
Suasana klinik masih sangat sepi dan hening di pagi hari. Udara begitu dingin dan menusuk kulit. Lorong terasa sunyi, hanya ada beberapa perawat yang berjalan di sana. Arsene berlari cepat menuju lorong, menanyakan nama istrinya pada petugas resepsionis yang berjaga pagi itu. Perasaannya benar-benar kalut dan kacau. Ia tak tahu apa yang terjadi.
Perawat mengatakannya kalau Zaara sudah berada di ruang perawatan yang terletak di ujung lorong sebelah kanan. Arsene segera berlari lagi. Nafasnya terdengar menderu, terlebih lagi jantungnya yang terus memompa. Menemukan beberapa anggota keluarganya di sana, hatinya semakin tidak karuan.
Ayah mertuanya menghampiri, terlihat gusar dan merah padam. Menatap wajah Arsene penuh luka, Reza berusaha tenang.
“Zaara kenapa, Bi?” tanya Arsene panik.
“Masuklah!” ucap Reza setenang mungkin, meskipun dadanya terlihat naik turun.
Dalam ruang perawatan VIP itu terdapat ibu mertuanya, Karin. Ada juga dokter Sita, dokter Aliyah, dan ibunya Ajeng. Keempat wanita itu terlihat berkaca-kaca. Zaara terlihat berbaring lemas di atas matras sambil terpejam.
Ajeng segera memeluk anak sulungnya.
"Wajah kamu kenapa, Sayang?" tanya Ajeng yang langsung menyambut anak sulungnya itu dengan cemas.
"Gak apa, Mom!"
“Kamu yang kuat ya?” ucap Ajeng lirih, mengusap kepala Arsene.
“Zaara kenapa Mom?” tanyanya kini mata Arsene berkaca-kaca.
“Maaf Sen, Zaara keguguran. Janin kalian gak bisa kami selamatkan!” ucap Sita tegar.
Jantung Arsene seketika meledak mendapati kabar itu. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak sanggup membendung air matanya lagi. Ini adalah tetesan air matanya yang pertama untuk seseorang yang ia kasihi.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun…”
Pria muda itu berlutut di atas lantai, karena terlalu lemas mengetahui kenyataan yang terjadi. Tubuhnya ambruk, hatinya hancur mendapati kabar calon buah hatinya telah pergi. Ia menangis lirih dan mulai menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada istri dan calon anaknya. Ia sadar istrinya itu tertekan karena dirinya terlalu sibuk bekerja. Mencari materi demi mempersiapkan masa depan keluarganya, hanya saja ia lupa diri. Terbenam dalam rutinitas yang membuat dirinya nyaman sehingga justru sering mengabaikan istrinya yang sedang mengandung. Kini keadaan tidak bisa berubah, ia tak bisa mengembalikan calon anaknya. Pemuda itu tenggelam dalam emosinya sendiri, berharap istrinya kini baik-baik saja.
“Abang…,” Ajeng membawa tubuh anaknya bangkit.
“Ini salahku, Mom!” ucap Arsene bergetar.
“Jangan salahkan diri kamu!” Ajeng berusaha menguatkan dan memeluknya erat.
Kini Arsene menghampiri istrinya yang terpejam. Entah tertidur atau tidak sadarkan diri, ia tidak tahu. Arsene meraih tangan Zaara, menggenggam dan mengecupnya. Air matanya berderai. “Maafin aku, Sayang! Maafin...” ucapnya lirih menaruh telapak tangan Zaara di pipinya yang memar. Rasa perih terasa di ujung bibirnya ketika air mata mengalir melewatinya. Tetapi hatinya lebih perih lagi mengetahui buah cintanya telah pergi.
Kelopak mata Zaara bergetar.
“Kamu kemana?” tanya Zaara lirih setelah ia membuka matanya perlahan.
“Maafin aku!” hanya itu yang bisa Arsene ucapkan. Tubuhnya bergetar hebat, dengan pandangan yang tertunduk.
Zaara menarik tangannya dari genggaman Arsene. Hati Arsene terasa sakit, sekujur tubuhnya terasa remuk dan lemas mendapat respon dari istri tercintanya.
“Aku ingin pulang, Mi!” ucap Zaara merintih.
