
Suasana kampus Universitas Mentari siang itu tampak sepi. Bahkan halaman parkir di depan gedung rektorat saja hanya ada beberapa mobil terparkir di sana. Wajar saja, mahasiswa sedang libur akhir tingkat di pertengahan tahun ini. Jadi mahasiswa yang masuk biasanya yang mengambil semester pendek atau memang sedang melakukan penelitian.
Daun-daun kering tersebar di jalanan, meski para petugas kebersihan masih bekerja untuk membersihkannya. Ferdian memarkirkan motornya di halaman parkir gedung dekanat Fakultas Ilmu Budaya. Pria itu lalu berjalan menuju kantin yang sepi. Lorong-lorong tampak sepi, begitu juga dengan ruangan-ruangan perkuliahan. Hanya ada ruangan yang terisi di gedung B. Itu pasti dipakai oleh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan semester pendek.
Ferdian memilih duduk di sebuah kursi di dekat kulkas showcase yang berisi berbagai macam minuman ringan. Ia mengambil sebuah botol minuman soda, lalu meminumnya. Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya.
[Aku di kantin, bisa ketemu?] ketik Ferdian pada istrinya.
Ferdian meneguk kembali minuman sodanya. Tak lama ponselnya bergetar.
[Kok bisa di kampus? Katanya mau ke cafe? Habis ini aku ke sana ya, 15 menit lagi!] balas Ajeng.
Ferdian mengetikan kembali jawaban dari pertanyaan istrinya.
[Aku udah dari cafe. Ada yang mau aku tanyain sama kamu. Oke!]
Otak pria itu masih terasa panas. Perasaan kesal bercampur kecewa masih tertanam di dalam benaknya. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini, sehingga berkonsultasi dengan istrinya adalah satu-satunya jalan yang membuatnya bisa merasa lebih baik. Tiba-tiba Andre dan Nava datang dan masuk ke dalam kantin. Ferdian tersenyum ketika mereka melihatnya.
"Hey Fer, lagi apa di sini?" sapa Andre yang datang menghampirinya.
"Nunggu istri!" jawab Ferdian.
"Boleh duduk di sini?" tanya Andre.
"Boleh, tapi bayar! Haha!"
Andre terkekeh, sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun menyuruh Nava duduk di sebelahnya.
"Jadi mana undangan kalian?" tembak Ferdian ketika Andre barus saja duduk.
"Bulan depan ya," ucap Andre, ia menoleh pada Nava, tunangannya.
"Lama amat sih! Kalian hampir setahun tunangan, bisa sabar gitu?" sindir Ferdian, membuat Andre dan Nava jadi grogi.
"Belum setahun hey, masih 7 bulan!" koreksi Andre.
"Aku aja yang jarak dari perjodohan ke pernikahan cuma sebulan udah gak sabar banget!" ucap Ferdian terkekeh.
"Ah itu mah emang kamu aja yang nafsuan!" ujar Andre.
Ferdian tertawa-tawa.
Tidak lama kemudian, Ajeng yang mengenakan blouse abu dan celana pensil datang. Ia langsung menghampiri di mana Ferdian duduk bersama Andre dan Nava di sana.
"Hai..." sapa Ajeng pada Andre dan Nava.
"Hai Jeng!" ucap Andre dan Nava bersamaan.
Kemudian Ajeng menatap suaminya dan duduk di sampingnya.
"Aku udah selesai ngajar kok, mau pulang?" tanya Ajeng.
"Nanti, kita keluar dulu sebentar ya?"
"Oke!"
Ferdian memberi kode pada istrinya untuk pergi dari sana. Ajeng pun mengangguk.
"Sorry ya Bang, kita duluan. Masih ada urusan lagi soalnya," ucap Ferdian yang beranjak dari kursinya.
"Oke!"
"Ditunggu segera undangannya!" ucap pria berkaos hitam itu.
"Siap lah!"
"Yuk Dre, Va! Duluan ya?" ucap Ajeng melambaikan tangannya.
__ADS_1
Ferdian pun menarik lengan istrinya, dan menggandengnya sambil berjalan di sepanjang lorong gedung, setelah sebelumnya membayar minumannya.
