
Dedaunan kering yang berbentuk kecil jatuh bertaburan dari atas kepalanya ketika angin meniupnya kencang. Raffa menyibakan rambutnya, ada sebuah daun kering yang menempel di sana.
Raffa terduduk di kursi taman di mana Zaara baru saja duduk di sana. Dengan jantung yang berdebar tidak karuan, pria itu membuka langsung surat yang Zaara berikan padanya beberapa menit lalu.
Pinangannya minggu lalu memang disambut baik oleh kedua orangtua Zaara di rumah. Bahkan Raffa mendapat sanjungan terus dari Reza, yang membuatnya hatinya mengawang-awang. Pria itu memang sungguh percaya diri. Optimisme menyelubungi tekadnya. Ia sudah menyukai Zaara sejak SMA, mengetahui rasa sukanya berbalas pada saat itu, pria itu terus mengincarnya.
Raffa menarik nafas panjang, lalu menghelanya sebentar. Ia membuka lipatan kertas berwarna ungu itu.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Bismillahirrahmanirrahim. Semoga Allah swt mengampuni dan merahmati kita selalu. Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Mas Raffa dan keluarga.
Pertama, saya ingin sekali mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Raffa dan keluarga, karena memiliki niat baik untuk meminang saya, gadis yang masih bau kencur ini. Jujur, saya merasa tersanjung bahwa ada lelaki baik yang tertarik dengan saya.
Terima kasih juga karena Mas Raffa telah memberikan waktu bagi saya untuk berpikir dan menimbang, saya selalu meminta petunjuk dari Allah agar tidak salah melangkah. Semoga Mas pun melakukan hal itu.
Jodoh adalah misteri, hanya Allah yang tahu. Tugas manusia adalah berikhtiar dan berdoa, serta melayakan diri untuk mendapatkan yang terbaik. Saya telah meminta petunjuk pada Allah, berusaha mungkin untuk membersihkan hati dari hal lain. Insya Allah sudah saya temukan jawabannya untuk Mas. Mohon maaf, saya tidak bisa menerima pinangan Mas. Mungkin kita belum berjodoh atau mungkin belum tepat waktunya, wallahu’alam. Inilah jawaban saya saat ini. Semoga Mas Raffa bisa menemukan gadis yang lebih baik dari saya. Semoga Mas menghargai jawaban saya ini.
Terima kasih atas banyak hadiah yang Mas berikan untuk saya, terutama untuk sebuah buku yang membuat pandangan saya terbuka terkait Nikah Muda. Semoga Allah membalas kebaikan Mas dan keluarga. Aamiin.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Zaara Haniya
\=====
Raffa tertunduk lemas mendapati jawaban Zaara dari suratnya itu. Ia tidak menyangka gadis itu akan menolak pinangannya. Sungguh, hatinya kecewa saat ini. Harapannya minggu lalu sempat mengawang tinggi, dan hari ini terhempas ke bumi. Sakit rasanya.
Pria itu menengadahkan wajahnya ke langit, lalu membuka surat itu lagi berharap ia salah membaca. Tetapi tidak ada yang berubah di sana. Lelaki tampan itu meremas surat itu. Tiba-tiba hatinya terentak. Buku? Apa ia pernah memberi buku pada Zaara? Kenapa Zaara menuliskannya di sana?
Raffa membuka suratnya yang sudah ringsek oleh tangannya sendiri. Lalu memastikan kata-kata yang ditulis Zaara di paragraf terakhir suratnya. Buku Nikah Muda? Ia tidak pernah memberi buku itu. Raffa kembali meremas kertas surat itu, lalu mencampakkannya ke dalam tong sampah. Hatinya terasa panas. Ia tahu siapa yang mengirim buku itu dan ia melihatnya tadi di sini.
__ADS_1
Arsene sedang memakai sepatunya setelah menunaikan shalat dzuhur. Pria muda itu terlihat sedang tertawa-tawa bersama kawan masjidnya. Tiba-tiba seorang pria tinggi menghampirinya, membuat dirinya mengangkat wajahnya ke hadapan pria itu.
“Bisa bicara sebentar?” pinta Raffa yang sudah berdiri di hadapan Arsene.
