
Beberapa jam berlalu. Zaara merasa lelah karena membantu pelayan merestock kue-kue di etalase. Ia beristirahat sebentar di sofanya sambil menyeruput milkshake strawberry yang dimintanya kepada pegawai yang bertugas membuatkan pesanan minuman. Melihat istrinya yang sedang minum, Arsene duduk di sebelahnya.
“Udah jangan terlalu capek. Kamu bisa duduk di sini aja.”
“Gak apa-apa kok. Aku cuma pegel sedikit.”
“Lagian kenapa tiba-tiba ke sini? Tadi katanya mau ngedit naskah?!”
“Iya gak tau, kepikiran kamu aja jadinya kesini!”
Arsene mengusap kepala istrinya. Wangi aroma vanilla tercium dari dapur.
“Enak banget wanginya, lagi bikin apa?” tanya Zaara.
“Creme brulee. Mau?” tawar Arsene.
“Boleh?” Mata Zaara berbinar.
“Boleh. Bentar aku ambilkan dulu!”
Tak lama Arsene keluar dan membawakan satu ramekin berisi creme brulee yang khusus dimakan di tempat. Wangi brown sugar dan vanilla menguar lembut, membuat lidah berhasrat untuk mencicipnya. Arsene memberikan itu pada istrinya lengkap dengan sendoknya.
“Bismillah…”
Zaara menyendokkan menu jenis pencuci mulut itu ke dalam mulutnya. Manis dan lembutnya langsung lumer di lidah. Membuatnya ketagihan, lagi dan lagi.
“Enak bangeeet!” ucap Zaara dengan mata berkilauannya.
“Nanti kita bikin di apartemen ya?”
Zaara mengangguk-angguk. Melihat hal itu Arsene tersenyum lega. Sepertinya memang Zaara baik-baik saja.
“Aku balik ke dapur dulu. Kamu istirahat di sini aja, Sayang!”
“Iya!”
Tetapi perempuan itu tidak menuruti titah suaminya. Zaara berjalan keluar untuk mencari udara segar. Meski ruangan di dalam toko banyak menebarkan aroma wangi dan lembut, tetapi terlalu sesak untuknya.
Zaara berdiri di bawah naungan pohon rimbun yang berdiri di samping halaman toko suaminya. Merasakan angin lembut dan hawa segar, Zaara memejamkan matanya. Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba terparkir tepat di depannya. Mata perempuan itu terbuka bersamaan dengan keluarnya pemilik mobil.
Zaara dan pemilik mobil itu sama-sama terpatung, dengan tatapan mata saling mengunci. Zaara dengan tatapan tajam yang menusuk, sedangkan perempuan di seberangnya menatap ragu.
Zaara memberanikan diri, melangkah maju menghampiri perempuan berambut cokelat terang yang sekarang sedang mengenakan kaos hitam dengan kerah lebar, menampakan tulang selangka lehernya. Perempuan yang tingginya lebih pendek dari Zaara itu tengah menenggak salivanya sendiri.
Zaara tersenyum, sedikit angkuh. Ia tidak ingin bermuka manis di depan perempuan yang baru saja mengiriminya sebuah pesan dan foto.
“Hai, ada yang bisa aku bantu?” tanya Zaara dengan tatapan angkuh.
__ADS_1
Liza melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, tampak gugup dan takut.
“Mau cari Arsene?!” tebak Zaara semakin mendekat.
Liza melangkah mundur.
“Apa mau cari barang obral?” tanya Zaara lagi, sambil terkekeh.
Zaara semakin dekat melangkah menuju Liza, sampai akhirnya ia berhenti tepat di depan hidung mobil perempuan itu. Sementara Liza masih berdiri di samping pintu kemudinya.
“Maaf!” sergah Zaara tertunduk.
“Mungkin Arsene pernah mempermainkan perasaan kamu. Aku juga pernah seperti itu, seolah mempermainkan perasaan orang tetapi tidak pernah bermaksud seperti itu. Tapi itu masa lalu, yang sudah berbeda di masa kini. Setiap orang punya kesalahannya masing-masing, itu wajar. Yang enggak wajar itu, adalah ketika kita masih tenggelam di kesalahan yang sama dan gak mau keluar dari sana. Padahal banyak pintu maaf dan harapan menunggu kita di masa depan. Itu kembali lagi pada pilihan kita, apa masih mau terjebak dengan lumpur kotor atau segera keluar dan memperbaiki semuanya, dengan harapan kita bisa membersihkan diri?
“Aku tau apa yang terjadi dengan Mbak Liza dan Arsene saat SMA dulu. Aku juga sudah menerima masa lalu suamiku. Atas nama Arsene aku minta maaf. Kita sama-sama perempuan, aku juga gak mau kalau ada di posisi kamu saat itu, karena perasaan bukan untuk dipermainkan. Aku harap Mbak Liza bisa menemukan orang yang lebih baik dari Arsene. Yang bisa menerima kamu dan seluruh perasaan kamu. Kalau kamu tetap paksa keinginan kamu, Arsene akan bisa menyakiti kamu lebih dalam. Aku gak mau itu terjadi.”
Liza bergeming, mendengarkan seluruh ucapan perempuan berhijab di depannya itu. Hatinya merasa bergetar dan terenyuh, seolah hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh istri dari pria yang disukainya selama ini. Ia masih tertunduk memandangi tanah dan rerumputan yang bergoyang.
