Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 86


__ADS_3

Ajeng sudah resmi mendapat persetujuan cuti dari kantornya. Mulai hari ini ia tidak masuk kampus untuk mengajarnya. Beberapa dosen menggantikan tugas mengajar dan bimbingannya setelah itu. Dengan berat hati, Ajeng harus meninggalkan pekerjaan yang dicintainya meski untuk sementara. Ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya sambil mengelus-elus perutnya yang sudah semakin besar.


 


"Aku berangkat dulu ya?!" ucap Ferdian sambil mengenakan jaket denimnya.


"Iya," jawab Ajeng tersenyum.


"Baik-baik di rumah ya, kalau ada apa-apa langsung telepon aku!" ujar Ferdian yang mulai saat ini harus menjadi suami siaga 24 jam karena hari perkiraan lahir semakin dekat.


"Siap, Sayang!"


 


 


Ferdian mengambil helm miliknya. Ia akan menggunakan motor besarnya yang sudah lama tidak dipakainya. Ajeng mengambil tangan suaminya lalu mengecupnya. Ferdian membalas kecupan di kening istrinya. Lalu ia mengecup perut istrinya.


 


 


"Aduh!" ujar Ferdian terkejut.


Ajeng tertawa-tawa karena bibir Ferdian terkena tendangan kecil dari dalam perut.


"Dapat salam dari dedek tuh sebelum berangkat," ucap Ajeng.


"Iya nih, udah gak sabar ya pengen ketemu ayah?" ucap Ferdian mengelus-elus perut istrinya.


Ajeng tersenyum.


 


 


"Dah dedek, ayah berangkat dulu!"


 


 


Ajeng mengantarkan suaminya sampai depan pintu.


"Aku kayanya pulang malem deh!" ujar Ferdian saat baru saja keluar dari hunian apartemennya.


"Iya gak apa-apa, jangan terlalu larut aja!" pesan Ajeng.


"Iya, Sayang! Aku berangkat ya?" ujar Ferdian dengan singkat mengecup bibir istrinya.


 


 


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam...."


 


 


Ajeng melihat Ferdian yang berjalan menuju lift, lalu melambaikan tangannya sampai pintu lift tertutup. Ia pun masuk ke dalam apartemen dan mengunci pintunya. Ajeng berjalan menuju kamar yang dipersiapkannya untuk anaknya nanti. Kamar itu sudah didekorasinya dengan warna serba abu dan putih, warna netral yang memberikan kesejukan dan ketenangan. Ia tidak pernah menyangka akan secepat ini untuk menjadi seorang ibu.  Semua perlengkapan sudah tersedia. Ia juga sudah menyiapkan satu tas penuh untuk dibawanya ketika ia lahiran nanti.


 


 


Ajeng berjalan keluar menuju ruangan utama dimana ia bisa melihat pemandangan kota dari ruangan itu. Ia mendudukan tubuhnya di atas sofa lalu menyetel televisinya. Ah, sungguh membosankan berdiam diri seperti ini baginya. Sepertinya ia harus berolahraga ringan saja agar tubuhnya siap untuk melahirkan nanti. Ajeng memutar sebuah video tentang olahraga khusus untuk ibu hamil. Ia pun mengikuti banyak gerakan yang diinstruksikan. Ternyata cukup melelahkan juga berolahraga dengan durasi 30 menit itu. Ajeng memutuskan untuk istirahat sambil meneguk air putih.


 


 


Ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah nomor yang tidak dikenal menghubunginya.


"Halo?"


"Halo, ini Ajeng kan?" tanya sebuah suara perempuan.


"Iya, dengan siapa ini?"


"Ini aku Nava!"


"Ooh Nava. Ada apa Va?" tanya Ajeng.


"Boleh aku cerita sesuatu?"


"Boleh banget! Tapi aku gak di kampus. Aku udah ambil cuti persalinan, Va!"


"Ooh gitu ya? Kamu tinggal dimana?" tanya Nava, sepertinya dia butuh teman curhat.


Ajeng memberitahukan alamat apartemennya. Nava akan mengunjunginya siang ini, Ajeng mengajaknya agar ia langsung ke cafe di rooftop apartemennya.


 


 


Ajeng jadi semakin penasaran setelah Nava menutup teleponnya. Sudah seminggu lebih sejak pembicaraan ia, Ferdian, dan Andre waktu itu. Apa benar Andre menjalankan rencana yang diajukan Ferdian? Ia belum tahu. Sepertinya ia akan mengetahuinya hari ini.


 


 


\=====


 


 


Hati Nava berdebar-debar. Ia menaiki lift apartemen dimana Ajeng tinggal. Ia langsung pergi menuju cafe di rooftop apartemen itu dan langsung menghubungi Ajeng kalau ia sudah tiba di sana.


