Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 16. Panggilan


__ADS_3

Jantung Arsene melompat tinggi sampai-sampai ia merasa jantungnya itu akan copot dan keluar dari dalam tubuhnya, ketika lampu senternya itu menyorot pada sebuah benda mengerikan. Itu adalah sebuah topeng Leak khas Bali dengan wajah merah yang sudah lecek dan terpotek kulit permukaannya, sehingga menjadi sangat mengerikan ketika sebuah senter menyorotnya. Benda rusak itu tergantung di tembok tepat di seberang jendela, pasti orang yang melihatnya akan sama terkejutnya seperti Arsene. Apalagi dengan mata besar dan terbuka lebar, serta seringaian gigi taringnya juga juluran lidahnya yang panjang, terlihat seperti monster saja.


Akhirnya ia bisa bernafas lega sedikit. Hanya saja mengapa masih terdengar suara menyayat yang mengerikan itu.


Milik siapa itu?


DEG.


Arsene baru saja hendak berlari. Tetapi langkahnya terhenti ketika akal sehatnya menyuruhnya diam dan mendengarkan.


“Tolooooong….” sebuah suara lirih yang menyayat datang dari ruangan tadi. Ia terdiam dan mendengarkan lagi. Kata itu terucap lagi.


Arsene membalikkan tubuhnya dan berjalan lagi ke arah ruangan tadi. Dengan hati yang tegang, ia kembali membuat lampu senternya menyorot isi dalam ruangan itu. Dengan perlahan-lahan dan hati yang tangguh, ia mulai menyoroti melalui jendela. Dilihatnya sebuah tubuh manusia tengah bergetar dan menggigil di atas lantai. Tubuh itu seperti mengenakan seragam olahraga dengan tutupan kepala berwarna putih.


“Zaara!” panggilnya refleks.


Arsene meneriakan nama perempuan itu, selagi ia berusaha membukakan pintu ruangan yang terkunci itu. Hanya saja pintu itu tergembok dari luar.


“Zaara, tahan sebentar!”


Arsene tidak bisa membukanya dengan tangan karena kunci gembok terlihat menggantung pada sebuah kaitan.  Seseorang sengaja menggembok dan mengunci Zaara dari luar. Akhirnya terpaksa ia melangkah mundur dan mengambil jarak dari hadapan pintu. Arsene memasang kuda-kudanya,  lalu berlari mengerahkan seluruh tenaganya dan mendobrak pintu itu dengan entakan kakinya yang kuat. Berhasil, pintu itu terbuka, karena kaitan yang menempel di daun pintu rapuh itu sudah terlepas.


Bau apek dan debu berterbangan sangat terasa menusuk hidung ketika ia masuk ke dalam ruangan pekat dan gelap itu. Arsene terpaksa menyentuh tubuh yang terlihat meringkuk sambil menggigil itu untuk memastikan kalau itu benar-benar Zaara. Kain kerudungnya sudah berantakan dan menutupi sebagian wajahnya, Arsene menariknya sedikit. Ya itu Zaara. Suhu tangannya terasa dingin sekali, dan tubuhnya bergetar hebat.


Arsene terpaksa menggendong tubuh temannya itu kemudian membawanya keluar. Tubuh Zaara begitu ringan sehingga ia tidak terlalu terbebani dengan bobotnya. Dengan langkah hati-hati dan sedikit kecepatan, Arsene tiba di depan halaman masjid, dimana Karin, Reza, serta Pak Satpam sudah berada di sana sambil mencari anaknya.


Ketiganya begitu terkejut mendapati Arsene di sana, apalagi tengah menggendong tubuh anaknya yang bergetar. Reza langsung mengambil alih dari tangan Arsene yang terlihat bernafas terengah-engah. Reza membawa tubuh anaknya ke dalam mobilnya. Sedangkan Karin yang menghadapi Arsene.


“Jazakallahu khair, Arsene! Tante gak tau gimana cara berterima kasih sama kamu. Makasih udah bantu temuin Zaara!”


“Iya sama-sama Tante, Arsene khawatir, karena Zaara teman sebangku Arsene.”


Karin tampak terkejut. Tetapi ia teringat cerita Zaara saat itu. Ternyata Arsene-lah cowok yang diceritakan saat itu.


