
Karin sedang menata kuenya di atas piring, lalu ia memberhentikan aktivitasnya, ketika mendengar pertanyaan sahabatnya.
“Pernikahan apa maksudnya?” tanya Karin tidak mengerti, lalu duduk di atas kursi.
“Raffa pengen nikah muda,” jawab Sita.
Mata Karin membesar.
“Raffa pengen nikah muda?” tanyanya memastikan.
Sita mengangguk-angguk.
“Usianya berapa sekarang?”
“Mau 20 tahun, bulan depan,” jawab Bu Dokter spesialis kandungan itu.
“Wah, kalau gak salah Ferdian juga nikah di usia segitu deh. Coba tanya Ajeng!” ujar Karin mengingat-ingat.
“Oh ya? Tapi… gimana ya jelasinnya?” ungkap Sita kebingungan.
“Udah ada calonnya?” tanya Karin.
“Belum sih! Tapi dia terus bilang kalau dia mau nikah muda, meski harus langkahin mas-nya yang masih sibuk nerusin S2.”
Karin menatap sahabatnya setelah ia selesai meletakkan kue jamuannya.
“Kamu tanya aja, tujuan dia mau nikah muda apa? Apa udah siap mental, batin, fisik, harta, dan imannya?”
“Makjleb, Rin! Aku aja sering ngomong gitu ke dia, ‘kamu emangnya udah siap? kuliah aja masih dibiayain orangtua, terus mau nafkahin istri kamu pakai apa? pakai cinta?!’ Tapi tetep aja dia bilang lagi dan lagi. Aku harus gimana?” tanya Sita bingung.
“Kamu jelaskan aja, kalau nikah itu memang gak seindah cerita di tv atau novel-novel, butuh tanggung jawab yang besar setelah menikahi perempuan, selain nafkah lahir dan batin, ilmu dan iman pun dibutuhkan,” terang Karin.
“Iya betul. Nanti aku diskusikan lagi deh sama Mas Teddy, kayanya kita butuh banyak sharing. Apa mungkin Raffa sedang jatuh cinta ya?” tebak Sita pada dirinya sendiri.
“Coba tanya aja. Mungkin dia tidak ingin pacaran, makanya bilang ingin nikah muda. Tapi, nikah gak segampang itu, kecuali dia serius dengan niatnya.”
“Iya deh nanti aku tanyain lagi sama dia.”
Sementara itu, Arsene sudah menghubungi adiknya, tetapi ternyata latihannya belum usai juga. Jadi terpaksa ia harus kembali lagi ke sofa rumah Zaara.
“Arsene, rencana kamu setelah lulus SMA mau kemana?” tanya Reza ketika Arsene kembali.
“Mmh… kuliah sambil bisnis, Om!” jawabnya.
“Mau kuliah di jurusan apa?”
“Mungkin desain atau sastra,” jawabnya ragu-ragu, sebenarnya ia hanya ingin menutupi bakatnya di bidang kulinari.
“Seperti orangtuamu ya? Memang anak itu seperti buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seperti Raffa yang mengambil jurusan kedokteran gigi, meskipun ibunya adalah dokter kandungan. Zaara juga berminat kuliah di sastra seperti uminya, kalau teknik informatika sepertinya Zaara cukup kesulitan, tapi dia juga belum pasti sih” terang Reza.
“Zaara mau kuliah dimana Om?” tanya Raffa.
“Belum tau, cuma dia inginnya ke universitas negeri. Toh kualitas universitas negeri pun kini sudah jauh lebih baik dari dulu.”
“Iya betul, Om! Di kampus saya aja sekarang sudah profesional staff dan para dosennya. Fasilitasnya pun tidak kalah dari kampus swasta elite.”
“Kita satu almamater ya?” tanya Reza pada anak muda di sampingnya.
“Emang Om kuliah dimana dulu?”
“Universitas Bumi Pertiwi,” jawab Reza.
“Ah ternyata, Om Reza alumnus situ juga!” ucap Raffa tidak percaya.
Tiba-tiba Karin dan Sita datang membawa kue-kue yang dibawa oleh Arsene, juga kue lainnya yang sudah dipersiapkan Karin.
“Ini ketawa-ketawa ngobrolin apa sih?” tanya Karin menaruh kue-kue itu di meja tamu.
