
Ferdian dan Ajeng menuruni tangga dengan langkah perlahan. Ferdian menggenggam erat tangan istrinya. Beberapa kali mereka berpas-pasan dengan para dosen dan staff yang menaiki tangga, tampak sibuk sepertinya.
"Kok perasaan rame ya?" tanya Ajeng.
"Gak tau tuh, di bawah kaya ada acara," jawab Ferdian jujur.
Ajeng berusaha mengingat-ingat, apa ada informasi terkait acara hari ini di gedung dekanat. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, kalau hari ini ada peluncuran buku tentang Sejarah Kebudayaan Indonesia yang ditulis oleh salah satu dosen senior dari jurusan Sejarah.
"Oh iya, Bu Saraswati dan Pak Budiana mau launching buku mereka," ujar Ajeng pada suaminya.
"Ooh gitu," respon Ferdian datar. Ia tidak ingin tahu, ia hanya fokus untuk menjaga istrinya.
Tibalah mereka di lantai dasar gedung dekanat yang sudah dipenuhi oleh para dosen dan staff, ada beberapa mahasiswa juga di sana. Memang tidak terlalu penuh, hanya tetap ramai. Ferdian merangkul bahu Ajeng, merapatkan tubuhnya sehingga semakin erat dan dekat. Ajeng menatap suaminya heran.
"Kamu kenapa?"
"Enggak," jawab Ferdian, matanya seperti mencari sesuatu.
Ia membuat tangan istrinya merangkul tubuhnya, sehingga mereka terlihat mesra.
Ketemu. Kevin ada di luar gedung sedang berbicara dengan salah satu dosen. Ferdian sengaja berjalan melewat di sampingnya, agar pria itu melihat ia dan istrinya. Ajeng tidak sadar akan keberadaan Kevin di sana, hanya saja ia tetap merasa aneh dengan sikap Ferdian yang menurutnya terlalu berlebihan ketika membawanya. Biasanya suaminya itu hanya menuntun tangannya ketika berada di gedung dekanat, tidak merangkulnya sedekat ini. Meskipun begitu, tetap saja ia merona dibuatnya.
"Sayang, ada sesuatu di wajah kamu!" ucap Ferdian yang langkahnya berhenti tiba-tiba. Ia berhenti tepat di depan Kevin, sehingga Kevin yang sedang mengobrol tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya Ajeng terkejut memandang wajah suaminya.
"Matanya pejamin sebentar," ujar Ferdian, meski merasa heran, Ajeng menurut saja.
Ferdian meniup wajah istrinya itu dengan lembut. Jarak wajah di antara keduanya bahkan terlalu dekat. Andai saja itu bukan di tempat ramai, mungkin ia sudah mengecup bibir istrinya.
Kevin yang melihat keduanya, hatinya terasa sangat panas. Lawan bicaranya menatap ia terheran-heran. Pria tinggi berwajah tampan itu tertegun dengan hati yang panas, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Ajeng bukanlah siapa-siapanya. Ia sadar, suami Ajeng itu juga sengaja melakukannya di depan dirinya.
"Pak Kevin?" lawan bicaranya menyadarkannya.
"Ah iya? Maafkan saya," ujar Kevin sambil memaksakan senyumannya.
"Kita ke dalam, acara sudah mau dimulai."
"Baiklah," jawab Kevin. Kemudian ia menatap sekilas pada kedua pasangan yang berada tidak jauh dari dirinya, lalu membalikan badan dan melangkah menuju gedung.
Ferdian mendelik pada pria itu. Lalu tersenyum menyeringai.
"Apa sih? Udah belum?" tanya Ajeng yang belum membuka matanya.
"Tadi ada bulu mata jatuh!" jawab Ferdian berbohong.
__ADS_1
"Ooh...dikirain apa!"
"Yuk!" ajak Ferdian yang kali ini menarik lengan istrinya.
\=====
Sore ini adalah jadwal Ajeng berkunjung ke dokter kandungannya. Usia kehamilan Ajeng sudah memasuki bulan ke delapan. Ia semakin sering merasa tendangan dan pukulan dari makhluk kecil di dalam perutnya. Meski kadang terkejut dibuatnya, ia merasa bahagia. Jika kunjungan sore, maka klinik Dokter Sita akan penuh dikunjungi oleh para ibu hamil.
Ajeng dan Ferdian duduk di salah satu kursi kosong dekat ruangan rawat inap pasien, jadi tidak terlalu ramai seperti di dekat ruangan konsultasi. Ajeng menyandarikan kepalanya di bahu sang suami.
"Aku gak sabar pengen ketemu dedek nih!" ujar Ajeng.
"Kamu enggak takut lahiran nanti?" tanya Ferdian mengelus lengan sang istri.
"Enggak, udah berapa kali aku jawab pertanyaan kamu itu, Fer!"
Suaminya itu terkekeh-kekeh saja.
Tiba-tiba datang sepasang suami istri menuju arah tempat mereka duduk. Ajeng memandang riang pada pasangan itu.
"Karin!" ucap Ajeng riang.
