Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 76. Sehari Bersama


__ADS_3

Mentari bangun lebih cepat, menghangatkan makhluk hidup di bumi yang bergerak mencari keberkahan di pagi hari. Arsene menuntun tangan istrinya menuruni tangga, sementara keluarganya sedang menikmati sarapan pagi di meja makan.


“Ayo sarapan dulu!” ucap Ajeng melihat anak dan menantunya yang sedang menuruni anak tangga.


“Kita mau langsung ke toko, Mom! Sarapan di sana!” jawab Arsene tersenyum dan langsung mengecup punggung tangan kedua orangtuanya.


“Pamit dulu Mom, Dad!” ucap Zaara sopan.


Ajeng dan Ferdian tersenyum pada mereka berdua yang sudah rapi dan menawan.


“Kok sedih ya lihat besok mereka pisahan gitu?” Ajeng masih menatap punggung kedua anak muda yang tengah membuka pintu depan.


“Ya gimana lagi, itu udah pilihan mereka berdua. Mudah-mudahan gak ada masalah apa-apa selama mereka berjauhan.”


“Aamiin. Tapi kata Abang dia bakal balik lagi pas winter,” cerita Ajeng.


“Baguslah itu!”


Ajeng memperhatikan anak-anaknya yang makan dengan lambat.


“Ayo-ayo makan, nanti dingin supnya!” seru Ajeng pada Kirei dan Rainer.


Zaara menaiki motor Arsene yang cukup tinggi dan membetulkan bagian bawah rok gamisnya. Ia sudah mengenakan helmnya. Udara pagi cukup dingin terasa mengingat hujan gerimis mampir semalaman.


“Peluk dong Sayang, dingin!” ucap Arsene tersenyum dari balik spion yang diarahkannya pada wajah istrinya.


Zaara hanya mengulum senyum, lalu melakukan apa yang diperintahkan suaminya itu. Kedua tangannya melingkar di pinggang suaminya. Sebelum Arsene melajukan motornya. Ia mengelus-elus tangan istrinya lembut, memberikan sedikit kehangatan.


“Jangan ngebut ya?!” pinta Zaara.


“Janji, tapi jangan lepasin pelukannya!”


“Iya, Abang Sayang!”


Arsene tersenyum dan mulai melajukan gas motornya dan berjalan perlahan menikmati udara pagi yang dingin. Sinar mentari masih menyoroti puncak-puncak pohon jadi hangatnya belum sampai ke permukaan.


Pagi itu jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan yang akan memulai aktivitas. Orang-orang pasti sangat sibuk di hari Senin ini. Namun begitu, anak-anak sekolah dan para mahasiswa sudah libur semester, jadi wajar, kendaraan tidak seramai dan sepadat biasanya. Zaara memeluk erat tubuh suaminya yang terbalut dengan jaket kanvas tebal berwarna mocca. Arsene tidak bisa berhenti tersenyum selama perjalanan ke tokonya yang akan buka 2 jam lagi. Ia memarkirkan motornya di depan toko.


“Yuk!” ajak Arsene pada istrinya. Ia membuka rolling door dan membuka kunci pintu kacanya yang tertempel logo tokonya yang berbentuk cupcake. Zaara masuk ke dalam, sementara Arsene menutup kembali pintu dan menandai tokonya dengan label ‘CLOSED’.


Di dalam toko, kursi-kursi makan berada di atas meja dengan posisi terbalik. Lantai terlihat sedikit berdebu, sementara etalase kosong dan bersih dari kue-kue yang biasa terpampang di sana. Para pegawai akan datang sejam lagi seperti biasanya. Arsene menuntun tangan istrinya ke dapur. Rencananya pria itu akan membuat sarapan spesial untuk istrinya.


“Kamu mau bikin apa, Abang Sayang?” tanya Zaara sambil memperhatikan pria itu mengambil peralatan dan bahan-bahan dari sebuah pantry.


“Pancake with Cream & Blueberry Jam,” ucapnya menuangkan tepung ke sebuah wadah.


