
[POV AUTHOR]
Pagi itu mentari bersinar cerah. Udara terasa lebih sejut dari biasanya. Jalanan pun terlihat lengang. Dedaunan melambai disapa oleh angin yang berhembus lembut. Bunga-bunga menebarkan pesona, membuatnya terlihat semakin indah.
Wanita berambut merah itu tampak tegang, terlihat dari sorot matanya. Ia memandangi dirinya di cermin yang sudah dirias dengan make-up minimalis. Bibirnya yang mungil dipoles dengan warna coral membuatnya semakin terlihat menawan.
Pernikahan ini bukanlah yang diharapkannya dulu. Hanya saja ia berharap pernikahan ini akan bisa membawanya pada harapan tertinggi dalam kehidupan rumah tangga, sakinah, mawaddah, wa rohmah. Begitulah istilahnya.
Gaun panjang berwarna putih gading telah melilit seluruh tubuhnya. Ia ingin tampil sederhana tetapi tetap menawan. Ia memilih sebuah gaun pengantin dengan lengan panjang. Rambutnya diikat sederhana dengan hiasan bunga di sisi kepalanya.
Ajeng telah merevisi sedikit permintaan gaya akad dan resepsi pernikahannya 2 minggu sebelum acara. Karena tempatnya diadakan di sebuah taman yang luas milik ayah Ferdian, ia memilih konsep garden party dengan suasana rustic. Bunga-bunga baby breath menghiasi dekorasi pelaminan dan tiap-tiap meja tamu.
"Udah siap, Sayangnya Papa?" sapa Papa yang memastikan kondisi fisik dan mental putri bungsunya itu.
Ajeng mengangguk tersenyum. Ia memandangi wajah papanya penuh haru. Kulit wajahnya yang mulai keriput, menjadi saksi betapa keras perjuangan hidupnya untuk membesarkan putrinya itu.
Papa memeluk erat putrinya itu. Rasanya ia masih gadis kecil kemarin sore, yang biasa ditimangnya, dimanjanya, dan dibelainya. Namun hari ini, gadisnya itu akan menjadi milik laki-laki lain. Papa meneteskan air mata.
"Kenapa Papa nangis?" tanya Ajeng sambil mengusap air mata papanya itu.
"Lagi-lagi Papa kehilangan anak gadis Papa! Maafkan Papa selama ini ya, Sayang? Membuatmu tidak bisa memilih apa yang kamu inginkan," ucap Papa tertunduk, air matanya berlinang kembali.
"You've done your best, Pa! Meski awalnya aku gak bisa terima perjodohan ini, tapi aku rasa ini akan menjadi pernikahan terbaik sepanjang hidupku dengan jodoh pilihan papa untukku, yang ternyata juga memang pilihan Tuhan," ucap Ajeng menenangkan papanya.
"Papa harap kamu selalu bahagia sama Ferdian," ucap Papa penuh haru. Ajeng memeluknya kembali, menciumnya sebagai wujud kasih sayang pada orangtuanya tercinta.
"Kamu duduk di sini, Papa akan sambut calon suami kamu," ucap Papa.
Ajeng mengangguk. Mama yang melihat momen itu pun berderai air mata. Kebahagiaan putrinya kini ada di depan mata.
\=\=\=
"Bagaimana saksi? Apakah sah?!" tanya bapak utusan dari KUA, setelah Papa dan Ferdian mengucap ijab kabul dengan lancar tanpa halangan.
"Sah! Sah!" Ucap para saksi dan keluarga yang telah hadir.
"Alhamdulillah!" ucap semuanya.
Semua orang memanjat doa demi kebaikan dan keberkahan pernikahan Ajeng dan Ferdian. Kini keduanya telah sah menjadi suami istri.
Wanita yang sejak tadi terduduk dengan hati berdebar dan mata berkaca-kaca kini keluar dari ruangannya. Ajeng berjalan keluar menuju pelaminan demi bersanding dengan suami barunya, mahasiswanya, Ferdian Winata. Ia menggenggam sebuket mawar putih di tangannya, didampingi oleh kakaknya, Nadya yang berjalan mengiringinya. Lagu Shane Fillan, Beautiful ini White, mengalun lembut menemani langkah pengantin wanita menuju suaminya dengan perasaan yang campur aduk. Semua hadirin meneteskan air mata penuh haru.
