Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 135. Panggilan


__ADS_3

“Halo, assalamu’alaikum?” tanya Arsene menjawab panggilan telepon tidak dikenalnya.


“Hello, is this Arsene Winata?” tanya sebuah suara perempuan lembut.


“Yes, to whom am I speaking now (dengan siapa saya berbicara sekarang)?”


“Oh, Thank God! Kamu gak kenal suara aku?!” tanya perempuan itu sedikit kecewa.


Kening Arsene mengernyit. Zaara menatap ekspresi suaminya itu.


“Who are you?” Arsene memicingkan matanya.


“It’s me, Liza!”


Mata Arsene membesar. Seketika perasaannya tidak bagus.


“Darimana kamu tau nomorku?” selidik Arsene, manik matanya tertuju pada istrinya yang juga menatapnya keheranan.


“Hey, I know everything about you (Aku tau segalanya tentang kamu)! Termasuk pernikahan dini kamu yang sangat membuatku kecewa dan putus asa! Kamu tega banget!”


Arsene mendengus kecil. Nadinya berdenyut naik.


“Apa ada yang perlu dibicarakan lagi? I’m busy right now.”


“Why are you so annoying, Arsene (Kenapa kamu menyebalkan sekali)? Don’t you miss me (Kamu gak kangen aku)? Udah hampir dua tahun kita tidak bicara lho! Padahal dulu kamu selalu cari aku untuk berkeluh kesah.”


“It’d been a long time (Sudah lama sekali). Now, it’s different (Sekarang sudah berbeda). Sorry, I’m going to hang up the phone (Maaf, saya harus menutup teleponnya).”


“Wait Arsene! I just wanna tell you (aku hanya ingin memberitahu), just prepare yourself (persiapkan dirimu). I’m coming to you in a moment (aku akan datang sebentar lagi)!” ucap perempuan itu tertawa sinis.


“You’re insane (Kamu gila)!”


TUUUUUT.


Wajah Arsene terlihat memendam emosi. Tersulut oleh perkataan perempuan yang meneleponnya tadi. Ia langsung memblokir nomor telepon tadi di ponselnya.


“Siapa?” tanya Zaara melihat perubahan wajah Arsene di sana.


“Bukan siapa-siapa. Cuma orang gila yang sok akrab.”


Zaara memicingkan matanya, curiga.


“Jangan tanya aku apapun dulu ya. Aku mau keluar sebentar!” ucap Arsene pergi begitu saja. Para pengunjung yang sempat menggodanya tadi terlihat keheranan juga melihat raut wajah Arsene.


Zaara terus memandang suaminya yang sedang beringsut melangkahkan kakinya keluar toko. Perasaannya dipenuhi curiga. Ia harap suaminya itu tidak menyembunyikan apapun darinya.


Sementara itu di luar, Arsene berjalan mondar-mandir di bawah sebuah pohon rimbun. Ia sedang mencari sebuah kontak di ponselnya.


“Rain!”


“Kenapa Bang?” tanya adiknya di telepon.


“Kamu kasih nomor Abang sama Liza?”


“Liza?! Temen Abang dulu?”


“Ya, apa kamu kasih nomor Abang?”


“Enggak. Aku gak tau. Emang kenapa?”


“Dia hubungi Abang barusan. Darimana dia tau?”


“Entah. Mommy mungkin?”


“Gak mungkin. Mommy tau banget Liza kayak gimana.”


Hening sejenak di sana, ketika kedua adik kakak itu saling menghubungi.


“Kirei?” celetuk Rainer.


“Kirei?!”


“Ya mungkin aja. Liza kan cukup deket sama Kirei. Anak itu polos dan bisa aja kasih nomor abang gitu aja.”


“Mmh… bisa jadi.”


“Tapi buat apa dia hubungi Abang lagi?” tanya Rainer penasaran.


“Gak tau. Gak jelas. Dia bilang bakal datang, tapi telepon keburu putus. Abang gak tau dia serius atau enggak.”

__ADS_1


“Dia tahu Abang udah nikah kan?”


“Iya!”


“Ya udah gak usah ditanggepin, Bang! Tapi Abang harus waspada aja.”


