
Pagi sekali Arsene meminta Zaara untuk tetap diam di villa, sementara dirinya entah pergi kemana. Yang jelas, Arsene pergi dengan Mang Ujang, penjaga villa milik kakeknya itu. Udara pagi memang sangat dingin. Lokasi villa yang terletak di kaki gunung itu menjadikan pemandangan pagi sangat indah. Bahkan kabut masih terlihat saat fajar muncul.
Zaara menyesap teh melati panasnya sambil mendudukkan diri di sebuah kursi yang menghadap ke arah gunung. Langit terlihat bersih dengan sapuan awan tipis seperti kapas. Di balik puncak gunung yang terlihat dari tempatnya, tersembul cahaya mentari menyambut hari. Terasa sangat menyejukkan mata dan hati. Tenang meski kicauan burung saling menyahut dan bernyanyi. Ia tidak tahu apa lagi yang akan Arsene lakukan hari ini.
Tiba-tiba saja sebuah motor memasuki halaman villa. Arsene datang bersama Mang Ujang yang mengantarnya. Pria itu membawa beberapa kantong kresek di tangannya. Zaara menghampiri. Sambil tersenyum pada istrinya, Arsene turun dari motor.
“Dari pasar?” tanya Zaara menebak. Ia mengambil kantong kresek yang dibawa suaminya.
“Iya, nanti kita bikin barbeque-an malem-malem sama Mang Ujang dan keluarganya.”
Zaara mengintip isi di dalam kantong. Ada potongan daging ayam, daging sapi, jagung muda, dan singkong. Ada juga kacang tanah di sana.
“Ya Allah, banyak banget!”
Arsene memberikan kresek berisi jagung, singkong, dan kacang tanah kepada Mang Ujang. Sedangkan kantong berisi daging ayam, daging sapi, dan bawang bombay tetap dipegang Zaara.
“Makasih ya Mang! Nanti abis maghrib kita bakar-bakaran di sini!” ujar Arsene pada pria paruh baya berkumis itu.
“Muhun, Den! Saya permisi dulu!”
Mang Ujang berpamitan pulang ke rumahnya yang berada di belakang villa itu. Arsene menutup pintu pagar dan berjalan masuk ke dalam.
“Aku kira kamu mau lihat sunrise di puncak gunung,” ucap Zaara menaruh daging-daging itu di atas meja dapur.
“Gak lah! Kalau mau lihat sunrise harus berangkat dari jam 3. Perjalanan ke puncak jauh soalnya, belum lagi medan gunung di sini terjal, aku gak sanggup kayanya. Apalagi dokter bilang aku gak boleh capek-capek!”
Arsene mencuci daging-daging itu dan mulai membumbuinya dengan bubuk paprika, garam, merica, ketumbar, dan rempah lainnya, agar bumbu itu meresap ketika akan dibakar nanti.
“Lagian sunrise aku udah ada di depan wajah aku, jadi aku udah liat setiap aku bangun tidur!” Arsene menatap istrinya yang sedang mengoles selai di roti tawar.
“Uuh, mulai gombal!”
“Tapi suka kan?!”
Zaara tertawa-tawa.
“Makan ini dulu ya? Nanti aku masak bahan yang ada,” ucap Zaara menyiapkan roti bakar untuk dirinya dan Arsene.
“Oke!”
Zaara tengah memasak untuk makan siang mereka di dapur. Arsene entah apa lagi yang ia lakukan, karena dirinya tidak berada di sana. Zaara pikir, suaminya itu sedang tidur. Jadi gadis itu fokus dengan masakannya hari ini.
Sebuah pelukan terasa dari belakang membuat Zaara sekejap melonjak kaget.
“Ya Allah, Abang kagetin aja sih!”
“Hehe, kangen!” ucapnya menaruh dagunya di bahu sang istri.
“Tunggu ini sebentar lagi selesai. Awas perih, aku mau goreng sambal!”
“Ya udah aku tunggu!”
Arsene duduk di kursi meja makan, melipat tangan dan menatap istrinya sayu. Ia tersenyum kemudian memejamkan matanya. Zaara menggeleng-geleng saja melihat suaminya yang malah tertidur di sana. Ia menibaskan tangan di depan wajah suaminya, tetapi tidak ada pergerakan. Sepertinya Arsene benar-benar terlelap.
