Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 89. Berdua


__ADS_3

Suasana riuh dan ramai di bandar udara terpampang siang di bawah sinar matahari yang terik. Keluarga Ferdian menurunkan barang-barang mereka untuk langsung dibawa ke tempat pemeriksaan. Arsene dan Zaara mengantar keluarganya yang telah berlibur selama satu minggu untuk kembali pulang ke Indonesia.


“Jaga Zaara baik-baik ya Abang, jangan bikin nangis!” Ajeng memeluk anak sulungnya.


“Siapa juga yang mau bikin tuan putriku nangis, Mom?!” ejeknya.


“Wuih, tuan puteri! Iya deh, Mommy percaya, awas aja nanti tak aduin ke abinya! Haha!” Ajeng menggodanya.


Zaara hanya tertawa kecil mendengarnya.


“Zaara shaliha, sehat terus ya! Mudah-mudahan Finn bisa cepet dapet keponakan kecil, hihi!” Ajeng terkekeh.


“Hihi… aamiin!” jawab Zaara memeluk ibu mertuanya.


“Ya udah kita pulang dulu ya Abang Acen, Zaara!” ujar Ferdian. Kedua anak dan menantunya menyalaminya.


“Hati-hati semuanya!”


Begitulah mereka berpisah kembali untuk 6 bulan mendatang, kecuali Zaara yang akan berada di sini selama tiga minggu lagi. Zaara dan Arsene kembali ke asrama, setelah mengantar keluarganya.


Ruangan yang pas-pasan untuk mereka terlihat semakin sempit saja, karena koper Zaara tergeletak di sana. Apalagi kasur di kamar Arsene hanya berukuran single, yang artinya hanya muat untuk satu orang.


“Sempit ya?” tanya Arsene ketika melihat istrinya duduk di atas kasur tanpa dipan itu.


“Tidur berdua masih cukup kali ya?" Zaara memperhatikan lebar kasur dan lebar tubuh mereka beruda.


“Iya tapi sempit. Mau pindah? Kita bisa sewa apartemen lain.”


“Ah… sayang pengeluaran lagi nanti. Emang gak ada kamar kosong disini?” tanya Zaara.


“Hah?! Kamu mau di kamar lain?”


“Enggak, maksudnya sewa kasur aja,” terang Zaara.


“Entah, tapi kayanya penuh sama siswa Indonesia di sini. Soalnya emang sewanya murah, jadi penuh terus. Malah ada satu kamar untuk beberapa orang. Apartemen di Sydney mahal kalau buat sendiri.”


Hidup di Sydney memang mahal, apalagi untuk sewa apartemen. Oleh karena itu satu apartemen biasanya dimuat oleh banyak orang agar mereka tidak berat untuk membayar uang sewa.


“Ya udah deh, gak apa-apa.” Zaara tersenyum.


“Nanti aku bisa kok tidur di atas sajadah.”


“Jangan Sayang, kamu nanti sakit badan. Muat kok satu kasur, kita kan ramping!”


“Hehe, biar tidur makin anget yaa?!” goda Arsene.


Arsene mengganti bajunya dengan kaos yang lebih santai. Sementara Zaara masih memperhatikan kamar asrama suaminya yang mirip dengan kamar miliknya.


“Abang kerja hari apa aja?” tanya Zaara ketika suaminya telah selesai berganti baju.


“Senin, Rabu, Jumat, aku kerja di resto. Sabtu di akademi.”


“Pulang jam berapa?”

__ADS_1


“Masuk jam 10.00, pulang jam 18.00.”


“Hmm… jadi aku sendirian aja kalau Abang kerja?”


“I-ya, kenapa takut bosen?” tanya Arsene khawatir.


“Apa aku bisa bantu?”


“Bantu? Kamu mau kerja part time di sini?!”


Zaara mengangguk.


“Kita lihat nanti ya, aku bakal coba tanya Chef Fang dulu. Dia baik, tapi gak sembarangan bisa ngasih kerja untuk seseorang. Kalau pun ngasih, paling kerja kasar, kaya cuci piring, bersihin meja atau lantai. Emang kamu mau kerja gituan?” tanya Arsene ragu.


“Aku sih gak apa-apa, toh udah biasa di rumah kaya gitu. Tapi… kayanya aku juga harus kerjain edit naskah deng. Aku lupa ada dua naskah baru masuk kemarin.”


“Huff. Aku lebih tenang kalau kamu diem di sini.”


Arsene mengacak rambut depan istrinya. Kemudian ia mengambil buku agenda yang selalu menjadi tempat catatan atas setiap rencananya.


“Mumpung kita masih berdua dan pernikahan kita memang baru, aku ingin menyampaikan hal ini. Aku pernah tulis di CV taaruf kita, tapi belum detail. Aku ingin merapikan rencana ini sama kamu, karena ini untuk masa depan kita.” Arsene membuka buku catatannya.


Zaara tampak fokus memandang wajah suaminya.


“Apa itu?” tanya gadis yang menguncir rendah rambutnya.


“Ini terkait impian kita. Aku ingin kita sinkronisasikan impian dan bagaimana usaha kita kedepannya, agar kita bisa saling membahu dengan potensi yang kita punya masing-masing.”


Zaara mengangguk.


“Kamu ingin kita hidup mandiri kan? Mandiri di atas finansial kita pribadi, dan tidak tinggal dengan orangtua?” tanya Arsene memastikan kembali.


“I-ya. Kalau kita sanggup,” jawabnya sedikit ragu-ragu.


“Kita sanggup! Kita akan coba lepas dari semua bantuan orangtua kita, kecuali pendidikan kita saat ini.” Arsene berusaha meyakinkan istrinya.