“Iya Sayang, kita pulang setelah kamu sehat ya?” ucap Karin.
\=\=\=\=\=\=
Reza terduduk di sebuah kursi di lorong klinik di depan ruang inap Zaara. Matanya terlihat berkaca-kaca, tegar tetapi rapuh. Ia tak menyangka kejadian serupa akan terjadi pada anaknya sendiri.
Arsene menghampirinya. Setelah dua jam lebih pria itu memandangi istrinya yang terlelap dengan penuh penyesalan, Arsene akhirnya mengikhlaskan calon anaknya pergi.
Kedua pria berbeda generasi itu terbenam dalam pikirannya masing-masing. Raut wajahnya sama-sama menunjukkan kecemasan.
“Kamu tau, Sen? Abi juga dulu pernah mengalami hal yang sama.” Reza membuka percakapan siang itu.
“Maksud Abi?” tanya Arsene menatap wajah ayah mertuanya.
“Dulu umi pernah keguguran. Bedanya dulu Abi gak tau kalau ternyata umi sedang hamil. Rasanya seperti mendapat dua ledakan. Terharu karena ternyata umi bisa hamil, tetapi di sisi lain abi sedih karena calon anak abi telah pergi lebih dulu.”
Arsene tertegun.
“Mungkin perasaan kamu lebih hancur karena pasti telah mengharapkan kehadirannya. Ini memang takdir Allah. Abi harap kamu bisa mengambil banyak pelajaran dari peristiwa ini. Kamu harus bisa merangkul Zaara, karena mental seorang ibu yang keguguran sangatlah luar biasa. Mereka butuh kasih sayang lebih, dukungan lebih, dan perhatian lebih. Bangunlah terus harapannya, jangan sampai Zaara trauma ketika ia akan hamil lagi nanti. Mungkin akan sulit, tetapi jika kamu kuat dan sabar, dia pasti bisa melewati ini semua.”
Arsene bergetar mendengar ucapan ayah mertuanya.
__ADS_1
“Abi serahkan semua padamu, Abi percaya kamu bisa melewati ini semua!”
Reza beranjak dan menepuk pundak Arsene pelan, lalu pergi dari sana membiarkan pemuda itu merenungi hari-hari ke depan.
\=\=\=\=\=\=
Zaara duduk bersandar di atas sandaran ranjang rumah sakit. Pandangannya melihat ke luar jendela, tetapi kosong. Udara pagi yang terasa hangat karena sinar matahari langsung masuk dan menembus kaca bening yang jernih. Sejenak gadis itu merasakan hangatnya mentari, hanya saja hangat itu tidak bisa menembus hatinya yang kini dingin dan rapuh. Raut wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tangannya terus diletakkan di atas perutnya yang datar yang kini tidak ada lagi makhluk kecil di dalamnya. Kadang terasa rasa nyeri di sana setelah rahimnya itu telah dibersihkan. Mata gadis itu berkaca-kaca, buliran air matanya kembali menetes tidak terasa karena ada dorongan dari hati terdalamnya yang tengah terluka.
Benak gadis itu menelusuri memori. Memutar sejenak apa yang terjadi beberapa hari ini. Ia terpejam sambil menarik nafasnya. Berusaha mungkin membersihkan pikiran dan hatinya yang kini kalut dan kusut. Ia tengah memendam rasa kecewa yang sangat dalam hingga rasanya hampir gelap seluruh perasaannya. Gadis yang mengenakan hijab kaosnya itu memang sedang sendiri, mengingat seluruh keluarganya sedang beraktivitas. Arsene sendiri sedang pergi membeli buah-buahan ke supermarket setelah sarapan pagi.
Tok.tok.tok.
Beberapa ketukan terdengar dari pintu kayu ruang inapnya. Zaara mempersilakannya masuk. Wajah Dokter Sita muncul di sana, sahabat ibunya itu tersenyum ketika memasuki ruangan.
“Assalamu’alaikum, Zaara! Gimana kabar kamu?” tanya Sita menghampiri.
“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah Tante!” Zaara menyeka air matanya yang sempat menetes.
“Gimana perasaan kamu?” tanya Sita selagi mengecek kondisi tubuhnya.
“Saya masih merasa kehilangan, Tante!” jawabnya sendu.
Sita tersenyum kecil, membelai kepala gadis itu.
