Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 133. Tak Terduga


__ADS_3

Mata Ajeng membesar mendapati seorang pria di hadapannya.


“Ardi?!” ucapnya terkejut.


“Apa kabar?” tanya Ardi tersenyum lebar.


“Alhamdulillah, Di! Kamu apa kabar?”


“Alhamdulillah. Lagi apa di sini?” tanya Ardi masih berdiri.


“Biasa ibu-ibu, shopping dikit aja sambil asuh anak.” Ajeng santai saja membalas pertanyaan Ardi. “Duduk, Di!” ajaknya ramah.


“Haha gapapa nih?! Eh, ini anak bungsu kamu?!” tanya Ardi antusias melihat Finn yang sedang membulatkan bibirnya. Ardi duduk di hadapan Ajeng.


“Iya, ini Finn Aiden, Om Ardi! Say hello, Finn!” seru Ajeng.


“Hello…” ucap Finn masih sibuk dengan mangkuk supnya.


“Hello Finn! Lucu banget sih! Aku juga pernah ketemu Arsene di kampus, lho!” ucap Ardi masih menatap gemas pada balita laki-laki itu.


“Kamu ketemu Arsene di kampus? Kapan?” tanya Ajeng tidak percaya kalau mantan rekan kerjanya bertemu anak sulungnya.


“Kampus UBP maksudnya, waktu itu dia jadi panitia idul kurban,” terang Ardi singkat saja.


“Ooh… kamu ngajar di UBP?”


“Iya sekarang aku udah pindah full ngajar di UBP. Tapi belum sempat ngajar anak kamu, Jeng!”


“Arsene masih mau kejar semester 3 sekarang, karena dia sekolah di Aussie dulu setahun kemarin.”


“Ohh pantesan jarang lihat juga.”


Ardi memainkan tangan Finn yang gemuk.


“Eh Novi mana?” tanya Ajeng polos saja.


Raut wajah Ardi berubah. “Kita ... udah lama pisah, Jeng!” ucap Ardi pelan.


“Subhanallah. I’m sorry, aku gak tahu!”


“Gak apa, Jeng! Udah lama juga kok!” jawab Ardi berusaha santai.


“Kamu udah punya anak kan?” tanya Ajeng penasaran.


“Udah, dia baru mau masuk kuliah tahun ini.”


“Ooh, syukur deh! Eh, kamu udah makan Di?”


“Udah barusan. Cuma ngeliat wajah kamu berasa kenal, jadinya nyapa dulu! Hehe!” ucap Ardi canggung.


“Iya ya udah lama banget kita gak ketemu. Setelah aku keluar kayanya kampus baik-baik aja kan?”


“Haha. Orang pada kalut cari pengganti kamu, Jeng! Apalagi bagian perpustakaan, waktu itu mereka tunjuk Novi. Tapi dia lagi hamil, lagian aku juga gak izinin karena pasti bakal capek banget.”


“Iya lah, aku aja kerepotan apalagi sambil pegang kelas.”


Tiba-tiba Finn terbatuk-batuk, setelah memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Balita itu seketika muntah dan mengeluarkan isi makanan dari perutnya.


“Astaghfirullah... Finn!” Ajeng beranjak dari tempat duduknya dan meraih anaknya.


Cairan makanan yang keluar dari mulut balita itu tidak sedikit, dan mengotori baju berwarna merahnya.


Ajeng mengambil tisu basah dan mengelap mulut anaknya.

__ADS_1


“Maaf ya Di!”


“Sini aku bantu!”


“Gak usah Di! Jorok ini!” Ajeng mendudukkan anaknya di atas meja dan segera mengambil tas bawaannya yang diletakan di bawah stroller.


“Di, titip dulu barang-barangku ya, aku ke toilet dulu bersihin Finn.”


“Oh iya, iya!”


Ardi menunggu mantan rekan kerjanya itu di sana. Sesekali ia memperhatikan barang bawaan Ajeng yang ada di stroller. Mainan, pakaian, makanan anaknya dibawa di sana. Ardi seketika merasa salut dengan Ajeng yang dulu memutuskan untuk berhenti dari karir dosen, yang ia tahu, Ajeng sangat mendambakannya.


Dua orang wanita terlihat duduk di meja sebelah di mana Ardi duduk. Sambil memainkan ponselnya, Ardi yang sedang libur, melirik ke arah sebelahnya.


“Udah kamu tenang aja, Kevin pasti mau nerima!” ucap wanita paruh baya yang rambutnya mengembang kaku.


“Tapi Mam, Mas Kevin selalu menghindar. Aku jadi ragu,” ucap wanita ramping yang memiliki rambut bergelombang indah.


Ardi menoleh mencari sosok Ajeng yang belum keluar. Ia harus segera pergi dari sana karena ada teman yang menghubunginya. Tak lama, wanita yang sedang menggendong anaknya itu berjalan menghampirinya sambil membawa satu kantong berisi pakaian kotor. Finn yang sudah bersih terlihat berkilau matanya dan memasang wajah ceria.


“Aduh maaf lama ya, Di!”


“Iya gak apa-apa. Masih ada yang perlu aku bantu?” tawar Ardi.


“Bisa tolong pegangin Finn sebentar, aku bersihkan kursi strollernya dulu!” ucap Ajeng langsung mengeluarkan tisu basah dan mengelap kotoran yang menempel di stroller milik anaknya.


“Oke!”