"Mau kemana?" tanya Ajeng. Ekspresi Ferdian berubah menjadi datar.
"Kita makan dulu ya, habis itu belanja perlengkapan rumah!"
"Oke!"
Ajeng menatap wajah suaminya itu. Sepertinya ada masalah di cafe, ia hanya menebak saja. Ferdian memberikan helm pada wanita itu. Keduanya pun menaiki motor bersama. Ajeng merangkul tubuh suaminya dari belakang. Ferdian mengelus lembut tangan istrinya yang berada di pinggangnya. Ia suka sekali memperlakukan istrinya seperti itu ketika menaiki motor berdua. Begitu pula dengan Ajeng.
"Emang apa yang mau kamu obrolin sama aku?" tanya Ajeng ketika mereka sudah duduk di sebuah meja restoran Jepang.
Ferdian mengelus-elus dagunya sendiri.
"Ada masalah di cafe!" ucap Ferdian. Ia pun melanjutkan ceritanya dan menerangkan detail kronologi yang terjadi.
Ajeng tampak fokus mendengar permasalahan yang diceritakan oleh suaminya.
"Jadi menurut kamu, solusinya gimana? Aku benar-benar kecewa sama Ridwan!" ucap Ferdian sambil mengurut dahinya.
Ajeng terdiam sejenak, ia sedang berpikir.
"Coba kamu konfirmasi langsung sama siapa itu yang jadi kasir?" ucap Ajeng.
"Sandi?"
"Iya, kamu pastikan apakah benar dia melakukan itu? Untuk apa tujuannya? Kalau emang alasannya adalah seperti yang diterangkan oleh Ridwan, coba deh kamu sekali-kali berkunjung ke rumah orang tua Sandi, tengok ibunya. Gak ada salahnya kan?" tanya Ajeng.
"Oke, aku bisa terima. Terus selanjutnya gimana?"
"Kalau Sandi jujur dengan keadaannya, kamu kasih dia kesempatan untuk tetap kerja di cafe, tapi dengan syarat. Syaratnya, kalau ada kasus serupa dan melibatkan dia lagi, baru kamu bisa keluarkan Sandi."
"Terus gimana dengan Ridwan?"
"Aku tau perbuatan dia keliru dengan seolah-olah membenarkan perbuatan Sandi. Tapi coba deh kamu pertimbangkan, apakah selama dia kerja sama kamu adakah perbuatannya yang bikin rusak perusahaan kamu? Coba pertimbangkan hal positif tentang dia. Menurut aku, dia bisa tetep kerja sama kamu, dan kasih juga kesempatan untuk memperbaiki hal yang sudah terjadi."
Ajeng mengangguk-angguk.
Ferdian merenungkan semua disarankan oleh istrinya. Memang benar, ia harus menkonfirmasi hal itu pada Sandi terlebih dahulu. Ia tidak boleh tergesa-gesa membuat keputusan, apalagi membuat Ridwan keluar dari perusahaannya. Ridwan memang pekerja yang loyal serta kinerjanya bagus. Baru kali ini saja ia berbuat ulah, itu pun karena ia merasa kasihan dengan kondisi Sandi.Ferdian menyisir rambutnya dengan tangannya.
"Jadi?" tanya Ajeng.
"Aku akan coba ikutin saran kamu, Sayang!"
Ajeng mengangkat jempolnya. "Senyum dong Sayang! Kamu cemberut gitu gantengnya hilang lho!"
"Masa?" tanya Ferdian membesarkan matanya.
"Iya lho!"
Ferdian pun tersenyum kaku sambil memperlihatkan gigi putihnya.
"Kalau gitu malah jadi aneh deh!"
"Katanya disuruh senyum," protes Ferdian.
"Itu sih bukan senyum, namanya unjuk gigi!" ucap Ajeng mencebik.
Ferdian tersenyum benar kali ini, membuat istrinya pun ikut tersenyum lebar. Keduanya pun menyantap makan siang dengan lahap dan nikmat.
\=\=\=\=\=
Ajeng dan Ferdian setelah mereka membeli semua perlengkapan rumahnya, termasuk juga isi kulkas mereka.
"Assalamu'alaikum..." ucap Ajeng dan Ferdian ketika memasuki rumah apartemen mereka.
