Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 18. Investigasi


__ADS_3

Arsene memikirkan strategi pembicaraan yang akan dilakukannya nanti ketika ia akan berbicara dengan Anin. Bagaimana caranya agar gadis itu bisa terus terang padanya? Hmm… apakah ia memang harus menebar pesona padanya? Arsene mengedikkan bahunya, geli. Pria muda itu memasukan seluruh buku miliknya ke dalam tas, dan menghubungi Rainer untuk menunggunya lebih lama karena ia ada perlu mendadak yang harus dikerjakan.


Anin, gadis berambut ikal dan berkacamata itu, tampak menoleh sesekali pada Arsene yang masih sibuk membereskan barang miliknya setelah guru pelajaran terakhir keluar kelas. Cinta memanggil namanya berulang kali, tetapi gadis itu tidak menyahutnya.


“Aniiiin!” panggil Cinta untuk yang kesekian kalinya.


“Eh… kenapa?” tanyanya.


“Mentang-mentang Arsene mau ngajak lu ngobrol jadi cuek sama gue. Mau ditungguin gak?” tanya Cinta.


“Gak usah! Siapa tau Arsene mau anterin gue pulang! Hihi!” ucapnya percaya diri.


“Uuh, mimpi apa lu semalem tiba-tiba Arsene ngajak lu ngobrol? Apa dia emang beneran naksir sama elu?” ucap Cinta bertanya-tanya.


“Doain aja naksir beneran, kan lumayan bisa dipamerin!”


“Ish jahatnya! Lu emang gak suka dia?”


“Suka sih sama tampangnya, tapi sifatnya gak tau tuh!” jawab Anin.


“Huh! Sama dong. Ya udah gue balik duluan ya? Good luck!” ucap Cinta bercipika-cipiki ria dengan sohibnya.


Semua siswa XII IPA 5 keluar, dan menyisakan dua orang lagi di sana. Arsene berjalan pelan lalu menoleh kepada Anin yang tampak salah tingkah. Arsene memberikan kode agar gadis itu keluar dari kelas dan duduk di samping kursi tepi lapangan yang masih dipakai oleh beberapa siswa untuk bermain basket. Rainer ada di sana setelah ia mendapat kabar dari abangnya, jadi ia memutuskan untuk bermain saja, meskipun ada Sera yang juga bermain.


Arsene menatap siswa-siswa yang sedang berlatih basket, kemudian Anin duduk di sampingnya, mengambil jarak yang tidak terlalu jauh. Gadis itu memang terlihat salah tingkah, tetapi cukup berani menggeser posisi tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Arsene. Karena tidak terlalu nyaman, Arsene bergeser seolah menghadapnya.


“Anin…” panggilnya, membuat telinga Anin terasa panas. Memanggil namanya saja bisa membuat jantung gadis itu berdegup kencang.


“Iya?” jawabnya lembut sambil menyelipkan rambutnya di telinga.


“Maaf mungkin ini terkesan mendadak, apalagi kita baru berbicara kali ini,” ucap Arsene berbasa-basi.


“Iya gak apa-apa, aku ngerti kok!” jawabnya tersipu-sipu.


Arsene sebenarnya sudah tidak tahan ingin pergi dari sana karena tingkah laku Anin membuatnya enek. Tetapi ia harus tahan, apalagi Bu Siska memberinya tugas khusus ini padanya.


“Biasanya kalau sore gini kamu ngapain?” tanyanya, lagi-lagi berbasa-basi.


“Aku, umm… biasanya sih pulang langsung bareng Cinta atau nongkrong-nongkrong gitu sama temen lain,” jawabnya.


“Apa temen deket kamu cuma geng di kelas aja?”


“Enggak kok. Aku kan friendly, jadi temen deketku banyak,” jawabnya pede.


“Kamu punya temen anak IPS?”


“Ada, emang kenapa kamu tanya temen aku?” tanyanya mulai penasaran.


Arsene mengarahkan kepalanya ke arah lain untuk mencari jawaban agar Anin tidak terlalu curiga. Tatapan Arsene dan Rainer bertemu, dengan tatapan Rainer yang cukup heran dan bertanya-tanya.


“Ah, saya hanya ingin tahu kamu dekat dengan siapa saja,” jawabnya berhasil membuat Anin tertunduk malu.


“Terus kalau udah tau kamu mau apa?”


“Ahh, i-itu, karena… s-saya ingin dekat dengan kamu!” jawabnya terasa kaku, lidahnya terpaksa berbohong, perutnya terasa mual.


“Oh ya?”


Arsene tersenyum lebar tetapi kaku dan terpaksa. Hatinya menyuruh untuk langsung saja menembak gadis itu dengan pertanyaan yang menghantuinya sejak tadi.