“Kamu pulang aja ya, istirahat! Nanti Tante kabarin lagi kondisi Zaara! Sekali lagi Tante dan Om ucapin banyak terima kasih!” ucap Karin, kemudian langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk melesat ke rumah sakit.


Arsene memandangi mobil itu hingga hilang wujudnya ditelan tikungan jalan. Ia kembali ke Pak Satpam yang juga ikut terkejut.


“Dimana ketemunya?” tanya Pak Satpam.


“Di gudang kesenian, Pak!”


“Astaghfirullahaldziim. Siapa yang tega nyekap siswa itu?”


“Saya juga gak tau, Pak! Yang pasti nanti harus saya laporkan ke kepala sekolah buat ditindaklanjuti.”


“Iya harus itu!”


“Oh iya, Pak! Barang punya temen saya itu udah diambil sama orangtuanya?”


“Udah tadi.”


“Ya udah, makasih ya Pak! Saya pulang dulu!”

__ADS_1


“Hati-hati di jalan, Nak!”


\=====


Arsene kembali ke sekolah pagi itu bersama adiknya. Setelah semalam tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi Zaara, pagi ini wajahnya terlihat sayu dan kelelahan. Ia masih teringat bagaimana kondisi teman sebangkunya malam tadi, menggigil hebat dengan tangan yang terasa dingin. Ia belum tahu kondisi terkini Zaara dari Tante Karin. Mungkin mereka juga keletihan karena mengurus Zaara.


Ada banyak hal yang harus ia lakukan hari ini. Pertama, adalah melaporkan kejadian itu pada pihak sekolah supaya segera mengusut tuntas kasus ini dan menangkap pelakunya. Apa yang terjadi pada Zaara adalah kasus perundungan yang tidak bisa ditolerir lagi. Pelakunya harus dihukum tegas oleh pihak sekolah agar jera.  Kedua, jika pihak sekolah lambat bertindak, ia akan mencari tahu sendiri siapa kira-kira orang yang melakukan ini pada Zaara dan siapa saja yang berkaitan.


Arsene menghembuskan nafasnya kasar ketika menjatuhkan tubuhnya di kursi. Ia memandangi kursi Zaara, lalu menengok kolong mejanya sekedar memastikan bahwa tidak ada benda milik Zaara yang tertinggal. Sesuatu terlihat berkilau, sepertinya ada sebuah benda di sana. Jelas itu bukan kotak kue yang selalu ia taruh di sana sebelum ada orang yang tiba di kelas. Arsene mengambil benda itu yang ternyata adalah sebuah kotak bingkisan berbalut kertas kado. Apa ada penggemar Zaara yang menaruhnya di sini?


“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It’s not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything.”


(Persahabatan itu adalah sesuatu yang sulit untuk dijelaskan di dunia. Persahabatan bukan sesuatu yang dipelajari di sekolah. Tetapi jika kamu belum belajar mengenai arti persahabatan, itu artinya kamu belum belajar apapun.)


– Muhammad Ali


For Arsene


***


Arsene terkejut dengan sebuah tulisan yang terselip di bungkus kado tersebut. Apa benar kado hadiah itu untuknya? Apa itu dari Zaara? Pikirannya bertanya-tanya. Arsene segera memasukan kado itu ke dalam tasnya, agar suatu hari bisa ia tanyakan pada Zaara.


“Zaara mana, Sen?” tanya Lidya yang duduk di depannya.


“Zaara sakit,” jawab Arsene, ia tidak ingin menyebar dulu kabar mengenai Zaara, sebelum pihak sekolah yang memberitahu.


“Ooh….”


Guru matematika yang mengajar pagi ini pun masuk ke dalam kelas, membuat para siswa mengucap salam. Konsentrasi Arsene tidak fokus, karena pikirannya masih mengawang. Namun ia berusaha berpikir positif, kalau kasus ini akan segera terselesaikan dengan baik. Sudah hampir satu jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Seorang guru berhijab dari bagian bimbingan konseling menyapa guru matematika.


“Mana Arsene?” tanya Pak Aris.


Arsene pun mengangkat tangannya.


“Ya, silakan!” ujar Pak Aris, mempersilakan Arsene untuk mengikuti Ibu Siska, guru bagian konseling yang paling ramah dikenal oleh siswa-siswa.


