Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Bonus Ep. Takdir Cinta (2)


__ADS_3

“Ridho?” tanyanya tidak yakin, meski ia membuka lebar kedua matanya.


“Patricia?!”


Keduanya saling menunjuk tangan.


“Hai!” ucap Ridho dengan sedikit simpul di bibirnya yang tebal.


“Ha-hai…” Patricia menjawabnya kaku sekali, sampai ia salah tingkah lalu membetulkan posisi hijabnya.


“Kau sudah masuk Islam dan berhijab?” tanya Ridho merasa sangat terheran-heran sekaligus terkejut.


Patricia tersenyum memperlihatkan giginya, “ya, aku seorang mualaf sejak kita selesai pelatihan,” jawabnya lancar.


“Masya Allah!” jawab Ridho terkagum-kagum.


Patricia tersenyum tersipu-sipu.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ridho.


“A-aku mengikuti acara fashion ini untuk mencari inspirasi untuk karya terbaruku nanti,” jawab Patricia memegang erat buku catatannya yang terjatuh tadi.


“Wah, luar biasa!” ucap Ridho kembali takjub.


“Kau bekerja di sini?” tanya Patricia.


“Ya, perusahaan kami menjadi sponsor utama untuk acara ini. Kebetulan aku ada perlu dengan staff, jadi aku mampir kemari.”


“Oh begitu…”


Patricia tampak salah tingkah, ia bingung menghadapi laki-laki yang pernah mencuri hatinya setahun lalu. Tampaknya perasaan itu masih ada meski sedikit, tetapi harus segera ia enyahkan karena pria itu telah beristri, bahkan mungkin saja sudah memiliki buah hati. Sudah lama ia tidak mendengar kabar dari Ridho atau Namira, jadi ia sama sekali tidak tahu apa-apa.


“Bagaimana keadaaan Namira?” tanya dengan mata yang berkilauan.


Senyuman yang sempat muncul di bibir Ridho tiba-tiba saja mengerucut, ekspresi wajahnya berubah. Pria itu mengerjapkan matanya.


“Kau ada waktu luang?” tanya Ridho.


Patricia bergumam, “sepertinya ada!”


“Bagaimana kalau kita makan malam sebentar?”

__ADS_1


“Tidak masalah. Akan kuberitahukan asistenku dulu supaya ia duluan saja ke hotel.”


“Baiklah!”


Patricia menghampiri asistennya yang sedang membereskan barang lalu mulai beranjak berdiri. Ridho menatapnya dari tempat ia berdiri, tak menyangka jika ia bertemu dengan wanita itu, yang pernah menghancurkan tembok pertahanan hatinya.


Tak lama Patricia kembali, sambil tersenyum kecil. Ridho mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang cukup populer di mall itu. Tidak terlalu sepi, tidak juga terlalu ramai.


“Kau sepertinya tidak banyak berubah ya?” ucap Patricia mencoba mencairkan suasana.


Ridho terkekeh sambil mengambil sendok makannya.


“Atau mungkin lebih kurus sepertinya,” ucap Patricia lagi.


“Kau sendiri banyak berubah, aku terkejut dan kagum padamu!” ucap Ridho.


“Jadi bagaimana keadaan Namira?” tanya Patricia polos.


Ridho mengambil air minumnya, lalu mulai mengambil nafas. Matanya terlihat berkilauan kembali. Patricia menatap pria itu keheranan.


“Namira sudah pergi, Pat!” jawabnya singkat, nafasnya terasa sesak. Ia kembali meminum air putih dari gelasnya.


“Namira sudah tidak ada. Ia meninggal empat bulan yang lalu karena preeklamsia, bersama calon anak kami.”


Jantung Patricia serasa berhenti. Ia tidak menyangka teman muslimah pertamanya itu cepat sekali Allah jemput. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Lalu memejamkan matanya.


“Maafkan aku! Aku tidak tahu!” ucap wanita berhijab teracota itu.


“Tidak apa-apa. Maaf aku juga tidak sempat memberitahukannya padamu. Hidupku sedikit kacau beberapa bulan ini,” terang Ridho mengusap seluruh wajahnya dengan tangannya.


“Kau kuat sekali menghadapi ini semua,” ucap Patricia bersimpati.


“Aku tidak sekuat yang kamu kira. Karirku sempat kacau, dan aku ditempatkan di perusahaan yang lebih rendah. Sudah empat bulan berlalu dan aku sudah memutuskan bahwa aku harus kembali menjadi normal, sama seperti ketika Namira mendampingiku.”


Patricia tertunduk sedih. Selera makan malamnya lenyap begitu saja. Ia menusuk potongan daging steaknya dengan lemas ke dalam mulutnya.


“Kau sendiri apa kegiatanmu selama ini?” tanya Ridho berusaha mencairkan suasana lagi.


“Ah, aku banyak berpergian ke beberapa negara Muslim kemarin, lalu tahun ini aku ingin meluncurkan fashion muslim pertamaku,” jawab Patricia.


“Bagus sekali, kau butuh banyak inspirasi ya?”

__ADS_1


“Ya begitulah.”


Setelah pelatihan selesai, kabar pernikahan Ridho dan Namira membuatnya menyibukan diri dengan agama barunya. Oleh karena itu, ia mengajak Ustadzah Ahmed dan Ustadzah Aisyah untuk mendampinginya mengunjungi rumah Allah di Mekah, sekaligus menelusuri jejak Rasulullah di sana. Hatinya yang sempat kecewa dan patah berangsur-angsur pulih karena ibadahnya itu. Ia semakin bersyukur karena mengenal Islam di saat cintanya untuk manusia tidak tersampaikan, maka ia gantikan cinta itu pada cinta yang lebih besar, yaitu Allah.


Malam sudah mulai larut. Ridho mengantarkan Patricia ke hotel tempat menginapnya. Pria itu menurunkannya di depan pelataran hotel.


“Terima kasih sudah mengajakku makan malam,” ucap Patricia menatap sebentar ke wajah Ridho.


“Sama-sama. Kapan kau akan kembali ke London?” tanya Ridho.


“Dua hari lagi,” jawab Patricia melirik ke arah lain.


“Baiklah. Semoga harimu menyenangkan di Indonesia,” ucap Ridho tersenyum kecil.


“Terima kasih.”


Patricia membuka pintu mobil milik Ridho, lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana. Sementara Ridho menatapnya dengan hati yang entah mengapa terasa aneh. Ia berusaha menerjemahkan perasaan apa itu.


“Pat!” panggil Ridho sebelum Patricia berdiri.


Patricia menoleh.


“Bolehkah aku menemuimu lagi sebelum kau pulang?” tanya pria itu ragu.


Alis mata Patricia terangkat.


“Tentu saja,” jawabnya sambil menyunggingkan bibirnya kaku.


Ridho tersenyum tipis.


“Aku akan menghubungimu lagi nanti,” ucap Ridho.


Patricia hanya menjawabnya dengan senyumannya, lalu menutup pintu mobil itu.


DEG. DEG. DEG


Entah mengapa hatinya itu kembali berdebar seperti dahulu ketika ia telah mencuri kecupan dari bibir pria itu. Ingatan itu membuat darahnya berdesir, yang ia coba enyahkan beberapa kali.


“Arrgh, aku sudah gila!!”


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2