Ferdian menatap istrinya takjub, matanya berbinar, senyumnya melebar di setiap sudut bibirnya, Matanya bahkan hampir tak mengedip saking takjubnya.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
__ADS_1
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Ajeng tersenyum padanya yang sejak tadi menatapnya. Ferdian mengulurkan tangannya.
"You're already mine, now!" ucap Ferdian sambil memasangkan cincin kawin ke jari Ajeng.
"My pleasure," jawab Ajeng
Ferdian menatap dalam mata Ajeng dalam, tak percaya bahwa dosen di depannya itu kini menjadi istrinya, pendamping hidupnya di usianya yang ke 20. Keduanya tersenyum bahagia, menatap satu sama lain.
Pria yang mengenakan tuksedo berwarna abu cream dengan rambut rapi itu, kini mencium kening wanita yang ada di hadapannya.
Para hadirin yang didominasi oleh keluarga bersorak bahagia ketika Ferdian mencium lembut kening istrinya. Keduanya tampak tersipu-sipu malu karena melakukannya di hadapan banyak orang.
"You really look so beautiful," ucap Ferdian.
"Thank you," ucap Ajeng malu.
"Kita lanjutin lagi nanti, ya?" Bisik Ferdian, membuat rona wajah istrinya menjadi merah.
Angin berhembus lembut, membawa harapan serta kebahagian yang baru saja dimulai. Matahari tersenyum di atas langit yang bersih, membuat dunia berputar lebih kencang karena kegirangan.
Tak terasa, acara resepsi pernikahan Ajeng dan Ferdian pun usai siang itu.
\=\=\=\=\=
Sungguh hari yang panjang, setelah menjadi pusat perhatian sepanjang hari. Untung saja tamu undangan memang tidak banyak, jadinya aku tidak terlalu merasa letih.
"Malam ini kita pulang ke rumahku?" tanyaku pada Ferdian, ehem, suamiku yang sedang menyantap sup cream selepas pesta usai.
"Aku coba tanya bunda dulu ya, katanya ada kejutan besar untuk kita," ujarnya.
"Oh ya? Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu!" jawab Ferdian.
Aku termenung. Mulai malam ini aku sepenuhnya milik Ferdian. Rasanya agak geli merinding membayangkan hal apa saja yang akan terjadi. Aku duduk di sampingnya, menaruh kepalaku di atas lenganku yang terlipat di atas meja, lalu memperhatikan wajahnya yang sedang melahap sup karena kelaparan. Entah kemana pikiranku melayang.
Sebuah kecupan mendarat di pipiku singkat, membuatku terperanjat. Apa itu barusan?
"Ih, genit!! ujarku mendorong bahunya. Jantungku meledak seketika.
Pria itu tertawa terkikik-kikik. Aku mengedarkan pandangan, ternyata masih banyak orang yang masih membereskan sisa-sisa perlengkapan resepsi nikah hari ini.
"Masih banyak orang tuh," ujarku.
"Biarin, kamu kan istriku sekarang," ucapnya santai, ia menyantap lagi supnya.
Aku menenggelamkan wajah di lenganku, menahan malu. Ferdian mengusap punggungku lembut sambil tertawa.
"Yuk pergi!" katanya.
"Kemana?" tanyaku.
__ADS_1
"Kemana aja boleh, asal sama kamu," ucapnya gombal.
Ferdian berdiri dan menuntun lenganku, terasa hangat dan nyaman. Jantungku tidak bisa berhenti berdebar, rasanya ini akan semakin cepat.
"Ferdian, Ajeng! Kemari, Ayah dan Bunda ingin bicara sama kalian," ucap Tante Bella sambil mendorong kursi roda Om Gunawan.
Kami duduk di sofa ruang tamu.
"Ferdian, Ajeng...kami punya hadiah untuk kalian," ujar Tante Bella.
