Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 138. Peresmian


__ADS_3

Ferdian dan Ajeng telah bersiap di sebuah gedung modern yang memiliki lantai berjumlah 30 itu. Berkonsep luxury dan modernity, hotel bernama Aiden Sky Hotel itu, akan diresmikan malam ini di kawasan elite Dago, dimana para wisatawan lokal maupun mancanegara sering berkunjung di kota Bandung.


Hotel itu tentunya akan menjadi saingan baru dengan hotel mewah lainnya. Lampu-lampu kristal menggantung di sebuah ballroom luas lantai tiga. Meja-meja bundar yang sudah didekorasi dan dilengkapi dengan alat makan sudah rapi memenuhi ruangan yang akan dihadiri oleh kerabat dan kolega Ferdian. Karpet bernuansa mahogany yang lembut dan empuk akan menjadi alas yang nyaman bagi para tamu. Bunga-bunga segar menghiasi di sana, tercium semerbak wanginya.


Ini adalah bisnis perhotelan pertama bagi Ferdian. Selain mengusung tema mewah dan keeleganan, hotel ini juga berkonsep syariah yang menjunjung nilai-nilai Islami di dalamnya. Dekorasi di dinding hotel banyak terdapat kaligrafi yang memuat hadits dan kata-kata bijak Islami. Ferdian hanya ingin menampilkan suasana baru dalam dunia perhotelan. Hotel syariah memang jarang. Ia ingin tempat bisnisnya itu terjaga dari kemaksiatan para pengunjungnya. Oleh karena itu, para pengunjungnya pun akan benar-benar diseleksi, seperti tamu dua orang berlawanan jenis akan ditanyai apakah mahram atau bukan. Hotel ini juga menyediakan fasilitas tertentu yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, seperti kolam renang, tempat fitness, juga sauna dan spa. Hal itu tentu tidak akan mengurangi nilai dan pelayanan yang akan diberikan maksimal oleh manajemen dan staff di hotel ini kepada para tamu agar mereka merasa nyaman selama menginap di hotel ini.


Sebuah restoran mewah juga disediakan di hotel berbintang lima ini. Rencananya nanti Arsene akan juga berkontribusi di restoran milik ayahnya ini, meski hanya akan ada di hari Sabtu saja. Arsene akan menjadi seorang chef yang memiliki menu signature dish yang eksklusif, dengan begitu ia akan menjadi seorang head chef di hari itu.


Karangan bunga ucapan selamat dari kerabat bisnis Ferdian berjajar rapi di depan gedung hotel tepat di samping pintu masuk hotel. Para pelayan menyambut para tamu yang baru berdatangan malam itu dan mengantarkannya ke ballroom di lantai tiga. Tuan Gunawan, Damian dan istrinya, serta Resha dan suaminya juga sudah berada di sana.


“Abang Acen datang?” tanya Ferdian pada istrinya.


“Datang katanya. Dia kan udah bawa mobil aku!” jawab Ajeng menengok jam di tangan kirinya.


Tuan Gunawan Winata sudah duduk di kursi paling depan bersama istrinya. Hadir juga di sana orangtua Ajeng, Jaya Diningrat dan istrinya, yang juga duduk bersama besannya.


“Sorry I’m late!” ucap Arsene yang tiba-tiba saja muncul di belakang tubuh orangtuanya. Pria muda itu terlihat sangat tampan dengan setelan jas navy dan kemeja hitam serta celana katunnya. Rambutnya disisir rapi menggunakan gel, sehingga tampak klimis berkilauan seperti sepatu pantofelnya.


“Mana Zaara?” tanya Ajeng melihat putranya yang sedang membetulkan sepatunya,


“Zaara lagi di toilet!”


“Bukannya ditungguin, nanti kesasar lho!” ucap Ajeng.


“Ah toilet deket situ kok!”


Mereka kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan, berkumpul bersama keluarga yang lainnya. Arsene berlari keluar lagi menjemput istrinya yang belum tiba.


“Yuk udah mau mulai!” Arsene menarik lengan istrinya yang tampak cantik dengan balutan gaun syari yang sudah diberi oleh dirinya sendiri saat di villa beberapa waktu lalu.