 


 


Nava memilih sebuah meja di samping jendela yang meghadap ke kolam renang yang tampak sepi dan tidak ada siapa-siapa itu. Tak lama kemudian Ajeng keluar dari lift, Nava melambaikan tangannya untuk memberitahu posisinya.


 


 


"Hai, udah lama?" sapa Ajeng ramah.


"Baru sampai kok! Maaf ya jadi ngerepotin."


"Santai aja, toh masih di gedung apartemen aku. Ferdian gak izinin aku pergi kemana-mana soalnya!" ucap Ajeng sambil mendudukan tubuhnya.


"Iya aku ngerti kok, jadi deg-degan nih kayanya lihat kamu mau lahiran gini," ujar Nava memperhatikan perut Ajeng yang besar.


"Deg-degan lihat aku, apa lihat yang lain?" goda Ajeng.


Nava tertawa-tawa. Sebelum masuk ke perbincangan, mereka memesan makanan dan minuman ringan dulu.


 


 


"Jadi ada apa nih, kayanya penting banget?" tanya Ajeng sambil menyuap sebuah potato chip.


Nava terkekeh malu.


"Udah jawab lamaran Andre?" tanya Ajeng.


Nava menggeleng sambil tersenyum getir.


"Lho kenapa? Bukannya kamu cinta sama dia?"


Nava menghela nafas. Wanita itu tertunduk.


 


 


"Iya aku mencintainya," jawab Nava pada akhirnya.

__ADS_1


"Terus apa yang membuat kamu menunda jawaban itu?" tanya Ajeng lagi.


"Aku...ah, bodoh banget aku ini!"


"Emang kenapa, Va? Cerita aja!"


 


 


"Aku sengaja menundanya, karena aku butuh untuk merekamnya dalam tulisan aku!"


Mata Ajeng melebar. "Maksud kamu?" tanya Ajeng.


"Aku seorang penulis, Jeng! Aku tahu ini salah. Saat aku ngerasain debaran ini, aku menulis semuanya untuk novelku. Karena menurut aku perasaan ini begitu berharga untuk dijadikan cerita. Setelah sekian lama perasaan ini aku pendam selama Andre di London, akhirnya aku merasakan itu lagi. Jadi aku gak mau kehilangan momen ini begitu cepat. Cuma aku ngerasa kalau Andre malah ngejauhin aku sekarang, aku gak tahu harus gimana..." terang Nava cemas.


 


 


Ajeng terdiam. Jadi inilah alasannya Nava menunda jawaban lamaran Andre. Sungguh lucu tetapi memang Nava benar, perasaan itu sangat berharga. Jadi tidak ada salahnya untuk direkam dalam tulisannya. Ajeng tersenyum.


 


 


"Yakin Andre ngejauhin kamu?"


"Selama kita ketemu di kampus, dia sering ngehindar dari aku. Aku coba menyapa, tapi dia tiba-tiba pergi. Dan...."


"Dan apa?"


"Dia kayanya lagi dekat sama seorang mahasiswi lain."


"Ah seriusan?"


"Iya, Jeng! Beberapa kali aku mergokin mereka sedang berbincang asyik dan akrab banget."


"Lagi bimbingan kali!" ucap Ajeng.


"Mungkin. Tapi masa sih sambil ketawa-ketawa gitu?"


 


 


Ajeng termenung. Andre menghindar berarti memang ia menjalankan masukan dari Ferdian. Tetapi kalau dekat dengan mahasiswi lain, apakah itu bagian dari rencana tambahannya? pikir Ajeng.


 


 


"Kamu cemburu gak Va?" tanya Ajeng ingin mengetahui perasaan wanita di hadapannya.


Nava sejenak terdiam.


"Aku..., sepertinya iya," jawab Nava ragu-ragu. "Jadi aku harus gimana?" tanya Nava cemas.


"Jawab lamaran Andre segera, sebelum ia menarik lamaran itu dan justru ia kasih ke orang lain!" seru Ajeng. Meskipun Ajeng tahu, Andre adalah seorang yang setia, ia tidak akan mungkin dekat dengan gadis lain, apalagi ia tengah menunggu jawaban dari wanita pujaan hatinya.


 


 


"Begitu ya?"


"Iya dong! Meskipun dia udah nungguin kamu selama 7 tahun ini, tapi maaf ya Va, menurut aku kalau kamu sampai membiarkan dia yang nunggu kamu selama itu, bisa aja dia cepat pindah ke lain hati."


 


 


Nava tertunduk lesu, matanya berkaca-kaca.


"Maaf aku bukan maksud untuk bikin kamu takut, tapi menurutku kapal kalian itu harus segera berlayar. Jangan biarkan dia menunggu lebih lama lagi, Va!" seru Ajeng.