“Apa kamu kenal Astria XII IPS 2?” tanya Arsene mulai serius.


Anin terkejut.

__ADS_1


“Kamu kenal dia?” Anin malah bertanya balik.


“Enggak, makanya saya tanya kamu.”


“Kenal dong, dia kan sahabat aku dari SMP!”


“Ooh…” Arsene mengangguk.


“Ada apa emangnya?”


“Sore kemarin kamu ngapain? Katanya kamu ketemuan sama Zaara ya?” kini Arsene mulai tidak peduli lagi, dan meluncurkan aksinya.


“E-eh kenapa jadi tanya Zaara? Apa hubungannya?” nada bicara Anin mulai bergetar.


“Aku juga gak tau, tapi anak-anak pada ngomongin mereka. Zaara dan Astria yang katanya pernah ada kasus di sekolah, betul gak?”


“Ah itu, i-itu udah lama sih!” jawab Anin lagi, masih dengan suaranya yang terbata-bata.


Arsene bisa menangkapnya dengan jelas, dari wajah gadis itu terlihat tegang dan gugup.


“Ooh…” jawab Arsene.


“Tapi apa benar kamu ketemuan Zaara kemarin selesai olahraga? Soalnya dia kehilangan sesuatu katanya,” ucap Arsene beralasan lagi.


“Ehh… aku cuma mau pinjem sesuatu.”


“Dimana?”


“Ke kelas!”


“Bohong! Ada yang lihat kamu pergi ke lorong pendopo kesenian sore kemarin.”


“Hah?!” ucapnya refleks karena terkejut.


“Kamu yang bawa Zaara ke gudang seni kan? Terus nyekap dia di sana semalaman?!” tembak Arsene.


“Lidah kamu itu udah kelu ketika jawab semua pertanyaan saya tentang Zaara. Siapa lagi siswa yang terlibat?”


“Apaan sih lo, Sen! Gue gak ada apa-apa sama Zaara!” ucapnya mulai merubah gaya bahasanya.


“Ngaku! Kalau enggak, gue bisa lapor kalian ke pihak yang berwenang selain sekolah ini!” ucap Arsene mengancam.


“Emang siapa lo, seenaknya bisa ngancem gue atas tuduhan tanpa bukti dan saksi!” serga Anin membela diri.


“Gue tahu, CCTV di ruang pendopo atau di lorong jalan samping masjid itu gak ada. Tapi di halaman masjid, yang katanya lo sama Zaara ketemu, itu ada CCTV. Kita akan buktikan di sana. Dan perlu lo tau, gue emang bukan siapa-siapa, tapi semua orang yang jadi korban bullying wajib dilindungi, dan pelakunya mesti ditindak tegas. Gue akan lakukan itu demi tegaknya keadilan!” ucap Arsene tegas.


Anin menatap Arsene dengan perasaan kalut, ketakutan, dan kebingungan.


“Siapa lagi yang terlibat?! Kalau lo gak mau gue laporin ke polisi, lo mesti jawab ini!” tanya Arsene, nadanya masih terdengar tenang tetapi mengintimidasi hingga membuat hati Anin bergetar ketakutan.


“Astria, Samsul, dan Bobby!” jawabnya memejamkan mata.


“Apa maksud kalian nyekap Zaara di gudang kesenian?”


“Balas dendam!” jawab Anin tidak lagi bisa beralasan apapun.


“Emang apa yang Zaara lakukan terhadap kalian?”


“Zaara bikin Bobby keluar gara-gara dia pergokin Bobby dan Astria sedang bercumbu di gudang kesenian,” jawab Anin bergetar.


“Astaghfirullah… Jadi siapa otak di balik ini semua?!”


“Gue!” jawabnya bergetar sambil memejamkan matanya yang berurai kristal bening.

__ADS_1


“Jangan bohong, jujur!” Arsene menghentak keras suaranya.


“Astria!”


Siswa-siswa yang berada di lapangan menoleh ke arah mereka dengan tatapan heran. Arsene menarik Anin menuju kelasnya lagi agar tidak menjadi pusat perhatian..


“Kenapa kalian lakuin itu semua? Mikir gak sih, kalian itu udah kelas 12 bentar lagi lulus. Dan kalian lakuin ini cuma buat muasin ego dan nafsu kalian?!"


Arsene menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Oke, gue antar lo pulang!” ucap Arsene setelah merasa cukup dengan hasil investigasinya.


Anin mendongakan wajahnya tidak percaya.


“T-tapi…”


“Bentar lagi gelap, dan biar lo cepet sampai di rumah terus merenungi nasib masa depan lo!” ujar Arsene dingin kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan mematikan recorder di ponselnya.


