
Ajeng menatap tubuh suaminya yang sedang tertidur, sambil menyantap salad buah yang dibikinnya tadi.
Wanita itu tampak memikirkan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya berpikir jauh. Besok, seharusnya Ferdian ada perkuliahan di jam pertama sampai sore. Ia, tentunya, akan memberikan surat dokter kepada para dosen yang bersangkutan, begitu pun untuk tiga hari kedepan.
Hal ini pasti akan mengundang banyak tanya dari dosen yang akan ia berikan surat, mengenai apa hubungannya antara Ajeng dan Ferdian, mahasiswa yang menjadi kebanggaan kampus.
Ajeng menghela nafas. Ia meletakan mangkuk berisi salad buah itu ke atas meja. Ia menyandarkan tubuhnya di atas sofa.
Mungkin ini saatnya hubungan mereka akan diketahui publik. Tetapi ia tak akan ambil pusing, orang-orang pasti akan mengetahui cepat atau lambat. Bukankah itu harusnya menjadi hal yang bagus, agar orang-orang di sekitar mereka tak lagi salah paham dan tak lagi menaruh harapan semu pada diri mereka yang memang populer itu.
Mata Ferdian terbuka dan melihat istrinya itu sedang melamun.
"Sayang....!" panggilnya lirih, membuat Ajeng sedikit terkejut karenanya.
Ajeng berjalan mendekatinya dan duduk di kursi samping matras.
"Kenapa?" tanya Ajeng lembut.
"Kamu capek?"
"Ya sedikit," ucapnya datar, mengingat banyak kerabat keluarganya yang menjenguk Ferdian hari ini. Termasuk mertuanya, yang besok akan bergantian menjaga Ferdian ketika Ajeng akan pergi ke kampus memberikan surat dokter.
Ferdian mengelus lembut rambut Ajeng yang tergerai.
"Fer...besok jadwal kuliah kamu apa aja?" tanya Ajeng memegangi tangan Ferdian.
"Aku ada jadwal Bu Resti, Pak Julian, Miss Novi, sama Mr. Mike," jawab Ferdian sambil mengingat-ingat.
"Kalau hari Selasa?"
"Hari Selasa cuma dua mata kuliah, Mrs. Anita sama Ardi," ujarnya memandangi wajah lelah Ajeng.
"Oke, aku udah minta surat dokter buat perizinan kuliah kamu dan besok aku akan kasih ke dosen-dosen yang ngajar kamu," ucap Ajeng.
"Yakin mau kamu yang kasih? Enggak mau titip Ridho atau Malik aja?" tanya Ferdian tidak yakin apalagi melihat raut wajah istrinya itu terlihat murung.
"Enggak apa-apa kok, aku kira gak baik juga nyembunyiin status kita terlalu lama. Cuma ya, aku akan jelasin pada orang-orang yang memang tanya aja," terang Ajeng, tekadnya sudah bulat.
"You're strong woman, baby! By the time, mereka juga akan tahu hubungan kita," ucap Ferdian membelai lembut pipi istrinya yang kini duduk di atas matras.
Ajeng mengangguk.
"I love you!" ucap lembut Ferdian.
"I love you too," balas Ajeng mengecup singkat bibir Ferdian.
"Maaf mengganggu..." tiba-tiba seseorang masuk dan lagi-lagi memergoki kemesraan keduanya.
Ckckck.
\=\=\=\=\=\=
Ajeng memarkirkan mobil sedan hitam milik suaminya di halaman parkir. Ia keluar dengan setelan outfit yang lebih terlihat casual, karena hari ini memang tidak ada jadwal mengajar.
Berita terkait kecelakaan Ferdian sudah ramai dibicarakan oleh orang-orang kampus termasuk dosen-dosen. Para mahasiswa yang sedang duduk-duduk di depan gedung dekanat, menunggu kedatangan dosen mereka untuk membahas skripsi mereka.
Seorang mahasiswa tingkat akhir bertubuh tinggi menghampiri Ajeng.
"Selamat pagi, Miss!" sapanya.
__ADS_1
"Pagi, Nathan!"
"Kira-kira saya bisa bimbingan lagi sama Miss kapan ya? Bab 3 skripsi saya sudah selesai direvisi, seperti masukan Miss Ajeng kemarin," tanya Nathan.
"Duh, maaf nanti saya coba cari waktu lagi ya, Nat! Kamu coba ingetin saya lagi aja via chat," jelas Ajeng.
"Oh gitu ya, baik kalau begitu Miss!"
"Kamu kerjakan dulu aja Bab 4, biar nanti sekalian saya cek," ujar Ajeng.
"Baik Miss, saya pamit dulu, makasih!"
"Sama-sama!"
Ajeng melangkahkan kakinya menuju lantai 3 dimana ruang para dosen Sastra Inggris berkumpul.
"Hey, Jeng! Tumben hari Senin ke kampus?" tanya Novi yang sedang membereskan kertas hasil tugas mahasiswanya.
"Iya ada perlu nih! Oh iya, kamu ngajar kelas A angkatan 2018 kan? Mata kuliah scientific writing?" tanya Ajeng yang menaruh tasnya di atas meja Novi. Ia membuka tasnya dan mencari surat dokter.
"Iya nanti siang, emang kenapa?"
"Aku titip ini," ujar Ajeng memberikannya sebuah amplop.
"Apaan ini?" Tanya Novi sambil membuka isi amplop tersebut, yang ternyata isinya adalah surat dokter yang menyatakan bahwa Saudara Ferdian tidak bisa masuk untuk mengikuti perkuliahan karena masih harus mendapatkan perawatan.
Hati Ajeng berdebar setelah memberikan amplop itu.
"Lho, kok kamu yang titip? Ada hubungan apa kamu sama Ferdian?"
