
Arsene terkejut mendapati keberadaan adik iparnya datang ke masjid kampus malam itu. Padahal Zayyan belum resmi menjadi mahasiswa kampusnya saat ini. Pria yang mengenakan jaket LDK itu beranjak menghampiri Zayyan.
"Kemana Yan?" tanya Arsene penasaran.
"Jemput Teh Zaara, emang gak ketemu, Bang?" tanya Zayyan.
"Abang kira udah pulang."
"Belum, tadi baru minta jemput," ucap Zayyan.
"Biar Abang yang cari!" ucap Arsene.
Arsene berjalan ke selasar akhwat tanpa ragu, karena suasana masjid sudah sangat sepi. Hatinya khawatir. Sejenak ia menengok masuk ke dalam pintu masuk masjid khusus akhwat. Tetapi tidak ada siapa-siapa di dalam. Arsene langsung beringsut pergi menuju selasar timur.
Dilihatnya, seorang akhwat bergamis salem dengan hijab hitamnya sedang tertunduk menempel di atas lututnya seorang diri.
"Ra!" panggilnya lembut masih terpaku di tempatnya berdiiri. Ia tidak berani menghampirinya.
Gadis itu belum merespon.
"Zaara!" panggil Arsene lebih kencang.
Kepala gadis itu bergerak, wajahnya mendongak menatap pada orang yang memanggil namanya. Matanya terlihat sembap dan bengkak karena menangis tadi sepanjang maghrib sampai isya.
"Abang?!" Zaara cukup terkejut.
"Zayyan udah jemput!" ucap Arsene masih berdiri.
"Oh!" Zaara tampak salah tingkah di depan suaminya sendiri.
Ia terlihat canggung meskipun hatinya ingin sekali bersujud di kaki suaminya itu. Gadis itu berdiri dan membetulkan hijabnya. Kemudian berjalan pelan ke arah suaminya.
"Kamu gak bawa jaket?" tanya Arsene.
Zaara menggeleng. Arsene melepas jaket LDK-nya dan memberikannya pada Zaara.
"Pakai ini!"
Zaara mengambilnya tanpa ragu. Hatinya bertanya-tanya, apa Arsene akan mengajaknya pulang bersamanya. Ia mengharapkannya agar itu bisa terucap dari lisan suaminya.
"Makasih!" ucap Zaara pelan.
Gadis itu berjalan untuk mengambil sepatunya, sementara Arsene menatapnya.
"A-aku pulang dulu!" ucap Zaara bergetar.
Arsene mengangguk. "Hati-hati, Sayang!"
Zaara terpejam menghela nafasnya. Berharap Arsene memanggil namanya. Tetapi tidak ada panggilan di sana.
"Ya Allah, maafin aku Abang!" ucap gadis itu meneteskan tangisnya dan berjalan menuju parkiran menghampiri adiknya.
\======
Hari ini adalah hari yang sangat Arsene tunggu-tunggu. Ada promosi baru yang dibuat oleh Lunar beberapa hari yang lalu untuk mengetahui sebanyak apa calon pelanggan atau pelanggan lama akan menghadiri acara bukanya kembali Toko Sweet Recipes. Oleh karena itu, pria berusia 25 tahun itu membuat strategi agar para calon pelanggan mengirim kontak mereka untuk mendapatkan voucher diskon untuk hari ini. Hasilnya, ternyata cukup besar. Mengandalkan iklan dari media sosial selama tiga hari berturut-turut, dari 200 voucher yang disediakan, sebanyak 70% sudah diambil oleh mereka. Kini tinggal menunggu berapa banyak orang yang akan menebus voucher itu untuk hari ini.