“Abang… bangun, ini makanannya udah siap nih!” ucap Zaara lembut.
Sementara di atas meja, Zaara sudah menaruh beberapa potong ayam goreng, tahu goreng, lalapan rebus dan mentah, juga sambal terasi uleg. Hidangan itu khas Sunda. Hanya satu yang kurang, sayur asam.
Pipi tirus suaminya itu ditusuknya lembut dengan ujung jari Zaara. Tetapi Arsene bergeming, membuat Zaara teringat kemarin. Ia akhirnya memutuskan untuk mengecupnya tepat di bibirnya. Hasilnya, kelopak mata Arsene bergerak dan terbuka perlahan. Zaara terkikik.
“Kamu pura-pura tidur ya?” goda Zaara.
“Hah?” Arsene berusaha mengangkat matanya yang berat.
“Modus aja!”
“Gak ngerti!”
“Euh! Yuk makan, aku laper nih!”
Arsene mengangguk-angguk lemas, dan berusaha menyegarkan matanya.
\=\=\=\=\=
Malam selepas maghrib, api unggun dinyalakan di pekarangan villa. Beberapa anak kecil dan remaja sudah berkumpul di sana sambil membakar jagung dan singkong yang sudah dibersihkan. Sementara seorang perempuan berusia 40 tahunan sedang menyiapkan piring-piring. Mang Ujang sudah membuatkan minuman bandrek yang sering dibuatnya. Arsene dan Zaara membawa wadah berisi daging-daging yang sudah dibumbui sejak pagi dan bergabung dengan keluarga itu.
Sebuah perapian khusus untuk membakar daging telah disiapkan. Arsene membakar daging-daging itu sambil bercengkrama bersama Mang Ujang yang membantunya. Sementara Zaara dan Bu Minah menata piring berisi kacang rebus, singkong bakar, dan jagung bakar yang sudah matang.
“Usia Neng berapa taun?” tanya Bu Minah, istri Mang Ujang.
“Mau 21 tahun Bu!”
“Eleeuuh ngora keneh geningan (Waduh, masih muda ternyata). Tapi da katingali sih (Tapi kelihatan sih). Neng nikah muda?”
“Muhun (iya) Ibu!”
“Aduh meni resep (Duh senangnya). Ibu mah nikah sama Mang Ujang teh udah usia 30 tahun lebih makanya anaknya masih pada kecil. Udah ngisi Neng?” tanya Bu Minah.
“Belum Bu!”
“Oh iya, santai we Neng. Masih muda ini mah. Yang penting kalau udah rezeki jangan ditolak.”
“Muhun Bu!” jawab Zaara tersenyum. Ia jadi teringat kemarin sore. Menghabiskan waktu bersama dengan suaminya untuk bercinta. Di satu sisi ia merasa bahagia, di sisi lain kecemasannya muncul kembali. Kini ia pasrah saja. Jika Allah ingin menitipkan benih Arsene di rahimnya lagi, ia harus benar-benar kuat.
Daging telah matang sempurna. Kedua laki-laki itu membawanya ke atas tikar yang sudah digelar di atas rerumputan. Ditemani api unggun, rasa hangat menjalar hingga tubuh.
__ADS_1
“Yuk kita makan dulu!” ucap Arsene kepada anak-anak yang sejak tadi membolak-balik jagung.
Ada empat anak di sana. Satu anak balita, dua orang anak berusia 7 tahun, dan yang paling besar seperti seusia Kirei. Arsene merangkul satu-satunya anak laki-laki di sana agar duduk di sampingnya.
“Anak Mang Ujang ini kembar ya?” tanya Arsene mengambil piring makannya.
“Iya Den! Kembarnya cowok cewek!”
“Waah...masya Allah!” Arsene terkesima.
“Makan yang banyak ya, biar cepet tinggi! Siapa namanya?” tanya Arsene pada bocah dengan kepala plontos itu.
“Fikri, A!”
“Fikri, udah besar mau jadi apa?”
“Jadi tentara!”
“Wah hebat!”