Zaara terlihat tetap tenang. Menatap terus pada Liza yang sama sekali tidak menanggapi pernyataannya. Ia berharap agar hati perempuan di depannya itu luluh dengan ucapannya, sehingga menyadarkan pikiran kelirunya untuk mendapatkan Arsene.
Liza menggigit bibir bawahnya.
“Maaf… selama ini aku menyimpan perasaan yang salah. Seharusnya dari awal aku menolak permintaan Arsene untuk jadi pacar bohongannya. Tapi hati sudah membutakan aku. Meski kita sering bersama, nyatanya hati Arsene tidak pernah ada untukku.”
Zaara menghela nafas. Miris sekali memang.
Liza kini menatap wajah teduh Zaara. Angin siang membuat suasana panas itu menjadi sejuk seketika. Liza tersenyum kecil. Menyadari kenyataan saat ini, memaksa hatinya untuk melepas semua perasaannya untuk Arsene, dan membiarkannya pergi untuk tidak kembali lagi. Sulit tetapi harus dipaksakan. Ia tidak akan kembali menderita dengan perasaan ini.
“Kamu sungguh beruntung karena mendapat semua hatinya. Arsene memang manusia langka, dan dia bukan barang obral!” ucap Liza terkekeh.
Zaara ikut tersenyum.
Mata Liza menggenang, mewakili perasaannya. Beberapa bulir air terjatuh, simbol atas dirinya yang kini rela melepas perasaan untuk Arsene.
“Semoga kamu dapat jodoh yang terbaik, Liza!” ucap Zaara.
“Terima kasih sudah menyadarkanku. Maaf untuk segalanya. Aku permisi!” ucap Liza tertunduk dan kembali ke dalam mobilnya.
Mobil sedan itu melesat kembali ke jalan raya. Zaara hanya memandanginya. Hatinya telah lega, jauh lebih lega. Semoga saja Liza benar-benar sadar dan tidak akan kembali. Tugasnya sebagai perisai suaminya telah ia laksanakan. Angin menerbangkan ujung hijabnya, membuat Zaara menahannya agar tidak tersingkap.
Arsene baru saja keluar dari toko. Melihat istrinya yang tengah termenung seorang diri di bawah pohon, ia bertanya-tanya.
“Kamu ngapain ada di sini?”
“Aku udah jadi perisai dan baju zirah Abang sesuai janji aku!”
Mata Arsene membelalak terkejut. Mata pria itu berpendar memindai seluruh penjuru apa yang bisa ia lihat. Tetapi ia tidak menemukan apa-apa di sana.
__ADS_1
“Liza kesini lagi?!” tanya Arsene.
“Lagi?!” tanya Zaara menatap suaminya.
Menyadari itu, Arsene menjadi salah tingkah. Ia tidak memberitahukan apa-apa pada istrinya. Arsene tertunduk sebentar.
“Dia pernah kesini beberapa hari yang lalu,” ungkap Arsene pada akhirnya.
Zaara hanya memicingkan matanya. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
“Aku mau pulang!” ucap Zaara menyentuh keningnya.
“Sayang dengerin dulu!” Arsene berusaha menjelaskan, tetapi Zaara meminta ia berhenti.
“Bisa anterin aku pulang?” pinta Zaara.
Arsene menyerah. Ia mengangguk. Arsene segera membonceng istrinya dan membawanya pulang. Ia ingin sekali mendengar cerita dari Zaara atas apa yang terjadi. Tetapi sepertinya ia sudah salah berucap dan membuat istrinya salah paham.
Arsene akan menunggu hingga Zaara memintanya menjelaskan terkait kedatangan Liza beberapa hari yang lalu.
Zaara membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah ia mencuci tangan dan kaki, dan melepas gamis dan kerudungnya. Kepalanya tiba-tiba saja berdenyut hebat, membuat dirinya tidak kuat lagi untuk mendengarkan penjelasan Arsene. Ia hanya percaya tidak ada yang perlu dirisaukan lagi. Urusan dia dan Liza sudah dianggap selesai, setidaknya begitu. Akhirnya Zaara tertidur.
Arsene memilih untuk tidak kembali ke toko. Wajah istrinya itu terlihat pucat. Pria tampan itu hanya mengelus lembut rambut istrinya dan mengecupnya. Ia masih bertanya-tanya terkait dengan apa yang terjadi barusan.
Ponsel milik Zaara bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk ke akun instagramnya. Arsene terpancing untuk membukanya.
Hatinya terperanjat bukan main, mengetahui Liza mengirimkan Zaara pesan baru.
Maafkan atas pesanku yang tadi. Semoga Tuhan mengampuniku.
Semoga kebahagiaan selalu tercurah untukmu dan Arsene. Aku akan kembali ke Singapura besok dan mungkin tidak akan kembali lagi ke Indonesia dalam waktu yang lama.
Tadinya aku akan berpamitan pada Arsene tapi begitu melihat kamu, aku segera mengurungkan niatku.
Maaf dan terima kasih, Zaara.
Mendapat pesan seperti itu dari Zaara, Arsene tersenyum lega. Ia segera menghujani istrinya itu dengan ciuman di wajah. Zaara benar-benar melakukan tugasnya dengan baik.
\======
Bersambung dulu nih
Jangan lupa vote ya
LIKE DAN KOMENTAR JUGA
Makasiiih
__ADS_1