Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 128


__ADS_3

Ferdian memegang tangan mungil anaknya yang tengah tertidur. Wajah damai anak itu terlihat seperti tidak ada beban. Kini fokus perhatiannya adalah bagaimana caranya membuat Arsene pulih lebih cepat. Juga bagaimana mendamaikan dirinya sendiri dan merangkul istrinya lagi.


Kelopak mata Arsene bergetar dan sedikit-sedikit terbuka. Pandangannya terasa buram sesaat, ia menatap wajah daddy-nya, sambil berusaha mengenalinya.


“Daddy?” ucapnya pelan dan lemas.


Ferdian tersenyum melebar. Ia menggenggam erat tangan anaknya.


“Iya ini daddy di sini!”


Tatapan polos dengan senyuman membalasnya.


“I miss you,” ucapnya polos.


“I miss you too!” ucap Ferdian tidak bisa lagi menahan tangisannya.


“Where’s mommy?” tanyanya melirik kanan dan kiri.


Hati Ferdian terkejut. “Eh… mommy, sedang istirahat dulu. Tunggu ya, mommy pasti bentar lagi datang,” jawabnya ragu-ragu.


“Sakit….” ucapnya merintih dengan wajahnya mengernyit.


Ferdian menekan tombol untuk memanggil perawat. Tidak butuh waktu lama dua orang perawat datang.


“Ada apa Kak?” tanyanya, karena melihat wajah Ferdian yang masih muda.


“Ini anak saya sudah sadar, tapi dia bilang sakit,” jawab Ferdian.


“Oh iya, kami periksa dulu ya!”


Dua perawat itu memeriksa tubuh Arsene. Salah satu dari mereka membuka perban di dahi Arsene. Luka yang cukup dalam itu dibersihkan dan diberi salep antibiotik. Sementara perawat lainnya, memberikan suntikan pereda nyeri, membuat Arsene berjerit meronta-ronta.


Ferdian menatapnya dengan cemas dan panik. Ia terus memegangi tubuh Arsene yang meronta karena kesakitan khawatir selang infus terlepas. Tidak terbayangkan olehnya ketika kemarin anaknya itu mengalami kecelakaan. Istrinya pasti kalut bukan main.


Pada saat itu, Ajeng masuk ke dalam kamar dengan panik mendengar tangisan Arsene begitu kencang terdengar dari luar. Ia berdiri di samping suaminya yang memandanginya terkejut.


“Arsene, mommy di sini!” ujarnya lirih sambil memegang tangannya. Wanita itu tidak lagi memperhatikan Ferdian di sebelahnya, fokusnya hanya untuk Arsene.


“Mommy, sakiiiit!” rintih Arsene sambil meringis kesakitan.


“Sabar sayang, bentar lagi hilang sakitnya,” ucap Ajeng coba menenangkan, meski mungkin anak itu hanya bisa mengeluh.


Ferdian menggeser tubuhnya, membuat istrinya bisa mendekap wajah anaknya yang mulai tenang setelah diberi obat. “Mommy....” lirihnya pelan dan mata anak itu kembali terpejam.


Kondisi Arsene normal dan baik, meski ia merintih kesakitan karena efek obat pereda nyeri telah habis.


Ajeng menatap sendu anaknya yang sudah tertidur. Ia merebahkan kepala di sisinya sambil memegang terus tangan anaknya yang mungil. Sementara Ferdian duduk di kursi pojok sambil memperhatikan wanita itu, kemudian beranjak dan lalu pergi keluar. Ajeng meliriknya sedikit. Bahkan pria itu tidak memberitahu kemana akan pergi.


Ferdian tidak main-main dengan ucapannya. Ia sedang menghindari istrinya itu. Itulah yang ada di dalam benak Ajeng saat ini.


\=\=\=\=\=


Polusi udara mengepul pekat di jalanan yang padat. Bus-bus besar adalah penyumbang asap hitam pekat itu. Udara di jalanan tidak pernah sehat apalagi dalam kondisi yang macet. Ferdian berusaha menyalip dari sisi kanan, diikuti oleh pengendara motor lainnya yang berada di belakang. Ia berhasil mendahului bus-bus itu sehingga terlepas dari kemacetan jalan raya.


Motor besar hitam terpakir di sebuah rumah bergaya modern tropis. Itu kediaman Tuan Gunawan, ayah Ferdian. Pria yang sedang mengenakan jaket kanvas berwarna denim itu turun dari motornya, lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.


“Mana ayah, Bun?” tanyanya setiba di rumah itu, ketika bundanya menyambut kedatangannya di pintu.


“Ayah ada di ruang kerjanya,” jawabnya sambil memeluk tubuh anak yang dirindukannya.


“Gimana kondisi Arsene?” tanya wanita paruh baya yang rambutnya mulai beruban.

__ADS_1


“Kalau bangun dia masih kesakitan,” terang Ferdian.