Para siswa berbisik-bisik entah apa ketika Arsene berjalan keluar kelas. Hati Arsene berdebar tak karuan, tetapi dia sudah siap memberitahukan apa yang terjadi semalam.


Ruangan bimbingan konseling berada tepat di sebelah ruangan para guru dan tata usaha. Keduanya memasuki ruangan itu yang sudah ada beberapa guru lain di sana termasuk Wakil Kepala Sekolah bagian kesiswaan. Arsene menatap satu persatu wajah guru yang memasang ekspresi cemas. Kemudian ia dipersilakan duduk di salah satu kursi di hadapan meja milik Ibu Siska. Ibu Siska menyalakan sebuah rekorder dengan ponselnya. Sementara guru-guru lain yang tadi berada di sana sudah keluar.


“Hai Arsene!” sapa Ibu Siska ramah dengan senyumannya.


“Ya bu?” tanya Arsene tegang.


“Siapa nama lengkap kamu?”


“Arsene Rezka Winata,” jawabnya.


“Kelas?”


“XII IPA 5.”


“Maaf ya, saya harus membawa kamu keluar dulu sebentar dari pelajaran kamu.”

__ADS_1


“Ya, bu!”


“Kamu kenal dengan Zaara Haniya Kusumawijaya?”


“Kenal bu! Dia teman sebangku saya.”


“Oke, seberapa dekat kalian?”


“Cukup dekat, tetapi tidak terlalu.” jawaban Arsene membuat Bu Siska tertawa kecil, sedikit membingungkan memang.


“Kamu tahu apa yang terjadi dengannya semalam?”


“Saya mendapat telepon dari ibunya Zaara, yang mengatakan kalau Zaara tidak pulang ke rumah.”


“Lalu?”


“Sebagai teman sebangku, saya merasa khawatir. Terakhir sebelum pulang saya masih melihat tasnya di kelas. Tetapi saya tidak tahu Zaara ada dimana. Makanya saya coba membantu untuk mencarinya di sekolah.”


“Kenapa kamu bisa sampai ke sekolah untuk mencarinya?”


“Saya dengar dari ibunya Zaara, kalau beliau sudah menghubungi semua teman dekatnya. Saya tahu kalau Zaara tidak memiliki banyak teman, jadi intuisi saya merasa kalau dia masih ada di sekolah.”


Bu Siska mengangguk-angguk mendengar pernyataan Arsene.


“Apa kamu tahu ada orang yang membencinya?” tanya Bu Siska lagi.


“Saya tidak tahu karena masih terbilang baru di sini. Tetapi saya pernah dengar kalau ada siswa yang dikeluarkan. dan mungkin Zaara terlibat itu secara tidak langsung.”


“Hmm... ya saya ingat! Itu murid kelas 12 di tahun lalu yang melakukan aksi senonoh dengan murid lain.”


Arsene berusaha menyimak.


“Baiklah, ibu punya tugas untukmu. Apa kamu bisa mencari orang-orang yang terlibat dalam kasus ini? Ibu akan mencari data siswa yang dikeluarkan tahun lalu dan siapa yang terlibat waktu itu. Mungkin ada hubungannya.”


Arsene mengangguk.


“Kasus perundungan Zaara mungkin akan disembunyikan dulu oleh pihak sekolah sampai pelakunya tertangkap. Ibu ingin kamu menyelidiki ini diam-diam, karena mungkin sesama siswa tidak akan mudah dicurigai, sehingga pelakunya bisa mengaku.”


“Ibu juga akan memberi info terkait perkembangan kasus ini. Kabar terakhir, Zaara mengalami shock, semalam tadi dia kena hipotermia. Kalau saja kamu tidak menemukannya, mungkin kondisinya akan lebih gawat. Ibu salut padamu!”


“Saya hanya menolong,” ucapnya merendah.


“Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh kembali ke kelas. Maaf kami harus meminta tolong sama kamu, karena ibu yakin orang yang terlibat bukan satu orang saja.”


“Baik bu, saya akan coba!”


“Terima kasih banyak, Arsene!”


\=====


Bersambung dulu yaa...


Like, comment dan votenya yaa

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2