Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 67. Juara


__ADS_3

Suasana tribun di gedung olahraga yang cukup terkenal di Bandung sore ini terlihat ramai dan bergemuruh. Kompetisi basket antar sekolah menengah atas se-kota Bandung sudah mencapai babak final. Tim basket putra SMAN 50 kini tengah berjalan di atas angin karena ini merupakan sejarah dan rekor terbaik mereka sejauh berkompetisi. Tim mereka diunggulkan untuk menjadi juara, dan berharap bisa mengawinkan trofi kejuaraan basket ini karena tim putra dan putri sama-sama melaju ke laga final.


Nama Rainer bergelora ketika disebut oleh siswa-siswa SMAN 50 yang datang untuk menonton tim sekolah mereka. Anak muda itu telah mengubah permainan tim sekolahnya menjadi lebih hidup dan bersemangat. Tim basket putra SMAN 50 memasuki lapangan dengan seragam kebesaran mereka yang berwarna hitam dan hijau. Wajah Rainer terlihat berkilauan, ia mengenakan headband di kepala agar poni rambutnya tidak mengganggu penglihatannya ketika bermain nanti. Ia terlihat menghela nafasnya.


“Rainer kamu bisaaaaa!” teriak Fea yang duduk di tribun paling depan, menonton sepupunya yang akan bertanding. Gadis centil dan berisik itu tidak sendiri, ada Kirei, Arsene, Ezra dan Kenzie. Ezra dan Kenzie adalah anak dari Andre yang sama-sama murid SMA. Arsene sengaja datang kemari untuk menonton pertandingan final adiknya itu. Sementara Ferdian dan Ajeng sedang berada di jalan. Ini adalah pertandingan final kejuaraan pertama bagi Rainer, ia sangat membutuhkan dukungan keluarganya agar timnya bisa menjadi juara di kompetisi yang cukup bergengsi ini.


Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan ketika wasit melemparkan bola itu ke atas, tanda bahwa permainan dimulai. Tim Rainer mendapat bola terlebih dahulu, membuat mereka bergerak lebih cepat ke depan, menuju sebuah ranjang untuk memasukan poin pertama mereka. Ternyata lawan tidak mudah, tentu saja, lawan mereka adalah juara bertahan. Bola berhasil direbut tatkala salah satu kawan dari tim Rainer lengah membawa bola. Rainer berlari mencoba merebut kembali bola itu, tetapi sayang ia belum berhasil. Pemain lawan lebih gesit dan justru bisa memasukkan bola itu dan menghasilkan poin bagi tim mereka.


Rainer merenggangkan jarinya, permainan timnya harus lebih gesit dan cepat. Pergerakan lawan mereka tidak terprediksi. Sudah hampir 10 menit bermain, tim Rainer ketinggalan cukup jauh. Anak muda itu menepuk-nepuk tangannya untuk menyemangati timnya.


Keluarganya itu meneriakan namanya, mencoba menyemangatinya. Ferdian, Ajeng dan Finn telah datang. Rainer melihat kedatangan ayah dan ibunya, sejurus kemudian panas dan semangat dalam tubuhnya terbakar. Rainer berhasil merebut bola yang baru saja akan diambil oleh tim lawan. Pria bertubuh tinggi itu dengan cepat melesatkan kakinya berlari sambil membawa bola yang dipantul-pantulkan ke lapangan dan tanpa menyerahkan bola itu kepada kawannya, ia berhasil mencetak poin oleh dirinya sendiri.


Pertandingan terus berlanjut, tim Rainer bisa menyusul ketertinggalan poin. Bahkan kedudukan poin mereka hampir sama. Para penonton dan pendukung dari kedua tim semakin tegang saja. Apalagi waktu sudah akan berakhir. Bisakah tim SMAN 50 merebut gelar yang terus dipertahankan oleh SMA Garda Bangsa?


