
Hari itu adalah hari libur karena tanggal merah. Ajeng memohon kepada suaminya untuk mengantarkan dia belanja keperluan bayi dan ibu hamil. Perut Ajeng sudah membesar di usia kandungannya yang kelima, ia merasa harus membeli baju baru agar bisa merasa nyaman apalagi untuk aktivitas kerjanya. Koleksi outfit kerja milik Ajeng, kebanyakan memang kemeja blouse dan rok yang sesuai di badannya. Ia tak punya baju atau outfit terusan yang lebih besar. Terpaksa Ferdian menuruti keinginan istrinya itu yang semakin hari semakin manja saja.
Ajeng memilih sebuah mall yang cukup lengkap di pusat kota. Beruntung, tempat yang ia kunjungi tidak terlalu ramai hari ini. Ajeng menggelayut manja pada lengan suami di sepanjang jalan mereka melihat-lihat outlet busana.
"Pengen itu, dong!" tunjuk Ajeng pada sebuah mini outlet minuman yang sedang trend saat ini, milk tea bubble.
"As you wish, honey! (Sesuai yang kamu mau, Sayang)!" ucap Ferdian.
Ajeng tersenyum berbinar.
Keduanya pun membeli minuman itu meski ternyata harus mengantri panjang, karena ternyata cukup banyak yang ingin membeli minuman trendi itu. Ferdian berdiri di barisan antrian, sementara Ajeng mendudukan dirinya di sebuah kursi yang tidak jauh dari antrian.
Ajeng memainkan ponselnya sambil menunggu suaminya itu. Sesekali ia mengambil foto dimana suaminya berdiri, lalu mempostingnya di instastory miliknya.
[Sayang istri, rela antri demi minuman hits, love you!] ketik Ajeng dengan menandai nama suaminya itu.
Tubuh Ferdian terlihat sangat tinggi di barisan antrian. Apalagi antriannya dipenuhi oleh wanita dan gadis-gadis. Hanya ia sendiri seorang pria yang mengantri di sana. Beberapa gadis yang berada di depannya sesekali menoleh ke belakang ketika teman mereka membisikan sesuatu. Kemudian mereka terkekeh tersipu-sipu. Terlihat sekali mereka menaruh perhatian pada sosok Ferdian. Sementara ia sendiri dengan santainya membuka ponsel sambil tersenyum karena postingan Ajeng.
Gadis-gadis yang berada di depan Ferdian masih terlihat tertawa-tawa genit sambil senggol-menyenggol kawannya yang lain. Ajeng memicingkan matanya pada pemandangan yang ada di depannya. Ia beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah angkuh, ia berjalan mendekati suaminya.
"Sayang, aku di sini aja deh!" ucap wanita itu, dengan sengaja mengeraskan suaranya.
Seketika gadis-gadis itu menoleh kaget dan melihat Ajeng menggelayut manja pada lengan suaminya. Senyuman bangga muncul di bibirnya. Kemudian gadis-gadis itu tampak meliriknya kesal.
"Nanti kaki kamu pegel, udah duduk aja disana!" ucap Ferdian lembut.
"Gak mau! Lagian bentar lagi kan giliran kita, aku mau pilih menunya!" ucap Ajeng.
"Ya udah!"
Ajeng menaruh kepalanya di bahu suaminya itu sambil memperhatikan gerak-gerik gadis-gadis itu yang tak lagi tertawa cekikan seperti tadi. Entah kenapa ia jadi lebih sering merasa cemburu, padahal sebelum hamil kadang ia malah bersikap biasa saja ketika ada yang memperhatikan suaminya itu. Ia mengelus-elus perutnya, mungkin karena ada makhluk kecil di dalam rahimnya itu.
Tak lama kemudian kini gilirannya tiba untuk mereka memilih menu minuman yang mereka inginkan. Keduanya kembali berjalan dan memasuki sebuah outlet fashion wanita yang cukup terkenal. Ferdian terpaksa harus menemani kemana pun istrinya melangkahkan kaki, karena wanita itu tak mau ditinggal. Bahkan Ajeng selalu menanyakan bagaimana tanggapan suaminya untuk baju-baju yang ia pilih. Ferdian memang punya selera fashion tapi hanya sebatas untuk dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak mengerti selera fashion wanita. Jadi ia hanya mengangguk atau mengiyakan saja ketika istrinya menanyakan hal tersebut.
