
Belanja barang hantaran sudah selesai siang itu. Mereka memutuskan untuk menikmati makan siang sejenak setelah shalat dzuhur di sebuah restoran western, karena keinginan Ajeng. Ibu menyusui itu memaksa sedikit anaknya agar makan di luar sebelum pulang mumpung Finn sedang tertidur pulas. Mau tidak mau, Zaara ikut di sana. Nafsu makan ibu menyusui memang harus dipenuhi.
Pinggan panas berisi potongan daging sapi lembut dengan aroma rempah barbeque dan italian seasoning begitu kuat menguar ketika para pelayan menaruhnya di atas meja yang berisi tiga orang itu. Zaara duduk di samping Ajeng. Sementara Arsene ada di hadapan ibunya dengan Finn yang tertidur di carseat yang dibawa oleh mereka ke restoran itu di samping abangnya.
Suasana di meja makan begitu canggung, karena kedua remaja yang akan menikah bulan depan itu masih kaku untuk mengobrol langsung. Padahal dulu ketika di sekolah mereka tidak begitu, dan tidak secanggung ini. Ketiganya tampak lahap menikmati menu makan siang itu.
“Zaara apa mau fitting baju setelah ini? Mumpung sekalian lagi di luar.” Ajeng menanyakan itu setelah menelan potongan kentang panggangnya.
“Boleh Tante,” jawab Zaara singkat.
“Iya soalnya kalian bulan depan udah pada UAS kan ya? Oh ya mulai sekarang panggil Mommy ya?” pinta Ajeng tersenyum ramah.
Zaara dan Arsene terkejut bersamaan. Tetapi bukankah agar ia terbiasa memanggil dengan sebutan baru itu.
“Iya Mommy Ajeng!” ucap Zaara terdengar kaku. Ajeng senang sekali mendengarnya.
Arsene terkekeh saja melihat ibunya yang tersenyum lebar itu.
“Kalian jadinya mau LDR?” tanya Ajeng pada kedua remaja di sampingnya.
Zaara tertegun sebentar. Ia tahu ia belum memberi jawaban terkait hal itu pada Arsene padahal sudah satu bulan berlalu sejak pinangan pria itu. Meskipun begitu ia sudah memutuskan di lubuk hatinya, apakah Arsene akan kecewa? Ia pasrah saja.
Arsene menatap Zaara sekilas.
“Sepertinya, Mom!” jawaban Arsene membuat tubuh Zaara menegak.
“Betulkah itu Ra? Mommy lihat di grup kalian belum membicarakan soal ini.” Ajeng menatap pada gadis berkerudung salem di sebelahnya.
__ADS_1
Arsene menjawab itu karena terlihat saja dari gestur dan raut wajah gadis itu. Zaara tersenyum kecil dan ragu-ragu.
“Apa kamu gak keberatan kita LDR 1 tahun?” tanya Zaara ragu memandang wajah Arsene yang juga menatap ke arahnya.
“Kalau keputusan kamu itu, aku gak apa-apa kok.”
“Kalian yakin? LDR berat lho! Apalagi kalian masih hangat-hangatnya menikah. Ingat lho H+3 pernikahan dan kalian udah pisah.” Ajeng hanya ingin memastikan kalau kedua remaja ini memiliki stok kesabaran, kepercayaan, dan kesetiaan yang berlimpah.
“Arsene kamu yakin? Mommy lebih meragukan laki-laki. Kalian baru nikah emangnya gak akan melakukan hal ‘itu’?!”
Arsene dan Zaara terentak bersamaan mendengar ucapan Ajeng. Mereka memang sama-sama masih polos. Mereka tidak terlalu memikirkan hal itu. Sepertinya masih menjadi PR besar bagi mereka berdua.
“Tapi untuk urusin berkas visa dan paspor udah gak bisa, Mom! Gak cukup waktu 1 bulan. Apalagi Australia gak bisa untuk visa on arrival,” terang Arsene.
“Maaf Tante, eh Mommy! Mungkin saya telat memberi keputusan, tapi sepertinya kita memang harus LDR dulu sebentar.” Zaara telah mengambil keputusan.
Ajeng mengangguk-angguk. Ia menghargai keputusan Zaara. Sepertinya tidak ada masalah juga bagi Arsene. Ini seperti yang dikatakannya pada saat Arsene menjalani diskusi ta'aruf di awal. Kondisi mereka yang masih sama-sama produktif dan tidak memiliki anak mungkin jadi pertimbangan yang tepat bagi keduanya menjalani hubungan jarak jauh.
“Mommy hanya ingin kasih pesan. Kesetiaan, kepercayaan, serta komunikasi kalian harus terus berjalan ya? Kalian sudah memulai ini semua dengan baik, Mommy harap pernikahan kalian juga akan berjalan dengan baik.”
Arsene dan Zaara mengangguk mendengar nasihat wanita berhijab teracotta itu.
Awan di luar sudah terlihat kelabu, tampaknya akan turun hujan. Mereka telah menyelesaikan makan siang dan berjalan menuju sebuah butik khusus untuk pernikahan. Ajeng meminta Zaara untuk duduk di depan, karena dirinya akan menyusui kembali Finn yang tampaknya belum kenyang meminum air susu ibunya sehingga terlihat rewel.
Hujan turun rintik-rintik tampak lembut jatuh ke bumi. Dedaunan segar merunduk bermandikan air dari langit. Alunan lembut melodi musik jazz menemani di dalam mobil, membuat Ajeng dan Finn tertidur bersamaan. Suasana terasa hening bagi kedua anak muda yang duduk di jok depan.
“Kamu beneran gak masalah sama keputusan aku?” tanya Zaara yang hatinya merasa tidak nyaman sejak pembicaraan mereka tadi.
__ADS_1
“Enggak apa-apa,” jawab Arsene menoleh sebentar pada gadis itu.
“Aku jadi gak enak.” Zaara tertunduk.
Arsene menghela nafas. Ia memutuskan untuk menepikan mobilnya di bawah rimbunnya pohon-pohon yang menaungi mobil itu dari hujan. Entah kenapa suasana di luar begitu indah.
Zaara jadi merasa semakin bersalah, ketika merasakan mobil yang dinaikinya berhenti. Arsene pasti merasa tidak enak juga.
“Zaara, dengerin aku! Kalau aku bilang gak apa-apa, itu beneran jawaban aku. Aku gak akan berpura-pura. Lagian aku juga udah pertimbangkan ini semua dan aku kira ini yang terbaik. Kita akan fokus selesaikan impian kita masing-masing selama satu tahun itu meski kita terpisah. Aku juga udah pikirkan cara bagaimana agar kita terus bisa terhubung dengan cara yang menyenangkan. Jadi, kamu gak usah mengkhawatirkan ini lagi, okay?!” ucap Arsene menatap gadis yang terlihat risau itu.
“Kita akan diskusikan masalah ini lagi setelah kita nikah nanti,” lanjut Arsene meyakinkan Zaara.
Zaara mengangguk pelan. “Maafin aku!” ucapnya.
“You don’t have to say that, I understand (Kamu gak perlu bilang itu, aku ngerti kok)!”
“Makasih!”
Arsene tersenyum dan melanjutkan kembali perjalanannya.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung....
Like, comment, dan votenya yaa
terima kasih 😊
__ADS_1