“Kamu harus kuat, Zaara! Umi kamu pun begitu, dan dia kuat sampai dia melahirkan kamu dan adik kamu. Tante yakin kalian pasti bisa melewati ini semua dengan ikhlas. Ini ujian dari Allah!”
Zaara mencoba tersenyum.
"Tante periksa kondisi tubuh kamu dulu ya?" pinta Sita.
Zaara merebahkan tubuhnya. Sita mengecek seluruhnya pada gadis itu.
“Kondisi tubuh kamu udah bagus dan stabil. Kamu udah bisa pulang besok. Apa nyeri di perutnya masih terasa?”
“Masih Tante.”
“Ya, itu wajar. Kamu harus beristirahat selama seminggu ini untuk memulihkan kondisi kamu. Oh ya, Arsene mana?” tanya Sita mengedarkan pandangannya ke ruangan serba putih itu.
Tidak lama kemudian.
“Assalamu’alaikum, boleh masuk?” seorang pria berdiri di depan pintu ruangan yang terbuka sedikit. Sang dokter modis tampan, Raffa, membawa sebuah keranjang berisi buah-buahan di tangannya.
“Wa’alaikumsalam!”
Zaara tersenyum kecil pada lelaki itu dan mempersilakannya masuk, karena masih ada Sita di sana.
Raffa memasang wajah dengan senyumannya yang lebar tetapi ada gurat kecemasan di sana. Ia menaruh keranjang buah itu di atas nakas kosong di sisi kiri matras.
“Maaf ya aku baru jenguk sekarang,” ucapnya, kemudian menatap pada ibunya.
“Gak apa-apa, Mas! Makasih banyak!” jawab Zaara.
“Mudah-mudahan kamu segera pulih.”
“Aamiin.”
Sita memandangi wajah anaknya. Ia tahu dalam hati Raffa masih menyimpan perasaan pada gadis berhijab di depannya, meskipun kecil, rasa itu tetap ada. Padahal sudah satu tahun berlalu sejak pernikahan Arsene dan Zaara. Akan tetapi, Sita bersyukur. Anak keduanya itu sudah banyak berubah. Pikirannya lebih bijak, meski emosinya kadang tetap meluap sewaktu-waktu. Sita hanya berharap, anaknya bisa mengontrol perasaannya.
“Semoga kamu juga diberi kekuatan untuk menghadapi musibah ini. Aku turut berduka.”
“Makasih Mas.”
Zaara hanya menunduk.
“Kamu praktek jam berapa?” tanya Sita pada anaknya.
“Jam 10, Ma!”
“Sebentar lagi. Antrian kamu pasti udah panjang ya?” Sita memandang jam tangannya.
__ADS_1
Raffa terkekeh. Semenjak kehadiran pria modis itu, poliklinik gigi memang selalu penuh. Bahkan nomor antrian pengunjung selalu habis.
“Ya, aku sempatkan dulu ke sini. Karena…” Raffa terlihat gugup.
“Karena apa?” tanya Sita curiga. Zaara menatap pria itu.
“Ada yang harus aku utarakan.”
Sita menatap tajam wajah anaknya. Ia tidak ingin anaknya membuat masalah yang aneh. Apalagi kondisi psikis Zaara belum stabil.
Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan itu. Wajahnya terlihat bertanya-tanya. Ia membawa sekantung buah-buahan di tangannya.
“Darimana, Sen?” tanya Sita mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba saja terasa tegang.
“Ah, saya dari supermarket sebentar. Beli buah-buahan aja!” jawabnya melangkah masuk. Melihat ada sekeranjang buah-buahan lengkap, pria itu menaruh kantung belanjaannya di atas kursi yang kosong. Lalu segera menghampiri tubuh istrinya, menghalanginya dari Raffa yang berdiri di sana.
Raffa tidak sanggup menatap Arsene yang wajahnya itu masih terdapat luka hasil bogem yang ia torehkan di sana kemarin subuh. Terlihat merah kebiruan dan luka kering di ujung bibirnya. Raffa memundurkan langkahnya.
“Alhamdulillah, mulai besok Zaara udah bisa pulang. Tapi dia masih harus istirahat selama seminggu untuk pemulihannya. Kamu harus kasih semangat terus ya, Sen?!” ucap Sita tersenyum.
