
Arsene dan Zaara memandangi sebidang tanah cukup luas yang dipenuhi rerumputan liar dan berpagar. Tanah itu terletak tidak jauh dari gedung perusahaan milik Kakek Jaya dimana Abi Reza juga bekerja di sana. Lokasinya sekitar 5 km dari kampus dan toko mereka. Bukan kawasan komplek elit, tidak cukup ramai, tetapi cukup strategis berada di kota.
Arsene memegang sebuah kertas yang sudah dicetaknya. Sebuah sketsa denah rumah dengan tipe 96 meter persegi. Memiliki desain modern minimalis tropis dengan bangunan model kubus tanpa atap genteng. Model itu sudah ia diskusikan dengan istrinya, karena Zaara yang akan mengisi harinya di rumah. Jadi Arsene menyerahkan pada istrinya mengenai apa yang diinginkannya, baik desain eksterior dan interior. Ia juga berbicara dengan seorang arsitek yang bekerja di perusahaan kakeknya, dibantu oleh ayah mertuanya sehingga semuanya semakin mudah.
“Kapan mulai dibangun?” tanya Zaara mengelus perutnya yang sudah cukup besar.
“Pas kita masuk semester baru. Aku minta ke kontraktor agak lama pembangunannya karena disesuaikan dengan uang yang akan dibayarkan ke mereka,” jawab Arsene melipat kertas denah rumahnya dan memasukkan kembali pada saku jaket denimnya.
“Mudah-mudahan rezeki kita lancar ya Abang Sayang!”
“Aamiiin.” Arsene merangkul pinggang istrinya.
“Mau kemana sekarang?” tanya Arsene.
Zaara tersenyum, “Toko buku!”
“Boleh, mau beli buku apa emangnya?”
“Aku mau beli buku anak-anak. Boleh?” pinta Zaara.
“Yuk!”
Arsene dan Zaara menaiki motor. Keduanya berpacu menuju sebuah toko buku terbesar di kota yang tidak terlalu jauh dari sana. Arsene menuntun lengan istrinya menuju lantai tiga, dimana banyak buku anak-anak berada di sana.
“Buku gini banyak lho punya Mommy!” Arsene menunjukkan buku-buku fabel dan dongeng sepanjang masa.
“Oh iya? Tapi aku mau cari cerita anak Islami. Kaya gini.” Zaara menunjukkan satu paket buku akidah mengenal Allah swt. khusus untuk anak.
“Mau ambil itu?”
“Iya, aku pengen bacain buku ini sejak anak kita di dalam kandungan. Aku pengen anak kita mengenal Tuhannya sejak sebelum lahir. Dengan begitu aku berharap ia akan jatuh cinta pada-Nya pertama kali dalam hidupnya.”
Arsene tersenyum. “Ambil aja, Sayang! Nanti kita bikin perpustakaan kecil di rumah ya?”
“Iya!”
Arsene mengambil paket buku berwarna-warni itu. “Ada lagi?” tanyanya.
Zaara masih melihat-lihat lagi rak-rak buku yang ada di sana. “Satu lagi boleh?” Kali ini Zaara menunjuk paket buku berjudul Sirah Nabawiyah khusus anak-anak.
“Boleh banget!”
Arsene membawa dua tumpukan buku itu menuju kasir dan membayarnya. Sebelum pulang mereka mampir ke sebuah kafe modern dulu untuk menyantap makan siang. Sebuah meja di pojok yang jauh dari keramaian dipilih mereka.
“Kamu mau makan apa, Zaara Sayang?” tanya Arsene.
“Aku pengen makan steak salmon sama salad arugula.”
Arsene menarik bibirnya kemudian mengangguk. Ia sendiri hanya memesan pasta carbonara untuk disantapnya. Ia sudah tidak sering lagi untuk mengidam, mungkin masa-masa itu sudah terlewati. Meski Zaara masih saja tidak terlalu banyak berbicara.
“Nanti habis lahiran kamu mau cuti berapa semester?” tanya Arsene sambil menunggu pesanannya yang belum datang.
“Mungkin satu semester. Atau menurut kamu gimana?” tanya Zaara.
“Dua semester aja. Biar satu tahun anak kita bisa full asi, satu tahunnya kamu bisa stok. Udah bicarain ini sama umi?”
“Belum. Kita ke rumah umi aja habis ini?”
“Ayo aja!”
“Kamu gak keberatan setelah aku lahiran kita tinggal di rumah abi?”