Arsene sendiri sudah sibuk sejak subuh tadi. Bersama dua asisten chefnya, mereka telah menyiapkan banyak menu manis dengan tampilan cantik dan menggugah selera. Tidak hanya enam menu seperti dulu, tetapi sangat banyak dan bervariatif, sehingga konsumen akan memilihnya langsung oleh tangan mereka. Arsene memang banyak mendapatkan inspirasi setelah bersekolah di akademi memasak. Bahkan ia meminta rekomendasi langsung dari pastry chef yang mengajarnya dulu. Ia juga mendapat inspirasi lainnya dari tempat kerjanya di restoran, sehingga pria itu merasa sudah maksimal untuk bisa menyajikan menu terbaik hari ini.
Ada enam meja makan kecil di dalam toko dengan masing-masing empat kursi menemaninya. Meja itu didekorasi dengan sebuah pot tanaman kecil dan sebuah bingkai berisi kutipan kata-kata bijak. Para pelanggan akan bisa memfoto dan mempublikasikannya di media sosial mereka sekaligus menandai Toko Sweet Recipes. Tempat itu sangat fotogenik. Itu akan menjadi strategi pemasaran terselubung dan gratis bagi toko kue ini.
Arsene berjalan memperhatikan 2 etalase kacanya yang sudah dipenuhi oleh berbagai menu manis yang sangat cantik. Piring-piring kecil serta sendok dan garpu sudah disediakan juga di atas etalase, jika para pengunjung memilih untuk makan di tempat. Begitu pula dengan kotak-kotak kertas yang juga disediakan di sana dengan berbagai ukuran, jika pengunjung memilih untuk membawa hidangan-hidangan cantik itu ke rumahnya atau untuk dijadikan oleh-oleh. Semoga saja etalase bisa terus bertambah seiring permintaan dan jumlah pengunjung yang banyak.
Standing banner sudah diletakkan di pinggir pintu masuk berisi promo hari itu dan besok. Ada standing banner lainnya yang terpampang foto Arsene dengan pakaian kokinya, ia terlihat tampan dan manis sekali seperti nama tokonya. Ada juga karangan bunga dari beberapa kolega terdekat Ferdian, sebagai ucapan selamat dan doa untuk toko itu. Lantai dua juga kini sudah diisi oleh meja-meja kecil lainnya bersama koleksi buku-buku serta majalah yang bisa dibaca di tempat.
Tinggal tiga puluh menit lagi toko akan dibuka. Terlihat beberapa orang sudah menunggu di luar dengan ekspresi tidak sabar. Sesekali mereka berfoto di depan pintu di samping standing banner yang terdapat foto Arsene di sana. Sepertinya Arsene akan segera menjadi populer. Ada juga para pelanggan yang mengintip-intip isi toko, sepertinya mereka akan memilih menu-menu manis di etalase.
Tim dan karyawan juga sudah siap di ruangan belakang dekat dapur. Mereka sedang berkumpul untuk mendoakan kesuksesan hari ini dan hari-hari kedepan. Arsene memimpin doa.
“Bismillah, semoga hari ini dan seterusnya Allah meridhoi usaha kita semua untuk toko ini. Semoga Allah juga memberikan keberkahan bagi kita dan pelanggan. AAMIIN!”
__ADS_1
Pelayan keluar dari ruangan itu siap membuka pintu. Alice berdiri dari balik meja kasir seperti kebiasaannya. Sementara Arsene berdiri di samping sepupunya itu.
“Feeling gue bagus untuk masa depan toko ini, Cen!” ucap Alice menengok pada Arsene.
“Aamiin. Mudah-mudahan aja Kak! Aku juga optimis kali ini!”
“Semangat yo!”
Arsene tersenyum lebar.
Tring. Pelayan membukakan pintu. Seketika para pelanggan yang sudah menunggu sejak tadi masuk bergantian.
“Selamat datang. Sweet smile for sweet treats!”
