
Malam itu….
Suara jangkrik bernyanyi dari jauh sayup terdengar. Cicak pun tak mau kalah berdecak di dalam kamar yang terasa hening itu. Gelap suasana. Padahal ada dua jantung yang tengah berdetak hebat. Entah apakah dua pasang telinga itu bisa saling mendengar atau tidak. Yang jelas hati mereka belum terpejam, walau mata memanipulasi.
Salah satu dari mereka beranjak. Karena yang satu ternyata bisa terlelap juga pada akhirnya.
“Gerah banget sih!” ucap Alice berdecak kecil. Perempuan itu mengibaskan tangannya sendiri di depan wajahnya. Padahal AC sudah dinyalakan. Tetapi dirinya tidak merasa sejuk sama sekali. Mungkin ini gara-gara terlalu banyak bantal dan guling menumpuk di tengah kasur dan selimut tebal yang menutupi sekujur tubuhnya.
Alice duduk di tepi ranjangnya sendiri. Matanya melirik keberadaan seorang laki-laki asing yang baru dikenalnya selama tiga bulan ini. Bisa-bisanya dia tidur nyenyak, sementara gue kepanasan! Huh, sumpah nyebelin banget!
Alice mencari sehelai kertas yang bisa dijangkaunya. Ia bisa saja mengambil remote AC, tetapi ia lupa dimana menyimpannya tadi. Ia tidak ingin menyalakan lampu karena khawatir akan membangunkan Angga. Dirinya sudah susah payah membujuk agar mereka bisa tidur lebih cepat karena dirinya beralasan lelah. Padahal itu hanya alasan yang dibuatnya agar ia bisa menghindar pria itu dari ‘malam pertama’ pernikahan mereka. Jujur saja, dirinya masih takut.
Alice berhasil mengambil sehelai kertas yang sudah dilipatnya. Ia mengipasi dirinya dengan kertas itu. Srek srek srek. Ribut sekali kedengarannya. Alice menghentikan aktivitasnya.
Sepertinya lebih baik dia harus mencari remote AC saja, tanpa harus menyalakan lampu kamarnya. Alice kembali membangunkan dirinya. Ia berjalan mengendap untuk mencari benda kecil persegi itu.
“Dimana sih?” tanyanya pelan, tubuhnya membungkuk, persis seperti seorang maling yang masuk ke dalam rumah.
BRUK. Tubuhnya menyenggol sesuatu sehingga terjatuh keras. Alice menutup telinganya dan mengernyitkan matanya.
“MALIIIING!”
Sontak suara Angga berteriak membuat tubuh Alice menegakkan tubuhnya.
BUG. BUG.
Angga melempar dua bantal besar ke tubuh Alice.
“Angga, ini gue woy!” teriak Alice berusaha menangkal tubuhnya dari serangan bantal itu.
Tetapi Angga belum berhenti.
“ANGGA, INI GUE, ALICE ISTRI LU!” Alice berteriak.
Sontak Angga berhenti. Pria itu mematung, antara terkejut dan merasa bersalah. Alice menyalakan lampu.
“Maafin gue, Al! Gue gak bisa liat wajah lu!” ucap Angga beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri istrinya, berlutut dan merangkul kaki Alice yang masih berdiri di sana.
Alice memasang tampang galaknya, kesal dan jutek.
“Al, please maafin gue. Kamar lu gelap banget!” rengek Angga masih terus merangkul lutut istrinya.
Alice berdecak. “Baru kali ini gue dikatain maling, sama suami sendiri lagi, di malam pertamanya! Awas, gue mau tidur di kamar sebelah!”
“Al, please!” Angga terus merengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orangtuanya. Hal itu membuat Alice terkekeh dalam hati melihat tingkah suaminya yang lucu.
“Lu dihukum Ga! Gak boleh tidur sama gue 3 hari 3 malam!” ujar Alice mengerjainya.
“Please, Al! Masa gue senasib sama si Arsene sih?!” Wajah pria itu memelas dengan kernyitan di keningnya.
“Lagian itu kenapa bantal banyak banget sih? Perasaan tadi gak ada deh?” protes Angga.
“Ih lu mah banyak ngomong! Awas gue mau keluar!” Alice tidak menjawab karena dirinya yang menaruh tumpukan bantal di sana setelah memastikan Angga tertidur.
“Al, please! Maafin gue!”
TOK TOK TOK.
“Al … kalian baik-baik aja?” sebuah suara perempuan memergoki keributan mereka.
Alice memelototi suaminya. “Lu berisik, Ga!”
Angga langsung berdiri tegak. Menatap wajah istrinya.