Arsene tertegun sebentar. Ia sudah memikirkan ini sejak Zaara hamil pertama kali. Memang pasti anak mereka harus dititip pada mertuanya, karena mereka berdua masih sama-sama berkuliah. Hal itu pun sudah diutarakan oleh Zaara di CV ta’arufnya dulu.
“Enggak. Kebetulan juga kan sewa apartemen kita habis dua bulan lagi. Jadi pas lah. Kita pindah ke rumah abi.”
Zaara tersenyum. Pipinya semakin bulat saja, karena berat badannya terus bertambah.
“Permisi, silakan dinikmati…” beberapa orang pelayan mengantarkan pesanan mereka siang.
\======
Suasana pagi itu cukup sibuk, karena Arsene dan Zaara memindahkan barang-barang mereka dari apartemen ke rumah Reza. Mulai hari ini, keduanya akan tinggal di sini setidaknya selama satu tahun ke depan.
Arsene sibuk naik turun tangga untuk membawa barang-barang ke dalam kamar istrinya. Zaara yang tidak mau kalah juga ikut membantu.
“Sayang kamu duduk aja. Biar aku aja yang angkat semua!” ucap Arsene melihat Zaara yang sedang membawa perabotan kecil menuju tangga.
“Cuma ini aja kok!” ucap Zaara.
“Bukan masalah angkatnya, aku gak mau kamu bolak balik naik tangga. Bahaya!” sergah Arsene menarik lengan istrinya menuju sofa dan mendudukkannya di sana.
“Iya Neng! Udah duduk aja kamu mah!” ucap Karin yang sedang mempersiapkan sarapan.
Terpaksa Zaara mengikuti perintah suaminya dan hanya memperhatikannya saja.
Arsene melanjutkan pekerjaannya. Zayyan juga membantunya di sana. Reza tidak berada di rumah karena memang sedang ada pekerjaan keluar kota. Jadi hanya kedua pria itu yang sibuk menurunkan barang-barang dari mobil pick up ke lantai dua.
“Alhamdulillah, udah beres angkat! Tinggal dirapihin aja!” Arsene merebahkan tubuhnya di atas sofa. Zayyan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Minum dulu Abang Sayang!” seru Zaara membawakannya air minum, begitu pula untuk adiknya.
“Teh lahiran kapan?” tanya Zayyan menaruh gelas miliknya di atas meja.
“Kalau prediksi sih sekitar satu mingguan lagi, tapi bisa lebih cepet atau lambat.” Zaara duduk di sebelah suaminya. Perutnya sudah besar sekali karena usia kehamilannya sudah 9 bulan lebih. Ia mengelus-elus perutnya.
“Wah bentar lagi. Jadi gak sabar Zayyan lihat ponakan ganteng!”
Arsene tertawa kecil.
“Kuliah Teteh gimana?” tanya Zayyan lagi.
“Cuti dulu atuh. Masa dedeknya ditinggalin, meski ada umi.”
“Jadinya cuti berapa lama?” tanya umi yang ikut menimpali Zaara pertanyaan.
“Dua semester aja, Mi! Biar bisa wisuda bareng juga sama Abang.”
“Ooh iya ya, emang Abang masih banyak mata kuliah yang belum terkejar?” tanya Karin meletakkan pisang goreng di atas meja.
“Belum Mi! Tetep aja ngejar semester pendek juga gak kekejar,” terang Arsene.
“Ya, yang penting kuliah kalian lancar ya. Meski Zaara udah lahiran juga, insyaAllah Umi bakal bantu. Alhamdulillah Umi masih sehat jadi masih bisa urus cucu.”
“Makasih banyak, Mi!”
Zaara mengajak suaminya beristirahat di dalam kamarnya. Meski barang masih sangat berantakan, Arsene memutuskan untuk istirahat sejenak dulu. Keduanya berbaring di atas kasur.
Pria muda yang sebentar lagi menjadi ayah itu menempelkan telinganya di atas perut istrinya. Sambil mengelus lembut, ia berbicara.
“Dek mau keluar kapan? Kita udah pindah ke rumah nenek kakek lho! Jangan betah di dalam ya, biar kita cepet ketemu!” ucap Arsene pada perut istrinya.
Zaara tertawa kecil.
DUG. Sebuah tendangan keras terasa tepat di pipi Arsene, membuat ia dan istrinya terkejut bersamaan.
“Is that an agreement?” tanya Arsene menatap istrinya.
“Entah!”
