
“Cinta?!” Arsene terkejut mendapati teman sekelasnya dulu ada di seberang matanya.
Gadis berambut panjang yang mengenakan tank top dan hot pants itu berlari ke arahnya dan berdiri di hadapannya. Arsene sontak berdiri dan mundur dengan tatapan terkejut.
“Kok bisa ada di rumah aku?!” tanya gadis itu antusias.
“Saya cuma antar pesanan Ibu Rachel!” jawabnya kikuk tanpa memandang gadis di depannya.
“Itu Mami aku! Emang Mami aku pesen apa sama kamu?” tanya Cinta penasaran.
“Cheesecake!”
“Wow! Itu kan kesukaan aku banget!” Cinta membungkuk dan melihat kantong yang dibawa Arsene di atas meja. Arsene mengalihkan pandangan ke arah lain, ada pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.
“Tunggu ya, aku panggil Mami. Mami mau pergi jadi lagi siap-siap dulu!” ujarnya mengambil kotak kue itu ke belakang.
“Astaghfirullah!” ucap Arsene menundukkan pandangan.
Tak lama kemudian wanita yang memesan kue tadi datang bersama Cinta di sebelahnya. Pakaiannya terlihat rapi dengan rambut merahnya tergerai. Sepertinya memang akan pergi.
“Jadi kalian saling mengenal?” tanyanya tiba-tiba menghampiri Arsene dan duduk di sofa berseberangan dengan pemuda yang mengenakan kaos berwarna biru muda itu.
“Arsene kan temen sekelas aku, Mami! Aku naksir sama dia dulu!” jawaban Cinta membuat Arsene menghela nafas.
“Lah sekarang masih naksir?!” tanya Rachel menatap wajah anaknya.
“Kalau ganteng gitu dan jago bikin kue, siapa yang gak naksir sih Mam!” ucap Cinta lagi-lagi membuat pria itu ingin segera berlari dari sana.
“Betul juga kamu!”
“Maaf Bu, saya harus segera pergi. Waktu saya tidak banyak karena masih ada urusan.”
“Oh gitu ya? Padahal saya mau kasih tambahan kalau kamu bisa temenin Cinta dulu sampai malam ini! Ya kalian kan bisa saling cerita-cerita karena pernah sekelas. Bisa gak?”
Arsene beristighfar dalam hati.
Rachel tampak memandangi pria muda itu lagi dengan tatapan matanya yang tajam. Arsene jadi salah tingkah dibuatnya, karena dua wanita berbeda generasi itu tengah memandangi dirinya.
“Wajah kamu mengingatkan saya sama seseorang di SMA dulu!” ucap Rachel tiba-tiba.
“Oh…”
Ada apa lagi ini? pikir Arsene.
“Emang mirip siapa, Mam?” tanya Cinta yang duduk di sisi ibunya.
“Mirip banget sama Ferdian, gebetan Mami di sekolah dulu!”
Lagi-lagi Arsene beristighfar, haruskah kebetulan terjadi dua kali dalam hari ini?
“Namanya Ferdian Winata. Dia cowok terganteng di sekolah tapi dinginnya minta ampun. Nama lengkap kamu siapa?” tanya Rachel.
“Ihhh Mami, nama akhiran dia juga Winata, iya kan Sen?!” sepertinya Cinta hafal betul nama panjangnya.
“I-iya betul. Nama saya Arsene Winata.”
“Wow, kebetulan yang sangat luar biasa. Jangan-jangan kamu anaknya Ferdian ya?” tembak Rachel.
Arsene tersenyum kaku sambil mengangguk.
Mata Rachel berbinar, tebakannya benar. Bahkan ia sudah menduganya sejak tadi di toko kalau pria muda ini mirip sekali dengan gebetan selama SMA-nya, Ferdian.
“Gimana kalau kamu pacaran sama Cinta? Dulu saya nembak bapakmu ditolak terus. Gak ada salahnya kan sekarang kalian mencoba pacaran! Siapa tau cocok, Cinta suka banget sama kamu!” ucap Rachel tanpa beban, membuat mulut Arsene ternganga.