Para pelanggan yang sepertinya kebanyakan adalah pelanggan lama tersenyum lebar disapa ramah oleh pelayan toko yang menyambut. Mereka terkesima dengan banyak menu baru yang tersaji rapi di dalam etalase. Ada menu lama yang selalu menjadi andalan, seperti muffin, cupcake, eclairs, klasik soes, dan cake pops. Ada menu baru yang menggugah seperti puff pastry, pie, croissant, danish pastry, cheese cake in a jar, soft cake, tart, souffle, donat, dan roll cake. Ada juga berbagai macam menu dessert seperti tiramisu, panna cotta, layer dessert, dan puding buah. Semuanya terdiri dari berbagai varian, filling, dan topping. Jumlahnya sangat terbatas dan tidak banyak, meskipun nanti para chef akan kembali mengisi menu yang sudah habis. Para pelanggan akan memilih sesuai dengan keinginannya.
Mereka banyak yang memutuskan untuk makan di tempat, memfoto menu sebelum dimakan, dan menandai akun Toko Sweet Recipes di akun instagram mereka. Sungguh promosi yang paling menyenangkan bagi setiap pemilik usaha.
“Chef foto dong!” ucap seorang pelanggan ketika ia akan membayar pesanan mereka sebelum menikmatinya.
Arsene tersenyum kaku. Bagi dirinya, hal ini sungguh tidak biasa. Tetapi demi kelangsungan bisnis dan reputasinya, ia bersedia melakukan itu.
“Ya Allah, ganteng banget pantesan kuenya juga manis-manis! Makasih Chef!” ujar wanita itu, kemudian berlalu menuju sebuah meja kosong.
Alice terkekeh-kekeh melihat ekspresi Arsene yang masih kaget dengan hal itu.
“Gimana sama Zaara?” Alice bertanya saat pelanggan telah asyik menikmati menu yang mereka pilih.
“Aku disuruh nunggu lagi, entah sampai kapan!” ucap Arsene lemas.
“Sabar, paling bentar lagi! Gak percaya, potong telinga gue!”
“Kak Al, gak usah gitu juga kali. Aku juga optimis Zaara bakal balik sama aku sebentar lagi.”
“Pasti dia datang hari ini!” ucap Alice tersenyum optimis.
“Percaya deh!”
Arsene tersenyum saja. Ia tidak mau kecewa dengan sesuatu yang tidak bisa diprediksinya.
Ia hanya berharap Allah akan membukakan hati istrinya dan memaafkan dirinya.
Sudah dua jam berlalu. Pelanggan terus berdatangan tanpa henti, mereka menebus voucher diskon yang mereka dapatkan. Bahkan tidak cukup dengan makan di tempat, mereka juga membelinya sebagai buah tangan. Arsene dan kedua chefnya bekerja keras di dapur. Meski mereka memiliki stok lebih dari menu-menu yang tersedia, mereka harus tetap siaga jika saja jumlah itu menipis tiba-tiba. Para pelayan segera mengisi ulang menu-menu yang sudah habis di etalase.
Pintu depan bergemerincing nyaring. Alice memandang sumringah pada tamunya kali ini. Tamu itu tersenyum lebar disambut oleh Alice. Gadis itu terkesima dengan penampilan toko yang baru dan segar ini. Apalagi menu-menu cantik berderet rapi tersaji di dalam etalase sangat menggugah selera. Gadis itu berjalan menghampiri sang kasir yang bertugas.
“Halo Kak Al!”
“Apa kabar Ra? Gue kangen bangeeet!” Alice berlari kecil menghampiri tamu itu.
“Alhamdulillah! Aku juga kangen Kakak ih!”
“Makin cantik aja nih!”
Gadis itu tersenyum tersipu merona merah di pipinya.
“Mau ketemu Chef kita?” goda Alice.
Zaara tertunduk tersenyum.
“Dia sibuk?” tanya Zaara ragu-ragu.
“Umm, let me see!” Alice berlari menuju dapur.
“Cen! Cen! Cen!” Alice menarik lengan baju chef milik Arsene.
“Apa sih Kak Al?”
“Buruan keluar, ada pelanggan mau ketemu kamu!”
__ADS_1
“Minta foto lagi?” tanya Arsene mengernyit.
“Eeuh, udah buruan keluar! Lebih dari sekedar minta foto! Pelanggan istimewa ini sih, lu harus temuin dia!” paksa Alice.