“Lu diem, Al!” seru Angga.
“Kenapa?”
Angga mengacak-acak rambut Alice yang panjang dan tebal.
“Ihh ... lu ngapain sih?!” sergah Alice berusaha menghentikan tangan suaminya.
“Diem!”
“Alice, Angga!” suara itu ternyata masih menunggu di luar.
“Al liat ke atas!” seru Angga.
“Apa sih lu makin gaje!” Tapi Alice mengikuti perintah suaminya dan mengangkat wajahnya ke atas untuk melihat langit-langit atapnya.
“Ada cicak ….”
“EERRGGGHH!”
__ADS_1
Suara erangan Alice kuat sekali, tatkala Angga menghisap leher istrinya, menyisakan noda kemerah-merahan di sana. Sontak Alice menutup mulutnya. Entah berapa detik Angga melakukannya, ia berhasil membuka dua kancing piyama milik Alice.
“Lu tuh ya?! Modus, apa?!” Alice mendorong tubuh Angga, kemudian mengusap lehernya.
Angga menahan tawanya.
“Alice, Angga, ada apa sih? Mami denger ada yang teriak maling, kalian gak apa-apa?”
“Temuin mami lu!” seru Angga.
Alice mendengus kasar. Entah apa maksud Angga tadi. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Kenapa Mi?” tanya Alice.
Nadya menatap anaknya yang terlihat berantakan, ada noda merah di leher putrinya yang putih. Dua kancing piyamanya terbuka.
“Ah, tadi … udahlah lanjutin aja! Mungkin Mami salah denger,” ucap Nadya terkejut.
“Itu suara Ang….”
“Maaf ya Mi kalau kita agak ribut. Maklum anak muda, hehe…,” tiba-tiba saja Angga memotong ucapan Alice. Pria itu tengah bertelanjang dada, rambutnya berantakan dan ada noda merah juga di bahunya. Ia merangkul tubuh istrinya dari belakang.
Nadya jadi makin bersalah mendatangi kamar putrinya malam itu.
“Maaf ya Mami ganggu. Dah lanjutkan lagi aja!” Nadya terlihat salah tingkah dan pergi dari sana.
Angga segera menutup dan mengunci pintu kamarnya.
“Lu kenapa telanjang dada gitu?!” tanya Alice terkejut.
“Akting!”
“Terus kenapa itu bahu lu merah gitu sih?”
“Kamuflase namanya!” ucap pria itu santai dan merebahkan dirinya lagi di atas kasur.
Alice geleng-geleng kepala saja, tidak mengerti apa maksud suaminya itu.
“Pake baju lu!” seru Alice.
“Gak mau, gerah gue!”
Alice menemukan remote AC-nya dan mengecilkan suhu ruang kamarnya.
“Tuh suhunya udah gue turunin!”
Alice mendelik kesal. Ia menatap tubuh suaminya yang terlihat proporsional. Otot-ototnya terlihat pas di badannya, juga bagian bahu dan lengan. Dada bidangnya yang lebar sepertinya nyaman sekali untuk ditiduri, Alice lekas membuang pikirannya. Perutnya datar dan kokoh meski tidak ada ‘roti sobek’ di sana.
Angga membuka matanya.
“Kenapa? Terkesima sama badan gue ya?!” tanyanya santai sambil tertawa kecil.
“Idiiiih, kepedean banget sih! Sana tidur, gue mau tidur di sofa aja! Hukuman buat lu yang udah nimpuk gue di malam pertama! Huh!”
Alice mengambil bantal-bantal yang tadi dilemparkan Angga padanya. Lalu menaruhnya di salah satu sisi sofa. Ia merebahkan tubuhnya di sana.
Melihat hal itu Angga membangkitkan tubuhnya. Ia kira Alice bercanda, tetapi ternyata perempuan itu serius. Apakah ia begitu kesal dengan dirinya?
“Al!” panggil Angga.
“Hmm ….”
“Lu gak mau dilaknat malaikat semalaman ini?”
“Apa sih Ga?! Tidur aja lu!” seru Alice, “kan biar gak gerah,” lanjutnya.
Angga menghela nafas. Perempuan itu benar-benar tidak mengerti maksudnya.
Angga beranjak dari kasurnya dan menghampiri Alice yang sudah memejamkan mata. Kancing yang sempat dibukanya tadi masih terbuka, memperlihatkan belahan dada milik Alice yang menyembul. Alice tidak sadar dengan kondisi pakaiannya itu. Pria itu menundukkan wajahnya. Menghela nafas dan langsung mengangkat tubuh Alice.