"Kamu mah iya-iya aja kalau aku tanya," ucap Ajeng mendengus.
"Ya kan emang bagus? Jadinya aku harus gimana?" tanya Ferdian kebingungan menghadapi istrinya yang sensitif ini.
"Kasih komentar lain kek!"
"Tadi aku kasih komentar ga suka, kamu cemberut. Aku kasih komentar bagus, kamu cemberut juga. Ya Allah, perempuan tuh aneh banget deh!" ucap Ferdian menepuk jidatnya sendiri.
Ajeng hanya mendengus kesal dan pergi dari hadapan suaminya. Ia menaruh semua baju yang sudah dipilihnya di sebuah gantungan, dan berbicara sebentar pada pegawai yang bertugas. Lalu pergi melenggang keluar dari toko itu. Ferdian terkejut dan mengejar wanitanya. Ada apa lagi ini?
"Sayang!" panggil Ferdian setengah berlari mengejar istrinya yang melangkah cepat.
"Ajeng! Kamu kenapa sayang? Aku bingung ngadepin kamu yang kaya gini!" serga Ferdian, mengambil lengan istrinya yang cemberut itu.
Ia harus sabar menghadapi istrinya yang sedang hamil, bukan sabar biasa, tetapi ekstra sabar.
"Kalau kamu suka, ambil aja semua yang kamu mau! Aku masih ada kok budget buat keperluan kamu pribadi," ucap Ferdian menahan laju istrinya.
"Gak usah! Makasih!" ucapnya sedikit kesal.
"Ajeng!"
"Lepasin aku, Fer! Aku mau ke toilet! Kebelet tau!"
Seketika itu Ferdian melepas lengan istrinya dan mengikutinya dari belakang. Astaga!
"Aku kira, kamu ga jadi ambil baju yang udah kamu pilih," ucap Ferdian lesu ketika Ajeng telah selesai dari keperluannya di toilet.
Ajeng tertawa-tawa.
"Karena tadi aku keliatan ngambek?" tanya Ajeng.
"Iya. Habisnya bingung ngadepin kamu kaya gitu,"
__ADS_1
"Haha....aku tuh cuma kebelet pipis aja. Tadi aku udah bilang sama pegawainya, jadi aku titip dulu sebentar!"
"Uh dasar, bikin orang panik aja!" ucap Ferdian mengacak-acak rambut sang istri.
"Yuk bayar! Kamu yang bayar kan?"
Ferdian mengangguk dan tersenyum geli. Keduanya kembali ke dalam toko dan membayar semua barang yang sudah dipilih Ajeng.
\=====
"Gak kerasa udah UAS aja nih!" ucap Ferdian di atas sofa sambil membaca diktat perkuliahannya.
"Iya nih!" ucap Ajeng yang berada di depan laptopnya sambil menyusun soal-soal.
"Kamu gak boleh terlalu capek ya?"
"Iya!" seru Ajeng.
Ferdian memperhatikan istrinya itu dari sofa. Wajah istrinya tetaplah cantik di matanya, bahkan kecantikannya bertambah, meski pipinya kini terlihat lebih berisi. Perutnya juga sudah semakin besar. Ferdian mengkhawatirkan kembali trauma yang sempat menghantuinya. Selama ini memanglah tidak terlalu mengganggu, tetapi bagaimana ketika perut Ajeng sudah benar-benar membesar, ia tidak bisa memprediksinya. Darah yang mengalir segar, wajah kesakitan, teriakan ibunya pada saat itu kini tengah membayang-bayanginya. Ferdian menepis pikiran itu dan berusaha fokus pada materi kuliahnya.
"Sayang," panggil Ferdian yang telah duduk di atas kasur.
"Kenapa?"
"Kalau guling ini ditaruh di tengah boleh ga?" tanya Ferdian ragu.
"Buat apa?" tanya Ajeng heran.