“Wow! Ada yang bisa aku bantu?” tanya Zaara.


“Umm… kamu mau coba bikin selai blueberry?” tanya Arsene.


“Boleh!”


Arsene mengeluarkan panci stainless dan meletakkannya di atas kompor. Pria itu berjalan menuju kulkas dan mengambil sebuah kotak putih berisi buah blueberry. Ia juga mengambil sebuah gelas takar yang diisinya air putih. Juga gula pasir yang dituangkannya ke dalam sebuah mangkuk kecil.


“Sini sama aku aja,” ucap Zaara ketika Arsene hendak menuangkan air ke dalam panci.


“Oke!”


“Aku nyalain dulu kompornya,” ucap Arsene ketika Zaara menuangkan air.


Arsene kembali mengerjakan tugasnya untuk membuat adonan pancake. Ia memberi instruksi pada istrinya agar memasukan gula setelah air mendidih, kemudian memasukan buah blueberry setelah itu.


“Kamu suka manisnya banget atau biasa aja?” tanya Arsene ketika mencampuradukkan adonan tepung basah miliknya dengan bahan-bahan lain.


“Aku suka manis yang biasa aja sih!” jawab Zaara mengaduk-aduk panci berisi buah kesukaannya itu.


“Aku kira kamu suka yang manis banget. Habisnya kamu manis banget!” ucap Arsene membuat Zaara blushing.


“Ini sampai kapan diangkatnya?” tanya Zaara.


“Terserah, kalau kamu mau yang agak kasar, bentar lagi juga bisa diangkat. Tapi kalau mau lebih lembut bisa agak lama, sampai buahnya bener-bener hancur nanti bisa disaring.”


“Aku suka yang gini, agak kasar, biar buahnya masih bisa dimakan.”


“Tunggu sebentar!”


Arsene mengambil sesuatu dari dalam kulkas yaitu buah lemon. Pria itu mengiris dan memasukkan perasan airnya ke dalam selai yang sudah dimatikan kompornya. Zaara mengaduk-aduknya lagi agar merata dan uapnya segera hilang.

__ADS_1


Arsene menyiapkan teflon dan menyalakan kompor. Pria itu menuangkan adonan pancake dengan bentuk lingkaran yang tidak terlalu besar dan memasaknya hingga matang.


“Mau berapa lapis?” tanya Arsene menaruh pancakenya yang sudah matang di atas sebuah piring datar.


“Tiga deh!” jawab Zaara memperhatikan suaminya.


“Siap!”


Dua piring berisi pancake yang sudah matang tersaji di meja dapur. Arsene menaruh krim kocok di atasnya, dan menuangkan selai blueberry buatan Zaara yang telah dicicipi sebelumnya.


Ia membawa piring-piring itu ke luar dapur dan menaruhnya di atas meja makan. Sementara Zaara duduk, ia mengambilkan alat makan dan minuman untuk mereka berdua.


“Ayo kita sarapan!” ujar Arsene semangat.


“Bismillah….”


Zaara menyuapkan potongan pancake itu ke dalam mulutnya. Sambil sesekali merasakan selai  blueberry buatannya yang pertama kali. Rasanya lumayan untuk pemula, memang rasanya tidak terlalu manis. Tetapi dipadukan dengan pancake buatan suaminya itu terasa cocok.


“Gimana rasanya?” tanya Arsene dengan mata berbinar.


“Enak!”


“Alhamdulillah….”


“Aku selalu suka kue buatan kamu, Abang!”


Arsene tersenyum berseri. Keduanya menikmati sarapan berdua hasil kerja sama mereka.


“Sejak kapan kamu bisa masak sih?” tanya Zaara.


“Aku suka masak dari kecil. Tapi aku lebih cenderung suka buat pastry daripada masakan,” terang Arsene lalu meneguk air mineralnya.


“Umm… “


“Kamu bisa masak apa aja, Zaara Sayang?” tanya Arsene memotong pancakenya.