Mereka semua menyantap hidangan malam itu, terasa lezat. Apalagi suasana itu terlihat akrab dan hangat. Mang Ujang tipikal orang yang ramah dan mudah berbaur, sehingga sangat klop dengan Arsene. Begitu juga dengan Bu Minah yang sangat keibuan. Canda dan tawa mengiringi malam itu, meski kadang mereka menggunakan Bahasa Sunda yang kurang dimengerti oleh Arsene.
“Bu, Aa-na meni kasep kitu (Kakaknya ganteng banget)!” bisik anak perempuan Mang Ujang yang sulung pada ibunya.
“Iya atuh. Tuh tetehna ge geulis, cocok pisan kan (Iya dong, kakak perempuannya juga cantik. Cocok banget ya)?”
“Muhun, abi ge hoyong (Iya, aku juga jadi mau)!”
“Eh kamu mah budak leutik keneh atuh (Kamu masih kecil dong)!”
“Hehehe…” anak itu menyengir. Zaara yang mendengar percakapan itu jadi tertawa kecil.
Arsene mengajak berbincang Fikri selagi mereka menghabiskan makanannya. Mereka terlihat akrab dan obrolan mereka sangat santai. Mang Ujang dan istrinya tersenyum melihat keakraban salah satu anaknya dengan cucu pemilik villa yang mereka jaga. Sementara Zaara yang duduk di samping Arsene ikut menatapnya. Melihat keakraban Arsene dan anak kecil, hatinya jadi terenyuh. Teringat kembali bahwa ia sudah kehilangan anaknya. Tiba-tiba anak balita Bu Minah menghampiri Zaara. Ia membawakan kacang yang digenggamnya dan menyerahkannya pada gadis itu.
“Eh?” Zaara menadahkan tangannya. “Makasih…,” ucap Zaara bergetar.
“Usianya berapa Bu?” tanya Zaara.
“Masih 2 tahun, Neng! Ini juga baru bisa jalan.”
“Waah…” mata Zaara berbinar dan berkilauan.
Arsene menatap istrinya tersenyum getir.
Malam hangat itu telah berakhir, apalagi si bungsu anak Mang Ujang sudah tidak bisa dikondisikan karena malam juga sudah larut. Mang Ujang membereskan perapian dibantu oleh anak-anaknya yang membawa kembali wadah mereka ke rumahnya. Sementara Arsene dan Zaara kembali ke villa.
“Aku mandi dulu ya? Bau asap nih! Kamu mandi di kamar ini aja, aku di kamar mandi luar!” ucap Arsene.
“Oke deh!”
Tumben sekali, biasanya Arsene akan meminta mandi bersama. Pria itu membawa pakaian dan perlengkapannya keluar kamar. Sementara Zaara bersiap untuk mandi.
Sebuah kertas berwarna merah muda tergeletak di atas kasur. Sejak kapan ada di sana? Zaara bertanya-tanya. Ia segera membukanya.
Kamu mau main denganku sekarang? Kalau iya, coba buka lemari. Kalau enggak, mungkin aku sedang berada di tempat lain yang sunyi dan dingin tanpa cahaya sedang menunggu kamu. Aku kasih waktu lima menit.
Arsene
Zaara memutar bola matanya. Apa yang akan dilakukan suaminya itu malam-malam seperti ini? Haruskah ia ikut dalam permainannya? Waktu untuk memutuskan hanya lima menit.
Zaara berjalan menuju lemari putih dan membukanya. Terpaksa ia akan mengikuti permainan suaminya, yang entah apa tujuannya. Hatinya berdebar tidak karuan, teringat saat kepulangan suaminya beberapa waktu lalu yang juga membuat dirinya cemas. Terdapat sebuah kotak besar tepat di dasar lemari. Ada kertas merah muda lagi di atasnya.
Buka kotaknya dan pakai. Keluarlah dari kamar, dan naiki tangga ke lantai dua. Ada petunjuk lain di sana.
“Ya Allah, Arsene kamu ngapain sih?!” protes Zaara pada dirinya sendiri. Hal itu membuatnya semakin tegang saja.
Zaara membuka kotak berwarna putih yang terasa berat itu. Ada sepasang flatshoes cantik dan sebuah gaun syari anggun dengan tile berwarna pale pink satu set dengan khimarnya yang senada. Hati Zaara terkejut mendapati benda-benda itu. Apakah Arsene mempersiapkan untuknya? Tapi kapan? Ia tidak pernah melihatnya. Hanya saja hatinya merasa terharu.
