
Arsene dan Zaara bergabung dengan keluarganya yang sedang menikmati sarapan di meja makan. Ajeng yang memasak hari itu dengan menu seadanya saja karena para asisten rumah tangganya belum datang.
Zaara duduk di samping suaminya dan mengambilkan menu sarapan untuk pria yang belum mandi itu untuk pertama kalinya. Melihat Arsene yang tampak kusut dengan masih mengenakan pakaian tidurnya, Ajeng jadi bertanya-tanya. Apakah anaknya ini memang tidak melakukan sesuatu tadi malam bersama istrinya itu? Ajeng akan memastikannya nanti. Ia menyuapi Finn setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya.
“Sekarang ini rumah kamu juga ya, Ra! Jangan sungkan kalau ada apa-apa, apalagi selama Arsene di Sydney. Kamu bisa minta tolong Daddy atau Mommy,” ujar Ferdian yang duduk di ujung meja sebagai kepala keluarga.
“Iya Daddy!” ucap Zaara kaku.
Meja makan itu terisi lengkap dan mereka menikmati suasana sarapan yang cukup berbeda dengan kehadiran Zaara di sana. Hanya saja suasana tetap akrab dan hangat, apalagi Ajeng selalu membuat suasana cair dengan mengajak Zaara berbincang sebentar setelah sarapan habis.
"Katanya kamu jadi editor di penerbit punya Om Kevin ya?" tanya Ajeng.
"Iya, Mommy! Tapi masih editor lepas, masih dibimbing juga." Zaara menjawab.
"Gak apa-apa nanti juga jadi ahli kok, namanya masih belajar. Malah itu udah bagus banget di usia kamu yang masih muda!" Ajeng memujinya, membuat Zaara tersenyum.
"Editor untuk naskah apa?" tanya Ferdian.
"Naskah fiksi remaja atau young adult, Daddy!"
"Ooh, pasti kerjanya asyik ya?"
"Karena ini memang ketertarikan Zaara, jadi kerjanya enjoy, Dad!" jawab Zaara.
"Bagus itu!"
Mereka melanjutkan sarapannya setelah berbincang sedikit dengan anggota keluarga terbaru mereka.
Arsene baru saja hendak pergi ke ruang tengah, saat istrinya sibuk di dapur untuk membantu mencuci piring, karena asisten rumah tangga Ajeng datang siang. Ajeng yang telah selesai menyuapi Finn, pergi mengikuti putra sulungnya. Ibu yang satu itu memang selalu ingin tahu dengan apa yang terjadi dengan anaknya.
“Abang!” panggilnya. Ajeng duduk di salah satu kursi panjang di dekat kamarnya.
“Iya, Mom?!” tanya Arsene menghampiri.
“Sini duduk dulu!” ucapnya sambil memangku Finn di pahanya.
Arsene duduk di samping ibunya.
“Kenapa?” tanya anak muda itu.
“Apa kamu benar-benar gak melakukan hal ‘itu’ tadi malam?” tanya Ajeng blak-blakan.
Jantung Arsene meledak mendapat pertanyaan seperti itu dari ibunya secara langsung. Ia tidak bisa mengalihkan ke hal lain lagi karena sudah jelas jawabannya.
“Capek, Mom!” jawabnya sedikit beralasan.
Ajeng memicingkan matanya, curiga.
“Masa?! Hmm… kenapa Mommy mencium hal yang mencurigakan ya?” ucapnya mengalihkan wajahnya ke arah lain.
“Emang harus ya malam pertama melakukan ‘itu’?” tanya Arsene memandangi wajah ibunya.
“Enggak juga sih. Mommy curiga aja kamu punya kesepakatan sama Zaara gak akan melakukan ‘itu’ sebelum kamu ke Sydney!”
Arsene terkejut. Bagaimana mungkin ibunya itu tahu dengan rencana ia dan istrinya?
“Bulan Desember aku pulang lagi, Mom!” ucap Arsene.
“Jadi kalian mau melakukannya setelah bertemu lagi?!” tanya Ajeng tidak percaya.
__ADS_1
“Ih, Mommy kepo! Terserah kita dong,” jawab Arsene santai.
Ajeng menyenggol tubuh anaknya itu.
“Ya udah lah terserah kalian. Kalian yang jalanin juga. Nanti Mommy kasih kejutan buat istri kamu.”
“Kejutan apa?” tanya Arsene penasaran.
“Udah sana mandi dulu biar cakep! Udah punya pacar baru harus wangi terus! Kalau bisa mandi bareng biar semangat! Hahaha!”
DEG. “Gawat, sama aja bohong itu mah!”
Ajeng tertawa-tawa, ia tahu Arsene tengah menahan dirinya dari hasrat kelaki-lakiannya sebelum pergi ke Sydney.
“Mandi sana!”
“Iya, iya!”
Arsene mengajak istrinya yang sudah selesai mencuci piring ke kamar mereka lagi. Ia menuntun tangannya sambil menaiki tangga. Sementara itu Arsene memperhatikan ibunya yang masih melihatnya. Ajeng membuat isyarat agar mereka berdua mandi bersama. Arsene bergidik sambil terkekeh-kekeh.
Arsene mengunci pintu kamarnya. Zaara melepas kembali kerudungnya lalu duduk di tepi ranjang sambil melihat ponselnya.
“Hari ini mau kemana?” tanya Arsene duduk di sebelahnya.
“Hmm… Aku mau di sini aja, pengen buka kado.” Zaara menunjuk tumpukan kado pernikahan mereka yang cukup banyak itu.
“Boleh!”
“Kamu mau mandi duluan?” tanya Zaara.