Wasit mengakhiri pertandingan ketika waktu sudah selesai. Skor akhir total 80-76 untuk kemenangan tim Rainer dkk. Ini merupakan pencapaian terbaik. Semua penonton bersorak-sorak kegirangan, terutama pendukung SMAN 50 dan penggemar Rainer. Tampaknya, popularitas Rainer semakin meningkat saja.Tim mereka saling berpelukan dengan ekspresi gembira luar biasa. Setelah itu bersalaman dengan tim lawan yang berhasil mereka kalahkan.


Rainer menghampiri keluarganya setelah kawan-kawannya tadi mengangkat tubuhnya karena terlalu senang dan tidak percaya bahwa tim mereka sudah menjadi pemenang di final kompetisi basket kali ini.


“Selamat Rain Sayang!” ucap Ajeng memeluk tubuh anaknya yang basah karena keringat.


“Thanks for coming, Mom, Dad!” ucapnya membalas pelukan ibunya lalu kemudian ayahnya.


“Very good job, Rain!” puji Ferdian.


Rainer tersenyum berbinar mendengar pujian dari kedua orangtuanya. Hatinya berbunga-bunga karena trofi ini pertama baginya. Apalagi dia menjadi pemain yang berkontribusi besar untuk kemenangan timnya. Abang, adik, dan sepupunya yang lain memberikan selamat padanya.


Kali ini giliran tim basket putri yang bertanding.


“Wah sekolah kalian lawan sekolah kita nih!” ucap Ezra yang masih merangkul Rainer.


“Eh, tim putrinya main sekarang juga?” tanya Ferdian.


“Iya, Om!” jawab Ezra.


“Ada anaknya Ipul sama Sally tuh, Mom!” ucap Ferdian pada istrinya.


“Oh ya? Yang waktu itu main di rumah kita?” tanya Ajeng memastikan.


“Iya!”


Rainer tentu saja harus menontonnya, ia pun berharap tim putri basket sekolahnya bisa memenangkan kejuaraan ini lagi. Anak muda itu duduk di kursi tribun sambil meneguk air mineralnya. Matanya berpendar pada tim putri sekolahnya, menatap tajam pada Seraphine yang menjadi kapten tim di sana. Wajah gadis itu begitu berbinar menghadapi laga final yang kesekian kalinya. Meskipun sudah kelas dua belas, gadis berkuncir ekor kuda itu masih sangat diperlukan oleh tim putri sekolahnya. Sera terlihat sedang memberikan semangat bagi kawan-kawannya sebelum memulai pertandingan.


Teriakan penonton dan pendukung bagi kedua tim bersorak, bergemuruh di seluruh area GOR, ketika pertandingan itu dimulai. Tim Sera berhasil merebut bola terlebih dahulu, pergerakan gesit Sera yang berbadan mungil dan terlihat lebih pendek daripada kawannya yang lain, berhasil menyulitkan tim lawan sehingga membuat skor pertama untuk sekolahnya. Hal itu terjadi terus menerus, Sera mendominasi penguasaan bola. Meskipun tidak mencetak poin, gadis yang memiliki tangan lincah dan berlari kencang itu selalu memberikan umpan bola pada kawannya yang berada di depan. Ia sangat tahu posisi strategis pemain untuk memasukan bola ke keranjang.


Pertandingan seru terjadi sore itu, karena tim lawan tampaknya sudah kewalahan dengan tim putri SMAN 50 yang selalu menjadi juara bertahan. Kekuatan mereka memang tidak terkalahkan. Pertandingan berakhir dengan skor cukup telak 78-52 bagi kemenangan tim Sera dkk. SMAN 50 berhasil mengawinkan dua trofi sekaligus di tahun ini bagi tim putra dan putrinya.


Para pemenang kompetisi berjajar di tengah lapangan. Masing-masing dari mereka mendapat medali penghargaan atas kompetisi bergengsi untuk basket antar sekolah ini. Sebuah piala yang cukup besar diberikan kepada kapten tim putra dari pihak penyelenggara. Ada juga sebuah papan besar yang tertulis nominal rupiah yang didapatkan untuk juara pertama diberikan kepada pelatih tim.  Mereka bersorak ramai ketika mendapatkan piala itu pertama kalinya, diikuti oleh sorakan dan tepuk tangan dari penonton. Rainer tersenyum lebar menyiratkan kebahagiaannya yang tak terkira sore itu. Ferdian dan Ajeng yang berdiri di tribun merasakan kebanggaan tersendiri dari anaknya yang berprestasi di bidang olahraga.