“Mudah-mudahan cucu Bunda cepet sembuh,” hanya itu yang bisa diucapkan oma Arsene. Doa selalu teruntai di dalam hatinya.


“Aamiin. Aku ketemu ayah dulu ya, Bun?!” pamit pria berhidung mancung itu.


Ferdian berjalan ke arah lorong rumah yang luas itu. Ia berbelok pada sebuah lorong kecil di sebelah kiri. Ada pintu kayu dengan warna cokelat tua yang sedikit terbuka di sana. Itulah letak ruang kerja ayahnya yang bergabung dengan ruang perpustakaan keluarganya, dimana ayah biasa kerja dari sana mengontrol semua perusahaan yang dipimpinnya.


Dengan jantung cukup tegang, Ferdian mengetuk pintu.


“Masuk!” ucap ayahnya yang terlihat sedang mengamati layar komputernya, lalu menatap ke arah pintu.


“Sini Fer!” ajaknya.


Ferdian mendudukan dirinya di sebuah kursi empuk di hadapan meja kerja ayahnya. Ia duduk menghadapi ayahnya, seperti bawahan ayahnya saja.


“Gimana kondisi cucu Ayah?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari layar komputer.


“Dia masih sering menangis hebat kalau rasa sakitnya terasa,” jawab Ferdian.


Ayahnya itu melepas kacamatanya, menaruh di tempatnya dan menatap anaknya.


“Ada apa?” tanya ayahnya mencondongkan tubuhnya di kursi.


“Maafkan aku, Yah! Aku sudah pikirkan ini, aku ingin mengundurkan diri dari pelatihan dan fokus untuk merawat Arsene,” jawabnya tegas.


Ayahnya itu tersenyum kecil.


“Tidak usah kamu bicarakan pun, Ayah sudah memberi izin. Dan lagi ayah sudah mengurus berkas pengunduran diri kamu. Apa ada yang ingin kamu bicarakan lagi?”


Mata Ferdian berkilauan menatap wajah ayahnya.


"Aku hanya ingin hidup mandiri bersama keluarga kecilku. Aku tidak bisa menjadi besar seperti Ayah atau abang. Aku tidak ingin jauh dari keluarga kecilku," terang Ferdian lagi.


Ayah Gunawan tampak terdiam mendengar jawaban dan pilihan anaknya. Hatinya sebenarnya tidak terlalu kaget. Justru ia bertanya-tanya mengapa pilihan itu baru muncul saat ini? Namun ia sendiri tidak masalah, apalagi Damian sudah kembali memimpin dan mengurusi segala yang dibutuhkan, begitu pula dengan menantunya Leon. Ia begitu memahami Ferdian agak berbeda dari saudaranya yang lain. Namun justru kepribadian itulah yang membuat Ferdian istimewa di mata ayahnya.


"Kamu bisa memilih keputusanmu itu. Dan ayah tidak masalah jika kamu ingin hidup mandiri dengan usahamu yang sudah ada. Hanya saja ayah meminta satu hal lagi," terang ayahnya itu.


Ferdian termenung. Jika ayahnya menerima permintaannya ini, pasti selalu ada syarat tertentu yang harus ia penuhi. No free lunch, meski ayahnya sekalipun. Ia tidak tahu apa syarat ini.


"Apa itu?" tanya Ferdian ragu-ragu.


"Pindahlah ke Singapura dan bawalah Arsene ke sana dan ikutlah terapi sampai ia pulih. Buatlah usaha di sana seperti usaha kamu di sini!" ujar ayahnya.


Hati Ferdian terperanjat karena permintaan ayahnya itu. Apalagi permintaan untuk pindah ke Singapura harus ia bicarakan dengan istrinya.


“Aku akan bicarakan dengan Ajeng dulu,” balasnya, terdengar ragu-ragu.


“Apa istri kamu mau dibawa kesana? Mengingat pekerjaannya dan cita-citanya sebagai dosen di sini?” tanya ayahnya lagi.


Ferdian tertunduk, ragu. Bahkan hari ini keduanya tengah berselisih. Apakah ia bisa meyakinkannya? Hanya saja ia teringat perkataan Ajeng tadi pagi mengenai rencananya yang akan berhenti dari karirnya. Apakah istrinya itu serius dengan ucapannya tadi?


"Kami sebenarnya sedang berselisih, Yah!" jawab Ferdian tertunduk.


"Kenapa?" tanya ayahnya mengernyit.


"Karena... aku meminta dia menjauhi aku sementara," ucapnya lirih.


Ayah Gunawan memicingkan matanya sambil menatap pada anaknya. Ia tidak habis pikir, mengapa Ferdian meminta istrinya untuk menjauhi.


"Kamu menyalahkan dia atas kecelakaan Arsene?" selidik ayahnya.

__ADS_1


Ferdian menghela nafas.


