Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 101


__ADS_3

Suasana hening malam itu terasa saat Arsene benar-benar telah tertidur. Setelah menyusui kepada ibunya selama kurang lebih satu jam, akhirnya bayi itu benar-benar tertidur lelap. Selimut tipis membalut tubuhnya yang menghadap ke samping.


Ajeng berbaring di sebelah suaminya yang masih sibuk menatap layar ponsel. Ia membetulkan kancing piyama tidurnya, sambil sesekali mengintip apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Ternyata Ferdian sedang melihat chat grup SMA-nya, matanya begitu intens memperhatikan chat demi chat yang muncul di sana. Ajeng mendeliknya kesal.


"Aku tidur duluan ya?" ucap Ajeng menarik selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya.


Hening. Tidak ada jawaban dari suaminya. Ajeng bangkit kembali dan membanting bantalnya seolah-olah ia memperbaiki posisi bantalnya itu. Ferdian menoleh.


"Marah, Beb?"


Entah kenapa jika Ajeng sedang terlihat marah atau cemberut, Ferdian suka sekali memanggilnya dengan panggilan 'Beb'.


Ajeng tidak menjawab. Ia menutup kepala dan wajahnya dengan selimut. Ferdian terkekeh geli, langsung saja ia memeluk tubuh istrinya yang terbuntel dengan selimut putih polos tebal. Ajeng meronta dari dalam, agar suaminya itu melepaskan tubuhnya. Ajeng membuka selimut dari kepalanya.


"Kamu tuh ya, baru aja gabung grup chat sama temen-temen SMA, udah cuekin aku. Apalagi kalau ikut reuni, kayanya bakal lupain aku deh!" protes Ajeng, rambutnya berantakan karena ia baru membuka selimut yang menutupnya tadi.


"Kok marah?"


"Habisnya kamu gak respon apa-apa pas aku bilang mau tidur duluan!"


"Ya ampun, ratuku ini tambah cantik aja kalau lagi sensitif gini," ucap Ferdian memindahkan anak rambut yang sebagian menutup wajah istrinya.


"Gak usah goda-goda deh, aku mau tidur!"


Tubuh Ajeng menghadap arah yang berlawan dengan suaminya, ia memeluk guling dan menutup wajahnya kembali.


Ferdian langsung beranjak dan bertumpu di atas tubuh istrinya, ia mengambil guling yang menghalangi tubuh mereka. Ajeng menatap suaminya itu sambil memasang wajah cemberut tetapi ingin menahan tawa, karena ia tengah berakting.


"Mana bisa aku lupain kamu, waktu tidur aja aku selalu terbayang-bayang wajah kamu!" ucap Ferdian, wajahnya mendekati wajah istrinya. Ajeng mendorong tubuh suaminya itu, sambil menahan senyumnya.


"Kamu ikut aku reuni ya?!" ucap Ferdian lagi.


"Kapan emangnya?"


"Minggu depan! Malam minggu!"


Ajeng mengernyitkan alisnya, lalu memutar matanya. "Oke deh!"


"Yes!" seru Ferdian semangat sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Dah sana, aku mau tidur!"


"Gak dapat jatah hari ini nih?" tanya Ferdian kembali mendekatkan wajahnya pada istrinya


"Besok aja, oke?!" kecup Ajeng di pipi suaminya.


Wajah Ferdian lesu seketika. Namun ia hanya berpura-pura, lalu kembali ke tempatnya membiarkan istrinya tertidur lebih dulu. Sedangkan ia kembali membuka ponselnya, dan membaca ketikan chat teman-temannya.


\=\=\=\=\=


Akhir minggu itu, Ferdian datang ke rumah ayah dan bundanya, karena ia sudah berjanji untuk menemui mereka. Entah apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya hari ini.


Ferdian menyalami dan memeluk kedua orangtuanya, diikuti oleh Ajeng. Bunda langsung menggendong Arsene dan membawanya ke taman belakang untuk bermain di sana. Ternyata oma dan opanya sudah menyiapkan lahan bermain khusus untuk cucu pertamanya itu. Arsene jadi merasa antusias ada banyak permainan di sana yang berwarna-warni. Bayi yang sudah bisa merangkak itu pun langsung mengambil sebuah bola berwarna merah kuning berbunyi kerincing. Ia melempar bola itu dengan kedua tangannya ke arah yang ia suka, hingga akhirnya bola itu tercebur ke dalam kolam, membuat ekspresi wajah bayi itu terkejut.


"Yah Cen, kecemplung tuh bolanya!" ujar Oma Bella yang menggendong Arsene.