"Eh, ketemu Ajeng disini!" jawab Karin yang sama-sama riang juga terkejut di waktu yang bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ajeng, "Kamu juga konsultasi sama Sita?" tanya Ajeng.
"Iya, semenjak pindah ke Bandung aja," jawab Karin.
Ferdian menyalami suami Karin, Reza yang kini bertemu lagi. Kedua wanita hamil itu pun duduk terpisah dari suami mereka.
"Senangnya, bisa ketemu disini!" ujar Ajeng.
"Maaf ya, kita belum sempet mampir. Maklum, Mas Reza lagi sibuk banget kerja dan kajiannya. Jadi cuma weekend aja istirahatnya, itu pun gak benar-benar istirahat, karena biasanya masih ada kajian weekend," terang Karin yang mengenakan khimar berwarna cokelat susu.
"Iya gak apa-apa kok, lagian kamu di Bandung juga masih lama kan?"
"Insya Allah, selama Mas Reza kerja di perusahaan papa kamu, mungkin masih di sini."
"Masih bisa kajian ya meski sibuk gitu?" tanya Ajeng penasaran.
"Insya Allah selalu kita sempatkan, Jeng! Karena kita gak tahu hidup sampai kapan, jadi sebisa mungkin cari sebanyak-banyaknya ilmu dan belajar untuk mengamalkannya," jawab Karin tersenyum.
"Keren ih! Jujur aku belum bisa kaya kamu."
"Kalau hatinya udah terbuka dan niatnya udah kuat, sesibuk apapun, bisa kok! Insya Allah, Allah mudahkan jalannya," ujar Karin.
"Masya Allah!"
__ADS_1
"Eh, itu nama kamu dipanggil lho," ujar Karin.
"Oh iya? Ya baru juga ngobrol, aku masuk dulu ya, Rin?!"
Karin mengangguk tersenyum. Ajeng memanggil Ferdian yang juga sedang mengobrol dengan Reza untuk ikut bersamanya masuk ke dalam ruangan dokter. Ferdian pun izin pada pria tegap itu.
Seperti biasa, perut Ajeng diperiksa oleh alat USG oleh Dokter Sita, untuk melihat perkembangan janinnya. Semuanya tampak normal dan sehat, hari perkiraan lahir sudah ditentukan, yaitu dalam sebulan lebih lagi. Sita menyarankan Ajeng untuk tetap beraktivitas normal seperti biasa hanya saja harus lebih hati-hati. Ia juga menyarankan untuk mengambil cuti kerja dua minggu sebelum hari perkiraan lahir untuk berjaga-jaga. Olahraga ibu hamil harus rutin dilaksanakan.
"Jadi aku harus ambil cuti dua minggu lagi ya?" tanya Ajeng.
"Iya, saran aku sih seperti itu, untuk berjaga-jaga kalau ternyata bayinya lahir lebih cepat," ujar Dokter Sita.
"Hmm..."
"Dan kalau kamu mau lahiran normal, olahraganya dirutinkan lagi ya. Satu lagi, sepertinya ayahnya harus lebih sering mengunjungi dedek bayi, dan bikin ibunya puas di ranjang," terang Sita, membuat mata Ferdian berbinar kemudian terkekeh geli.
"Kamu mah ada yang anjurin gitu, pasti semangat!" ucap Ajeng menepuk paha suaminya.
"Kan yang puas bukan cuma aku, tapi kamu juga," ujar Ferdian membuat alasan.
Sita jadi ikut tertawa-tawa melihat pasiennya itu.
"Iya, hubungan seksual yang memuaskan bisa merangsang kontraksi alami di rahim ibu. Ibaratnya ini seperti induksi alami, sehingga peluang kemungkinan untuk melahirkan secara normal bisa lebih besar. Apalagi jika posisi bayi sudah bagus," terang Dokter Sita.
"Wah, kalau gitu aku akan berusaha memuaskan istri saya, Dok!" ucap Ferdian semangat, membuat rona wajah Ajeng jadi merah seketika.
Sita memberikan dua jempolnya untuk Ferdian.
Setelah itu, keduanya mengakhiri konsultasi sore itu. Ferdian masih saja menahan senyumannya karena ingat perkataan dokter istrinya itu. Begitu pula Ajeng yang masih tersipu-sipu.
"Udah selesai Jeng?" tanya Karin yang ternyata sudah duduk di kursi samping pintu ruangan Sita.
"Iya, Rin!"
"Mau langsung pulang?" tanya wanita berkerudung itu lagi.
"Sepertinya, besok masih ada jadwal mengajar soalnya. Duh, bukannya gak kangen, tapi gimana ya udah sore juga," ujar Ajeng mengambil kedua tangan kawan SMA nya itu.
"Iya, aku ngerti kok. Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi ya?"
"Pastinya."
"Sehat-sehat terus ya!" ucap Karin.
"Kamu juga, Rin! Aku pamit duluan ya, assalamu'alaikum," pamit Ajeng sambil melambaikan tanganya pada sahabatnya itu.
"Wa'alaikumsalam."
\=====
Ehm, ada yang semangat nih >.<
Jangan lupa like, comment, vote dan tips
Biar makin semangaaaat ^_^
__ADS_1