"Baiklah, Jeng! Aku rasa aku akan memberikan jawaban untuk dia, segera!" jawab Nava yakin.


"Aku yakin kalian bisa bahagia bersama," ucap Ajeng menyemangati.


"Sama-sama," ucap Ajeng tersenyum.


 


 


\=====


 


 


Nava kembali ke kampusnya setelah ia menemui Ajeng. Dengan hati cemas dan berdebar ia bermaksud untuk menemui Andre sore ini. Karena hari ini tidak ada perkuliahan, ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ia berniat untuk melanjutkan tulisannya sambil menunggui Andre yang selesai mengajar.


 


 


[Andre bisa kita ketemuan? Ada yang ingin aku bicarakan] ketik Nava di whatsapp.


 


 


Nava berharap Andre segera membalasnya. Meskipun ia tahu, mungkin Andre masih ada jadwal mengajar. Ia membuka netbook miliknya lalu mulai melanjutkan ceritanya. Sudah hampir satu jam berlalu, Nava melihat kembali ponselnya. Belum ada balasan apa-apa di sana. Ia jadi cemas. Tetapi ia masih akan menunggunya.


 


 


Sore telah menyapa. Awan mendung sudah menghampiri bersiap-siap menerjunkan pasukan langitnya. Nava menutup netbooknya setelah berhasil menulis sebanyak sekitar 3000 kata. Perpustakaan sebentar lagi tutup, mahasiswa-mahasiswa mulai berhamburan keluar. Nava menantap layar ponselnya, pesannya itu belum mendapat balasan. Bahkan pesannya itu belum dibaca oleh yang bersangkutan. Apa ia harus menunggu atau pulang saja?


 


 


Nava memutuskan untuk pergi ke gedung dekanat, berharap ia akan menemukan Andre di sana. Dengan langkah kecilnya, ia berjalan menyusuri koridor dan selasar gedung perkuliahan. Angin mulai berhembus kencang menyapu jalanan yang dipenuhi dedaunan kering yang terjatuh Gemuruh mulai menggema seantero langit.


 


 


Ia mendudukan dirinya di sebuah kursi lobi. Para pegawai dan dosen mulai keluar dari ruangan kerja mereka. Nava berharap Andre akan segera muncul di sana. Sudah hampir 30 menit batang hidungnya belum muncul. Hati Nava sudah merasa sedih. Ia merasa bodoh karena mengabaikan pria itu. Ia berjalan keluar dari gedung, karena gedung tampaknya sudah kosong dari para pegawai. Hari sudah sangat gelap, dan hujan deras pun tiba disertai angin kencang. Nava memutuskan berdiam diri di sebuah kursi di selasar gedung B. Hujan deras seperti itu tidak memungkinkannya untuk pulang. Ia memandang hujan, tubuhnya mulai kedinginan.


 


 


Tiba-tiba datang sekerumunan mahasiswa laki-laki. Mahasiswa-mahasiswa itu duduk menghampar di atas lantai dan mengeluarkan laptop mereka. Nava melirik ke arah mereka. Itu adalah Ferdian dan kawan-kawannya.


 


 


"Kita ngerjain di sini aja lah, mau ke asrama mana bisa!" ujar Malik yang sudah membuka laptopnya.


"Iya, hujan angin gini. Kayanya hujan berhenti gue langsung balik aja!" ucap Ferdian membuka diktat perkuliahannya.


 


 


"Eh ada mahasiswi cantik tuh, sendirian lagi!" ucap Danu mengecilkan suaranya, sontak keenam pria itu langsung menoleh ke arah mahasiswi itu.


"Cakep banget, mirip Miss Ajeng! Godain ah!" seru Syaiful riang, ia bermaksud mendekati mahasiswi itu.


"Hey hey!" sergah Ferdian, membuat Syaiful terhenti.


"Naon sih? Bentar aja mau kenalan doang!" ujar Syaiful.


 


 


"Itu pacarnya Mister Andre!" ucap Ferdian, otomatis membuat kaki Syaiful lemas dan ambruk di atas lantai.

__ADS_1


Danu tertawa terbahak-bahak melihat kawannya yang berakting lebay itu, diikuti oleh kelima kawannya yang lain.


"Ipul, Ipul, apes banget idup lo ah!" seru Danu.


"Seriusan, itu pacar Mister Andre?" tanya Syaiful tidak percaya.


"Serius, calon istri malah! Mahasiswi S2!"


"Ya Allah kapankah diriku ini dapat jodoh?" ujar Syaiful menengadahkan tangannya. Seketika petir menggelegar.


"Bahkan langit pun belum ridho Lo minta jodoh!" celetuk Ghani.


Kelima kawannya itu tertawa-tawa lagi, membuat Nava menoleh pada mereka. Ia jadi tidak merasa kesepian lagi.


