Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 21


__ADS_3

Malam selepas maghrib, Ferdian baru saja tiba di apartemen barunya. Ia sempat berkunjung ke asramanya terlebih dahulu untuk mengambil semua buku dan diktat perkuliahannya.


"Hai, kenapa kamu lama?" tanya Ajeng, mengenakan setelan dress rumah yang feminin. Ia menghampiri suaminya itu dan mengecup punggung tangannya.


"Sorry, tadi aku ke asrama dulu ngambil semua buku dan diktat!" ucapnya sambil mencium kening istrinya.


"Ah...why I miss you so bad?" ujarnya merengkuh tubuh istrinya itu.


"Lebay kamu mah!" colek Ajeng di ujung hidung mancungnya.


"I'm serious, makanya aku kejar kamu waktu ke perpustakaan."


"Ada-ada aja," Ajeng tertawa geli.


"Just hold a second, I just wanna be with you!" Ferdian menahan tubuh Ajeng, dan mendekapnya erat selama beberapa menit. Matanya terpejam merasakan hangatnya tubuh Ajeng. Ia benar-benar jatuh cinta pada dosennya itu.


Ajeng tersenyum lembut, ia membalas pelukan Ferdian dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Kamu udah makan?" tanya Ajeng melepas pelukannya.


Ferdian menggeleng, "Aku mandi dulu ya, belum sholat juga, hehe!"


"Ya udah sana cepetan keburu isya lho, aku siapin makan malam dulu,"


Ferdian menaruh semua barang yang dibawanya dan berlari menuju kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya. Sementara itu Ajeng menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka. Ia memang tidak terlalu handal dalam memasak, biasanya ia akan menggunakan bumbu cepat saji agar masakannya lebih cepat selesai. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Ferdian. Ia akan memakan apapun yang dimasak istrinya. Malam ini, Ajeng hanya memasak spaghetti saus bolognese yang praktis dengan bola-bola daging sapi cincang.


Ferdian keluar dari kamar dan langsung duduk di kursi makan. Wajahnya sudah kembali segar dengan rambut yang baru disisir rapi. Wangi parfum maskulin menyeruak dari tubuhnya. Hidangan makan malam sudah tersaji di atas meja. Ia langsung mengambil piringnya dan melahap hidangan buatan istrinya itu. Ajeng menyodorkan segelas air putih.


"Aku belum ngerjain tugas dari kamu nih!" ucap Ferdian menyuapkan gulungan spaghetti ke dalam mulutnya.


"Oh ya?! Langsung kerjain aja habis ini," ucap Ajeng sambil menikmati makan malamnya.


"Huh, gak ada dispensasi nih?"


"Sorry, kamu tetap mahasiswa aku ya, Sayang! Tugas dari aku, tetap harus kamu kerjakan,"


"Huff, baiklah ibu dosen!" ucap Ferdian cemberut.


Terpaksa malam itu ia harus bergadang untuk mengerjakan tugas dari istrinya itu.


Jam 10 malam sudah terlewati. Ferdian masih fokus menyelesaikan tugasnya sejak selesai sholat isya tadi. Sementara itu, Ajeng tertidur di sofa dengan novel yang tergeletak di atas perutnya, karena menemani Ferdian, namun matanya terlalu lelah jadinya ia tertidur pulas di sana.


Tepat pukul 22.35, Ferdian berhasil menyelesaikan tugasnya. Ia menggendong tubuh Ajeng untuk menidurkannya di kasur mereka. Keduanya pun menyeberang ke dunia mimpi melepas segala rasa lelah dan penat di hari itu.


\===


Beberapa mahasiswa tampak berlari-lari di sepanjang koridor, menaiki tangga-tangga kecil menuju kelas. Nafas mereka tersengal-sengal setibanya di depan pintu. Namun mereka kembali bernafas lega setelah mengetahui dosen kesayangan mereka belum tiba, sekaligus terheran-heran.


"Lho, Miss Ajeng belum datang? Tumben banget!" ujar Syaiful kepada Malik.


"Belum, bentar lagi mungkin!" ujar Malik, sambil meletakan headset miliknya.


"Duh untung gak telat lah!" ucap Ghani menimpali yang datang berbarengan dengan Syaiful.