Ia memberikan sebuah kotak berwarna merah muda berpita putih, cantik sekali. Ferdian mengambil kotak itu dan memandangku senang. Kami membuka kotak itu penasaran dengan isinya.
Dan jreng. Ada sebuah brosur apartemen di dalamnya ditambah sebuah kartu member dan juga sertifikatnya atas nama Ferdian di sana. Tampaknya kedua orangtua Ferdian membelikan kami sebuah apartemen yang jaraknya cukup dekat dengan kampus kami. Sebuah apartemen yang berdesain modern kontemporer jika dilihat dari brosurnya. Ya, aku pernah melihatnya bahkan setiap hari aku melewatinya ketika pulang menuju rumahku.
"Itu untuk kalian berdua, semoga kalian bisa hidup dengan bahagia di sana!" ujar Tante Bella lembut.
"Benaran ini untuk kami, Bun?" ucap Ferdian tidak percaya.
Tante Bella mengangguk. "Mulai hari ini kalian tinggal di sana ya?"
Ferdian memeluk erat bunda dan ayahnya bergantian diikuti olehku.
"Terima kasih banyak, Tante, Om! Semoga keberkahan dan kesehatan untuk kalian selalu," ucapku terharu dan berkaca-kaca.
"Aamiin!"
Ferdian terus memeluk ayahnya yang belum pulih dari stroke yang dideritanya. Ia menangis di pelukannya. Aku jadi terenyuh melihatnya, tak terasa air mataku juga ikut menetes. Semoga ayah mertuaku bisa segera diangkat penyakitnya oleh Yang Maha Kuasa dan kembali sehat sedia kala. Om Gunawan adalah orang yang sangat baik dan dermawan. Kebaikannya itu juga membuat Papaku merasa berhutang budi padanya karena telah banyak membantu keluargaku sejak lama. Tak heran, Papa sudah menganggap Om Gunawan sebagai kakak angkatnya dan kini sudah resmi menjadi besannya.
\=\=\=
"Jadi kemana kita sekarang?" tanya Ferdian setelah aku masuk ke dalam mobil.
"Terserah kamu, aku ikut aja!" ucapku sambil memasang seatbelt.
"Kamu udah bawa perlengkapan kan?"
"Iya,"
"Kita pulang ke rumah baru kita ya?" ucapnya tersenyum.
"No problem!" ujarku riang.
Ferdian memarkirkan mobilnya di basemen apartemen baru milik kami. Ia menunjukan kartu pemilik kepada resepsionis dan mendapatkan kuncinya. Wow, ternyata apartemen ini cukup mewah dilihat dari interior lobinya. Mimpi apa aku semalam tiba-tiba bisa mendapatkan satu hunian mewah di sini bersama suamiku.
Kami membuka pintu, langsung di sambut oleh ruangan luas dengan interior yang hangat dan nyaman. Furnitur sudah lengkap mengisi semua ruangan, dimulai dari ruang makan, ruang bersantai, ruang kerja, dapur, dua kamar tidur, dan dua kamar mandi. Ada juga ruang laundry dan walk in wardrobe.
"Welcome home!" ucap Ferdian tersenyum.
Kami menyusuri setiap ruangan, begitu nyaman di setiap sudutnya. Ada satu ruangan yang membuatku langsung jatuh cinta, kamar tidur utama yang luas dan tersambung dengan walk in wardrobe dan kamar mandi dengan desain wah. I'm in love with this.
Aku menghempaskan tubuhku di kasur berukuran king yang empuk dan lembut. Rasanya menyenangkan sekali bagaikan mimpi di siang bolong. Aroma lavender tercium membuat diri ini terasa tenang, tak pernah kurasakan hati sebahagia ini. Kupejamkan mata sebentar menikmati hari yang kulalui.
Sebuah sentuhan lembut terasa di pipi kananku, membuat mataku terbuka dan tubuh terperanjat. Ia tersenyum dengan matanya yang terlihat sayu.
"Mau mandi?" tanyanya.
Seketika itu panas terasa menjalar di semua bagian tubuhku.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Keep like & vote yaa ^^