“Lu ngapain Ga?!” sergah Alice terkejut tatkala Angga mengangkat tubuhnya ke atas kasur.
“Lu istri gue, jadi lu harus tidur di sini. Lagian ini kamar lu.”
“Tapi ….”
“Nurut sama gue, gue suami lu!”
Alice memberengutkan wajahnya. Ia tidak bisa lagi mengelaknya dan hanya bersandar di papan kasurnya. Jujur saja, dirinya tidak bisa tidur.
Angga duduk bersila di sampingnya menghadap pada istrinya.
“Mau apa?” tanya Alice, melipat tangannya di depan dadanya, membuat belahan itu semakin terlihat jelas saja di balik bra hitamnya. Angga menatapnya,
__ADS_1
“Lu liatin apa sih?!” tanya Alice risih. Ia melihat dadanya sendiri.
“Astaga, sejak kapan?!” Alice menutup dadanya dan lekas-lekas mengancingkan piyamanya.
“Sayang pahala lu berhenti tuh!” ucap Angga menaikan dua alisnya.
“Dasar mesum!”
“Itu hak suami ya. Bukan mesum, wkwk!” Angga mencebik.
Alice menghela nafas, berusaha menenangkan diri dan menetralkan perasaannya.
“Sorry Ga! Jujur gue masih takut melakukan itu.”
“Ya gue ngerti,” Angga mengambil kaosnya yang tergeletak di atas kasur dan memakainya kembali. Pria itu merebahkan tubuhnya dan meringkuk membelakangi Alice.
“Ga!” panggil Alice.
“Hmm ….”
“Lu marah?!”
“Enggak!”
“Tapi …?”
“Enggak ada tapi,” jawab Angga tanpa merubah posisinya.
Alice menghela nafasnya. Apakah seperti ini sikap pria yang menginginkan hal itu? Alice memejamkan matanya dan beristighfar dalam hati. Ia sangat tahu kewajiban seorang istri pada suaminya. Hanya saja ia merasa masih ragu, cemas, dan takut.
Alice ikut meringkuk di sebelah suaminya. Posisinya menghadap Angga. Ia memberanikan diri untuk merangkulnya dari belakang.
“Maafin gue!” ucap Alice pelan.
Sontak Angga merubah posisi tubuhnya, untuk melihat keadaan istrinya.
“Maafin gue juga!” ucap Angga dan membawa tubuh Alice untuk didekapnya erat. Dielus lembut rambut Alice yang panjang itu. Tiba-tiba saja perasaan hangat itu menjalar ke seluruh tubuh. Perasaan asing yang begitu membuat nyaman dan tenang. Alice tersenyum di depan dada bidang suaminya
“Tidur aja, Al Sayang! Gue bakal kasih waktu buat lu!”
“Tapi gue gak bisa tidur kalau lampunya masih nyala gini!” ucap Alice menatap wajah suaminya.
“Lu suka gelap-gelapan?”
Alice mengangguk.
Angga langsung beranjak dan mematikan lampu. Kemudian kembali mendekap tubuh istrinya. Tidak ada bantal lagi yang menghalangi mereka.
“Lu suka dipeluk gini?” tanya Angga.
“Emh, tapi aneh ya?”
“Kenapa aneh?!”
“Lu orang asing di hidup gue, Ga! Tapi kok gue bisa ngerasa nyaman?” ucap Alice membuat Angga tertawa kecil.
“Karena Allah udah kasih kita keberkahan di pernikahan ini,” jawab Angga.
“Aamiin. Mudah-mudahan.”
Angga mengecup kening Alice lekat-lekat. Seketika tubuh Alice berdesir mengirim sinyal getaran yang aneh. Alice menengadahkan wajahnya untuk melihat apakah Angga sudah terpejam atau belum. Tetapi keduanya justru saling mengunci tatapan dalam gelapnya suasana. Deru nafas bisa mereka rasakan satu sama lain.
Angga mendekatkan wajahnya dan menyambar bibir tebal Alice.
“Ga!” panggil Alice ketika keduanya melepas ciuman pertama itu.
“Hmm?” Angga mengusap punggung istrinya.
“Gue rasa, gue udah siap!” ucap Alice pelan.
“Hah?” tanya Angga memastikan kalau telinganya tidak salah mendengar.
“Gue siap, Ga!”
“Yakin?!”
Alice mengangguk mantap. Tanpa pikir panjang Angga langsung memulai aksi perdananya malam itu. Hening dan hangat.
\======
Eaaa…
Bonus Spin Off Angga Alice selesai, haha
__ADS_1
Sampai jumpa di kisah spin off lainnya :D