"Aku khawatir, kalau nanti tidur kenapa-napa terus bisa ngenain perut kamu," jawab Ferdian lemas.
Ajeng menghampiri suaminya dan menyandarkan tubuhnya di tubuh suaminya.
"Aku yakin kamu gak bakal kenapa-napa kok! Kamu harus yakinkan diri sendiri ya, kalahin rasa cemas kamu!" ucap Ajeng mengelus lembut pipi suaminya.
Ferdian menghembuskan nafasnya dan mengangguk. Ajeng mengecup dan menepuk pelan pipi suaminya itu.
Ferdian membaringkan tubuhnya. Ajeng menarik tangan suaminya dan menaruhnya di atas perutnya yang bulat. Ferdian tampak tegang. Namun ia berusaha melafalkan doa untuk kebaikan dan keselamatan keluarga kecilnya ini. Tak lama, keduanya pun tertidur pulas.
\=====
Suara rintihan terdengar malam itu di tengah keheningan. Begitu menyayat hati. Rintihan itu terus terdengar, semakin lama semakin keras. Ferdian terkejut dan terbangun.
"Fer....tolong aku, sakiiiit, perut aku sakiiiit! Fer,,,,!" rintih Ajeng, wajahnya terlihat menahan nyeri.
Ferdian menatap istrinya nanar dan kebingungan.
"Sakiiiit Fer, bawa aku ke rumah sakit!" rintih Ajeng mencengkram tangannya, yang akhirnya menyadarkan Ferdian 100% kalau itu bukanlah mimpinya.
Ferdian bergegas mengambil kunci mobilnya, lalu menggendong istrinya itu dengan jantung menderu kencang. Ia panik, luar biasa panik. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan istrinya sampai ia merasakan perih di perutnya. Ferdian berusaha tetap awas, meski hatinya sungguh sangat cemas. Ia langsung membawa Ajeng ke rumah sakit terdekat, dimana dulu ia pernah di rawat. Beberapa perawat jaga malam, langsung membantu membawa Ajeng di sebuah matras dan membawanya ke ruang instalasi gawat darurat.
Ferdian berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD. Ia tidak dapat berpikir dengan jernih saat ini, kecuali menyalahkan dirinya. Ia yakin Ajeng kesakitan karena ulah dirinya. Seorang dokter keluar dari ruangan dan Ferdian bergegas menghampirinya.
"Istri saya gimana keadaannya dok?" tanya Ferdian panik.
"Istri Anda mengalami benturan di perutnya jadi ada sedikit kontraksi. Kami akan segera ke klinik bersalin untuk lebih mengetahui kondisi janinnya sekarang," jelas dokter.
Jantung Ferdian berdegup kencang. Ia hanya mengiyakan instruksi dokter agar kondisi istri dan anaknya selamat. Ajeng dibawa ke klinik bersalin untuk mendapatkan perawatan yang lebih lanjut, terutama untuk mengetahui kondisi janinnya.
"Bapak Ferdian?" panggil seorang perawat.
"Iya!" Ferdian langsung menghampiri.
"Alhamdulillah, kondisi ibu Ajeng dan anaknya stabil ya, Pak! Untung benturannya tidak sampai trauma dan pendarahan, jadi kemungkinan ibu Ajeng bisa pulih dengan cepat," jelas seorang bidan yang bertugas.
"Alhamdulillah...." ucap Ferdian lega dan langsung meminta izin untuk menemui istrinya.
Ajeng berbaring dengan mata terpejam. Ia sedang tertidur. Ferdian merasa menyesal kenapa ia sampai bisa menyakiti istrinya bahkan di saat ia sedang tertidur. Ferdian mengangkat tangan Ajeng dan mengecupnya berkali-kali. Ia juga memberanikan diri untuk menyentuh perut istrinya dan mengelus perlahan.
__ADS_1
"Maafin Ayah ya Nak! Ayah gak sengaja! Ayah gak berniat untuk menyakiti kamu dan Bunda!" ucap Ferdian lirih. Air matanya menetes lembut.