"Bagus banget ini!" ucapnya terpana dengan gaun yang terlihat mewah itu. Kapan Arsene membelinya? Ia tidak pernah mengetahuinya.
Zaara mengenakan gaun syari itu lengkap dengan khimar menjuntainya dan flatshoes dengan hiasan bunga cantik di atasnya. Semuanya sangat pas di badannya yang ramping dan tinggi. Ia merias sedikit wajahnya dan menyemprotkan parfum di gaunnya itu. Ia menghela nafas dan mulai keluar dari kamar. Ditengoknya seisi ruangan villa, terasa hening dan sunyi. Dimana suaminya berada? Gadis itu mengangkat roknya ketika menaiki tangga. Ada lagi kertas tergeletak di salah satu anak tangga.
Lanjutkan langkahmu ke atas, masuk ke kamar paling pojok. Apakah aku ada di sana? We’ll see :)
Zaara semakin tidak sabar. Dengan perlahan dan hati-hati ia melangkah ke lantai dua dan bergegas menghampiri pintu kamar paling pojok. Sebentar ia mengetuk pintu.
“Abang Sayang…!” panggilnya sambil membuka handel pintu perlahan.
Namun tidak ada siapapun di kamar yang lampunya sedang menyala itu. Sebagai gantinya, ada satu buket mawar putih di atas kasur bersama lipatan kertas lainnya.
“Abang dimana sih?!” Zaara mulai gemas dan meraih kertas itu.
Jangan capek dulu ya! Bawa bunga ini turun bersamamu. Terus, nyalakan satu lilin di pintu belakang, bawa lilin itu ke atas kolam renang. Dan lihat apa yang terjadi :)
Zaara segera mengambil bunga itu dan turun kembali ke lantai satu dengan langkah hati-hati karena gaunnya yang panjang.
Sampai tiba di belakang pintu menuju halaman belakang, ia meraih sebuah lilin kecil yang beraroma lavender dan menyalakannya dengan pemantik api yang juga tergeletak di sana.
Pintu belakang terbuka, mengantarkan hawa dingin dan angin malam masuk. Zaara melangkahkan kakinya di atas teras. Suasana halaman belakang begitu gelap dan sunyi. Ia tidak yakin kalau suaminya ada di sana. Aura cemas dan ketakutan menyapa gadis itu. Ia berusaha membuat lilinnya tetap menyala dan menaruhnya di atas permukaan kolam renang berbentuk persegi panjang itu, sehingga lilin itu mengambang di atasnya. Suasana gelap itu tiba-tiba saja berubah. Zaara dikejutkan dengan sebuah suara hentakan kuat. Lampu-lampu kecil di taman seketika menyala, terangkai cantik pada dahan rendah dan tanaman kecil. Berkerlap-kerlip indah. Zaara terpana dengan pemandangan di depannya. Sejak kapan Arsene menyiapkan ini semua?
Bahkan ada lampu dengan rangkaian membentuk huruf I ❤ U, Zaara semakin tersipu-sipu saja dibuatnya. Ia tertegun, mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya yang belum dilihatnya.
Seseorang berdeham di belakang tubuh Zaara, membuat dirinya terentak.
“Astaghfirullah,” Zaara terperanjat.
__ADS_1
“Maaf ya, aku ngagetin kamu.” Arsene muncul dari belakangnya. Pria itu terlihat tampan dengan tuksedo hitamnya. Mereka seperti pengantin baru saja.
“Kamu ngapain sih bikin-bikin kaya gini? Bikin deg-degan aja!” protes Zaara memukul pelan lengan suaminya.
“Aku cuma pengen kasih kejutan aja buat kamu, Sayang! Masih ada satu hadiah lagi buat kamu!” ucap Arsene tersenyum lebar.
“Masya Allah! Apa lagi? Aku aja jarang kasih apapun sama kamu.”
“Kata siapa?” kerlingnya genit. “Habis ini kamu wajib bayar aku!”
Zaara mengerucutkan bibirnya. Ia memukul lagi lengan suaminya.
“Yuk!” Arsene menyodorkan lengannya, agar Zaara bisa menggandengnya.
