
Waktu bergulir begitu cepat. Bumi yang tidak pernah berhenti berputar sedetik saja, membuat manusia pun cepat berubah dan bertumbuh. Meski begitu manusia tetap menjalani aktivitas harian mereka tanpa rasa bosan, sambil sesekali menaruh harapan pada Yang Maha Kuasa. Hidup akan terasa hampa jika tanpa harapan dan impian. Manusia pun harus mengetahui hakikat tujuan penciptaan mereka di bumi untuk apa. Apakah sekedar memenuhi bumi yang sudah semakin padat? Ataukah ada tujuan lain, yaitu tunduk pada aturan Sang Pencipta dan bertanggung jawab pada amanah yang sudah diberikan kepada mereka? Maka dengan itulah mereka akan mengetahui untuk apa tujuan hidup mereka di dunia dan menjalani semuanya dengan ikhlas, meski ujian seringkali datang tiba-tiba.
\=====
Tujuh bulan kemudian
Pagi hari Ajeng disibukan oleh rutinitas hariannya menjadi ibu rumah tangga sekaligus dosen sebuah perguruan swasta elit. Ia menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Meski ada Bi Asih, Ajeng tetap berusaha untuk memasakan hidangan untuk keluarganya itu, karena ia ingin memastikan sendiri bahwa apa yang dimasaknya adalah makanan yang sehat dan bergizi, apalagi untuk Arsene yang kini sudah tumbuh menjadi bayi gemuk, sehat dan aktif. Usianya saat ini sudah 8 bulan. Ia masih mengonsumsi ASI dan sekarang ditambah dengan MPASI yang dibuat dan disiapkan oleh ibunya sendiri. Ajeng selalu menyiapkan stok ASI di kulkasnya agar Arsene bisa meminumnya selagi dijaga oleh Bi Asih.
Hari ini begitu spesial bagi Ferdian. Hari ini adalah hari ia diwisuda. Setelah berkutat dengan skripsi hampir kurang lebih 3 bulan ditambah dengan kuliah tambahan di semester delapan, akhirnya ia bisa melalui semua prosesi perkuliahannya. Ujian sidang skripsinya bisa dilewati dengan sangat baik. Bahkan pada saat itu, Ajeng yang sudah masuk kerja pun bisa melihat bagaimana suaminya mempresentasikan semua hasil penelitiannya di hadapan para dosen yang cukup senior dengan handal. Ferdian pun mendapatkan nilai A dari ujian sidang skripsinya. Hasil yang luar biasa mengingat ia pun sedang belajar menjadi seorang ayah bagi bayi lucunya, Arsene.
Ferdian telah selesai mempersiapkan dirinya, mengenakan setelan jas hitam dan kemeja putih lengkap dengan dasi navy-nya. Ia berdiri di depan kaca sambil memperhatikan penampilannya. Rambut pendeknya telah ia beri gel rambut agar terlihat rapi dan mengkilat. Ia juga telah selesai mencukur janggut dan kumis tipis yang selama ini tumbuh selagi ia menyelesaikan skripsinya. Ia mengambil pakaian wisudanya.
"Udah siap?" tanya Ajeng yang baru keluar dari walk in wardrobe-nya. Wanita itu pun tampak anggun dengan balutan gaun semi kebaya brukat berwarna abu keunguan dengan model rok A-line selutut. Ajeng menggelung rambutnya yang panjang, dan membiarkan sebagian anak rambut di depannya tergerai. Polesan wajahnya tampak minimalis yang ia pakai sendiri. Bibirnya terlihat segar dengan lipmatte berwarna maroon. Ia mengenakan sepatu stiletto berwarna silver menampakan kaki dan betisnya yang jenjang dan mulus.
"Cantik banget istri aku!" puji Ferdian memandangi istrinya dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas.
"Riasan aku udah tipis ya, Sayang!" ucap Ajeng memberitahu.
"Iya, aku tau kok," ucap Ferdian sambil mengecup pipi kanan istrinya.
"Arsene mana?" tanya Ajeng celingukan ketika ia melihat anaknya itu tidak ada di kursi bouncer kesenangannya.
"Bi Asih udah bawa duluan ke bawah," jawab Ferdian mengambil kunci mobilnya. Ia memberikan pakaian wisudanya kepada istrinya untuk dibawa.
"Ooh..."
"Yuk berangkat!"
Keduanya pun menuju keluar apartemen dan menyusul Arsene yang sudah berada di taman sedang menunggu kedatangan orang tuanya. Bayi itu tampak lucu dan menggemaskan. Apalagi dengan setelan tuksedo abu gelap dan dasi kupu-kupu yang tersemat di bawah lehernya. Kepalanya terlihat berkilauan di balik rambut tipisnya. Ia tertawa girang ketika mommy-nya datang dan menyambutnya untuk menggendong tubuh gemuknya.
"Arsene mau kemana udah cakep gini?" tanya Ajeng ketika ia menggendongnya.
Bayi menggemaskan itu hanya memainkan bibirnya dengan tangannya. Bi Asih sudah memasukan semua keperluan Arsene ke dalam mobil. Ia pun ikut ke acara wisuda Ferdian untuk menjaga Arsene selama prosesi berlangsung.
"Kita lihat Daddy wisuda ya, nanti ketemu Oma dan Opa di sana ya. Kamu jangan rewel ya Sayang?!" ucap Ajeng menciumi pipi gembul Arsene.