“Enggak, baru tau aja ternyata Raffa sama Om Reza satu almamater juga,” jawab Raffa riang.
“Sama Tante Karin juga dong!” jawab Karin.
“Wah ternyata!”
“Eh Arsene diem aja nih, bukannya diajak ngobrol Arsenenya, Bi!”
Arsene tersenyum saja.
“Ah iya, abi lupa! Ada kerjaan yang mesti dikirim sekarang!” ucap Reza.
“Nah lho, nanti Kakeknya Arsene bertindak!”
“Astaghfirullah, oh iya ya, Arsene ini cucunya Pak Jaya Diningrat. Masya Allah.”
Lagi-lagi Arsene tersenyum saja. Reza pun bergegas menuju ruang kerjanya di lantai dua, meninggalkan orang-orang yang ada di sana.
__ADS_1
“Arsene kelas berapa emangnya?” tanya Raffa.
“Saya kelas 12 SMA, Bang!”
“Ooh seangkatan Zaara ya?”
Arsene mengangguk kecil.
“Mereka ini waktu kecil sempat Mama suruh biar dijodohin aja lho, soalnya lucu kalau liat Arsene sama Zaara main. Seringnya rebutan aja, akurnya sekali-kali! Kan kalau udah besar kayanya bisa melengkapi,” ucap Sita tertawa kecil.
Arsene terlihat kaget mendengar ucapan sahabat mommy-nya itu. Begitu pula dengan Raffa yang juga ikut terkejut.
“Eh sekarang ketemu, sekelas lagi, tanpa diduga-duga,” kali ini Karin menimpali.
“Oh ya?!” tanya Sita tidak percaya.
“Iya, ternyata mereka sekelas dan kita baru tahu tadi lho!” ucap Karin lagi.
“Wah jodoh beneran ini mah!” sahut Sita tertawa-tawa.
Arsene tampak menahan nafasnya, matanya terbuka lebar. Ia tidak tahan lagi berada di situasi yang membuatnya terpojok. Sementara Raffa yang duduk di hadapannya terus menatapnya, terasa dingin dan tajam, Arsene menyadari hal itu. Namun tatapan itu tidak lama, karena ponsel Arsene segera berbunyi. Panggilan dari Rainer. Ia meminta izin untuk mengangkatnya.
“Udah selesai?” tanya Arsene pada adiknya.
“Iya! Gue tunggu di gerbang ya, Bang?!” jawab Rainer.
“Oke!”
Arsene pun kembali masuk ke rumah itu dan langsung berpamitan dengan alasan akan menjemput adiknya yang sudah selesai di kegiatan ekstrakurikulernya.
“Salam buat kakek dan nenek, juga Rain ya! Hati-hati di jalan!” ucap Sita.
“Zaara… ini temen kamu mau pulang!” teriak Karin memanggil anaknya yang berada di dalam kamarnya.
Gadis berhijab itu pun keluar dan mengantar Arsene bersama yang lainnya.
“Makasih banyak ya Sen, udah repot-repot kirim kue ini. Kamu beli dimana sih? Enak banget kuenya….” puji Karin.
“E-eh, itu… lupa Tante, aku gak ingat nama tokonya, nanti tanya mommy aja!” jawab Arsene beralasan, menutupi yang sebenarnya.
“Ah iya deh, nanti Tante nanya mommy kamu aja!” sahut Karin.
“Saya pamit dulu!” ucapnya sopan sekali, lalu menaruh kembali sebuah kantong lagi yang berisi dus kue untuk oma dan opanya di atas motornya.
“Kenapa?” tanya Arsene.
“Ah ga jadi, nanti aja deh di sekolah,” ucap gadis itu.
“Eh, kok nanti?!”
“Biar penasaran!” jawab Zaara yang berlalu dari sana.
Arsene menggeleng saja. Ia pun mengucap salam dan memacu motornya pergi dari rumah itu.
\=====
Seraphine memasang wajah berbinarnya ketika melihat Rainer sedang berlari mengelilingi lapangan. Sesekali ia tersenyum sendiri, membuat cowok di sampingnya mengernyitkan kening.
“Senyam-senyum sendiri udah kaya orang gila aja nih cewek!” ucap Evan.
“Kenapa? Masalah buat lo?” tanya Sera sewot.