Ajeng telah selesai membersihkan dan juga mencuci tangannya. Ia sangat berterima kasih pada Ardi yang membantunya, meski hanya menjaga barang-barang dan anaknya sebentar.


“Makasih banyak ya Di, untung ada kamu! Kalau gak, aku kerepotan banget kayanya!”


“Santai aja, Jeng!” ucap Ardi masih menggendong Finn di pangkuannya.


“Ajeng?!” sebuah suara memanggilnya, kali ini perempuan.


Ajeng menoleh ke sumber suara. Alis matanya terangkat.


“Eh, Ibu Rania?!” tanya Ajeng memastikan.


Wanita paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Ajeng dengan antusias. Ajeng segera menyapa dan menyalaminya.


“Apa kabar Bu?” sapa Ajeng ramah.


“Baik sekali. Kamu sedang apa di sini? Ini suami kamu?” tanya Nyonya Rania menatap Ardi yang sedang memangku Finn dengan tatapan angkuh.


“Eh, bukan Bu! Ini teman saya, kebetulan baru ketemu tadi,” Ajeng lekas mengkonfirmasi.


“Ooh, saya kira suami kamu!” ucap Rania sambil mengipasi wajahnya dengan sebuah kipas yang dipegangnya.


“Jeng, maaf saya harus pergi. Teman saya nunggu. Maaf ya?!” Ardi memotong pembicaraan Ajeng dan Rania.


“Oh iya Di. Makasih banyak ya udah bantu!” Ajeng mengambil Finn dari tangan Ardi.


“Sama-sama. Salam buat Ferdian! Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Ardi mengangguk sebentar kepada Rania yang terus menatapnya, kemudian berlalu dari sana.


“Saya kira itu suami kamu, Jeng! Hm, sangat tidak sebanding dengan Kevin!” ucapnya angkuh.


Ajeng menatapnya heran. Apa maksud perkataannya itu? Ajeng tidak mengerti.

__ADS_1


“Maksud Ibu gimana?”


“Ya, untung itu bukan suami kamu, karena dari penampilannya aja jauh lebih baik Kevin ketimbang yang tadi. Kadang saya bertanya-tanya, kenapa kamu gak bisa nunggu Kevin balik dari Amerika. Kalau bisa kan mungkin kejadiannya gak begini.”


Lagi-lagi Ajeng mengernyit tidak mengerti. Ajeng sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada Kevin. Ia tahu, kalau wanita di depannya itu pernah sangat mengharapkannya untuk menjadi menantunya dulu sebelum Kevin pergi ke Amerika. Bahkan Rania selalu menghubunginya ketika Kevin sudah pergi.


“Maaf saya gak ngerti maksud Ibu,” ucap Ajeng sungkan.


Rania menatap Finn dengan matanya yang sendu, seolah sedang berharap ia bisa menggendong anak itu di pelukannya. Matanya berkilauan. Sementara wanita muda satunya hanya memandangi kedua perempuan itu dengan perasaan heran.


“Anak kamu usia berapa Jeng?” tanya Rania duduk di kursi meja yang ditempati oleh Ajeng.


“Ini anak bungsu saya, Bu! Usianya 2 tahun!” jawab Ajeng.


“Lucu ya, mirip kamu!” ucap Rania tersenyum menggenggam tangan Finn.


Ajeng ikut tersenyum.


“Anak kamu ada berapa?” tanya Rania lagi.


“Anak saya 4 Bu. Yang pertama udah nikah, yang kedua baru mau masuk kuliah, dan yang ketiga masih SMP.”


Rania tersenyum getir. Air matanya menggenang.


“Ibu baik-baik aja?” tanya Ajeng.


“Hebat kamu Jeng!" Rania mengerjapkan matanya sehingga air mata itu tidak menetes dari sana. "Seandainya kamu jadi mantu saya, mungkin saya udah bahagia nimang cucu banyak!”


Ajeng tertunduk. Ia tahu keadaan Jingga yang mengidap kanker rahim. Pasti Rania sangat mengharapkan kehadiran cucu dalam keluarganya.


“Maaf Bu!” hanya itu yang bisa Ajeng ucapkan.


Rania menghela nafas.


“Saya hanya bisa berharap keadaan berubah. Maaf, saya jadi ngelantur kemana-mana,” ucap Rania beranjak dan kembali ke kursinya.


Ajeng tersenyum kecil. Mungkin ibunda Kevin sedang mengalami kerumitan dalam keluarganya. Ajeng kembali menaruh Finn di dalam stroller dan membereskan barang-barangnya.


"Oh ya ini kenalin, calon mantu saya. Ghea!" ucap Nyonya Rania setelah Ajeng akan berpamitan.


Ajeng melihat penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Rambut merah gelombang yang tergerai. Wajah mulus berkilau dengan make up tipis dan polesan lisptick coral yang lembut. Belum lagi pakaiannya yang modis, dengan sepatu stiletto berwarna krem. Seolah Ajeng sedang melihat dirinya yang dulu.


Ajeng mengerjapkan matanya.


"Halo, saya Ajeng!" ucapnya mengulurkan tangan.


"Ghea." Wanita itu hanya tersenyum tipis.


“Bu Rania, saya permisi pulang dulu!” pamit Ajeng.


“Baik, Jeng! Hati-hati!”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu yaa


Dukung terus Author Aerii gratis dengan LIKE, COMMENT, dan Vote poin kamu


Makasiiih

__ADS_1


__ADS_2