“I’m worried.”


“I know. She’s mad. Kasih tau aja Teh Zaara.”


“Apa dia perlu tau masalah ini? Lagian itu kan udah lama banget.”


“Tapi kalau tiba-tiba dia datang lagi? Dia bakal jadi ancaman buat Abang dan Teh Zaara!” Rainer mengingatkan abangnya.


Arsene menghela nafas. Adiknya benar. Setidaknya Zaara harus tahu sedikit mengenai masa lalunya di Singapura. Meskipun bukan masalah besar, tetapi jika perempuan tadi benar serius akan datang, ia harus waspada.


“Oke, thanks, Rain!”


“Ya, anytime!”


Arsene menutup ponselnya. Apa ia harus mendatangi Kirei untuk menyelidikinya. Gadis kecil itu tentu tidak bisa langsung dihubungi via telepon saat ini. Pria itu termenung sesaat. Ia harus pulang ke rumah ayahnya.


Arsene kembali masuk ke dalam. Berusaha memasang wajahnya senormal mungkin meski hatinya sedang sedikit resah. Ia kembali duduk di hadapan istrinya.


“Aku mau ke rumah daddy, mau ikut?” tanya Arsene.


“Ada apa?”


“Ada urusan sebentar aja. Atau kamu mau pulang, aku antar dulu,” tawar Arsene lagi.


“Aku ikut aja.”


“Oke! Yuk keburu malam!”


Arsene dan Zaara segera keluar setelah urusan mereka selesai di toko. Arsene sempat berpamitan ramah pada pelanggan tokonya, membuat mereka semakin mengagumi chef muda itu.


Zaara terbenam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak ingin memancing dan akan menunggu suaminya sendiri yang akan menjelaskan apa yang terjadi sehingga membuat pria itu memasang wajah cemas dan geramnya. Jadi gadis itu diam saja selama perjalanan menuju rumah mertuanya.


“Kirei mana Mom?” tanya Arsene setelah mengecup tangan ibunya.


“Di kamar, kenapa?”


Belum sempat Arsene menginjakkan kakinya ke anak tangga, adzan maghrib sudah berkumandang. Pria itu membalikkan langkahnya untuk segera ke masjid menyusul ayahnya yang sudah pergi lebih dulu.


“Ada apa sih?” tanya Ajeng pada Zaara melihat Arsene seperti menyembunyikan sesuatu.


“Gak tau, Mom! Tadi setelah dapat telepon dari seseorang, tiba-tiba raut wajahnya berubah gitu aja.”


“Telepon dari siapa?”


“Zaara kurang tau. Arsene belum jelasin apa-apa.”


Ajeng melirikkan bola matanya. Apa ada hubungannya dengan Kirei?


“Kamu lagi sholat, Ra?” tanya Ajeng.


“Iya, Mom! Mau bareng?”


“Yuk, kita sholat berjamaah!”


Ajeng memanggil anak ketiganya agar bergabung bersamanya untuk shalat berjamaah di mushola, dilanjut dengan tilawah bersama.


Arsene kembali ke rumah bersama ayahnya dari masjid. Melihat Kirei baru menyelesaikan sholat maghrib, Arsene langsung mengajak adiknya itu ke lantai atas ke kamar adiknya.


“Apa sih Bang?” tanya gadis yang baru naik ke kelas 9 itu.


Arsene menutup pintu kamar adiknya.


“Abang mau tanya sesuatu, kamu jangan tutupin sesuatu dari Abang ya?” Pertanyaan itu membuat Kirei menjadi tegang. Gadis itu duduk di tepi ranjangnya.


“Tanya apa?”


“Kamu pernah dapat telepon dari salah satu temen Abang di Singapura?” tanya Arsene tidak basa-basi.


“Temen Abang?” Kirei memutar bola matanya. “Siapa?” tanyanya sendiri.


“Cewek.”


“Hmm…,” Kirei bergumam sambil berpikir.

__ADS_1


“Ada gak? Baru-baru ini atau mungkin udah lama.”


“Aurel? Hmm… Sammy? Eliza? Grace?”