Zaara tersenyum.


Keduanya bersalaman dengan pakde dan bukde, juga kakek dan nenek mereka yang sudah berada di sana. Acara peresmian hotel dimulai hari itu.


“Cantik banget, Ra!” puji ibu mertuanya.


“Makasih Mom!”


“Bajunya juga bagus, hebat ih pilihnya!” perkataan Ajeng membuat Arsene tersipu. Zaara melirik suaminya.


“Abang yang beliin, Mom!”


“Oh ya?!” tanya Ajeng tidak percaya.


“Iya aku juga gak percaya kalau ternyata Abang bisa pilih gaun cantik buat istrinya.”


“Hehehe!” Arsene merasa tersanjung.


Seorang MC membuka acara malam itu. Kemudian mempersilakan Tuan Gunawan memberikan sambutannya sebelum Ferdian naik ke atas panggung. Gunawan Winata memberikan ucapan selamat dan juga doa sebagai orangtua agar usaha anaknya itu sukses. Disusul oleh sambutan Damian sebagai CEO Winata Corp. sebagai perusahaan yang akan menaungi hotel ini. Barulah giliran Ferdian yang memberikan sambutan, ucapan terima kasih, sekaligus peresmian hotel miliknya itu yang akan mulai beroperasi esok hari.


Para hadirin bertepuk tangan saat Ferdian dan Ajeng memotong pita sebagai acara simbolik mereka resmi mengoperasikan hotel itu untuk umum. Para hadirin berdatangan dan mengucapkan selamat, Arsene dan Zaara ikut berdiri di samping Ajeng dan Ferdian yang menerima ucapan selamat dari para kolega bisnisnya.


“Ini anak pertama Ferdian yang kemarin baru nikah itu?” tanya seorang kolega jauh yang datang dari Amerika, melihat Arsene yang berdiri di sana.

__ADS_1


“Ya betul, anakku yang pertama sudah menikah, Pak Tyo!”


“Wah hebat, selamat ya!”


Arsene dan Zaara tersenyum bersamaan.


“Pak Tyo itu investor tetap Winata Corp dari sejak ayah masih kerja keras dulu,” terang Ferdian pada Ajeng. “Perusahaan settlenya di Jakarta, tapi anak perusahaannya ada di Amerika.”


Ajeng hanya meng-ooh-kan saja. Tiba-tiba Ajeng menyenggol suaminya.


“Kenapa, Yang?” tanya Ferdian menatap istrinya.


“Itu bukannya Mr. Ford? Kamu undang dia?” tanya Ajeng memasang wajah terkejutnya.


“Enggak, jangan-jangan Bang Damian yang undang. Abang Acen mana?” Ferdian tiba-tiba mencari sosok anaknya yang sudah tidak berada di sampingnya lagi.


“Duh, gimana?” tanya Ajeng seketika panik.


“Tenang aja dulu. Mudah-mudahan anaknya gak ikut.” Ferdian berusaha menenangkan istrinya.


“Tetep aja aku panik, Sayang! Aku gak mau Abang ketemu cewek itu lagi!”


“Hello Tuan Ferdian Winata, Nyonya Ajeng, apa kabar?” tanya Tuan Ford yang baru saja datang untuk mengucapkan selamat. Pria bule asal Jerman itu dengan fasih mengucapkan Bahasa Indonesia. Ferdian dan Ajeng tersenyum bersamaan.


“Selamat datang, Tuan Ford! Sudah lama kita tidak bertemu.”


“Selamat untuk hotel Anda! Semoga sukses!” ucap pria yang berumuran seperti Damian itu.


“Terima kasih banyak, selamat menikmati hidangan jamuan kami!” ucap Ferdian berusaha ramah.


“Mudah-mudahan,” ucap Ajeng.


Sementara di sudut lain ruangan yang luas itu, Arsene dan Zaara tertawa kecil ketika sedang mengambil hidangan jamuan makan malam yang disediakan secara prasmanan.


“Jangan terlalu banyak ambil makannya, Sayang! Nanti makin ndut lho!” ucap Arsene menggoda istrinya.