“Lo ntar jadi bahan ketawa sama anggota baru,” jawab Evan. “Ih ternyata, ada orang stress di ekskul basket ya?” ucap cowok tinggi itu nyinyir.
“Ah masa bodo lah, yang penting gue hepi! Yeay!” sahut Sera riang.
“Emang kenapa sih? Lo pasti naksir Rainer ya?”
Sera mengangkat kedua alisnya. Matanya memang tidak berbohong, karena Rainer bagaikan magnet baginya. Evan adalah salah satu teman dekatnya, mungkin tidak apa jika diberitahu. Ah, tapi tanpa diberitahu pun cowok itu sendiri juga sudah tahu.
“Tadi gue suruh dia lari 5 keliling aja, sementara yang lain 10 keliling,” jawab Sera.
“Wah beneran naksir dan kenapa lo biarin orang semua tahu jadinya?” tanya Evan heran.
“Ah ya, biar mereka tahu dan akhirnya mundur, kalau gue, Seraphine yang jago basket itu mau pedekate sama dia!” jawabnya sangat percaya diri.
“Duh susah ya kalau udah ngobrol sama orang kepedean!”
“Iri aja lo!”
“Sipp! Dia udah lari 5 keliling,” ujar Sera, lalu gadis bercepol tinggi itu melangkahkan kakinya ke depan.
“Rain, stop!” teriaknya pada Rain yang akan melewatinya.
__ADS_1
Remaja lelaki itu pun berhenti.
“Kenapa?” tanya Rain terengah-engah, hidung lancipnya terlihat kembang-kempis.
“Kamu istirahat aja dulu!” ucap Sera dengan nada selembut mungkin.
Rain menatapnya dengan heran, lalu mendeliknya penuh curiga. Namun bukannya mengikuti perintah Sera, pria itu kembali berlari bersama kawan-kawannya yang lain untuk meneruskan latihan.
Sera melongo, lalu menatapnya kesal ketika melihat cowok itu berlari. Sementara Evan tertawa terbahak-bahak.
“Syukurin lo!”
“Jahat kali lah! Padahal gue udah baik sama dia!” komplennya.
“Itu bukan baik, tapi MODUS!” ucap Evan ikut berlalu dari gadis yang masih menahan kesalnya.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya, seraya menghentakan kaki. Tidak percaya kalau ternyata Rain bisa sedingin itu padanya. Kini otaknya berputar lagi, mencari jalan lain agar cowok itu bisa memperhatikannya.
Kini, anak-anak anggota tim basket yang baru mulai berlatih memendalkan bola dengan satu tangan, mendorongnya ke tanah dan mengontrolnya dengan tangan. Kelas sepuluh memang sedang diajari teknik dasar dulu. Namun, Rainer yang sudah terbiasa ia melakukannya dengan baik, apakah itu dengan tangan kanannya atau tangan kirinya. Lalu mereka mulai disuruh untuk melakukan hal itu sambil berjalan pelan, masih terus sebisa mungkin untuk membuat bola terpantul dengan stabil, tidak terlalu tinggi atau rendah.
Rainer berjalan santai sambil menggiring bola yang berpendal itu. Hampir semua siswa menatapnya takjub tanpa berkedip. Makhluk rupawan itu berjalan di tengah lapang bak model saja. Sehingga semuanya terkesima, apalagi Sera.
“Mampus, gue bakalan punya saingan!” ucapnya pada diri sendiri. Ia memang sudah menjadi ‘dewi’ bagi tim basket sekolahnya, sehingga selalu dielu-elukan oleh kawan-kawannya yang lain. Sementara untuk tim basket putra, tidak terlalu mencolok sehingga mereka belum mengecap prestasi, seperti tim putri.
“Tapi, gue yakin dia bakal jadi tandem gue sekaligus pacar gue! Hahaha!” ucapnya tertawa-tawa sendiri.
“Istirahat dulu semuanya!” teriak Evan pada anggota-anggota barunya.
Rainer mengambil sebuah botol air minum dari tasnya dan meneguknya membasahi kerongkongannya yang kering. Tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya. Itu adalah Bagas, pelatih basket tim sekolah ini.
“Kayanya lo udah sering main ya?” tanya Bagas.
“Dari kecil, Bang!” jawab Rain singkat.
“Lo mau gabung di tim utama?” tawarnya membuat Rain terkejut.
“Mau!”
“Oke, kita lihat lo main dulu. Baru kita putusin!”