Mata Arsene membesar dengan alis terangkat ketika Kirei menyebutkan nama-nama kawan perempuan Arsene di senior high school Singapura.


“Mereka semua hubungin kamu?!”


Kirei menyengir, menggeleng. “Aku cuma sebutin nama temen Abang yang aku kenal, hehe!”


“Eh, tapi kayanya ada yang pernah hubungin aku deh pas baru pindah kesini,” ucap Kirei mengingat-ingat.


“Siapa?!” tembak Arsene.


“Kak Liza!”


“Tanya apa dia sama kamu?”


“Iya betul, Kak Liza! Dia tanya nomor Abang waktu itu, aku kasih aja deh! Tapi udah lama, pokoknya pas aku pindah ke sini.”


Arsene menggeram gemas. Saat itu dirinya memang belum menikah, bahkan belum masuk kuliah. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menyalahkan adiknya yang polos ini.


“Apa dia pernah hubungi kamu lagi?”


“Kalau gak salah, enggak sih.”


“Dia temenan sama kamu di instagram?”


“Iya.”


Arsene membuka ponselnya, mengecek akun milik adiknya. Ternyata Kirei mengunggah foto pernikahan dirinya dengan Zaara saat itu. Pantas saja, Liza mengetahui kabar itu. Bagus.  Arsene memang tidak pernah sama sekali mengunggah apapun di akun medsos miliknya. Jika pun begitu, ia akan mengunggahnya via status story 24 jam saja.


“Emang kenapa sama Kak Liza?” tanya Kirei jadi penasaran.


“Enggak. Udah lah, Abang pulang dulu.”


“Dia kayanya udah di Indonesia deh, Bang! Aku lihat status story nya kemarin.”


“Pokoknya kalau dia hubungi kamu dan tanya Abang, gak usah kasih info apapun, oke? Janji?!”


“Iyalah, ngapain aku kasih info lagi, toh Abang udah nikah sekarang. Nanti dia kejar-kejar Abang lagi.”


“Good girl!”


Arsene keluar dari kamar adiknya, seketika tubuhnya terperanjat melihat istrinya berdiri di depan pintu. Apa Zaara sempat mendengar percakapan dengan adiknya tadi?


“Ke-kenapa kamu di sini?” tanya Arsene gugup.


“Aku habis dari kamar kamu cari jaket.” Zaara menunjukkan jaket milik suaminya, ternyata dia baru saja keluar dari kamar suaminya yang memang tepat di depan kamar Kirei.


“Pulang sekarang?” tanya Arsene lega.


“Iya! Udah selesai urusannya?”


Arsene menyengir, “ udah yuk!”


Angin malam menerpa dingin menembus kulit yang tidak terbalut jaket. Arsene dan Zaara bergegas masuk ke dalam apartemennya, karena angin semakin besar bertiup di malam hari. Mereka telah membeli dua bungkus nasi goreng karena belum makan malam. Lagipula Zaara terlalu lelah untuk memasak di malam hari. Terpaksa mereka membeli makan di luar.


Keduanya belum bicara lagi, meski rasa penasaran sudah berada di ubun-ubun Zaara. Ia tetap sabar menanti suaminya sendiri yang akan menjelaskan sesuatu padanya. Nasi goreng spesial yang dilengkapi daging ayam dan ati ampela itu sudah tersaji hangat di atas piring. Keduanya menikmati makan malam sambil menonton televisi. Masih tidak ada perbincangan.


Zaara merapikan dan membersihkan tempat tidurnya, setelah ia shalat isya dan berganti baju. Arsene menyusulnya kemudian. Keduanya merebahkan diri.


“Zaara Sayang,” panggil Arsene setelah dirinya bersandar di kasur.


“Hmm….”


“Apa kamu punya masa lalu kelam?” tanya Arsene ragu-ragu.


Zaara menoleh pada suaminya.


\=\=\=\=\=\=


DEG.


Bersambung dulu hehe


Banyakin poinnya dong biar seru


Jangan absen LIKE dan KOMENTAR ya

__ADS_1


Dukung terus, makasiiih ^_^


__ADS_2