Mereka berdua tertawa-tawa.
“Dek, kamu setuju ya?! Gak boleh lama-lama di sana. Ayah kangen banget nih. Umajuga!” ucap Arsene lagi.
DUG. Lagi-lagi tendangan itu muncul.
“Dek, kamu sayang Ayah dan Uma?”
DUG. Tendangan datang dari sudut lain.
“Ya Allah anakku pinter banget ini kaya ayahnya!” ucap Arsene percaya diri.
“Alhamdulillah, aamiin!”
“Ayah dan Uma istirahat dulu ya, Nak! Jangan ganggu ya shaleh!” bisik Arsene tersenyum.
DUG. DUG.
“Masya Allah, jadi makin gak sabar ketemu kamu, Nak!”
Arsene membawa tubuh istrinya berbaring siang itu. Ia mengelus pipi istrinya.
“Mau lahiran takut gak, Sayang?” tanya Arsene.
“Mmh… sedikit. Tapi aku percaya aku bisa lahirin anak kita. Sejauh ini kehamilan aku gak ada masalah, jadi aku percaya diri aja. Ada Allah dan kamu di samping aku!” Zaara tersenyum.
Arsene mengecup kening istrinya. “Mungkin aku yang bakal khawatir. Tapi aku akan temenin kamu di dalam ketika nanti kamu bersalin.”
“Yuk istirahat dulu! Nanti sore kita beresin lagi!”
“Iya!
Kamar Zaara sudah rapi dan semakin sempit saja karena banyak barang baru di sana. Ada keranjang tidur bayi, lemari baju khusus bayi, belum lagi barang-barang milik Arsene. Meski sebagian lainnya diletakkan di ruang tengah.
Malam itu hawa terasa panas. Arsene membukakan jendela sedikit, memberi ruang pada angin untuk memutar udara di kamar mereka. Ia mematikan lampu seperti kebiasaannya karena dirinya selalu tidak bisa tidur jika lampu harus menyala.
Baru saja ia merebahkan tubuhnya, Zaara yang berada di sebelahnya memainkan jari di leher suaminya. Arsene membalikkan tubuhnya.
“Kenapa Sayang?”
“Aku kangen kamu!” ucapnya lembut.
Mendengar jawaban istrinya, Arsene lekas merengkuh tubuh istrinya. Perut besarnya itu menjadi penghalang, jadi Arsene mencondongkan tubuh bagian atasnya saja khawatir akan menekan perut istrinya.
“HPL aku makin deket, apa kamu gak mau ambil jatah kamu tiap hari?” tawar Zaara malu-malu. Ia hanya khawatir Arsene akan merasa kesulitan setelah dirinya nifas selama kurang lebih 40 hari.
Arsene jadi tertawa-tawa.
“Ih kamu mah. Aku jadi malu!” Zaara menepuk lembut dada suaminya.
__ADS_1
“Makasih banyak Sayangku Cintaku! Mau main sekarang?” tanya Arsene meyakinkan istrinya.
“Tapi kalau di sini gak boleh ribut, nanti Zayyan denger. Kan gak lucu anak itu denger kita ribut-ribut di sini!” bisik Zaara. Kamar Zayyan memang tidak bersebelahan, tetapi terletak di depan kamarnya.
“Hehe. Gitulah resikonya tinggal sama orang lain. Tapi aku jadi beruntung, mungkin bisa tahan diri selama kamu nifas nanti.” Tubuh Arsene mulai berada di atas tubuh istrinya, dan mulai memainkan aksinya malam itu dengan lembut dan perlahan karena khawatir membangunkan anaknya yang ada di dalam kandungan ibunya.
Arsene harus membiasakan hal seperti ini selama setahun ke depan. Ia keluar dari dalam kamar dan segera masuk ke dalam kamar mandi setelah hajatnya selesai. Tidak nyaman memang tinggal bersama orang lain dalam satu rumah. Tetapi bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Arsene segera membersihkan dirinya. Zaara akan menyusul kemudian.
Adzan subuh berkumandang. Rasa letih yang menumpuk membuat Arsene dan Zaara tidak bisa bangun lebih awal.
“Abang bangun, sholat ke masjid!” seru Zaara menggoyangkan tubuh suaminya.
“Ah, udah subuh ya?” tanya Arsene masih berusaha membuka matanya.
“Iya tuh udah adzan. Untung udah mandi. Tinggal wudhu aja!”
“Hmm….” Arsene bangkit dan menggaruk-garuk kepalanya.