“Biasanya aku masak makanan rumahan aja, hehe!” Zaara terlihat tidak percaya diri di hadapan suaminya yang memang jago memasak sekalipun pria itu memang lebih sering membuat kue. Hanya saja, masakan buatan Arsene juga luar biasa. Zaara pernah mencicipi beberapa kali ketika pria itu membawakan bekal makan siang lebih saat SMA-nya dulu.


“Itu juga hebat. Aku selalu suka masakan rumahan. Meski Mommy juga gak terlalu pandai masak, tapi aku suka,” ucap Arsene membesarkan hati istrinya.


“Aku belum pernah cicip masakan kamu.”


“Hehe, mau makan di rumah aku? Nanti kita belanja dulu tapinya.”


“Ayo! Sore atau malam ya?”


“Terserah kamu aja, Abang!”


Tidak lama kemudian, para pegawai toko berdatangan. Para chef, pelayan, dan juga Kak Alice.


“Wooooow, ada pengantin baru lagi apa di sini?!” teriak Alice antusias, saat wanita itu memasuki toko.


Arsene dan Zaara tertawa bersamaan.


“Sarapan aja! Udah pada sarapan belum?” tanya Arsene.


“Udah Bos!” jawab Ardan dan Satrio, disahut juga oleh Alice dan pelayan toko.


“Gimana besok jadi berangkat?” tanya Alice menaruh barang-barang miliknya di tempat penyimpanan khusus para pegawai.


“Jadi lah!”


“Aduuuuuh, kok pisah gitu sih baru juga pacaran?!” godanya.


“Ya gimana lagi, kita punya aktivitas dan impian masing-masing. Bentar aja lah, ya kan Sayang?” ucap Arsene melirik pada istrinya.


“Ciyeee, Sayaaaaang! OMG, gue gak kuat dengernya. Jiwa jomblo gue meronta-ronta!” ucap Alice lebay.


Arsene dan Zaara terkekeh-kekeh saja melihat respon sepupunya itu.


“Udah sana pacaran di luar. Urusan toko biar gue yang beresin!”


“Kenapa? Gak kuat liat orang pacaran?” goda Arsene.


“Iya lah! Gue iri tau gak! Usia gue udah 23, tapi masih jomblo kan gimana gitu! Kalah sama adik gue ini yang masih 19 tahun, udah kawin aja!” cerocos Alice.


“Haha iya deh, bentar lagi juga ini mau jalan. Kita rapat dulu sebentar ya?” pinta Arsene.

__ADS_1


“Siap lah!”


Arsene meninggalkan Zaara yang masih menghabiskan pancakenya, dan berjalan ke dapur untuk melakukan koordinasi dengan para pegawainya. Ia akan memberikan arahan serta sedikit instruksi untuk menjaga kondisi timnya selama kepergiannya ke Sydney. Ia berharap timnya ini tetap solid dan kompak seperti ini. Arsene juga meminta kepada kakak sepupunya itu tetap mengawasi dan melaporkan segala sesuatunya pada dirinya. Ayahnya akan membantunya untuk mengontrol toko miliknya itu selama ia berada di Sydney. Ia mengucap maaf, serta terima kasih atas bantuan timnya selama enam bulan ini sehingga pelanggan tokonya selalu bertambah setiap hari.


Setelah itu, Arsene mengajak Zaara untuk berjalan-jalan menaiki motornya entah kemana.


Arsene memberhentikan motornya di sebuah danau yang berada di dalam kampusnya. Entah kenapa, Arsene malah membawa Zaara jalan-jalan di sekitar kampusnya yang memang luas itu. Mereka duduk di sebuah kursi di pinggir danau yang terlihat hijau berkilauan permukaan airnya. Tiupan angin lembut di pagi hari membuat riak-riak air terlihat indah.


“Kuliah mulai minggu depan ya?” tanya Arsene.


“Iya.”


