
Zaara tengah melihat-lihat langit di atas kamar apartemennya. Sambil menunggu suaminya yang sedang membersihkan diri, ia menatap cemas ke atas awan yang terlihat mendung. Gadis itu sudah tampil rapi dengan gamis maroon dan hijab motif abstrak berwarna oranye. Rencananya pagi itu mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan di kota untuk membeli beberapa keperluan rumah yang belum lengkap.
Arsene masuk ke dalam kamar masih dengan handuk melilit pinggangnya. Melihat istrinya terus memandang keluar jendela, ia mendekati.
“Ada apa di luar?” tanyanya ikut melihat-lihat.
“Di luar mendung, bakal hujan kayaknya!” ucap Zaara.
“Ooh… kita kan pergi bentar aja. Mungkin bakal hujan siang-siang,” jawabnya santai.
Arsene mengambil parfumnya dan menyemprotkannya ke tubuhnya. Seketika kamar mereka terasa sesak, Zaara terbatuk-batuk.
“Banyak banget sih pakenya!” protes gadis itu menutup hidung.
“Kan kamu suka?!”
“Ya gak gini juga kali!” Zaara keluar dari kamarnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Ketiak aku aja dicium terus, wkwk!” ejek Arsene pada istrinya.
Zaara hanya mencebik.
Tak lama kemudian, Arsene sudah rapi dan tampan dengan setelan kasualnya yang mengenakan celana jeans serta kemeja t-shirt berwarna dark navy.
“Yuk berangkat!” ajak Arsene.
Suasana di jalanan terlihat sepi. Mungkin karena cuaca sedang mendung berangin sehingga tidak banyak orang memutuskan untuk pergi keluar. Arsene merasa kedinginan membawa motornya, ia menyesal tidak mengenakan jaketnya. Begitu pula dengan Zaara, meski sudah mengenakan pakaian inner gamisnya ditambah jaket wol, tetap saja suhu pagi itu begitu terasa dingin. Gadis itu mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya.
“Dingin, Sayang?” teriak Arsene di motor.
“Iya!”
Tangan kiri Arsene yang dingin, mengelus dan menggenggam tangan istrinya. Mereka sama-sama kedinginan. Untung saja toko pusat perlengkapan barang tidak jauh, jadi mereka sudah tiba di sana 15 menit kemudian.
Rencananya mereka akan mencari wajan anti lengket, panci stainless, dan wadah plastik yang belum mereka punya. Arsene menginstruksikan istrinya fokus untuk membeli barang itu saja sesuai kebutuhan mereka, agar anggaran pengeluaran belanja tidak melenceng. Gadis itu mengiyakan saja, Arsene semakin ketat saja mengontrol keuangan. Kadang ia merasa kesal sendiri. Untung saja, Arsene masih memperbolehkan ia belanja kebutuhannya sendiri atau menggunakan uang hasil kerjanya untuk membeli apa yang diinginkannya. Meskipun kadang, Arsene selalu berceramah terlebih dahulu agar ia membeli apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan.
Zaara melihat-lihat wajan anti lengket yang terpajang di rak. Ada banyak jenis dan ukurannya, juga harganya yang berbeda-beda tergantung spesifikasi. Ia meminta Arsene memilihkannya, karena suaminya itu pasti lebih tahu mana barang berkualitas untuk perlengkapan dapurnya.
“Ini aja!” Arsene menyodorkan sebuah wajan anti lengket dengan diameter sedang.
“Awet gak?” tanya Zaara.
“Mudah-mudahan. Kalau dilihat dari harganya sih seharusnya awet.”
“Ya udah!”
Mereka beralih mencari panci stainless yang terkenal karena kualitasnya yang kuat, awet, dan mudah dibersihkan. Lagi-lagi Arsene merekomendasikan barang itu. Tinggal satu barang lagi. Zaara melihat deretan wadah plastik dengan berbagai ukuran dan merk. Ia lebih tertarik dengan satu set wadah berisi 20 pcs dengan satu harga. Dengan begitu ia tidak perlu mencari-cari lagi.
Tiba-tiba Zaara melihat rak piring stainless, ia teringat karena belum memiliki rak piring di apartemennya.
__ADS_1
“Abang, boleh beli itu gak?” Zaara menunjuk pada sebuah rak piring kecil stainless.
“Belanjanya fokus ya?!” pinta Arsene ramah.
“Tapi kita belum punya, aku taruh piring basah di rak atas wastafel yang kecil itu. Jadinya numpuk sama barang lain.”
“Emang gak muat?” tanya Arsene.
“Muat sih, tapi jadi jelek kelihatannya karena numpuk-numpuk gak beraturan!”
“Makanya kata aku juga apa yang butuh dilist sebelum pergi!”
“Ya tapi kan baru inget sekarang!” protes Zaara cemberut.
Arsene menghela nafas. “Ya udah, awas kalau nambah lagi!”
Zaara tersenyum, “makasih, Abang Sayang!” ia mencolek pipi suaminya dan mengambil salah satu rak piring kecil untuk ditaruhnya di sebelah wash basin kabinet dapurnya.
Mereka membayar semua barang yang telah dibeli dan segera kembali ke kediaman mereka, karena tampaknya langit semakin gelap saja.
“Yuk cepet, mau hujan kayaknya!” seru Arsene menaruh barang di atas tangki motornya.