"Wa'alaikumsalam," ucap Bi Asih. Ia menggendong Arsene yang sedang menangis.
__ADS_1
"Kenapa Arsene Mommy nangis?" ucap Ajeng, ia langsung menggendong bayinya.
"Badannya anget, Neng! Kayanya demam," ucap Bi Asih resah.
"Ya Allah!" Ajeng menyentuh dahi Arsene yang terasa panas.
"Dari tadi makannya gak masuk, Neng! Udah disusuin juga tetep gak mau."
"Ya udah nanti sama Ajeng disusuin, mudah-mudahan mau!"
"Dari jam berapa kaya gitu, Bi?" tanya Ferdian yang juga mulai resah melihat anaknya menangis terus-terusan.
"Kayanya jam 10-an, Cep! Pas jadwal makan cemilan. Tapi tadi mah masih mau main, cuma pas Bibi selesai sholat, Arsene nangis terus-terusan sampai sekarang."
"Ooh... ya udah kita ke kamar dulu ya, Bi!"
Ajeng menggendong Arsene ke dalam kamarnya. Ia menaruh anaknya dulu untuk duduk di atas kasurnya. Ia harus mengganti baju dan mencuci bersih tangan dan kakinya. Hatinya cemas. Jarang sekali Arsene mengalami demam. Bayi itu memang jarang sakit. Kalaupun badannya panas, biasanya terjadi setelah vaksinasi saja.
"Sayang tolong ambil termometer," ucap Ajeng pada suaminya. Ia mengambil Arsene dan mulai menyusuinya. Bayi itu mulai terdiam.
Tubuh Arsene yang terasa panas, tersalurkan pada tubuhnya. Ia semakin merasa cemas.
"Dimana nyimpennya?"
"Di laci lemari rias aku yang sebelah kiri kalau gak salah," ucap Ajeng.
Ferdian menemukannya, ia langsung memberikannya pada istrinya itu.
"Dibuka aja bajunya. Aku baca artikel gitu soalnya," ucap Ferdian.
Ajeng membuka baju Arsene, membiarkan bayinya itu telanjang dada agar tidak terlalu merasa panas. Lalu Ferdian menaruh termometernya di bawah ketiak bayi gembul itu.
"Berapa suhunya?" tanya Ajeng.
Ferdian memperlihatkan angka yang tertera di termometer digital itu. Tertera angka 39,4 derajat celcius.
"Tinggi banget ini Sayang!"
"Gimana, mau bawa ke dokter?"
"Gak usah, kita tunggu aja sampai besok. Bayi harus banyak minum ASI biar demamnya turun," ucap Ajeng, ia teringat perkataan dokter spesialis anak yang biasa memeriksa Arsene.
"Ya udah, mudah-mudahan gak apa-apa!"
Setelah menyusui selama satu jam. Arsene pun berhasil tertidur dalam buaian sang mommy. Ajeng sudah menempelkan selembar kompresan penurun panas anak di dahi Arsene. Mommy Ajeng juga ikut tertidur di samping Arsene. Ferdian menatap satu persatu wajah istri dan anaknya. Tiba-tiba ponsel di dalam sakunya bergetar.
"Kenapa, Yah?" tanyanya ketika ia mengangkat telepon.
"Bisa datang ke rumah akhir pekan ini?"
"Bisa! Emang ada apa?"
"Ada yang mau ayah bicarakan sama kamu," ucap ayah terdengar tegas dari telepon.
"Baik, Yah!"
Entah mengapa hati Ferdian merasa tidak enak, ketika ayahnya itu menyuruhnya untuk datang ke rumah. Semenjak ayah sembuh, konsentrasi ayah pada perusahaannya memang benar-benar kembali. Ia sudah bisa memimpin rapat yang biasanya dipimpin oleh Damian. Ia juga telah mengubah posisi kepemimpinan beberapa sektor perusahaan. Ferdian harus siap ketika sewaktu-waktu ayahnya itu menunjuknya.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu ya
Kira-kira ayahnya Ferdian mau apa ya?
klik like, tinggalkan komen, dan votenya jangan lupa
Makasiiiih ^_^
__ADS_1