Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 51


__ADS_3

Malam itu di apartemen, Ajeng masih duduk di kursi meja kerjanya. Ia sedang membuat tulisan untuk jurnal review terbarunya yang akan ia presentasikan bulan depan. Segelas yoghurt dan potongan buah menjadi temannya kali ini. Musik instrumen dari alunan gitar juga ikut menemani kesendiriannya malam ini. Waktu sudah menunjukan pukul 21 lewat. Wanita yang mengikat rambut panjangnya itu tampak fokus mengerjakan tulisannya.


Ponselnya tiba-tiba berdering. Layar ponsel menunjukan bahwa panggilan itu dari suaminya.


"Halo Sayang, kenapa?" sapanya.


"Aku kayanya gak bisa pulang malam ini, gak apa-apa?" tanya Ferdian, nadanya terdengar agak kaku dan gugup.


"Ya udah gak apa-apa, selesaikan aja tugas kamu!" ucap Ajeng, memutar-mutarkan tubuhnya di kursi.


"Iya. Kamu lagi apa? Belum tidur?"


"Aku masih ngerjain tulisan jurnal, bentar lagi mungkin tidurnya!" jawab Ajeng.


"Jangan tidur kemalaman ya," pesan Ferdian.


"Iya Sayang!"


"Ya udah aku tutup teleponnya ya, oh ya, cek lagi pintu apartemennya!"


"Siap!"


"I miss you!" ucap Ferdian lembut.


"I miss you too!"


Ajeng menatap layar laptopnya kembali. Dugaannya benar, Ferdian pasti tidak akan pulang malam ini. Entah dia akan bisa tidur atau tidak, yang pasti ia akan benar-benar tertidur jika rasa kantuknya terasa berat. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya.


Kali ini waktu sudah menunjukan pukul 22.15. Ajeng menutup laptopnya dan berjalan menuju pintu masuk apartemennya untuk memastikan kembali keamanan huniannya. Lalu ia berjalan menuju kamarnya dab membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"De, gak ada ayah sepi ya?" ucapnya pada janin di perutnya.


"Ayah kamu itu berisik, suka bercanda, dan suka bikin Bunda ketawa-tawa meski candaannya garing," Ajeng menghela nafas.


"Semalem aja gak ada ayah, suasana di rumah ini langsung sepi. Tapi untung Bunda punya kamu sekarang! Sehat-sehat di dalam ya, Nak! Kita akan ketemu 9 bulan lagi!" lanjutnya sambil mengelus perutnya.


Kemudian Ajeng mematikan lampu kamarnya dan berusaha terpejam untuk tidur. Lima belas menit telah terlewati, Ajeng bukannya tidur lelap, melainkan ia terus saja menggerakkan tubuhnya, menghadap kanan dan kiri, untuk mencari posisi yang nyaman. Namun tidak berhasil, ia tidak bisa tidur. Ajeng kembali menyalakan lampu kamar dan mendudukan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengambil ponselnya.


[Aku gak bisa tidur, Fer!] ketiknya di pesan Whatsapp.


....


....


Wanita itu tengah menunggu balasan dari suaminya. Ia membuka akun instagramnya dan melihat akun milik suaminya itu. Foto-foto yang dipos tidak bertambah setelah kepulangan mereka dari Jepang. Tidak ada foto dirinya atau mereka sedang berdua. Memang Ferdian tidak terlalu update dengan dunia medsosnya. Ajeng juga sama saja. Di akun instagramnya hanya ada satu foto yang menunjukan mereka sedang berdua. Selebihnya tidak ada foto lain. Kadang ia ingin mempos foto-foto suaminya itu, tapi untuk apa? Ah, justru semakin mengundang banyak mata wanita untuk mengagumi ketampanan suaminya saja. Jadi ia lebih sering mengurungkan niatnya. Seperti saran Ferdian, foto-foto yang sudah mereka ambil, mereka simpan di berkas penyimpanan online yang bersifat rahasia. Jadilah album pribadi mereka aman dari konsumsi publik.


[Mau aku pulang?] tiba-tiba sebuah pesan masuk.


Ajeng langsung membuka pesan whatsappnya.


[Gak usah! Telepon aku aja!] pinta Ajeng malam itu.


Tak lama ponselnya pun berdering.