"Ajakin dia kesini aja lah Fer! Kasian sendiri gitu!" ujar Syaiful.


"Awas ah entar Lo modus!" timpal Malik.


"Woy cepet kerjain tugasnya!" seru Ridho yang mulai kesal.


Semua kawannya itu pun menurut dan mulai fokus mengerjakan tugas kelompok mereka.


 


 


Tak terasa malam sudah menyelimuti langit. Hujan sudah reda. Lampu-lampu gedung, taman, dan jalan sudah dinyalakan. Nava berdiri dan berniat pulang, sebelum hujan besar datang lagi. Ferdian yang melihatnya segera memanggil. Ia memang tidak kenal dengan calon Andre itu, tetapi ia khawatir seorang perempuan berjalan sendirian di kampus yang terbilang luas ini, apalagi di malam hari seperti ini.


 


 


"Teh Nava!" Ferdian memanggilnya. Nava menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Kenapa ya?" tanya Nava.


"Mau pulang?"


"Iya, kamu Ferdian ya?"


"Iya, Teh! Tunggu sebentar!" ujar Ferdian. Nava memperhatikan pria tinggi itu dengan heran.


 


 


Ferdian mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang di sana.


"Bang, dimana?" tanya Ferdian, ia melangkah menjauhi Nava agar wanita itu tidak mendengarnya.


"Di apartemen, kenapa?"


"Cepet ke gedung B lah, darurat nih!"


"Darurat apa?" tanya Andre tidak mengerti.


"Cepetan kesini, pokoknya darurat! Bawain jaket dua sekalian!"


"Apaan sih?"


"Pokoknya cepetan, ini calon Abang sendirian di kampus, kasian kehujanan!" ujar Ferdian sedikit berbohong.


"Serius?"


"Bener! Udah buruan kasian ini!"


"Ya udah, aku kesana sekarang!" seru Andre yang langsung menutup teleponnya.


Ferdian tersenyum lega. Meskipun sebenarnya ia bisa mengantar wanita itu, tetapi ia sudah memegang janji istrinya kalau motornya itu hanya milik istrinya, jadi ia tidak boleh membonceng wanita lain. Lagipula sepertinya kedua orang ini butuh bicara.


 


 


"Teh, tunggu sebentar, boleh saya tanya sesuatu? Teteh mahasiswa pasca sarjana Sastra Inggris kan?" tanya Ferdian.


"Iya. Tanya apa?"


Ferdian bergegas mengambil diktatnya. Ia kembali lagi pada Nava.


"Teh, ngerti maksud penjelasan ini gak ya?" tanya Ferdian menunjukkan sebuah paragraf dalam diktat perkuliahan drama. Ferdian sebenarnya pura-pura saja, agar wanita itu bisa bertahan di sana lebih lama.


Nava membaca paragraf itu dengan seksama. Lalu ia menjelaskannya kepada Ferdian apa yang dipahaminya. Ferdian mengangguk-angguk. Kelima kawa Ferdian memperhatikan keduanya.


 


 


"Itu si Ferdi lagi ngapain?" tanya Danu.


"Awas aja, ngeduain Miss Ajeng! Ntar biar Miss Ajeng buat gue aja!" celetuk Syaiful.


"Entahlah, dia kayanya nanyain tugas kita!" ujar Ghani.


 


 


Tiba-tiba sebuah mobil merah mpv berhenti di depan gedung B. Nava memandanginya curiga, hatinya tiba-tiba melompat ketika Andre keluar dari sana. Nava menatap Ferdian, lalu menggeleng-geleng. Andre membawa sebuah jaket di tangannya, ia berjalan menuju Nava dan Ferdian. Ferdian tersenyum rencananya berhasil. Andre menatap Nava heran lalu bergantian menatap Ferdian.


 


 


"Katanya kehujanan?" tanya Andre.


Ferdian berusaha menahan tawanya.


"Teh, makasih ya penjelasannya. Silakan kalau mau pulang, udah dijemput pacarnya ya?" ujar Ferdian tersenyum.


Andre menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi salah tingkah. Begitu juga dengan Nava.


 


 


"Ini kamu pakai aja!" ujar Andre menyodorkan jaket miliknya pada Nava.


"Makasih, Dre!" jawab Nava tertunduk sambil mengambil jaket itu. Ia teringat jaket Andre yang lain saja belum dikembalikannya.


"Yuk pulang!" ajak Andre.


Nava tersenyum tersipu-sipu. Keduanya pun berjalan menuju mobil milik Andre. Ferdian tersenyum lebar melihat pasangan itu. Good luck, Bang Dre!


 


 


\=====


 


Like, comment, vote, dan tipsnya dong


Biar makin seru ^_^


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2