“Saya sudah nikah, Bu!” jawabnya jujur dan tegas.
“APA?!” ucap Rachel dan Cinta berbarengan.
“Kamu udah nikah?! Usia kamu berapa sih? Masih 20 tahun atau 19 tahun kaya Cinta?!” tanya Rachel tidak percaya.
__ADS_1
“Iya betul, saya masih 20 tahun. Saya sudah nikah setahun yang lalu.”
“Sama siapa, Sen?! Kok gak ngundang aku sih?!” protes Cinta.
“Zaara!” jawabnya tersenyum lebar.
“ZAARA?!” tanya Cinta tidak percaya.
“K-kalian nikah?! Kok bisa?!” sepertinya hati gadis itu sudah remuk tertumbuk meteor sore.
“Emang siapa Zaara?” tanya Rachel pada anaknya.
“Zaara temen sekelasku juga, Mam! Mereka waktu itu sebangku. Padahal Zaara kan cewek sok suci yang jutek dan galak. Anin sempet kena kasus gara-gara anak itu!”
“Ooh…”
“Maaf Bu, saya butuh uang saya sekarang! Saya mau pergi, karena istri saya menunggu!” ucap Arsene memotong percakapan anak-ibu itu.
Rachel mendengus kesal. Ia mengeluarkan dompetnya.
“Berapa sih?” tanyanya kesal.
Arsene memberitahu nominal harga yang harus dibayar oleh wanita itu. Rachel memberikannya sejumlah uang.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih sudah membeli kue kami, semoga suka!” jawab Arsene ramah sekaligus pamit dari sana.
“Kok kesel ya denger dia udah nikah, nikahnya sama Zaara lagi?!” ucap Cinta pada dirinya sendiri sambil menatap punggung Arsene yang keluar dari pagar rumahnya.
“Nasib kita sama, Sayang! Bahkan dulu Mami kamu ini diketawain di atas panggung pas reunian. Padahal Mami kira Ferdian udah berubah makanya mau digandeng selama acara.” Rachel mengingat pertemuan terakhir kalinya dengan Ferdian saat itu.
“Lah Mami ketemu Papi kapan?” tanya Cinta.
“Ya habis pulang dari acara itu, Mami ketemu Papi kamu di bar!”
Keduanya mendesah kesal bersamaan.
\=\=\=\=\=\=
“Kok lama?” tanya Zaara melihat Arsene menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Hampir aja!”
“Hampir aja kenapa?”
“Hampir ditahan!”
Zaara menatap serius ke arah suaminya.
“Ditahan gimana maksudnya?”
“Ibu yang tadi beli itu ibunya Cinta!”
“Cinta?! Temen sekelas kita?” tanya Zaara memastikan.
“Iya. Masa aku disuruh temenin dia biar dikasih tambahan!”
“Hah, kok bisa?!”
“Ah dasar aja wanita aneh semua. Ternyata ibunya Cinta juga temen SMA-nya Daddy! Ah bikin pusing kepala aja! Aku dimintanya pacaran sama Cinta karena dia gak berhasil dapetin daddy dulu! Sumpah aneh banget!” Arsene mendengus kasar.
“Terus kamu gimana?”
“Ya aku kasih tau, aku udah nikah. Cinta kaget banget waktu tau kamu jadi istri aku!”
“Hahaha, pastinya! Dia yang sering aku omelin dulu karena genit, pastinya benci aku banget!”
“Pulang yuk!” ajak Arsene.
“Eh, ini masih banyak kuenya!”
__ADS_1
“Buat besok lagi aja. Aku capek, pengen pelukan di kasur.” Arsene memeluk pinggang istrinya.
“Di sini juga bisa kalau pelukan aja sih!”
“Yakin mau disini?” Pria itu menaruh dagunya di atas bahu Zaara.