“Payah ih bawa barang pake motor Abang mah!” komplain Zaara yang kesulitan.
Zaara kewalahan membawa barang-barang itu, padahal jumlahnya hanya empat barang saja. Ia mengapitnya di antara tubuhnya dan tubuh Arsene. Ia harus menahannya, sekaligus memegangi barang yang ditaruh di depan tubuh suaminya. Motor pun melaju, membelah jalanan yang sepi dan berangin.
Sayup-sayup hujan rintik nan lembut mulai turun terbawa oleh angin yang bertiup. Zaara menutup kaca helmnya yang dari tadi ia buka. Lama kelamaan, hujan itu membesar seiring angin yang kencang.
“Nanggung, hujan-hujanan aja ya? Biar cepet nyampe!” teriak Arsene dari depan.
“Iya!”
Meski tetesan hujannya kecil, tetapi karena anginnya yang cukup kencang serta volumenya besar, hujan itu semakin terasa deras saja. Tinggal beberapa kilometer lagi, Arsene dan Zaara tiba di apartemennya. Baju Arsene bagian lengan dan depan sudah basah kuyup, begitu juga dengan celananya. Sama halnya dengan Zaara, bagian lengan dan roknya sudah basah. Ia masih terus menahan barang bawaannya.
Akhirnya mereka tiba di parkiran motor apartemen.
“Woooh!” Zaara turun dari motor suaminya. Gamisnya benar-benar basah kuyup. Ia mengibas-ngibas lengan dan roknya untuk mengurangi air yang menetes. Ia juga memeras bagian bawah roknya. Cipratan air hujan bercampur pasir menempel di rok gamisnya.
Arsene melihat kesibukan istrinya yang juga kedinginan. Dirinya pun tak kalah basah kuyup, apalagi kemejanya sudah tidak berbentuk dan terasa berat oleh air.
“Ayo cepat, biar gak kedinginan!” Arsene membawa semua barang bawaannya, mereka berlari bersamaan menuju lobi dengan tetesan air hujan.
“Gimana ih basah!” ucap Zaara sambil berlari menuju lift.
“Ya gimana lagi, masa mau nunggu kering di luar? Kan ada cleaning service yang bersihin!”
Mereka akhirnya bisa menaiki lift, dengan tetesan air hujan yang menjadi jejak di lantai.
Zaara merogoh tasnya untuk mencari kunci kamarnya. Dengan tangan bergetar ia berhasil membuka pintu kamarnya. Arsene menaruh barang bawaannya di dekat dapur dan langsung membuka bajunya setelah mengunci kembali pintu.
__ADS_1
“Langsung mandi aja!” seru Arsene.
“Mandi lagi?!”
“Iya kecipratan air dari jalan, kotor!” seru pria yang sudah membuka bajunya itu.
Zaara melepas semua pakaiannya, mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Arsene menyusulnya kemudian.
“Aku duluan!” protes Zaara ketika suaminya ikut masuk ke kamar mandi.
“Barengan! Aku gak mau kedinginan!” seru Arsene menyalakan shower dengan air hangat.
Zaara mendengus.
Zaara merebahkan tubuhnya di dalam selimut setelah berpakaian lengkap. Tubuhnya masih terasa kedinginan, ia tidak ingin hipotermianya kambuh lagi. Arsene melihat istrinya yang tertutup selimut itu.
“Masih kedinginan?” tanyanya mendudukan diri di tepi ranjang.
Zaara mengangguk di balik selimut. Arsene menggeleng, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia bergabung di balik selimut, merapatkan tubuhnya dengan istrinya dan menggenggam erat tangannya.
Zaara merasakan kehangatan tubuh suaminya. Bahkan dada bidang suaminya itu terasa hangat sekali meskipun ia baru saja mandi. Tangan gadis itu menyusup ke dalam kaos suaminya, menenggelamkan wajahnya di atas dada bidangnya.
Arsene malah membuka kaosnya dan bertelanjang dada di balik selimut. Zaara jadi terheran-heran.
“Mau apa kamu?” tanya gadis itu terkejut.
“Mau anget-angetan. Katanya dingin kan? Bayi yang baru lahir aja langsung ngerasa anget setelah ditaruh di dada ibunya. Biar bondingnya makin kuat, cintanya makin besar!” terang Arsene meyakinkan.
“Cepet buka!” seru Arsene.
“Gak mau!” protes Zaara. “Modus aja kamu!”
“Yeh, dikasih kehangatan gak mau! Ya udah aku mau nonton TV aja!” Arsene baru akan beranjak, tiba-tiba Zaara menahannya.
Arsene menahan tawanya, dan kembali meringkuk di dalam selimut setelah istrinya itu mengikuti perintahnya.
“Kenapa senyam-senyum?” tanya Zaara melihat wajah suaminya.
“Enggak apa-apa!”
Arsene menarik tubuh istrinya untuk saling menempel. Memang benar, rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuh mereka, seketika terasa hangat dan nyaman. Bahkan Zaara hampir saja tertidur karena rasa kantuk menerpanya, tetapi itu tidak berlangsung lama, karena pria di depannya malah menyentuh sesuatu yang membuat tubuhnya sontak terkejut, melengkung dan mengeluarkan suara.
Ternyata kehangatan berlanjut semakin panas saja.
\======
Lanjut lagi besok yaa :D
Klik LIKE, VOTE, dan COMMENT
__ADS_1
Makasiiih ^_^