“Alhamdulillah. Siap insya Allah, Tante!” ucap Arsene berbinar.
“Ada yang mau ditanyakan atau mungkin ada yang mau disampaikan?” tanya Sita pada Arsene dan Zaara.
Sebenarnya ada yang ingin Arsene tanyakan pada sahabat ibunya itu. Hanya saja, ia khawatir dengan kondisi psikis Zaara yang masih tertekan. Jadi ia memutuskan akan menanyakannya nanti saja.
“Terima kasih banyak, Tante! Mungkin nanti kalau ada pertanyaan, akan saya tanya lewat telepon atau chat aja.” Arsene menjawab.
“Ah, iya. Baiklah! Jangan lupa obatnya diminum teratur ya, biar rasa ngilu di perutnya cepet sembuh!”
“Iya, Tante!” Zaara tersenyum kecil.
“Kalau gitu, Tante keluar dulu ya?! Semoga lekas pulih dan semangat selalu. Masa depan kalian masih panjang, insya Allah akan selalu ada harapan baru.” Sita tersenyum lebar dengan mata berkilauannya, lalu menoleh pada anaknya, menginstruksikan untuk keluar bersamanya.
Raffa mengangguk dengan ekspresi ragu-ragu. Hanya saja ia mengikuti langkah ibunya setelah mengangguk sebentar pada Arsene dan Zaara.
Sita dan Raffa berjalan di lorong klinik yang cukup luas itu. Tergelitik dengan pernyataan Raffa tadi, Sita ingin mengetahuinya.
“Emang apa yang ingin kamu utarakan?” tanya Sita. “Bukan karena masih pendam perasaan yang sama untuk gadis itu kan?!” lanjutnya memastikan.
Raffa terkekeh dengan wajah ketusnya.
“Bukan. Ini masalahku dengan Arsene!” jawabnya.
“Emang kenapa? Ada masalah apa kamu sama Arsene?” tanya Sita menghentikan langkahnya.
Raffa berdiri di depan ibunya. Sambil menyandarkan tubuhnya di depan sebuah pilar dengan posisi berdirinya, pria itu mengembuskan nafasnya kasar.
“Aku pukul dia kemarin!” ucapnya tertunduk.
“Apa?!” Sita berharap salah mendengar.
“Aku yang udah bikin Arsene terluka kemarin, Ma! Aku mau minta maaf! Tapi ternyata aku terlalu pengecut!” ucapnya mendengus. Ada rasa penyesalan dari tutur katanya.
“Kok bisa?! Apa yang kamu pikirkan?” tanya Sita ingin tahu.
“Aku pikir dia pria brengsek. Kerja di hotel tanpa pulang, entah, pikiranku kemana saat itu setelah melihat Zaara banyak mengeluarkan darah. Saat ketemu dia, aku gak bisa mengontrol emosi lagi.”
Sita menghela nafasnya. Ia tidak tahu lagi harus menghukum anaknya seperti apa agar emosinya itu bisa dikendalikan. Ia pikir anaknya sudah berubah total, tetapi tenyata belum sepenuhnya.
“Jangan picik, Fa! Setelah melihat Zaara dan kehilangan anaknya, Arsene diperiksa karena wajahnya pucat. Tekanan darahnya rendah, daya tahan tubuhnya menurun. Dia bilang sama dokternya kalau semalam dia ambruk dan terpaksa nginap di mess karyawan hotel. Daya tahan tubuh Arsene memang lemah dan gak sebanding sama kerjanya yang terus-terusan. Dan kamu tahu kenapa dia kaya gitu? Dia bekerja keras untuk keluarga kecilnya. Tokonya tutup, dan dia banting setir untuk kerja di restoran. Kamu bilang itu brengsek?!”
Raffa menghela nafasnya. Ia menyesal karena telah berpikiran buruk mengenainya.
“Mama gak mau kamu berpikir yang enggak-enggak, apalagi kamu gak pernah lihat fakta dia seperti apa di lapangan. Jangan pernah ikuti emosi kamu, oke?!” Sita mendekati anaknya.
Raffa tertunduk, merasa bersalah.
“Cepet selesaikan masalah ini!” ucap Sita, lalu meninggalkan anaknya yang tengah tertunduk itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Bersambung