“Ih kamu mikirnya apa sih?! Ini pasti mesum ya?” Zaara mencolek hidung suaminya.
Arsene malah tersenyum lebar menanggapinya.
Karena hari sudah gelap, terpaksa mereka menutup toko. Hanya dua buah saja kue yang laku hari itu, ditambah dengan pesanan Ibu Rachel tadi yang membuat Arsene jadi pusing dibuatnya.
Keduanya memutuskan untuk berbelanja bahan-bahan makanan untuk tiga hari kedepan, mengisi kulkas kosong di apartemen baru mereka setelah itu.
“Mau makan apa?” tanya Zaara saat berada di supermarket dekat dengan apartemennya.
“Aku sih bisa makan apa aja.”
“Ah, tapi nanti asam lambung kamu naik!”
“Eh iya sih! Tapi apa aja boleh lah, kalau naik tinggal minum obat.”
“Bandel!”
“Terserah kamu aja, Sayang!”
Zaara memang belum menyiapkan list belanja, karena kepergian mereka ke supermarket terlalu dadakan. Gadis itu akan belajar menyiapkan menu atau lebih sering dikenal dengan istilah ‘food preparation’, belajar menyusun menu harian plus keuangan belanja. Jadi hari ini, ia akan belanja apa saja yang ada di kepalanya.
Zaara mengambil beberapa ikat sayur bayam, kangkung, daun labu, satu ekor ayam potong, beberapa ekor ikan kembung, tahu, tempe, dan keperluan bumbu dan rempah memasak. Juga ia mengambil beberapa bungkus mie instan, telur, tepung, beras, minyak, dan makanan ringan untuk camilan. Mereka juga membeli perlengkapan kebutuhan hidup lainnya.
Hari semakin gelap saja ketika mereka telah selesai berbelanja. Zaara membawa dua kantong besar belanjaannya untuk dibawa di atas motor besar suaminya. Ia sedikit kewalahan karena teringat ada beberapa butir telur di dalam yang rentan pecah. Untung saja, apartemen mereka dekat jadi tidak butuh waktu lama menahan bawaan belanja itu. Zaara menyerahkan satu kantong belanjaannya pada suaminya. Mereka berjalan menuju lift untuk sampai ke kamar mereka di lantai 5.
“Jadi mau makan apa buat sekarang?” tanya Zaara. Gadis itu memasukkan sayuran dan bahan-bahan yang baru dibelinya ke dalam kulkas sambil dirapikan.
“Mie pake telur aja deh, biar gak susah!”
“Oke deh!”
Mereka bergegas mengambil air wudhu untuk shalat maghrib. Setelah itu Zaara menyiapkan makan malam.
“Struk belanja tadi masih ada gak?” tanya Arsene setelah selesai shalat. Ia duduk di kursi meja makan yang kecil itu.
“Eh dimana ya? Kayanya ada di dompet aku. Kenapa emangnya?” tanya Zaara menuangkan mie instan yang sudah jadi ke dalam mangkuk.
“Nanti tolong dicatat ya, buat evaluasi keuangan tiap bulan. Kamu download aja aplikasi pencatatan pengeluaran dan pemasukan biar gampang.” Arsene memajukan kursinya.
“Ooh…”
Arsene memang benar-benar perhitungan terkait keuangan. Zaara menurut saja.
Ia menyajikan mangkuk berisi mie, telur, dan sayuran itu pada suaminya.
“Maaf ya kalau aku terlalu rinci untuk keuangan kita. Aku ingin keuangan kita rapi, jadi bisa kita evaluasi. Apalagi kita gak bisa boros. Kamu bisa kan?” tanya Arsene, Zaara duduk di sebelahnya.
“Mudah-mudahan. Kamu ingetin aja terus, soalnya aku pelupa!”
“Iya!”
Keduanya menikmati makan malam sederhana yang nikmat.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung lagiii
Ayo Vote yang banyak yaa
Jangan lupa klik LIKE dan Comment
Makasiiih ^_^
__ADS_1