Kini giliran tim putri yang mendapatkan piala. Mereka sudah sering mendapatkan piala itu, hanya saja ini adalah prestasi yang patut diapresiasi, karena mereka tetap bisa mempertahankan diri sebagai juara. Sera menerima piala itu, senyuman lebar dengan giginya yang berderet rapi muncul di sana. Seluruh tim basket SMAN 50 bergabung, menyandingkan dua piala dan dua kapten mereka di sana, sementara seluruh tim berkerubung di sampingnya untuk merekam momen itu.


“Selamat ya Rain, lo keren!” puji Sera, ia mengulurkan tangannya pada pria itu.


“Makasih. Selamat juga buat lo!” Rain menyambut uluran tangan gadis berkuncir kuda itu.

__ADS_1


“Kita rayain kemenangan kita dulu yaa! Kita makan-makan!” seru Kak Bagas, pelatih dari kedua tim itu sekaligus.


“Horeeee!!!” seru anak-anak lainnya.


Rain berlari pada ayah dan ibunya yang masih terus memperhatikan dirinya, meski kini mereka sedang mengobrol dengan Syaiful dan Sally yang juga hadir di sana.


“Dad, aku kumpul bareng temen-temen dulu ya? Mau ada acara makan-makan dulu,” ucap Rain memberitahu.


“Kamu pulang kapan?” tanya Ajeng.


“Malam mungkin, Mom!”


“Ya udah, hati-hati ya, kita pulang duluan kalau gitu.” Ferdian menepuk-nepuk bahu anaknya.


“Selamat ya Sayang, Mommy dan Daddy bangga sama kamu!” ucap Ajeng sebelum dirinya pulang.


“Thanks Mom!”


Rainer dan keluarganya berpisah di sana untuk merayakan kemenangan dahulu bersama teman-temannya yang lain. Sementara itu Ajeng, Ferdian, Arsene dan Kirei melangkah menuju parkiran. Arsene yang membawa motornya sendiri pulang lebih dahulu karena harus mengantar Fea ke rumah kakeknya. Sementara kedua orangtuanya yang membawa mobil masih berada di halaman parkir gedung olahraga itu.


“Zra!” panggil Ferdian pada anak pertama Andre.


“Ya Om?” siswa kelas sebelas itu menghampiri pamannya.


“Jangan lupa minggu depan datang ke rumah kakek buyut ya? Udah tau kan?”


“Siap Om!” ucap pemuda tinggi itu yang sudah bersiap-siap menaiki motor untuk pulang bersama adiknya.


“Sipp! Sampai ketemu di sana!”


Keluarga Besar Martha Winata direncanakan akan mengadakan pertemuan untuk seluruh keluarganya. Tentu saja hal ini berkaitan dengan pernikahan Arsene, jadi Tuan Gunawan Winata yang kini sudah berusaha 67 tahun akan menjadi tuan rumah untuk acara ini. Ferdian akan mengumumkan pernikahan anaknya dan tentu saja menginfokan terkait pesta pernikahan Arsene yang akan diadakan dengan menggunakan konsep Islamic Wedding.


Malam itu Keluarga Ferdian sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menyimak stasiun televisi yang sedang menyiarkan berita mancanegara, seraya menunggu kepulangan Rainer. Sudah hampir dua minggu sejak prosesi khitbah Arsene dan Zaara. Zaara belum memberitahukan jawabannya terkait rencana setelah pernikahan. Padahal jika gadis itu akan mengikuti Arsene ke Aussie, urusan pembuatan paspor dan visa sudah harus dibuat sejak sekarang, mengingat gadis itu belum pernah sama sekali bepergian ke luar negeri.


“Abang Acen, coba hubungi Zaara deh. Besok kan Sabtu, coba ajakin dia belanja buat belanja barang hantaran nanti. Kamu udah bicarain terkait mahar juga belum?” tanya Ajeng yang baru saja keluar dari kamarnya setelah meninabobokan Finn.