Keduanya duduk di samping Ridho yang tampak asyik memperhatikan lembar kertas hasil tugasnya.


"Woy, si Ferdian kemana? Biasanya muncul paling pagi pas pelajaran Miss Ajeng!" celetuk Syaiful.

__ADS_1


Ridho mengangkat bahunya.


Terdengar suara hentakan sepatu melaju cepat mendekati kelas. Mahasiswa-mahasiswa bersiap-siap. Dosen kesayangan mereka berhenti di depan pintu kelas dan mengatur nafasnya. Kemudian masuk dengan wajah berseri.


"I'm sorry for being late!" ujarnya mencoba tenang. Ia menaruh tasnya di atas meja dan mengeluarkan laptopnya.


Kali ini terdengar suara langkah sepatu kencang seperti sedang berlari kemudian terhenti. Ah itu Ferdian.


"Maaf Miss, saya terlambat!" ujarnya setengah membungkuk, nafasnya terengah-engah.


"Masuk aja kamu!" perintah Ajeng.


"Thank you, Miss!" ucap Ferdian dan duduk di sebuah kursi kosong di belakang Ridho.


Padahal biasanya Miss Ajeng akan memberikan hukuman jika ada yang terlambat masuk kelasnya. Namun sepertinya kali ini Ferdian beruntung, apalagi karena mereka berdua sama-sama terlambat.Ya, meskipun keduanya hanya berakting, seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua.


"Ari kamu darimana, tumben telat gini?" tanya Ridho pelan.


"Sst, habis 'ritual' terus kesiangan!" bisik Ferdian terkekeh-kekeh.


"Astaghfirullah!" Ridho terbelalak dan menggeleng-geleng mendengar kelakuan sobatnya itu.


"Silakan semuanya untuk mengabsen dan sekalian bawa tugasnya, ya!" ucap Ajeng sambil membuka map absensi miliknya. Satu persatu mahasiswa berjalan ke depan untuk mengabsen dan mengumpulkan tugasnya. Sementara ia masih sibuk membuka laptopnya, memperhatikan bahasan yang akan ia sampaikan di kelas. Ia merasa gerah karena berjalan terburu-buru. Baru kali ini ia terlambat untuk mengajar di kelas, ya meski hanya sekitar 5 menit saja. Padahal ia terkenal sangat disiplin waktu. Ini semua gara-gara ulahnya dan suaminya itu sampai-sampai bangun kesiangan, karena melakukan 'ritual ibadah' setelah subuh dan tertidur lagi kemudian.


Semua mahasiswa telah kembali ke bangkunya masing-masing. Ajeng memeriksa sekilas tugas-tugas mahasiswanya dan menumpuknya di atas meja. Ia berdiri menghadap mahasiswa, memperhatikan semuanya telah siap belajar.


Namun sebelum memulai, ia ingat satu hal yang sering terjadi sebelumnya.


"Ferdian, kamu udah absen?" tanya Ajeng.


"Udah, Sayang!" jelas sekali nada suaranya tinggi.


DEG, Kedua hati dari dua makhluk rupawan itu tersentak jantungnya.


"WOOOOO!!!" sontak saja, ramai-ramai mahasiswa lainnya menyorakinya.


Wajah Ajeng merah padam di depan semua mahasiswanya. Tentu saja ia tak bisa memarahi Ferdian di depan kelas. Salah tingkah ia dibuatnya. Ferdian pun sama saja, wajahnya terlihat memerah bahkan sampai ke kupingnya. Ferdian menatap dosennya, tegang.


"Maaf gak sengaja, Miss Ajeng! Maaf! Maaf!" ujarnya berdiri dari bangkunya dan membungkuk beberapa kali. Wajahnya terus menyengir karena ketidaksengajaannya.


"Mimpi apa Lo, Fer?!" celetuk Malik.


"Woooo....dasar halu!" Syaiful ikutan menimpali.


Sedangkan mahasiswa perempuan, tertawa geli sambil berbisik-bisik. Entah apa yang mereka ributkan dalam suara bisik-bisik itu.


