ucapnya sambil berjalan mondar-mandir di antara para manusia yang berdiri di sana.
“Iya, sayang! Tunggu ya...”
Zaara menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam saku gamisnya. Ajeng menelisik dan mendekati menantunya itu.
“Acen ya?” tanya wanita berhijab beige itu.
Zaara mengangguk, “Iya Mom! Suaranya panik!” sahut Zaara tersenyum kecil.
__ADS_1
Ajeng terkekeh-kekeh. Anaknya itu pasti akan terkejut bukan main melihat kedatangan seluruh keluarganya kemari, tebaknya dalam hati.
Deretan orang-orang menyambut kedatangan para penumpang di bandara beragam. Ada yang menggunakan kertas poster bertuliskan nama-nama orang, ada juga yang meneriakkan nama-nama tertentu. Zaara berjalan sambil menarik koper merahnya sambil mengedarkan pandang. Matanya berkilauan ketika melihat wajah kekasihnya yang juga tak kalah berkilaunya meski ada gurat cemas serta kelelahan di sana. Arsene terlihat sangat tampan dengan setelan casual yang selalu menjadi andalannya dengan warna biru sebagai kesukaannya. Simpul bibirnya merekah ketika mereka saling berpandangan.
Arsene bergegas menghampiri istrinya dan membantunya membawakan koper. Ia menggenggam erat tangan istrinya dan menuntunnya. Keduanya langsung mencari tempat yang lebih sepi dengan langkah cepat seolah tidak sabar untuk bertegur sapa melepas rindu. Beberapa meter jarak dari pintu kedatangan, Arsene memastikan kalau ini adalah tempat yang cocok untuk mereka bisa saling menyapa.
“I miss you!” ucap Arsene langsung mendekap tubuh istrinya erat-erat, ketika dirinya memberhentikan langkah di dekat sebuah pot tanaman hijau yang kecil.
Zaara tidak sanggup berkata apa-apa, matanya telah menerjemahkan perasaannya yang rapuh setelah berbulan-bulan ditinggal kekasihnya itu. Air mata mengaliri pipinya, membasahi kemeja milik Arsene ketika wajahnya tenggelam di atas bahu sang pria tampan.
“Ya Allah, makasih banyak udah kasih kesempatan buat ketemu istriku ini!” ucap Arsene lagi, kali ini dikecupnya kepala Zaara. Ia belum melepas pelukannya itu, terlalu besar rindu untuk gadis yang menjadi cinta pertamanya ini. Hangat menjalar ke seluruh tubuh yang terasa dingin beberapa bulan. Ruang hampa dalam hati mereka kini tengah terisi ulang bagai sebuah baterai yang sudah tidak lama mengisi daya. Selama beberapa menit keduanya terus berpelukan erat.
“Kok gak ngomong?” tanyanya sambil menangkup pipi chubby Zaara, menatap mata berair yang terlihat syahdu.
“Oh my God! My sweetheart, my princess, my lover!”
Arsene mengecup cepat bibir imut di depannya dan kembali memeluknya dengan erat.
“Halo Abang apa kabar?” ucap seseorang dari belakang tubuhnya, membuat ia menoleh tanpa melepaskan pelukannya pada Zaara.
“Mommy? Daddy? Oh my God! Kalian?!” ucapnya terkejut sambil membelalakan matanya tidak percaya melihat keluarganya ada di hadapannya kali ini. Matanya berbinar, senyuman merekah di bibirnya.
Arsene lekas menghampiri dan memeluk anggota keluarganya satu persatu.
“Kok bisa kalian ikut juga?!” tanyanya masih tidak percaya sambil merangkul tubuh adiknya, Rainer.
__ADS_1
“Iya dong, kita juga mau liburan!” jawab Ajeng girang.
Arsene tertawa-tawa masih tidak percaya kalau keluarganya ada di sini bersamanya, apalagi mereka semua akan berlibur di kota terpadat di benua Australia ini.
“Kamu makin kurus aja, Cen! Kerja terus ya?” tanya Ferdian memperhatikan tubuh anak sulungnya dari atas sampai bawah.
Arsene malah tertawa. “Iya, Dad!” jawabnya santai.
Ferdian menggeleng-geleng. Anak satunya itu memang tidak pernah bisa diduga. Bahkan Arsene hanya bekerja sebagai kitchen hand. Namun Ferdian tidak mempermasalahkan itu, karena itu memang kehendak Arsene sendiri. Mungkin ini batu loncatannya untuk menjadi chef profesional.
“Jadi kita kemana sekarang?” tanya Ajeng menggunakan kacamata hitamnya.
“Ahh, kita harus sewa mobil nih!”
\======
Bersambung dulu yaaa....
Alhamdulillah pasangan kita sudah bertemu <3
Jangan lupa votenya
Wajib like dan komen yaa
Makasiiih
__ADS_1