“Oh? Boleh!”
Raffa berjalan menuju halaman belakang masjid, dekat dengan tangga yang mengantarkan mereka pada trotoar menuju gerbang utama. Halaman belakang masjid termasuk halaman yang sepi dan paling jarang digunakan oleh anak-anak LDK untuk mengadakan kajian. Di sana tidak terdapat kursi taman, hanya banyak pohon rindang beserta tanaman hias saja. Arsene mengikuti langkah Raffa dengan rasa penasaran.
Raffa menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan tubuhnya. Wajah angkuhnya terpasang di sana dengan badan tegap dan tangan berlipat di atas dadanya. Matanya menatap tajam pria yang berdiri di hadapannya.
“Ada apa Mas?” tanya Arsene berusaha sopan di hadapan seniornya.
“Apa kamu suka sama Zaara?” tanya Raffa tiba-tiba, membuat kening Arsene mengernyit.
“Kenapa tiba-tiba tanya itu Mas?” tanya Arsene menyelidik.
“Kamu naksir dia? Ah udah pasti itu!” Raffa bertanya dan menjawabnya sendiri. Arsene semakin tidak mengerti dengan tingkah laku pria di depannya itu.
Arsene mulai menatap tajam lawan bicaranya.
“Ada urusan apa sampai Mas tanya itu sama saya?” tanya Arsene masih berusaha bersikap tenang.
“Saya cuma ingin memastikan saja.” Pria itu mulai berbicara formal.
“Apa itu mengganggu Mas?”
“Tentu saja. Zaara itu calon istri saya sekarang, jadi sebisa mungkin kamu tidak usah dekat-dekat dia lagi! Apalagi kirim hadiah sama dia!”
Hati Arsene terasa seperti dipilin ketika mendengar kata ‘calon istri’.
“Ooh jadi Zaara calon istri Mas? Maaf saya tidak tahu.” Arsene menjawab itu pada akhirnya karena ia tidak ingin ribut dengan anak sahabat ibunya itu. Apalagi ini di lingkungan masjid, sungguh tidak elok.
__ADS_1
“Jadi benar kamu yang kirim buku itu?!” Intonasi suaranya terdengar menekan dan meninggi.
“Ya betul.”
“Ingat kata-kata saya tadi! Jangan pernah dekati Zaara!” tekan pria itu sambil mengacungkan satu jarinya di depan wajah Arsene.
Arsene hanya tersenyum menyungging di salah satu sudut bibirnya.
Raffa membalikkan tubuhnya kemudian pergi berlalu meninggalkan Arsene yang masih menatapnya tajam. Ia terkekeh melihat Raffa yang dikuasai emosi, padahal baru beberapa menit yang lalu wajah pria itu terlihat sendu dan murung sambil membaca sebuah kertas. Pasti ada sesuatu terjadi, Arsene yakin itu.
Arsene melangkahkan kakinya tergesa-gesa menuju sebuah kursi taman dimana ia melihat Raffa dan Zaara bertemu tadi. Pasti benda itu ada di sana. Arsene melihat dengan jelas, ketika Raffa membuang kertas berwarna ungu tadi di sebuah tong sampah daur ulang. Semoga saja masih ada di sana.
Ketemu!
Arsene membuka kertas yang sudah kusut itu. Untung saja tong sampah itu penuh dengan dedaunan kering, jadi ia masih bisa mengambilnya. Bodoh sekali pria itu, Arsene mengata-ngatai dalam benaknya. Senyuman kemenangan terbit di bibirnya, memenuhi wajahnya yang kini berbinar. Meskipun begitu ia tidak akan senang dulu, ia harus tetap menundukkan hatinya, menggantungkan seluruh harapannya pada Yang Di Atas. Ia tetap tidak boleh gegabah untuk melangkah. Kertas ini benar-benar memberikannya harapan. Ia siap menjemputnya.
\=====
Bersambung dulu yaa
Ayo jangan pelit vote hari ini
Bakal up 3 episode lho
Like dan commentnya juga yang ramai yaa buat support Author
Terima kasiiih
\=====
__ADS_1