“Biarin ah, aku laper!” ucap Zaara.


“Nanti pipi kamu bengkak!”


“Emang kalau bengkak cinta kamu berkurang ya?” tanya Zaara menatap suaminya.


“Berkurang gak ya?”


“Uuh jahat!” Zaara membulatkan bibirnya.


“Belum juga dijawab udah ngambek!” Arsene mencebikkan bibirnya.


“Biarin! Huh!” Zaara berlalu di sana dengan piringnya yang penuh dengan hidangan yang tersaji. Belum lagi satu tangan lainnya berisi kue-kue manis.


Arsene menyusulnya kemudian sambil cekikikan setelah berhasil menggoda istrinya. Mereka kembali bergabung dengan meja dimana kakek dan nenek mereka duduk.


“Makan yang banyak ya Ra! Biar Oma bisa cepet dapet cicit!” ucap Oma Bella.

__ADS_1


“Iya Oma! Hehe!” ucap Zaara tersipu-sipu.


“Dia mah gak usah disuruh juga makannya banyak, Oma!” sahut Arsene, membuat Zaara mencebik. “Liat aja pipinya makin bulet!” goda Arsene.


“Gendut juga gapapa ya, Ra! Laki-laki mah gitu, suka pura-pura hina tapi tetep mau juga!” sahut Nenek Aryani.


“Hihi, iya Nek!”


Mereka menikmati makan malam yang nikmat itu tanpa peduli lagi seberapa banyak tamu yang datang. Apalagi Zaara, ia tampak paling menikmati. Nafsu makannya bertambah besar. Setelah berhasil menghabiskan makanan utamanya, ia menikmati sajian pastry manis. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, Arsene yang memperhatikannya jadi gemas ingin mencubit pipinya yang semakin bulat.


“Sakit Abang!” keluh Zaara mengelus pipi kirinya setelah Arsene mencubit pipinya itu. Padahal mulutnya masih penuh dengan cinnamon roll.


“Gemeees tau gak!”


“Abang, aku haus! Tapi aku gak mau minum air putih, pengen minum lemon tea yang ada di sana!” ucap Zaara manja, meminta suaminya mengambilkan minuman manis yang segar itu.


“Kenapa gak sekalian ambil tadi?”


“Tangannya cuma dua, gak bisa bawanya!” jawab Zaara membuat Arsene tertawa kecil.


“Ya udah tunggu sini, aku bawain kamu dua gelas.”


“Yeeaaay, makasih Abang Sayaaang!” Zaara tersenyum lebar sambil mengernyitkan matanya.


“Pulang dari sini bayar ya?!”


“Mmh… terserah Abang aja deh!”


Arsene tersenyum sambil beranjak untuk mengambil lemon tea yang tersaji di ujung ruangan, cukup jauh dari meja makannya. Ia mengambil dua gelas dan menuangkan teh lemon dari sebuah pitcher. Saat akan berbalik tiba-tiba saja seseorang menabraknya. Membuat dua gelas berisi teh lemon itu tumpah ke pakaiannya.


“Astaga, maaf gak sengaja!”


Arsene memperhatikan baju miliknya sendiri yang basah kuyup dan lengket. Ia menggoyangkan jasnya.


“Gapapa!” ucap Arsene tertunduk meski sebenarnya ia merasa kesal, tidak percaya ada seseorang yang begitu ceroboh.


Wanita yang menabraknya itu mengelap pakaian Arsene tanpa izin dengan sapu tangannya.


“Sudah… cukup!” sergah Arsene mengelak dari wanita itu.


Tiba-tiba jantungnya melompat, melihat sosok wanita di depannya yang sedang tersenyum kaku sambil memegang sapu tangan yang basah. Tubuh Arsene mematung dengan ekspresi wajah terkejut setengah mati.


DEG.


\=\=\=\=\=\=


OMG. Siapa tuh?


Bersambung dulu aah >.<


Nungguin poinnya yang banyak biar lanjut


Hihi, like dan komentarnya ya biar idenya makin ngalir

__ADS_1


Thank youuuu


__ADS_2