“Bang! Buruan, Zayyan tunggu di bawah ya?” seru Zayyan melihat kakak iparnya baru keluar dari kamar mandi.
“Ya!”
Fajar sudah menyembul dari balik bukit, memendarkan cahaya yang siap menghangatkan dunia. Kedua pria muda itu duduk di kursi teras.
“Bang, nikah muda itu ribet gak sih?” tanya Zayyan ingin tahu.
“Ribet gak ya? Gimana kitanya sih.”
“Masalah apa yang muncul yang menurut abang paling berat selama ini?”
“Ini udah tahun ketiga abang dan teteh kamu nikah. Sejauh ini yang paling berat sih masalah waktu teteh kamu keguguran. Intinya komunikasi kita yang kurang baik dan juga masalah prioritas. Abang lebih prioritas kerjaan karena waktu itu toko udah tutup, Abang fokus untuk mencari nafkah tapi sering mengabaikan teteh kamu yang butuh perhatian. Ya itu yang paling berat sih!”
Zayyan mengangguk-angguk. Ia juga tahu masalah yang melanda kakaknya saat itu. Bahkan setiap malam ia sering sekali mendengar kakaknya itu menangis seorang diri.
“Kalau orang ketiga pernah muncul gak? Abang kan populer seenggaknya mungkin punya mantan dulu.”
Arsene tertawa kecil.
“Orang ketiga kayanya gak ada. Pernah sih ada yang muncul, tapi gak serumit itu masalahnya. Lagian teteh kamu langsung jadi perisai Abang waktu itu. Alhamdulillah, kalau komunikasi kita baik dan saling pengertian, masalah itu akan hilang seiring waktu.”
“Emang ya, kalau laki-laki berat di nafkah. Tapi kayanya kalau Zayyan belum bisa memutuskan untuk nikah muda. Terlalu berat bebannya. Apa yang bisa membuat Abang percaya diri untuk nikah muda?”
“Pertama awalnya karena tertantang untuk dapetin teteh kamu apalagi saingannya Mas Raffa. Tapi seiring waktu, ilmu agama bertambah dan keimanan juga bertambah niat itu abang coba luruskan. Bahwa nikah muda memang untuk menjaga diri dari pergaulan yang tidak-tidak dan tentu mendapat ridho Allah. Dari sisi lain, Abang percaya diri karena sudah punya modal lain. Abang merasa bisa menafkahi karena sudah punya bisnis dan bisa membimbing istri meskipun semuanya akan tetap butuh pembelajaran setiap waktu. Jadi Abang merasa diri ini mampu. ”
Zayyan tertegun dengan jawaban kakak iparnya itu. Setidaknya pengalaman Arsene memberikan wawasan dari sudut pandang lain.
Tiba-tiba Karin keluar dengan penampilan yang sudah rapi, terlihat buru-buru.
“Yan, cepet anter ke rumah nenek!” ucap Karin tergesa-gesa.
“Kenapa Mi?” tanya Zayyan terkejut.
“Tante Jingga kondisinya ngedrop lagi. Gara-gara om kamu ini sih!” ucapnya terlihat kesal.
“Apa sih Mi?” tanya Zayyan tidak mengerti, langsung masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil helm dan kunci motor.
“Memang kenapa dengan Om Kevin Mi?” tanya Arsene penasaran.
“Udah tau kondisi Tante Jingga belum pulih, undangan nikahnya malah diantar ke rumah nenek!”
“Astaghfirullah.” Arsene tidak bisa berkomentar lebih lanjut.
“Cepet Yan!” teriak Karin.
“Abi kapan pulang?” tanya Zayyan membuka pintu garasi.
“Abi lagi di jalan sekarang. Langsung ke rumah nenek!”
Zayyan bergegas mengeluarkan motor matic-nya.
“Kalau ada apa-apa sama Zaara cepet hubungi Umi dan Abi ya Bang?!” pinta Karin, ia memasang helm di kepalanya dan segera menyusul anaknya yang sudah bersiap-siap.
“Iya, Mi! Hati-hati!” ucap Arsene.
“Umi berangkat dulu, assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam.”
Arsene menghela nafas dan segera menutup pintu pagar rumah mertuanya.
\======
Bonus Episode bersambung....
Bonusnya bakalan banyak ya, hihi
Jadi pastikan kamu tetep dukung dengan klik LIKE, komen, dan Vote
Makasiiih
__ADS_1