Ajeng tersenyum kecil.
"Kayanya udah masuk kelas," jawab Novi yang dalam benaknya masih bertanya-tanya.
"Oke, aki pergi dulu ya? Thanks, Nov!"
"Sama-sama, oh ya Jeng! Yang kemaren kamu maafin aku ga?" Tanya Novi mengingat pertemuan terakhir mereka diakhir dengan nada ketus Ajeng.
"No problem, everything is okay!" jawab Ajeng sambil meninggalkan ruangan.
Kini, wanita yang mengenakan celana katun dan blouse bermotif bunga vintage itu berjalan ke gedung C ruangan C105. Dimana seharusnya teman-teman Ferdian akan belajar di sana. Ajeng sedikit melongok jendela untuk memastikan bahwa Bu Resti sedang mengajar di sana untuk mata kuliah Logika.
"Assalamu'alaikum...," ketuk Ajeng di pintu kelas yang tertutup, ia membuka pintu itu dan kepalanya sedikit menongol di celah pintu yang terbuka.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Resti, dosen senior yang sudah berpuluh-puluh tahun mengajar di kampusnya.
"May I come in, Bu?" Izin Ajeng sopan.
"Just come here," jawabnya.
Ajeng berjalan dengan hati berdebar. Ia sadar kawan-kawan dekat Ferdian menatapnya. Begitu pula dengan teman-teman sekelasnya yang lain.
"Kenapa Sayangku?" tanya Bu Resti yang punggung tangannya dicium Ajeng sebagai tanda hormat pada orang tua.
"Maaf mengganggu ya Bu, tapi saya mau kasih ini," ujar Ajeng memberikan amplop.
"Apa ini?"
Ajeng memberitahu kalau ada mahasiswanya yang tidak hadir karena kecelakaan dan ia menitipkan surat dokter itu padanya. Ia mengatakan dengan suara pelan.
__ADS_1
"Kamu baik banget sih mau direpotkan sama mahasiswa," ujar Bu Resti.
Ajeng hanya tersenyum kaku.
"Saya permisi ya Bu! Makasih banyak!"
Ajeng langsung berjalan keluar dan menutup pintu kelas, sebelum Bu Resti membuka surat itu. Hatinya berdebaran.
Ia sempat mendengar Bu Resti berkata di depan kelas.
"Ferdian kecelakaan ya?" tanya Bu Resti pada mahasiswanya.
"Iya Bu, hari Minggu dini hari!" Jawab Malik yang paling tahu.
"How poor! Tapi kenapa Ajeng yang kasih surat ini ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Sementara Malik, Syaiful, Danu, Ghani dan Ridho hanya saling bertatapan satu sama lain. Sedangkan mahasiswa lainnya berbisik-bisik mengenai hal itu.
Ajeng berlari-lari kecil setelah Bu Resti menyebut namanya tadi. Sehingga ia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Eh sorry..." ucap Ajeng pada orang yang ditubruknya.
"Gak apa-apa, kamu kok terburu-buru gitu, mau kemana?" tanya Ardi yang baru datang dan hendak mengajar.
"Eh kebetulan, besok kamu ada jadwal ngajar kelas A mata kuliah Translate English - Indonesian kan?" tanya Ajeng.
"Iya betul," jawab Ardi.
"Aku cuma mau titip ini ya Di!" ucapnya menyodorkan sebuah amplop.
"Hah? Oh oke, nanti aku buka!"
"Oke, aku pergi dulu ya, Di! Thanks!" ucap Ajeng sambil kembali berlari-lari menuju gedung dekanat.
Ardi menatap Ajeng terheran-heran, kenapa dia tergesa-gesa seperti itu? Tanyanya dalam hati, ia menyimpan amplop itu di saku celananya.
Tinggal tiga dosen lagi, yang beruntungnya Ajeng bisa temui di dalam ruangan dosen. Setelah kerjaannya itu beres, ia langsung kembali ke rumah sakit.
\=\=\=\=\=
Ardi kembali ke ruangannya setelah beres mengajar kelas Basic Writing untuk mahasiswa baru. Kertas berisi tulisan tangan para mahasiswa yang membuat beberapa paragraf cerita itu ia rapikan untuk diperiksa nanti.
Ah, ia ingat, tadi pagi ia mendapat sebuah amplop dari Ajeng yang ditaruhnya di saku celananya. Ia mengambil amplop berwarna putih itu dan membukanya. Sebuah surat izin dari rumah sakit ternyata, tentu saja, apa yang diharapkan Ardi? Surat cinta dari Ajeng? Ia terkekeh mentertawakan benaknya sendiri.
Mata Ardi terbelalak ketika membaca surat dokter itu beratasnamakan Ferdian Setya Winata. Seperti ekspresi dosen lainnya, Ardi bertanya-tanya mengapa surat dokter dari Ferdian harus dititip kepada Ajeng yang notabene adalah dosen anak itu?
Ah, Ardi jadi mengingat sesuatu, anak itu, bukankah dia yang pernah mengganggunya beberapa kali ketika sedang bersama Ajeng di kantin? Lalu ada hubungan apa sampai-sampai Ajeng rela mengantarkan surat itu kepada tiap dosen yang bersangkutan? Pikiran Ardi berputar, matanya melirik ke atas sesekali ke kanan atau ke kiri. Ia memperhatikan nama itu sekali lagi. Ferdian. 'Fer?'
Bukankah Ajeng pernah memanggil nama itu kemarin? Dan bahkan papa Ajeng juga memanggil nama itu pada malam itu.
DEG.
Seketika itu, hati pria itu tidak lagi tenang.
\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukungan buat Author ya kakak Readers tersayang
VOTE, LIKE, & COMMENT
__ADS_1
Thank youuu 🤗❤️❤️❤️