“Oke, siap!”
“Sipp!”
Setelah istirahat selesai selama 30 menit. Bagas menginstruksikan kepada timnya, anak-anak kelas sebelas untuk bermain langsung. Ia juga mengajak beberapa orang dari kelas sepuluh yang melalui matanya sudah memiliki kemampuan bagus bermain. Rainer sendiri masuk ke dalam tim bersama Evan, yang menjadi playmaker, ia berposisi sebagai pemain forward.
Permainan pun dimulai. Semua penonton yang didominasi oleh para anggota tim basket bersorak riang. Namun ternyata, permainan itu juga mengundang siswa lainnya yang telah menyelesaikan kegiatan ekskulnya. Aura Rainer begitu kuat untuk menarik perhatian para siswa. Sera bersorak girang, meneriakan nama Rainer, siswa yang baru saja dikenalnya.
Baru beberapa menit dimulai, tim Evan sudah berhasil mencetak poin ke ring basket. Memang bukan Rain yang membuat poin, lelaki muda itu justru memberi assist sangat bagus kepada pemain lainnya. Teknik pengontrolan dan penggiringan bolanya termasuk rapi, sehingga tidak mudah direbut oleh tim lawan. Rainer menggiring bolanya langsung ke depan lalu melakukan jump shot, sehingga dengan mudah mencetak poin lagi.
Penonton semakin bersorak-sorai menyemangati tim Evan dkk. Tampaknya penonton semakin banyak saja. Mereka berbisik-bisik sambil bertanya siapa sosok pemuda berkulit putih yang bersinar itu. Tidak terasa empat babak pertandingan telah usai, membawa kemenangan bagi tim Evan dkk. Rainer sendiri mencetak skor paling banyak dalam pertandingan ini. Hal ini membuat Bagas merasa salut kepada anggota tim baru itu. Ia membawa Rainer langsung masuk ke dalam tim inti basket putra, sambil berharap dengan bergabungnya Rainer akan bisa mengangkat tim basket putra dari sekolah ini.
Pelatihan basket itu pun bubar seiring selesainya pertandingan. Sera berlari riang menuju Rainer yang sedang mengobrol dengan kawannya. Gadis itu memberikan sebuah botol air minum kepadanya.
“Permainan lo keren banget! Gue sebagai 'dewi' di tim putri merasa bangga akhirnya gue punya saingan di tim putra. Ini untuk lo!” ujarnya mengulurkan botol itu pada Rainer.
Rainer menatap pada wajah gadis yang sedang tersenyum berseri itu.
“Makasih, tapi gue udah banyak bawa minum!” jawab Rainer datar. Lalu ia berpamitan pada kawan-kawannya yang ada di sana dan melenggang pergi begitu saja dari hadapan Sera.
Sera mengerucutkan wajahnya, kesal. Baru kali ini ia bertemu dengan cowok super datar dan dingin seperti Rainer. Ia mengepalkan tangannya, lalu berjalan untuk mengambil tasnya.
Rainer berjalan ke arah gerbang sekolah untuk menunggui abangnya. Wajahnya berkilauan karena berpeluh keringat, meski ia sudah mengelapnya beberapa kali dengan handuk kecilnya. Jika bermain basket, maka ia selalu merindukan keberadaan daddy-nya, dan juga mommy-nya yang selalu menyemangati ketika ia bermain di sekolahnya dulu. Ia hanya berharap keluarganya segera pindah kemari sehingga bisa kembali menyemangatinya.
Seseorang yang mengenakan jaket tipis berwarna navy berhenti di depannya dengan motor besarnya. Ia membuka helmnya, lalu tersenyum padanya.
“Udah selesai?” tanya Arsene.
“Udah!”
“Kita ke rumah opa Gunawan ya?” ujar Arsene.
“Gue gak bawa baju ganti!” sergah Rainer.
“Tenang, udah Abang bawain! Nih pegang, awas rusak!”
“Apa ini?”
“Kue buat opa & oma!”
Rainer menaiki motor abangnya setelah memasang helmnya, lalu memegang kotak lebar itu di tangan kanannya. Arsene pun melesat maju menuju kediaman opa Gunawan.
\=====
Bersambung dulu....
__ADS_1
Support Author --> LIKE, COMMENT, VOTE, &TIPS
Makasiiih....