“Kemana?”
“Tuh, ke paviliun kecil!”
Zaara menggandeng lengan suaminya dan berjalan bersama menginjak rerumputan hijau. Lampu-lampu kecil menemani keduanya. Meski terasa sunyi tapi mereka merasakan kehangatan jiwa. Zaara tersenyum lebar sambil mengangkat rok gamisnya dengan satu tangannya. Ia seperti cinderella yang akan menghadiri pesta dansa tengah malam. Bedanya, ia akan bisa bersama pangerannya tanpa khawatir jam akan berdentang menghentikan waktunya.
Arsene menunjuk langit yang berhias bintang-bintang dan bulan yang bulat sempurna di kegelapan malam. Sangat indah dan terasa dekat.
Akhirnya kaki mereka menginjak lantai paviliun berbentuk lingkaran yang dihiasi dengan pagar besi berukiran tanaman. Tanaman merambat berbunga merah muda menghiasi di sana. Paviliun itu tidak terlalu luas. Ada sebuah meja bundar kecil di sana. Di atasnya terdapat sebuah bingkisan kecil berbentuk kotak.
“Ambil aja, itu buat kamu!” ujar Arsene tersenyum.
“Benaran?”
“Iya!” Arsene mengambilkannya dan memberikan itu pada istrinya.
Zaara membuka tutupnya. Matanya berkilauan mendapati benda berkilauan di sana. Ia sama sekali tak menduganya.
“Cantik banget, Abang. Tapi apa maksudnya?” tanya Zaara tidak mengerti mengapa Arsene memberikannya sebuah cincin permata berkilauan.
“Kamu sangat berharga buat aku. Aku hanya ingin memberi ini untuk menebus kesalahan aku, meski sebenarnya ini sama sekali gak sepadan dengan apa yang aku perbuat.”
Zaara berkaca-kaca. Arsene tidak seharusnya memberi ini padanya, karena ia sudah memaafkannya tulus di dalam hatinya.
“Aku pakein ya?” pinta Arsene.
Zaara mengangguk.
Arsene memasang cincin itu di jari tengah tangan kanan istrinya, berendengan dengan cincin kawin yang sudah ia beri pada gadis itu.
“Makasih banyak, Abang Sayang! Aku sayang kamu!” Zaara memeluk tubuh suaminya.
“Aku juga sayang sayang sangat sayang kamu!” Arsene mengeratkan pelukan itu.
Arsene mengecup lekat kening istrinya. Sudah ditanamkan pada hatinya, ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan gadis di depannya itu.
“Kamu cantik banget, suka sama hadiahku?” tanya Arsene menangkup pipi istrinya.
“Uhuh!” ucap Zaara yang bibirnya membulat karena tangan Arsene menekan pipinya.
“Lucu banget sih! Gemeees!” Arsene melahap kecil bibir istrinya itu.
“Habis ini ngapain?!” tanya Arsene.
“Ke kamar?” tanya Zaara ragu.
“Gak mau!” sergah Arsene mengangkat dagunya sendiri, mencebik kecil.
“Terus kemana?” Zaara mengernyit.
“Kolam renang!”
“Dingiiiin Abaaang!” protes Zaara memukul pelan dada suaminya.
Arsene tertawa-tawa.
“Ya udah kalau gitu di ruang TV aja.” Arsene memberi ide.
“Ngapain? Nonton?” tanya Zaara.
“Enggak!”
“Lha terus?”
“Bikin anak, wkwk!”
Zaara mencubit hidung mancung suaminya. Arsene tersenyum lebar dengan senyuman khasnya yang manis. Zaara berjinjit sedikit untuk meraih bibir suaminya.
"Kita bergadang?" tanya Arsene selepas membalas perlakuan manis istrinya.
Wajah Zaara tersipu merona di bawah lampu terang paviliun.
"Mmh, mmh...."
"Di sini dulu ya! I wanna spend my time with you under the moon light (Aku mau menghabiskan waktu denganmu di bawah sinar bulan)!"
\=\=\=\=\=\=
Bersambung dulu uh yeaah….
Hahaha... votenya banyak dong biar gak tamat dulu
__ADS_1
LIKE dan KOMENTARnya juga jangan lupa tinggalkan yaa
Makasih banyaaak ^_^