Arsene terperanjat karena ia teringat ucapan ibunya tadi.
“Eh, umm… kamu duluan aja!” ucap Arsene.
Zaara mengambil handuk miliknya dari dalam tas lalu pergi menuju kamar mandi. Entah kenapa Arsene merasa sangat tegang saat ini. Apa karena ucapan ibunya tadi? Pria itu menepis pikiran-pikiran yang ada di dalam benaknya. Mendengar bunyi kucuran shower dari tembok di sebelahnya, semakin membuat jantungnya berdebar kencang. Pria yang mengenakan celana selututnya itu memukul-mukul jidatnya karena pikirannya terus mengawang entah kemana.
Pria itu beristighfar terus. Frustrasi. Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pemutar video agar pikirannya bisa teralihkan. Bukannya teralihkan, ia justru terkaget-kaget dengan sebuah video yang muncul yang malah akan semakin membuat pikiran dan hasratnya makin membesar saja. Arsene melempar ponselnya ke atas kasur. Lalu menenggelamkan wajahnya di bawah bantal.
“Abang…,” panggil Zaara dari dalam kamar mandi. Arsene berpikir sebentar, apa benar Zaara yang memanggilnya atau hanya pikirannya saja?
“Abang tolongin dong!” ucap Zaara lagi. Arsene bangkit dari kasur dan menghampiri pintu kamar mandi.
“Kenapa, Sayang?”
Belum ada jawaban dari dalam kamar mandi.
“Kenapa, Zaara Sayang?” tanya Arsene lagi.
“Bisa tolong belikan pembalut?!” tanya Zaara terdengar bergetar.
Arsene terkejut, tetapi di sisi lain merasa lega.
“Aku gak bawa pembalut!” ucap Zaara lagi.
“Bentar aku tanya mommy dulu!”
Arsene keluar dari kamarnya dan menghampiri ibunya yang berada di dalam kamar.
“Mom!” Arsene mengetuk pintu kamar ibunya.
__ADS_1
“Kenapa?” Ajeng membuka pintu.
“Mommy punya pembalut?” tanya Arsene ketika ibunya membukakan pintu kamar itu untuknya.
“Buat Zaara?!” tanya Ajeng terkejut.
“Iya masa buat aku?!”
“Haduuuh… beneran kamu puasa, Cen!” ucap Ajeng terkekeh-kekeh dan mencari pembalut miliknya. Ferdian yang mendengar hal itu jadi ikut tertawa juga.
“Udah pengantin baru, istri haid, ditambah LDR, mantap Cen!” ucap Ferdian tertawa-tawa melihat nasib anaknya.
“Hehehe!” Arsene menyengir saja.
Ajeng mengambilkan pembalut miliknya yang belum dibukanya sama sekali.
“Buat Zaara aja semua!”
“Thanks, Mom!”
“Sabar ya Abang Acen Sayang!”
Lagi-lagi Arsene hanya menyengir saja merespon hal itu. Pria muda itu langsung kembali ke kamarnya.
“Zaara Sayang, ini pembalutnya!”
“Bisa tolong sekalian ambil tas aku?” pinta gadis itu lagi.
“Semuanya?”
“Iya!”
Arsene mengambil tas ransel cokelat muda milik istrinya lalu mengetuk kembali pintu kamar mandinya.
“Ini Sayang!”
Pintu itu terbuka sedikit. Jantung Arsene berdebar ketika tangan putih dan lentik milik Zaara muncul dari sana. Arsene memberikan tas dan pembalut itu padanya. Terpaksa pintu membesar sedikit karena tas Zaara yang tebal tidak masuk.
BRAK. Tas itu terjatuh karena Zaara belum siap mengambilnya, sementara Arsene sudah melepasnya. Jantung lelaki itu berdebar kencang karena cermin yang berada di dalam kamar mandi memantulkan sesuatu yang seharusnya tidak Arsene lihat, sehingga ia menjatuhkan tas itu begitu saja.
“Maaf!” sergah Arsene yang panik.
"Makasih!" jawab Zaara singkat tak kalah panik.
Zaara dengan cepat mengambil tas miliknya dan kembali menutup pintu kamar mandi.
Arsene bersandar di tembok dengan jantung yang berpacu cepat. Wajah dan telinganya merah karena panasnya darah menjalar ke sana. Tatapannya kosong dan kakinya bergetar. Ia tergolek lemas menjatuhkan dirinya ke atas lantai, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di cermin. Punggung mulus istrinya itu terlihat dari sana tadi apalagi Zaara menggelung rambutnya. Ia benar-benar tidak sengaja melihatnya. Tiba-tiba saja hidungnya meler saat ini. Ia menyeret kakinya dengan beringsut-ingsut di atas lantai karena terlalu lemah untuk berdiri.
Sambil menyeret tubuhnya ke atas karpet, Arsene menarik cairan yang keluar dari hidungnya. Apakah alerginya muncul? Atau karena sesuatu yang lain yang membuat hidungnya mengeluarkan cairan?
Ternyata menahan diri dari hasrat itu sangat sulit. Arsene merebahkan dirinya di atas karpet kamarnya. Lengannya menutup matanya yang terpejam. Nafasnya terdengar terengah-engah dengan dada yang naik turun. Entah seberapa kuat dirinya untuk menahan hasrat itu, apalagi Zaara tengah haid. Ia benar-benar akan frustrasi hari ini.
\=\=\=\=\=\=
Gak kuaaaaat XD
Sumbang poin & koin yang banyak ya biar Bang Acen kuat, haha
Klik LIKE
__ADS_1
Tinggalkan komentar kalian
Thank youuuu