“Caranya?” tanya Zaara memangku dagu di atas telapak tangannya.


“Aku punya tabungan segini. Rencananya ini investasi untuk tabungan rumah kita dan persiapan dana darurat misalnya untuk kesehatan atau kalau terjadi apa-apa yang di luar dugaan atau ketika kita punya anak nanti. Pokoknya target pertama kita adalah punya hunian, mau rumah atau apartemen bisa kita pikirkan lagi. Masa depan kita masih di Kota Bandung kan?” Arsene menunjukkan saldo rekening dari mobile banking-nya. Jumlahnya cukup banyak untuk anak muda seusianya. Itu baru rekening pribadinya, Arsene memiliki rekening lain yang dikhususkan untuk bisnisnya sendiri untuk perputaran modal, gaji karyawan, serta sarana pendukung bisnisnya itu.


Zaara mengangguk.


“Deal ya target impian pertama kita untuk rumah?”


“Iya. Lagian nilai properti cepet banget naiknya tiap tahun. Abi sering cerita itu.”


“Exactly, makanya kita mesti fokus untuk targetan pertama. Mau sampai kapan?” tanya Arsene menantang istrinya, meski sebenarnya ia sudah memperhitungkan sendiri.


“3 atau 5 tahun, bisa kah?” tanya Zaara tidak yakin.


“Oke, paling lambat kita mesti kejar target sampai 5 tahun! Setuju?!”


Zaara mengangguk lagi.

__ADS_1


Arsene menuliskan di buku catatannya, di lembar yang baru. Tertulis di sana, impian Arsene & Zaara, memiliki rumah paling lambat dalam lima tahun.


“Sambil kuliah, sambil kerja, sambil kita capai target impian pertama. Mudah-mudahan bisnis aku tetap bagus omsetnya, jadi kita bisa lebih cepet dapat hunian.” Arsene tampak serius dalam menerangkan rencananya.


Rasa kagum Zaara terhadap pria di depannya itu bertambah berkali-kali lipat. Hidup di lingkungan pengusaha, membuat Arsene mudah untuk memetakan sesuatu dan menghitungnya.


“Aku butuh bantuan kamu untuk impian pertama ini, kamu siap?!” tanya Arsene membuyarkan lamunan Zaara yang terlalu terpana.


“Caranya?” tanya Zaara.


“Setelah aku pulang dari sini, kita keluar dari rumah Daddy. Kita cari apartemen atau rumah kontrakan yang bagus dan murah. Sementara aku tetap berbisnis, ditambah kerja sambilan di restoran. Apa kamu bisa mengatur pengeluaran seminimal mungkin?” tanya Arsene menatap lekat mata istrinya.


“Tergantung.”


“Aku ingin kita hidup sehemat mungkin. Aku ingin, 70% pendapatan kita ditabung untuk investasi rumah kita. Kamu siap dengan itu?”


Zaara menenggak salivanya. “70%?! Kamu yakin?!” tanya Zaara tidak percaya.


Arsene mengangguk, “kita masih hidup berdua, pengeluaran kita gak besar. Kita bisa makan apa adanya, ya… kita bisa juga makan di luar sekalian liburan misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali! Pokoknya kita pangkas apa yang gak penting!” Intonasi bicara pria itu begitu bersemangat seolah impian ada di depan matanya.


“Kamu manajer rumah tangga, fokus aja dengan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan, kalau kita ingin cepet dapet rumah impian kita. Bisa?” tanyanya lagi.


“Mmh… aku akan coba!”


“Nice!”


Arsene kembali mencatatkannya di sana. Sementara Zaara masih ragu, apakah ia bisa mengelola keuangan suaminya sesuai dengan apa yang diharapkan pria itu. Ia tahu ini tidak mudah, tetapi ambisi suaminya itu begitu besar terhadap impian mereka bersama. Ia menjadi percaya diri kalau dirinya pun bisa melakukannya.


“Setelah kita dapat rumah impian, kita akan bikin peta impian lagi yang baru,” ujar Arsene yang memainkan pulpennya.


“Kalau misalnya kita punya anak saat kuliah, gimana?” tanya Zaara.


“Dari 70% itu akan kita pangkas sebagian kecilnya aja untuk tabungan si kecil. Mungkin sekitar 5 atau 10%. Aku yakin kita bisa dapetin rumah itu dengan cepat. Tapi tergantung desain dan luas bangunannya sih!”


“Buat aku rumah kecil gak masalah sih, yang penting aku gak mau kita punya utang,” terang Zaara.


Arsene menunjuk gadis itu dengan jarinya.


“Good! No debt! Aku sepakat itu!” Arsene memberikan satu jempolnya.


“Kita bisa pikirkan nanti apakah mau bangun, atau ambil dari developer secara tunai. Tapi sebenarnya lebih hemat bangun rumah lho! Aku udah tanya Daddy kemarin.” Arsene terlihat antusias.


“Iya betul, kata abi juga gitu. Cari tanah aja yang strategis, terus bangun rumah di sana. Kita bisa pakai jasa kontraktor yang sering dipakai abi atau Kakek Jaya.” Zaara menambahkan.


“Ide bagus!”


Tampaknya pembicaraan tentang impian ini akan memakan waktu panjang, apalagi keduanya terlihat antusias satu sama lain, seolah impian itu akan dicapai di hari esok. Ya itulah jiwa pemuda, memang menggebu-gebu jika visinya penuh dengan impian di masa depan. Tinggal eksekusinya yang akan mengantarkan menuju raihan impian itu, apakah mudah atau justru penuh dengan rintangan? Mereka yang akan menjalani sendiri.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung....


Jangan lupa vote, like, dan komen selalu yaa

__ADS_1


Terima kasiiih ^_^


__ADS_2