“Ah gak mau, takut minta yang aneh-aneh!”
Alice menggeram kesal.
“Zaara datang!”
“Zaara?!” Arsene membelalakan matanya.
“Mau ketemu aku?”
“Temuin aja! Dia nunggu kamu.”
Pria itu langsung mencuci tangan, mengambil tisu dan mengelap tangannya, Arsene pergi berlari keluar. Melihat istrinya berdiri di depan etalase kue sambil membungkuk, Arsene memperlambat langkahnya. Hatinya cemas, apa benar Zaara ingin menemuinya? Apa Zaara akan memaafkan dirinya? Apa gadis itu akan kembali padanya? Benak Arsene berputar-putar. Ia benar-benar berharap dan mencoba berpikir positif kalau Zaara akan kembali ke rangkulannya.
Beberapa pelanggan menatap ke arahnya, terpana. Mereka berbisik-bisik sambil tersenyum tersipu-sipu melihat sang koki tampan berdiri di sana. Meskipun mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria muda tampan itu.
Arsene berdeham menatap Zaara. Gadis yang sedang membungkuk itu menormalkan posisi badannya. Ia berbalik.
Keduanya saling bertatapan dengan jantung yang saling berdebaran. Tegang. Arsene berusaha tersenyum meski dirinya masih merasa gugup.
“Hai, apa kabar?” sapanya terdengar grogi.
Zaara tersenyum tertunduk.
“Alhamdulillah kabarku baik. Kamu sibuk?” tanya Zaara.
“Emmh… aku harus cek lagi. Mau ngobrol?” tanya Arsene mulai bisa menghilangkan rasa cemasnya.
Zaara mengangguk. “Udah sholat?”
“Udah!”
“Udah makan?”
“Belum. Kamu tunggu sini ya, aku cek ke dapur dulu. Kalau mau kue, ambil aja!” ucap Arsene.
Zaara mengangguk lagi. Arsene tersenyum dan berlari ke dapur untuk mengecek kerja dua kokinya dan memastikan semuanya berjalan lancar. Sementara itu Zaara hanya duduk di salah satu kursi pojok sambil melihat ke sekeliling. Beberapa mata pelanggan yang sedang duduk, melirik kepadanya sesekali sambil berbisik.
Tidak lama, Arsene kembali keluar. Ia sudah menanggalkan pakaian kokinya. Sambil berjalan ia memasang kemeja salur birunya di atas kaos putih yang sudah dikenakannya. Pria itu berjalan menghampiri Zaara setelah menitipkan toko pada Alice. Semua mata pelanggan menatapnya lagi. Mereka mengagumi pria tampan yang kini terlihat semakin keren saja dengan setelan casualnya. Wajahnya berseri.
“Mau ngobrol di luar?” tanya Arsene ketika menghampiri istrinya.
“Boleh!” Zaara tersenyum. “Tapi aku gak bawa helm.”
“Ya udah gapapa, yuk!”
Arsene mengulurkan tangannya, meminta agar gadis di hadapannya itu bersedia dituntunnya. Zaara melihat tangan kekar yang panjang itu, memberanikan diri untuk menggenggamnya kembali seperti yang selalu disukainya. Mereka berjalan keluar dengan tangan saling menggenggam.
Melihat kejadian manis itu, para pelanggan yang didominasi oleh para perempuan, seketika iri dan kecewa di saat yang bersamaan.
“Mba, cewek yang tadi siapanya Mas Koki?” tanya perempuan yang tadi sempat meminta foto Arsene pada Alice yang tersenyum memandang dua insan itu keluar.
“Istrinya!” jawab Alice tersenyum.
“WHAT?!”
Yang memasang ekspresi terkejut bukan hanya perempuan itu, tetapi semua perempuan yang ada di sana. Tidak percaya kalau ternyata sang koki tampan yang baru saja mereka kagumi sudah memiliki istri.
\======
Bersambung
Jangan lupa vote, like, dan komennya yaa
makasiiih ^_^
__ADS_1