Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Bonus Episode 14


__ADS_3

Arsene tampak menghela nafas. Duduk bersama belasan mahasiswa lainnya di koridor lantai tiga dekanat, ia merapikan jas hitamnya. Hatinya terus berdzikir untuk mengurangi rasa tegang dan groginya.


Skripsinya sudah selesai setelah berjibaku selama kurang lebih tiga bulan dengan 3 novel milik Oscar Wilde. Hari ini ia menjalani ujian sidang kelulusannya. Beruntung ia memiliki dosen bimbingan pribadi, yaitu ibunya sendiri, sehingga skripsinya itu bisa dibuatnya dengan cukup lancar dan baik. Meski kadang gangguan dari Ryu membuatnya pecah konsentrasi. Sungguh perjuangan luar biasa menjadi mahasiswa, sekaligus orangtua di saat yang bersamaan. Hanya saja, pria muda itu begitu menikmati semua perannya.


Jabatan sebagai Ketua LDK juga sudah dilepasnya setahun lalu. Meski kini dirinya masih aktif menjadi anggota LDK, tetapi dirinya lebih banyak mengisi kajian kecil atau membimbing adik-adik kelasnya yang baru berperan aktif di organisasi.


Waktu memang berjalan begitu cepat. Bulan sudah berganti tahun. Ia berharap akan bisa mengikuti wisuda berbarengan bersama istrinya di akhir tahun ini.


“Arsene Rezka Winata!” panggil seorang dosen.


Semua mahasiswa yang mengikuti sidang hari itu menoleh ke arah pria tampan yang sudah berdiri itu. Arsene berjalan menuju ruangan sidang. Dua orang dosen penguji telah duduk di hadapannya, salah satunya adalah Ardi, pria itu tersenyum padanya.


“Dulu saya jadi pembimbing ayah kamu. Sekarang malah jadi penguji kamu!” ucap Ardi berusaha membuat Arsene santai. “Ternyata waktu cepat sekali berputar.”


Arsene hanya tersenyum kaku, karena dirinya diliputi ketegangan. Ardi membuka lembaran-lembaran tulisan akademik milik Arsene yang sudah dibacanya beberapa hari lalu. Ia berdeham.


“Oke, pertanyaan pertama saya, kenapa kamu ambil isu unconsciousness sebagai topik sentral dan benang merah dari ketiga novel milik Wilde?” tanya Ardi menyilangkan tangan di depan dadanya. Ia menggunakan Bahasa Inggris dalam mengajukan pertanyaannya.


Arsene mulai menjawab pertanyaan itu sesuai dengan argumentasi yang sudah ia dapatkan dari beberapa teori yang mendukungnya, dan mengaitkannya dengan banyak kejadian yang terdapat di dalam novel. Dengan kefasihan lidahnya, para dosen penguji dan pembimbing bisa menangkap apa yang menjadi dasar argumentasi dan asumsi pria muda beranak satu itu.


Arsene bisa mempertahankan argumentasinya meskipun para dosen penguji sempat mengecohnya sedikit. Selama kurang dari tiga puluh menit, Arsene terus mengeluarkan gagasan yang akhirnya tidak bisa lagi disangkal oleh dosen-dosen di sana. Mereka menyudahi ujian sidang kelulusan itu.


Arsene merasa lebih lega keluar dari ruangan dingin yang menegangkan itu. Hasil kelulusan akan diumumkan sore nanti, ketika para mahasiswa lainnya yang mengikuti ujian selesai semua.


Pria itu berjalan menuruni tangga sambil melepas jas hitamnya yang terasa panas. Zaara sudah menunggunya di depan gedung dekanat. Melihat kedatangan suaminya di sana, bergegas ia menghampirinya.


“Gimana lancar sidangnya?” tanya Zaara harap-harap cemas.


“Alhamdulillah, lancar. Tinggal tunggu hasilnya nanti sore. Makasih doanya, Sayang!” ucap Arsene merangkul bahu istrinya.


“Sama-sama. Kita bisa wisuda bareng nih!” seru Zaara riang.


Zaara sudah sidang lebih dulu beberapa hari yang lalu dan sudah lulus. Ia tinggal menunggu kapan pendaftaran wisuda untuk akhir tahun ini dibuka.


“Mau makan dimana? Aku traktir!” tanya Arsene menaiki motornya.


“Traktir? Emang kamu yang harusnya bayar! Wkwk!”


Arsene tersenyum lebar.


“Kamu ganteng banget kalau pakai jas gitu. Cocok kayanya kalau mimpin perusahaan,” ucap Zaara memuji suaminya.


“Masa? Aku kan emang ganteng, rambut berantakan aja ganteng, apalagi rapi kaya gini!” jawab Arsene mengerlingkan sebelah matanya.


“Eaa ... narsisnya keluar. Yuk ah aku lapar!” Zaara segera menaiki motor suaminya.


Mereka melenggang menuju kafe milik Ferdian, yang selalu menjadi favorit mereka saat-saat ingin menikmati menu hidangan yang lebih berkualitas.

__ADS_1


\======


Pagi itu adalah pagi yang sibuk di kamar Zaara dan Arsene. Zaara memperhatikan riasan wajah yang dipolesnya oleh dirinya sendiri. Lipmatte coral pink bergradasi menghias di bibir bulat imutnya. Ia membubuhkan juga sedikit blush on di pipinya.


Tubuhnya sudah dibalut dengan gamis berlayer dengan bahan brukat cantik berwarna salem, terlihat elegan dan mewah. Hijabnya tetap tergerai hingga menutupi dadanya, dengan sebuah bros kristal berbentuk bunga.