Ajeng berjalan menuju kolam kecil itu dan mengambilkan bola dan membersihkannya.


Oma membiarkan Arsene turun dan kembali bermain dengan banyak permainan yang ada di sana.

__ADS_1


Sementara itu, daddy-nya sudah berada di ruang keluarga duduk di sofa berwarna cokelat bersama opanya.


Pak Gunawan sudah benar-benar sehat. Ia sudah bisa berjalan normal, dan lafal ucapan yang terlontar dari lidahnya juga sudah kembali lancar. Sungguh pemulihan yang sangat cepat, setelah anak bungsunya itu dikabarkan akan memiliki anak. Kali ini ia duduk bersandar di atas sofanya.


"Gimana bisnis cafe dan rumah makan kamu?" tanya ayah.


"Alhamdulillah sejauh ini lancar. Kemaren sempet ada masalah kecil di cafe, tapi udah aku selesaikan."


"Bagus! Ayah juga udah denger dari Resha. Kamu udah banyak berubah ya?"


Ferdian mengangkat alisnya. Tidak mengerti perkataan ayahnya.


"Dulu waktu masih semester awal kuliah, kamu dengan seenaknya memecat orang-orang yang sebenarnya punya kapabilitas bagus untuk usaha kamu. Tetapi hanya karena mereka melakukan kesalahan kecil, kamu buang orang-orang itu."


Ferdian menatap ke bawah, ia teringat dulu awal-awal merintis usahanya itu. Karena ia memang bekerja sendiri, ayahnya hanya memantau dan tidak ikut campur di dalamnya. Hanya Resha yang selalu memberinya nasihat dan masukan. Emosi yang seringkali meluap, membuatnya mudah sekali memberi keputusan. Kalau bukan karena kakaknya dulu, mungkin usahanya itu sudah jatuh. Namun sekarang ia punya penasihat pribadi, agar ia mempertimbangkan sesuatu dilihat dari sudut pandang lain. Ia mendapatkan itu dari istrinya.


"Ya, itu karena masukan dari Ajeng, Yah!" ucap Ferdian kaku.


"Istri kamu itu cerdas. Kenapa makanya dulu ayah menjodohkan kalian, itu karena ayah pikir kamu bisa berubah kalau hidup dengan dia."


"Apa itu juga alasan ayah menjodohkan aku dengan wanita yang lebih tua usianya?"


Ayahnya mengangguk. "Ayah tahu, pemikiran kamu itu sebenarnya dewasa, karena kamu dekat dengan kakakmu, Resha. Tetapi emosi kamu masih labil dan gampang meluap, jadi ayah pilihkan kamu perempuan yang lebih tua dan dewasa dari kamu. Biar kamu bisa dikontrol sedikit oleh istri kamu."


Ferdian tersenyum.


"Ayah ingin kamu berkembang lebih baikĀ  lagi, Fer! Tapi ayah sadar, kamu masih butuh banyak waktu. Apa kamu mau maju bersama perusahaan kita?" tanya ayahnya yang menatap anaknya itu dalam-dalam.


"Aku akan siap kalau ayah benar-benar membutuhkan aku."


Ayah menegakkan tubuhnya. Ia menautkan jari-jari tangannya.


Entah mengapa Ferdian jadi merasa gugup mendengar kata-kata dari ayahnya itu.


"Jadi apa yang harus aku lakukan Yah?"


Ayah Gunawan menghela nafas.


"Ayah ingin kamu bisa memimpin perusahaan kita tahun depan. Tapi...."


Ferdian menelan salivanya. Ferdian terdiam sebentar. Firasatnya selama ini benar, ayahnya itu memang berniat untuk menempatkan ia di posisi tinggi perusahaan ayahnya. Hatinya menjadi tegang. Tetapi ia tidak bisa mengucap sesuatu, karena perkataan ayahnya itu belumlah usai dan masih menggantung.


"Kamu harus mengikuti training, semacam pelatihan untuk mempersiapkan diri dan belajar mengelola perusahaan besar, karena pada dasarnya kamu sudah memiliki ilmu dan pengalaman teknis. Tetapi kamu tidak memiliki bekal dasar. Jadi ayah harap kamu bisa ikut training ini."


Ferdian tampak fokus mendengar ucapan ayahnya kata per kata.


"Abang Leon juga pernah bilang sama aku, jadi kapan aku ikut pelatihannya?" tanya Ferdian tidak sabar.


Ayah Gunawan lagi-lagi menghela nafas, ia ragu untuk mengatakan pada anaknya.


"Apa tidak masalah bagi kamu untuk berpisah sebentar dengan istri dan anak kamu selama enam bulan?" tanya ayah terdengar ragu.