“Belum, Mom!” jawab Arsene, matanya masih fokus melihat berita mancanegara dengan ayahnya di sana.


“Pernikahan kamu sebulan lagi lho dan itu gak kerasa lama. Apalagi bulan depan kamu udah sibuk mau UAS. Sana langsung hubungi dia. Mommy udah bilang Tante Karin juga sebenarnya, cuma beliau gak bisa anter karena lagi sakit. Jadi mommy yang anter kalian besok.” Ajeng mendudukan dirinya di samping suaminya yang sedang menikmati salad buah.


“Wah, Tante Karin sakit apa Mom?”


“Demam, lagi flu berat!”


“Syafahullah, ya udah aku hubungi Zaara dulu!”


Arsene mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dan langsung mengetikkan kata-kata di grup ta’arufnya.


[Assalamu’alaikum. Ra, besok bisa ikut belanja untuk hantaran? Mommy yang anter] ketik Arsene.


Tidak butuh waktu lama. Balasan dari Zaara muncul di sana.


[Wa’alaikumsalam. Insya Allah aku bisa, Umi udah kasih tau tadi]

__ADS_1


[Sip! Oh ya, terkait mahar gimana? Biar sekalian kita beli besok] ketik Arsene lagi.


[Hmm… apa kamu ada syarat untuk ngasih mahar sama aku?] tanya Zaara.


Arsene terdiam sejenak. Ia sama sekali tidak berpikiran apapun terkait syarat-syarat mahar yang akan diberikan padanya. Ia akan memberikan apapun seperti yang ia minta selama ia mampu.


[Gak ada. Insya Allah selama aku sanggup, aku akan beri itu] jawab Arsene.


Hening di sana. Kemudian, Zaara mulai mengetikkan lagi sesuatu.


[Bismillah, semoga tidak memberatkan. Aku minta mas kawin 5 gram cincin emas. Gimana?]


[Insya Allah aku sanggup :)]


[Alhamdulillah]


[Besok jam 9 pagi aku jemput ke rumah ya?]


[Siapa aja yang ikut?]


[Mommy sama Finn]


[Oh, iya]


Arsene menaruh kembali ponselnya. Ia sudah memberitahukan pada ibunya setelah Zaara menyetujui untuk membeli barang-barang hantaran untuk pernikahannya nanti. Tak lama Rainer datang dan mengucap salam. Di tangannya terdapat sebuah kotak pipih yang ia taruh langsung di atas meja.


“Weiss ini juara basket pulang-pulang bawa pizza aja!” ucap Arsene yang langsung membuka kotak pizza yang terasa masih hangat itu dan mengambil satu potongan untuk dilahapnya.


“Capek, Sayang?” tanya Ajeng pada anaknya yang terlihat keletihan itu tapi masih bisa tersenyum padanya.


“Capek, Mom! Tapi aku seneng banget! Tadi dapet uang saku dari pelatih, lumayanlah jadinya beli pizza aja!” jawab Rain terduduk di sofa.


“Hebat banget anak Mommy!”


“Sini duduk dekat Daddy!” ajak Ferdian. Rain memindahkan posisi duduknya sehingga ia duduk di antara kedua orangtuanya.


“We are always proud of you, Rainer Liam! You’re such a great boy! Enjoy your victory! (Kami selalu bangga padamu, Rainer Liam! Kamu anak yang hebat! Nikmati kemenanganmu!)” ucap Ferdian berbangga hati.


“Thank you, Dad! I love you all!” ucap Rain tersenyum.


“Sekarang istirahat ya, you have a long holiday for tomorrow! (Kamu punya libur panjang untuk besok)!” ucap Ajeng mengecup kepala anak lelaki keduanya itu.


“Okay, Mom! Aku istirahat dulu, good night!”


“Good night, Rain!”


\======


Bersambung dulu....


Jangan lupa vote, like, dan komen seperti biasa


Makasiiih ^_^

__ADS_1


 


 


__ADS_2