"Aku marah dan kecewa atas kejadian ini. Kenapa dia bisa lalai menjaga anaknya sendiri sampai kecelakaan itu merenggutnya. Apakah aku salah jika aku kecewa sama dia? Hanya saja, aku tidak mau menyakitinya dengan lisanku atau perbuatan kasar, jadi aku minta dia menjauh."


Ayah berdiri dan menghampiri anaknya yang tertunduk lesu. Ia menepuk bahunya perlahan.


"Jika kamu mau menyalahkan seseorang, maka orang yang berhak kamu salahkan adalah Ayah," ucap lelaki berjanggut tipis itu.


Ferdian mendongakan wajahnya, bertanya-tanya.


"Kamu tanya kenapa? Karena ayah yang meminta kamu pergi ke Amerika, berpisah dengan istri dan anakmu. Sehingga istri kamu kerepotan saat kamu gak berada disisinya."


Ferdian terdiam, termenung.


"Apa kamu tau kejadian kecelakaan yang sebenarnya?" tanya ayahnya itu.


Ferdian menggeleng.


"Hari itu Ajeng membawa Arsene ke kantornya karena Bi Asih sakit. Padahal hari itu tugasnya mengawasi UAS. Terpaksa Arsene dibawa karena ia pikir akan sulit mencari pengganti Bi Asih untuk hari itu. Kamu sadar, istri kamu itu menempatkan Arsene sebagai prioritas utamanya. Bahkan ia rela membawa banyak barang milik Arsene agar anak itu bisa nyaman selagi ia bekerja, setidaknya itu yang Andre ceritakan sama Ayah.”


“Hanya saja, mungkin karena memang takdir sudah tertulis. Saat itu Ajeng kesulitan mencari kunci mobil saat di parkiran. Tahu sendiri, anak kamu barang semenit pun tubuhnya tidak pernah diam di tempat. Ajeng kehilangan dia, dan setelah menemukannya peristiwa itu terjadi….”


“Kalau kamu menyalahkan dia karena hal ini, sepertinya kamu salah, Fer! Ajak dia bicara dari hati ke hati, bagaimana perasaannya ketika ia ditinggal jauh dari kamu. Dengan perlakuan kamu seperti ini, apakah tidak tambah menyiksanya? Padahal yang sedang ia butuhkan saat ini adalah kekuatan dan dukungan besar dari kamu untuk menghadapi ujian ini. Maafkan ayah juga, telah membuat kalian terpisah jarak,” terangnya.


Rasa bersalahnya itu kini semakin menjadi. Ia tertunduk dengan tangisan yang membanjiri matanya. Mereka berdua sama-sama tersiksa karena peristiwa ini. Ia harus menemui istrinya sekarang juga dan meminta maaf untuk segalanya.


Ayah Gunawan kembali terduduk di kursinya. Ia memandangi putranya yang sedang mengusap air matanya.


“Jika kalian bisa menyanggupi permintaan ayah, ayah akan senang mendengarnya. Kenapa ayah minta kamu ke sana? Ada rumah sakit yang memiliki reputasi baik se-Asia, bagian ortopedinya juga sangat mumpuni, kalian bisa melakukan fisioterapi untuk Arsene di sana. Ayah berharap Arsene bisa segera pulih. Hanya saja kamu harus bicarakan ini dengan istrimu dulu. Pergilah dan temui istri kamu. Peluklah dia, karena dia pasti akan sangat membutuhkannya! Jangan buat dia menangis lagi, cukuplah sampai hari ini!”


Ferdian memandangi ayahnya, lalu beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk tubuh ayahnya itu.


"Terima kasih, Yah!"


“Jadilah suami dan ayah yang hebat untuk anak-anakmu! Ayah selalu bangga dengan kamu, Fer!” ucap ayahnya lirih.


“Doakan aku terus, Yah! Agar aku bisa menjadi seperti ayah!”


“Ayah yakin kamu bisa lebih baik dari Ayah!”


Ferdian tersenyum.


"Beritahu Ayah kapan kamu siap! Ayah akan menyiapkan tempat tinggal untuk kalian," terang ayahnya lagi.


"Baik Yah!"


Ia langsung berpamitan dan kembali ke rumah sakit.


Motornya melaju kencang menembus jalanan padat hampir di setiap jalan Kota Bandung. Entah kenapa kota ini semakin sesak saja, apalagi jika dibandingkan dengan jalanan Kota Chicago yang lebar dan lenggang. Sama halnya dengan hatinya yang sesak, kegelisahan bergejolak di dalam dirinya karena rasa bersalah pada Ajeng. Ia tidak sabar untuk menemui wanitanya itu.


\=\=\=\=\=


Kayanya bentar lagi tamat nih >.<


Vote yang banyak kalau kamu gak mau cepet tamat


Like dan komen juga untuk episode hari ini


Makasih banyak yang udah setia baca sampai episode ini


I love you so much <3

__ADS_1


__ADS_2