__ADS_1


"Kenapa gak bisa tidur, Sayang?" tanya Ferdian di seberang telepon.


Ajeng menghela nafas, "Mungkin karena gak ada kamu yang peluk aku!" jawab Ajeng lembut.


"Jadi aku harus pulang sekarang, biar kamu bisa tidur?"


"Gak usah! Udah terlalu malam. Dan emangnya tugas kamu udah selesai?" tanya Ajeng.


"Belum sih, masih banyak! Ini malah lagi mentok idenya!"


"Tuh kan!"


"Udah berdoa belum?" tanya Ferdian.


"Belum, kan biasanya kamu yang mimpin doa sebelum tidur," ucap Ajeng manja.


"Ya udah yuk sini kita berdoa, kamu tiduran aja. Matiin lampunya!"


Ajeng memposisikan tubuhnya untuk berbaring setelah sebelumnya ia kembali mematikan lampunya.


"Aku udah siap," ucap Ajeng.


"Bismillahirrahmanirrahiim...Ya Allah, semoga Engkau lindungi kami selalu dalam kasih sayang-Mu, berkahi setiap waktu, usia dan rezeki kami, dan semoga Engkau selalu berikan yang terbaik untuk kami. Aamiin," ucap Ferdian lembut yang mampu menenangkan hati Ajeng. Ajeng melanjutkannya dengan bacaan Al-Fatihah, doa tidur, dan doa keselamatan dunia akhirat.


"Udah tenang, Sayang?"


"Iya, sepertinya,..."


Ferdian terdiam menunggu kata-kata Ajeng setelahnya. Namun tak ada suara dari wanitanya itu.


"Hmm...,"


"Kamu bobo ya, nanti pagi aku jemput!"


"Iya, makasih Sayang!"


"Sama-sama! Have a nice dream (semoga mimpimu indah)!"


Ajeng menutup teleponnya, dan menaruh ponselnya di atas nakas. Ia kembali memejamkan matanya, senyuman terkembang di bibirnya. Entah sejak kapan Ferdian selalu memimpin doa sebelum tidur seperti itu. Meskipun Ferdian juga tidak terlalu fasih dalam mengucap doa apalagi dalam Bahasa Arab. Namun doa yang terucap dari mulut suaminya itu selalu berhasil membuat hatinya tenang. Kali ini mata Ajeng benar-benar tak kuat untuk tidak tidur lebih lama.


\=====


"So sweet banget sih kalian ini? Lebih romantis dari Romeo dan Juliet!" ucap Ghani yang sejak tadi mendengarkan ucapan Ferdian di telepon bersama istrinya.


Ferdian terkekeh saja, meskipun sebenarnya dia menahan malu apalagi ketika mengucap doa tadi, ia tidak sempat keluar, jadi terpaksa melakukannya di depan teman-temannya.


"Pastinya lah, Romeo & Juliet mati karena sama-sama bodoh udah minum racun, mana ada romantisnya! Yang romantis itu yang bisa nganterin ke surga dong!" seru Malik.


"Wueess, emang bener ya Fer, jadi imam itu juga mesti ngerti agama, bisa bimbing istri biar sama-sama masuk surga!" kali ini Ridho ikut bersuara.


"Iya dong! Cuma ya itulah, ilmu agama gue juga masih dikit banget! Tugas kuliah numpuk, rasanya mau ngaji ilmu aja jadi susah keburu capek!" curhat Ferdian.


"Kadang gue juga gak ngerti, hidup ini buat apa sih sibuk-sibuk di dunia, kalau ujung-ujungnya kita pengen ke surga! Harusnya sibuk ibadah, dong!" seru Malik.

__ADS_1


"Makanya sibuk di dunianya yang udah pasti ibadah, ya bisa lah nabung amal. Kuliah atau belajar niatnya ibadah, nikah niatnya ibadah, kerja niatnya ibadah. Tapi kalau kita sibuk sama yang gak berfaedah, sama aja bohong itu mah. Malah capek aja, belum buang-buang duit!" ujar Ridho bijak.


"Betul Lo, Men! Cuma kadang ye, godaan dunia itu gila banget dah! Ampe kita lupa diri, lupa waktu!" timpal Syaiful.


"Kerjaan syaitonnirrojim itu, nih kaya begini tugas banyak tiba-tiba pengen maen PS, asyem banget lah!" ucap Danu mulai tertekan karena tugasnya yang tidak kunjung selesai.