Ferdian membelalakan matanya, terkejut.


Enam bulan adalah waktu yang memang tidak lama. Tetapi bagi dirinya, itu adalah waktu yang cukup lama berpisah dengan anak dan istrinya, mengingat ia sangat mencintai keduanya. Ferdian tampak menahan nafasnya.


"Dimana pelatihannya?" tanya Ferdian.


"Chicago, Amerika!"

__ADS_1


Jantung Ferdian melompat. Sejauh itukah ia harus meninggalkan istri dan anaknya?


"Apa Bang Damian tidak cukup bagus untuk memimpin perusahaan Ayah?" sergah Ferdian, ia hendak mengetahui tujuan dibalik ayah mengirimnya untuk pelatihan bisnis itu. Toh, sebenarnya Ferdian tidak terlalu berambisi untuk memimpin perusahaan sebesar milik ayahnya itu. Dengan dua bisnis kecilnya, ia percaya diri untuk bisa mengembangkannya lagi, dan suatu hari pasti akan berhasil.


Ayah Gunawan memijat pelipisnya, wajahnya terlihat murung dan kecewa. Ferdian menatap wajah ayahnya, apakah ada masalah sampai ayah berekspresi seperti itu? Ia masih menunggu ayahnya mengeluarkan kata-kata.


"Abang kamu berulah!" ucapnya kemudian.


"Maksud Ayah apa?" Ferdian menatap tajam pada ayahnya.


"Dia mabuk di sebuah klub, dan terlibat skandal perselingkuhan dengan rekan bisnisnya sendiri," ucapnya lagi, terdengar helaan nafasnya yang berat.


"Astaghfirullahal'adziim! Kenapa dia bisa gitu, Yah?!" seru Ferdian tidak percaya.


"Ayah juga kurang tahu, tapi menurut informan ayah, dia kecewa berat karena rumah tangganya di ujung tanduk!"


Ferdian mengernyitkan alis. Padahal beberapa bulan yang lalu, ia masih melihat istri dan abangnya itu baik-baik saja.


"Kak Tania gimana?"


"Dia mengajukan perceraian padanya minggu lalu!"


Ferdian menarik rambutnya ke atas, tidak percaya kalau rumah tangga abangnya itu sedang rapuh.


"Beberapa proyek mangkrak akibat ulahnya itu. Untung saja Leon masih bisa antisipasi. Makanya ayah membutuhkan kamu untuk maju dan berkontribusi untuk perusahaan kita!"


"Terus gimana keadaan abang sekarang?" Ferdian lebih mencemaskan kondisi abang satu-satunya itu.


"Dia udah pisah ranjang, dan tinggal di sebuah apartemen di Jakarta! Tania juga sudah kembali ke rumah orangtuanya."


"Ya Allah...." ucap Ferdian lemas.


"Ferdian akan bicara sama abang!" ucapnya kemudian.


"Tidak usah, biarkan dia berpikir. Ayah sudah memberi nasihat padanya agar dia menyadari kesalahan terbesarnya, dan berusaha mempertahankan rumah tangganya! Dia bukan anak kecil lagi, ayah akan menghargai keputusan yang diambilnya. Meskipun ayah berharap agar abangmu dan Tania bisa bersatu lagi."


Ferdian tertunduk lemas.


"Kamu pikirkan baik-baik terkait hal ini ya? Karena ayah benar-benar membutuhkan kamu di perusahaan. Ini waktunya kamu maju!" ucap ayah lagi, mengingatkannya perihal apa yang dibicarakan sebelumnya.


"Kapan mulai trainingnya?" tanya Ferdian.


"Training dimulai di awal musim semi ini. Artinya awal tahun depan kamu berangkat ke Amerika! Ayah juga tidak akan mengirim kamu sendiri ke sana. Ridho akan ikut serta mendampingi kamu, dan dia sudah setuju!"


"Ridho ikut?"


"Iya, dia akan ikut berkontribusi di perusahaan kita!"


"Baiklah, aku akan pertimbangkan baik-baik dan membicarakannya dengan Ajeng dulu," jawab Ferdian.


Ayah tersenyum kecil. Ia sangat menyadari anak bungsunya akan sangat berat meninggalkan anak dan istrinya itu. Namun ia benar-benar membutuhkannya saat ini.


\=\=\=\=\=


Nah lho, gimana ya? Akankah Ferdian menyetujui permintaan ayahnya?


Yuk ramein komennya


Like dan vote jangan lupa

__ADS_1


Makasiiiiih ^_^


__ADS_2