“Sebenarnya aku berat untuk ninggalin kampus ini. Aku udah terlanjur nyaman dengan perkuliahan, teman-teman, apalagi di sini aku dipertemukan dengan LDK yang luar biasa. Di Sydney aku ragu bisa menemukan komunitas yang sama.” Arsene memandangi permukaan danau yang tenang, sementara Zaara memperhatikan wajah suaminya.


“Tapi… ambisi aku terlalu besar untuk ikut akademi itu. Aku belum yakin apa setelah setahun kembali ke sini, aku masih bisa berkuliah dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya?” lanjut Arsene.


“Kita gak akan pernah tahu jawabannya, sebelum kita mencoba.” Zaara berusaha memahami suaminya itu.


“Iya kamu betul. Tapi sebenarnya, yang paling berat itu adalah ninggalin kamu. Tapi justru aku lebih tenang setelah kita menikah.”


Zaara tersenyum.


“Apa karena ambisi kamu juga terlalu besar untuk aku?” tebak Zaara terkekeh-kekeh.


Arsene ikut terkekeh.


“Sepertinya....”


Arsene menghela nafas.


“Apa kamu bisa tebak apa yang aku rasain waktu kamu dan Raffa ketemuan di rumah saat itu?” tanya Arsene.


“Kecewa? Cemburu? Terkejut?” tebak Zaara.


“Ya, semua itu ada. Aku gak sanggup memikirkannya saat itu. Membayangkannya saja sudah tidak sanggup, apalagi kalau tahu kenyataannya!”


“Tapi kenyataannya aku belum terima pinangan Mas Raffa!”


“Aku gak mau tau, tapi entah gimana kejadian itu terjadi dan seolah semua peluang ada di pihakku,” ucap Arsene mengingat saat ia menemukan surat Zaara yang dibuang Raffa.


“Tau gak, kapan kira-kira aku mulai tertarik sama kamu?” tanya Arsene.


Zaara mengangkat bahunya.


“Dari awal kita ketemu, aku tertarik sama kamu. Meskipun kamu cukup aneh menurutku. Tapi setelah Mommy jelaskan, aku rasa kamu memang unik, tapi hanya orang-orang tertentu aja yang bisa menghargai kamu. Aku senang kamu udah punya temen deket yang bisa menyayangi kamu. Jadi seenggaknya, ketika aku pergi kamu gak terlalu kesepian.”


Arsene menatap istrinya.


“Aku juga ngerasa kedatangan kamu justru bikin aku berubah. Aku selalu dianggap kolot oleh beberapa orang teman saat SMA. Memang mungkin aku terlalu keras dan terlalu membatasi diri, tapi aku gak pernah bermaksud membuat mereka gak nyaman. Hanya caraku aja yang salah dalam berteman, apalagi dengan laki-laki. Tapi kedatangan kamu bikin aku berpikir. Kita memang tetap harus menjaga pergaulan, tetapi untuk tolong menolong dalam kebaikan itu bisa kita lakukan pada siapa saja yang membutuhkan. Aku kaget waktu tau kamu yang tolong aku saat dikurung di gudang. Dari situ aku mulai sadar.” Zaara kembali mengingat momen ketika di sekolahnya dulu.


Arsene tersenyum, ia mengusap kepala istrinya.


“Banyak hal yang ingin aku bicarain sama kamu. Tapi rasanya, waktu belum tepat. Mungkin akan kita bicarakan nanti setelah sekolahku selesai. Terkait masa depan kita.”


Arsene menarik tubuh istrinya dan merangkul bahunya.


“Aku bakal kangen kamu!” ucap Zaara manja sambil memeluk dan menyandarkan wajahnya di dada suaminya.


“Jangan tanya aku! Aku pun bakal begitu!”


Arsene mengecup puncak kepala istrinya.


“Maaf Dek! Jangan pacaran di sini ya?!” ucap seseorang dari belakang.


DEG.


\======


Bersambung dulu yaa


VOTE, LIKE, & COMMENT-nya jangan lupa


Terima kasiiiih


 


 

__ADS_1


__ADS_2