“Udah siap, Sayang?!” tanya Arsene yang baru masuk ke dalam kamarnya. Pria itu juga sudah mengenakan jas hitam dan kemeja biru mudanya. Sebuah dasi navy menghias di bawah kerahnya.


“Udah!” Zaara tersenyum.


“Cantiknya masya Allah, pingin kucium bibir kamu!”


“Jangan! Di sini aja!” Zaara menunjuk pipinya.


Arsene menempelkan hidungnya pada pipi istrinya dan mengecupnya di sana.


“Kamu gak mau cium aku?” tanya Arsene yang terlihat sangat tampan.


Zaara mengernyit dan membalasnya, membuat Arsene tersipu.


“Sebentar!” sergah Zaara. Perempuan itu merapikan dasi suaminya yang terlihat bengkok sedikit. “Sudaaah!” serunya.


“Yuk!” Arsene menuntun lengan istrinya menuju lantai bawah.


Di depan halaman, Reza dan Karin sudah menunggu. Tidak lupa juga dengan Ryu yang sudah terlihat menggemaskan dengan tuksedo kecilnya.


“Udah di dalam mobil Abi!” jawab Arsene.


“Ketemu Daddy di gedung sana ya?” tanya Reza yang sudah rapi mengenakan jas abu gelapnya, terlihat gagah dan berwibawa.


“Iya, Bi! Nanti janjian aja di sana,” jawab Arsene.


Hari itu adalah hari wisuda bagi Arsene dan Zaara. Setelah berkuliah kurang lebih selama 4 tahun lebih tanpa terhitung hari cuti mereka, akhirnya penantian dan kerja keras mereka berakhir hari ini.


Arsene dan Zaara tidak berhenti menyunggingkan senyumannya selama perjalanan menuju kampus mereka. Ryu duduk di pangkuan ayahnya yang duduk di jok depan. Balita itu juga terlihat riang dan gembira.


Mahasiswa-mahasiswa yang akan mengikuti prosesi wisuda sudah memenuhi halaman parkir gedung Graha Bumi Pajajaran. Toga sudah dikenakan. Para penjual bunga dan souvenir berjejer rapi di atas trotoar di luar area kampus. Arsene dan Zaara turun dari mobil, mereka langsung mengenakan pakaian wisudanya.


“Abang Aceeeen!” sebuah suara riang memanggil Arsene dari belakang. Pria itu menoleh dan menemukan adiknya Kirei berlari ke arahnya. Ferdian, Ajeng, dan Finn berjalan di belakangnya.


Arsene langsung menghampiri kedua orangtuanya dan memeluknya.


“Selamat Abang Sayang! Akhirnya lulus juga! Daddy bangga sama kamu yang bisa menyelesaikan dua pendidikan sekaligus.” Ferdian memberikannya pelukan hangat.


“Makasih Dad, ini juga berkat doa dan dukungan luar biasa dari Daddy dan Mommy!”


Mereka juga memberi ucapan selamat pada Zaara dan langsung menuju aula gedung untuk mengikuti rangkaian prosesi wisuda pagi itu.

__ADS_1


“Selamaaaat! Tabarakallah ya Zaara, Arsene!” ucap Hana dan Terry bersamaan. Mereka memberikan sebuah buket bunga mawar dan boneka Teddy Bear untuk Zaara.


“Makasiiih banyak!” jawab Zaara memeluk sahabatnya.


Hana dan Terry sendiri sudah wisuda beberapa bulan lalu. Di sana hadir juga Angga dan Alice. Angga memang wisuda berbarengan setelah ia mengalami kesulitan untuk menyelesaikan skripsinya. Arsene yang menggendong Ryu menghampiri sepupu dan suaminya. Perut Alice terlihat besar di balik gaun maroonnya.


“Selamat Mas Bro!” ucap Arsene menjabat tangan sahabatnya.


“Selamat juga oy! Hebat hebat, kalian jalan ke panggung dipanggil dengan pujian,” jawab Angga. Arsene dan Zaara sama-sama mendapatkan gelar cumlaude di akhir perkuliahan mereka.


“Ah, biasa aja itu!” jawab Arsene merendah.


“Horee Ryu punya temen nih!” ucap Arsene riang melihat perut Alice.


“Doain ya, katanya sih cewek!” jawab Alice mengusap perutnya sendiri.


“Mudah-mudahan sehat terus.”


“Aamiin.”


Ryu merengek ingin menghampiri ibunya. Terpaksa Arsene membawa Ryu pada Zaara yang masih sedang berbincang dengan teman-teman kampusnya.


“Kapan pulang?” tanya Zaara mengambil alih Ryu dari suaminya.


“Daddy ajak foto dulu tuh ke studio.”


“Ooh, Abi udah tau?”


“Udah kayanya.”


Zaara berpamitan dengan semua kawannya, setelah sebelumnya mereka sempat berfoto-foto ria dengan Ryu. Akhirnya mereka berpisah di sana untuk waktu yang tidak bisa ditentukan, dengan harapan suatu saat nanti mereka bisa bertemu lagi.


Langit siang begitu bersih, biru bersinar dengan kilauan matahari. Angin membuat dedaunan bergoyang riang dan bahagia. Hari masih panjang, begitu juga dengan harapan. Fase hidup telah berganti. Ujian kehidupan juga akan datang seiring waktu, mendewasakan sikap dan membesarkan hati.


\=======


Duh tinggal satu episode lagi malam ini


Hiks hiks


Selamat buat Abang Acen dan Neng Zaara yang udah wisuda


PR Author sudah hampir selesai


Makasih banyak buat dukungan kalian yang selalu mengalir


Tunggu jam 19.00 ya buat epilog penutup kisah Arsene dan Zaara

__ADS_1


LOVE LOVE LOVE


__ADS_2