"Kumaha atuh (gimana dong), udah jam setengah 11 nih? Hayu kerjain!" ucap Ridho.


"Mentok gini! Udah malem fokusnya buyar!" keluh Ferdian.


"Gugling dulu aja lah! Masing-masing cari referensi Dark Ages! Nanti yang punya ide langsung omongin," ujar Ghani.


Keenam kawan itu akhirnya kembali fokus ke layar laptop masing-masing untuk mencari referensi lain agar ide untuk naskah drama mereka bisa mengalir deras. Dengan begitu tugas untuk besok bisa segera selesai.


\=====


Setelah menyelesaikan shalat Subuh, Ferdian bergegas kembali ke apartemennya. Meskipun sebenarnya matanya itu masih sangat berat. Pukul 2 pagi dini hari, ia baru menyelesaikan tugas kelompoknya, dan pada jam itu juga mereka berenam baru benar-benar tidur. Beruntungnya hari ini mereka masuk di jam kedua.


Ferdian masuk ke dalam apartemen. Ia melihat istrinya itu sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan juga bekal makan siangnya ke kantor.


Ajeng datang menghampiri suaminya dan mencium punggung tangannya. Seketika itu Ferdian langsung membopong istrinya masuk ke dalam kamar, membuat wanita itu terkejut.


"Fer, aku lagi masak nih!" ucap Ajeng yang tubuhnya berada digendongan Ferdian.


"Nanti lagi aja! Aku butuh kamu sekarang!" ucap Ferdian tak melepas tubuh istrinya itu.


Terpaksa Ajeng menuruti permintaan suaminya itu, untung saja ia telah mematikan kompor sebelum suaminya datang.


Ferdian menaruh Ajeng di atas kasur dan mulai melancarkan aksinya pagi itu tanpa basa-basi. Ajeng hanya mengikuti ritme permainan yang dimainkan Ferdian dengan pasrah.


"Pelan-pelan, Sayang!" pinta Ajeng lirih.


Seketika itu, mata Ferdian menatap Ajeng tajam. Jantungnya yang sejak tadi berdebar kencang karena berpacu dengan hasratnya, kini semakin berdebar. Namun ia tidak meneruskan permainannya. Ia hanya lupa, kalau istrinya itu sedang mengandung. Ferdian menjatuhkan tubuhnya di samping Ajeng dan memunggungi istrinya yang memandangnya heran.


Ajeng bertanya-tanya dalam hati, apakah suaminya berpikir kalau sedang hamil itu tidak boleh berhubungan?


"Fer, are you okay (apa kamu baik-baik saja)?" tanya Ajeng merengkuh tubuh suaminya dari belakang. Tubuh Ferdian terasa lebih tegang dan kaku. Otot-otot tubuhnya menunjukan hal itu. Nafasnya masih menderu kencang.


Namun tidak ada jawaban dari suaminya itu. Ajeng mencoba bangun untuk memperhatikan wajah suaminya. Mata Ferdian terlihat sedang terpejam dan sesekali mengernyit tanpa membuka mata. Kedua tangannya mengepal. Ajeng berusaha membalikan tubuh suaminya yang masih tidak bergeming itu. Dibutuhkan tenaga yang kuat untuk membuat pria itu berbalik, dan Ajeng tidak bisa.


"Fer, kamu kenapa sih? Apa kamu pikir karena aku hamil jadi kita tidak bisa berhubungan? Aku sudah tanya Sita, dan dia jawab tidak apa-apa. Fer! Lihat aku!" ucap Ajeng sedikit berteriak karena kesal suaminya itu tidak bergeming.


Ferdian bangun mendudukan tubuhnya. Ia memandangi istrinya yang terlihat panik kemudian memegang kepala istrinya itu. Kening wanitanya diciumnya lekat.


"Maafin, aku!" ucap Ferdian singkat, lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Ajeng menatap pria itu penuh heran. Belum pernah hal itu terjadi sebelumnya, ia jadi cemas memikirkan suaminya. Ajeng mengambil jubah tidurnya dan mengenakannya kembali.


\=====


Ferdian kenapa ya?


VOTE yuuuuuk poinnya sumbangin buat author nih #maksa, haha

__ADS_1


Thank you for reading


__ADS_2