Anin berdiri sambil tertunduk. Ia menyesal telah terlibat dengan rencana Astria dan Bobby, demi membalas dendamnya pada Zaara. Padahal kalau ia bisa berpikir bijak, ia sudah kelas 12, seharusnya tidak lagi berbuat ulah dan fokus saja untuk kelulusan sekolah. Kini ia tidak tahu bagaimana nasib masa depannya. Akankah pihak sekolah mengeluarkannya?


Arsene menyuruh Rainer untuk menunggunya lebih lama, karena ia akan mengantar pulang temannya yang mungkin bisa saja mengalami down dan bisa membahayakan dirinya. Jadi Arsene terpaksa memastikan keamanan gadis itu. Untung saja, rumah Anin tidak jauh dari sekolah. Cukup lima menit saja melewati jalan komplek, mereka sudah tiba di depan sebuah rumah sederhana yang Anin akui sebagai rumahnya.


“Sen, gue mau minta maaf sama lo!” ucap Anin, matanya terlihat kemerahan karena menahan tangisnya sejak tadi.


“Ngapain? Harusnya lo minta maaf sama Zaara!” ucap Arsene yang masih berada di atas motornya.


Anin terdiam, tertegun. Sudah seharusnya memang, Zaara lebih berhak dimintai maaf, daripada pria ini.


“Apa lo bakal labrak Astria?” tanya Anin.


“Gue bakal suruh dia ngaku di depan kepala sekolah! Kenapa, lo takut karena lo yang bongkar semua?”


“Astria itu sahabat gue, dia banyak bantu gue, udah gue anggap dia kaya kakak sendiri. Dia itu anak ketua paguyuban ortu sekolah. dan donatur yayasan punya kepsek. Apa mungkin semudah itu dia dikeluarin?” tanya Anin ragu.


Arsene mendelik lalu menghela nafas.


“Lihat aja nanti! Keadilan itu mesti ditegakkan. Keadilan gak memandang anak siapa atau seberapa besar harta dia di dunia. Gue akan terus kejar dia sampai dia dapat tindakan tegas dari sekolah.”


Anin meneguk air liurnya sendiri mendengar perkataan Arsene yang serius dan tajam. Ia tidak tahu siapa Arsene sampai berani sekali mengatakan itu. Astria adalah anak salah satu pengusaha kaya di Kota Bandung. Ayahnya adalah ketua paguyuban orang tua murid di sekolahnya itu, sehingga banyak kebijakan sekolah dirembukan dengannya demi kelancaran para siswa. Ayahnya itu juga menjadi donatur dalam sebuah yayasan sosial milik kepala sekolah, hingga Anin berpikir pasti sulit untuk menindak sahabatnya itu. Terbukti, kejadian beberapa bulan lalu hanya menyeret satu pihak saja, yaitu Bobby, yang akhirnya dikeluarkan oleh pihak sekolah karena kesaksian Zaara yang tidak sengaja menemukan mereka tengah melakukan aktivitas yang tidak seharusnya di belakang pendopo seni. Sedangkan Astria masih bisa melanjutkan sekolah seperti biasanya, meskipun sering gosip-gosip tentangnya beredar, hanya saja kasus itu tertutupi begitu saja.


“Apa lo tau, Zaara sebenarnya gak dijebak sendirian?” ucap Anin pelan sebelum Arsene menyalakan kunci motornya kembali.


“Apa maksud lo?” Arsene mengernyitkan alisnya.


“Gue kasih tau lo, karena udah tanggung gue punya dosa banyak. Jadi gue mending cerita aja sekalian.”


Arsene menatap tajam dengan mata sipitnya, berusaha menyimak dengan baik apa yang akan disampaikan gadis berkaca mata itu.


“Sebenarnya kita mau jebak Zaara sama Arief, mantan ketua DKM tahun lalu. Cuma kita miskom sama Samsul, Arief disekap di gudang olahraga sebelum kita sekap Zaara. Kita pikir Arief udah ada di dalam gudang kesenian makanya kita gembok Zaara di sana, tapi ternyata salah....”


Mata Arsene terbelalak dengan cerita Anin.


“Kita mau bikin isu yang sama buat jebak mereka, Bobby punya dendam pribadi sama Arief waktu dulu. Entah apa itu, gue juga gak tahu. Dan kayanya... Arief masih belum keluar dari sana....” ucapnya ragu-ragu.


DEG.


“Apa maksud lo?!’


\=\=\=\=\=


Bersambung...


Ayooo rajin votenya yaaa

__ADS_1


Like dan commentnya juga nih ramaikan


thank youu


__ADS_2