"Sudah, sudah! Kita lanjut lagi belajarnya!" ucap Ajeng menengahi masalah yang terjadi, meskipun dia sendiri menjadi salah tingkah dan konsentrasi buyar. Ia benar-benar tampak terlihat kikuk dan mahasiswanya bisa melihat itu semua.


"Kacau Lo, Fer! Lihat, Miss Ajeng jadi salting gitu!" ucap Syaiful menghadap Ferdian yang duduk di belakangnya.


"Ya, gue beneran gak sengaja!" ujar Ferdian nyolot.


"Kayanya lo baru pacaran sama seseorang ya, Fer? Sampe kepikiran terus, jadinya mulut Lo tuh nyeletuk sembarangan!" tebak Syaiful.


"Enggak juga!" kata Ferdian berbohong.


"Ah bohong, Lo! Pasti Lo lagi pacaran! Gue yakin!"

__ADS_1


"Terserah, bukan urusan Lo, Pul!" ucap Ferdian tak peduli.


"Nah kan?! Awas aja kalau Miss Ajeng sampe naksir beneran sama Lo!"


"Emang kenapa kalau Miss Ajeng naksir beneran sama gue? Cemburu?!" tantang Ferdian.


"Gue gak sudi, lah! Mana ada cewek kaya Miss Ajeng mau sama mahasiswanya," ucap Syaiful sewot.


"Dih, kok jadi Lo yang sewot! Lo naksir Miss Ajeng kan?!"


"Cowok normal pasti naksir, lah!"


Ferdian mendelik Syaiful dengan pandangan tak suka.


"Hei, kalian udahan ributnya, nanti Miss Ajeng ngamuk!" lerai Ridho dengan suara mendesis.


Syaiful membalikan tubuhnya ke depan sambil mendelik Ferdian. Sementara Ferdian menatapnya dengan hati dongkol.


Tak terasa dua jam pelajaran terlewati meski di awal penuh dengan keributan sesaat dan Ajeng bisa dengan cepat mengatasi rasa canggungnya di depan mahasiswanya. Ia tetap bersikap ramah dan profesional sebagai seorang dosen. Semua mahasiswa berhamburan keluar kelas setelah perkuliahan selesai.


"Yuk Fer, kita kumpul di kantin!" ajak Malik.


"Duluan aja, gue masih cari pulpen yang jatuh tadi," ucapnya beralasan, padahal ia ingin berbicara dulu dengan Ajeng memastikan kondisinya.


"Okey, kita duluan ya?!" ujar Malik yang berjalan keluar kelas bersama.


Ferdian memberi kode kepada Ridho juga untuk pergi duluan. Maklum, Ridho sohib terbaiknya ini selalu berbarengan.


Setelah memastikan tidak ada mahasiswa lain selain dirinya, Ferdian menghampiri Ajeng yang masih sibuk merapikan kertas-kertas di atas mejanya. Ia tampak ragu mendekati istrinya itu.


"Kamu marah?" tanya Ferdian kikuk, berdiri di samping meja dosen.


Ajeng mendongakan wajah ke arahnya.


"Kenapa?" seolah-olah tidak ada yang terjadi.


"Aku gak sengaja tadi, refleks gitu aja!" ucapnya lemah.


Mata Ajeng seperti memberikan kode, ia melirik ke arah belakang Ferdian. Rupanya ada seseorang di sana, seperti sedang berdiri di balik pintu.


"Maaf tadi saya tidak sengaja, Miss! Maaf atas kecerobohan saya!" ujarnya, kali ini ia meninggikan volume suaranya.


"Baik, tidak apa!" ucap Ajeng ramah.


"Saya pamit dulu, Miss!" kali ini Ferdian berbicara lemah, membuat Ajeng menatapnya bersalah.


Ferdian melangkahkan kakinya dengan berat keluar kelas, sesekali ia menengok istrinya itu. Ia menghembuskan nafasnya kasar dan kali ini berjalan menuju kantin.


Hati Ajeng merasa kacau. Ia menghela nafas panjang. Kenapa ia jadi merasa bersalah pada suaminya itu? Ia tertunduk lesu. Apa menyembunyikan pernikahannya itu ide yang bagus? Batinnya dalam hati.


\=====


Keep Like dan Vote yaa


Makasih


Jangan lupa masukannya juga ^^

__ADS_1


__ADS_2