Seketika itu ia mendapat respon kecil dari perut. Ferdian merasa terkejut dan takut. Baru saja ia hendak melepaskan tangan dari perut istrinya itu, namun Ajeng yang terbangun, menahan tangan Ferdian. Ferdian menatap wajah istrinya cemas.
"Kami sayang Ayah!" ucap Ajeng lembut, senyuman muncul dari bibirnya yang terlihat masih pucat.
"Tuh dia tendang-tendang, katanya dia baik-baik aja!" ucap Ajeng lagi.
Ferdian menangis tersedu-sedu sambil menundukan wajahnya.
"Aku dan anak kita gak apa-apa kok! Kamu jangan nyalahin diri sendiri ya, Sayang?" pinta Ajeng.
Namun pria itu tak sanggup berkata apa-apa, karena masih tenggelam dalam tangisannya.
Ajeng membelai rambutnya.
\=====
Ajeng telah pulang dari rumah sakit setelah satu hari penuh dirawat di sana. Kondisi ia dan janinnya sudah stabil dan sehat kembali. Dengan terpaksa, Ajeng menunda pelaksanaan ujian akhir bagi mahasiswanya setidaknya sampai tiga hari kedepan. Begitu pula dengan Ferdian yang izin untuk tidak mengikuti UAS pada hari ini dan ikut ujian susulan.
Sebagai lelaki yang bertanggung jawab, ia akan menyiapkan segala keperluan istrinya selama beristirahat penuh. Meskipun esok hari ia akan tetap pergi ke kampus karena tidak mungkin untuk tidak mengikuti ujian susulan lagi.
"Kamu ke kampus aja, aku juga udah gak kenapa-napa kok," ujar Ajeng yang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Siang ini aku udah izin kok sama Andre! Jadi nanti ikut ujian susulan aja!" jawab Ferdian sambil menyiapkan makan siang untuk dirinya dan istrinya.
"Ooh...hari ini ujiannya Andre?"
"Iya! Besok baru aku masuk!"
Ajeng mengangguk saja mendengar perkataan suaminya.
Siang itu Ferdian memasak sup aneka sayur dengan ayam kampung. Ajeng memakan menu buatan suaminya itu dengan lahap. Ia selalu menyukai masakan buatan suaminya itu yang terasa lezat di lidahnya.
"Kamu tidur duluan aja, aku mau mandi dulu!" ucap Ferdian malam itu.
"Iya," jawab Ajeng merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tak lama ia terlelap.
Ferdian menatap istrinya yang sudah tertidur dengan perasaan cemas. Ia khawatir ia melakukan kesalahan lagi yang tidak disadarinya. Ia mengambil bantal dan sehelai selimut tipis dan membawanya ke atas sofa yang masih berada di dalam kamar tidurnya. Terpaksa ia tertidur di sana meski kaki panjangnya harus menggantung. Soalnya mau bagaimana lagi, ia tidak bisa meninggalkan istrinya dan tidur di kamar sebelah atau di sofa panjang di ruang tengah. Ia berjanji akan tidur seperti ini sampai Ajeng melahirkan anaknya.
"Fer...bangun! Kok kamu tidur di sini sih?" ucap Ajeng lembut menepuk pipi Ferdian.
"Hmm...."
"Pindah, Sayang! Aku ingin dipeluk!" ucap Ajeng, membuat Ferdian, antara sadar dan tidak sadar, beranjak dari sofa dan pindah ke kasurnya.
Kemudian pria itu dengan hangat memeluk tubuh istrinya.
"Ya Allah, lindungilah kami semua, jangan sampai suamiku bermimpi buruk atau melakukan hal yang tidak-tidak. Kumohon ya Allah, jagalah kami!" pinta Ajeng dalam doanya. Kemudian ia mengecup pipi suaminya yang sudah terlelap.
Hening malam yang dingin. Semakin lama keheningannya berganti dengan lantunan ayat suci yang berasal dari masjid ke masjid. Suara cicitan burung-burung pun bahkan sudah terdengar.
"Ajeng?!"
\=====
Hayo kenapa lagi ya?
VOTE-nya dong jangan lupa
LIKE-nya juga
Eh COMMENT juga
Haha
__ADS_1
Makasih udah setia baca ^^