Ferdian memasang wajah konyol di hadapan anaknya itu dari balik kemudi. Arsene tertawa senang melihat wajah konyol daddy-nya.
"Kita berangkat ya?" ucap Ferdian yang langsung memacu mobilnya menuju kampus tepatnya ke gedung aula pusat yang berjarak 5 kilometer dari apartemen mereka tinggal.
Halaman parkir gedung aula pusat kampus sudah dipenuhi oleh kendaraan para kerabat calon wisudawan hari itu. Mereka pun turun dari mobil. Ferdian menurunkan stroller untuk dipakai Arsene, juga semua mainan dan keperluannya. Ajeng menaruh Arsene di dalam strollernya. Bayi itu tampak antusias melihat banyak orang yang berlalu-lalang di hadapannya. Untungnya, Arsene bukan bayi yang takut melihat banyak orang, ia memegang mainan kecil miliknya. Sementara itu, Ajeng membantu Ferdian memakai pakaian wisudanya. Ferdian tampak tampan dan gagah mengenakan jubah berwarna navy dengan list emas. Ajeng merapikan rambut Ferdian lalu memakaikan topi dengan bentuk segi lima itu.
"Done!" ucap Ajeng.
"Ganteng gak?" tanya Ferdian, ia membetulkan kerah kemejanya.
"Ganteng banget!" jawab Ajeng mencolek hidung suaminya.
"Yuk, ayah sama bunda udah di dalam."
"Oke!"
Jumlah wisudawan hari ini memang tidak terlalu banyak, Jadi di sekitar dan di dalam aula tidak terlalu penuh. Para kerabat yang tidak masuk ke dalam gedung pun hanya memenuhi kursi-kursi taman juga selasar pendopo yang ada di sana.
"Ferdian!" panggil seseorang. Itu Ridho dan juga Malik, yang juga menjadi wisudawan hari ini.
"Woy!" sapa Ferdian melihat dua kawannya menghampirinya.
Ridho dan Malik tersenyum mengangguk kepada dosennya, Ajeng.
"Wah ada baby Acen ikut wisudaan Daddy ya?" ucap Ridho mencolek pipi gembul Arsene.
"Iya dong. mau lihat Daddy wisuda!" ucap Ferdian.
"Kalian berdua aja?" tanya Ferdian.
"Orang tua gue sih udah di dalam. Ridho juga ya?" ucap Malik. Ridho mengangguk.
"Ohh...yuk ah, bentar lagi dimulai nih!"
Mereka pun berjalan beriringan menuju aula pusat. Sementara Ferdian, Ridho, dan Malik memasuki ruangan khusus para wisudawan, Ajeng dan Bi Asih menuju ruangan para tamu. Namun Bi Asih dan Arsene hanya menunggu di luar, mereka duduk di pendopo dan bertemu dengan Teh Ratih, asisten rumah tangga Bunda Bella yang sengaja ditugaskan juga untuk menjaga Arsene hari itu.
Ajeng bertemu dengan ayah dan bunda mertuanya di dalam ruangan tamu. Ia duduk di samping mereka untuk menyaksikan prosesi wisuda Ferdian. Ruangan yang luas itu pun menggelar acara yang paling ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa untuk melepas status mereka dan menjabat gelar baru menjadi sarjana.
Prosesi berlangsung tertib dan tenang, selama kurang lebih tiga jam. Arsene bayi yang mudah antusias jika diajak berjalan-jalan. Bi Asih dan Teh Ratih membawanya berjalan-jalan mengelilingi taman kampus yang terlihat hijau dan segar. Jadi Ajeng cukup tenang karena selama mengikuti prosesi wisuda suaminya, tidak ada yang menghubunginya. Ferdian dan kawan-kawannya keluar setelah prosesi wisuda selesai. Ia berkumpul bersama kawan-kawan seangkatannya yang wisuda berbarengan. Mereka juga banyak mengambil foto-foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Ajeng yang baru keluar dengan ayah dan bunda mertuanya, menghampiri suaminya.
"Udah selesai?" tanya Ajeng yang riasannya masih tetap rapi.
"Udah!" jawab Ferdian melepas topi toganya. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
"Miss Ajeng, foto yuuuuk!" ucap Gina yang berlari ke arahnya. Ia juga wisudawati hari ini.
"Ayo!" ucap Ajeng.
Kedua perempuan itu berfoto bersama, Ferdian yang mengambil fotonya lewat kamera ponsel kawan sekelasnya itu. Tak lama, kawan-kawannya yang lain pun bersorak meminta untuk berfoto bersama dengan dosen kesayangan mereka semua. Para wisudawan dan wisudawati dari jurusan Sastra Inggris berkumpul dan berfoto bersama dosen-dosen mereka yang menghadiri acara wisuda. Ada Pak Julian, Mr. Mike, Andre, Novi juga Ardi yang juga hadir. Mereka pun memasang berbagai macam ekspresi wajah ketika sang fotografer merekam gambar mereka dalam kamera beberapa kali.
"Selamat ya buat kalian semua," ucap Ajeng pada mahasiswa-mahasiswanya.
"Miss Ajeng, mana dedeknya? Dibawa gak?" tanya Gina.
"Lagi jalan-jalan," jawab Ajeng.
"Iih pengen lihat lagi, pasti lucu banget!" ucap Gina riang.
"Iya dong lucu kaya Daddy nya!" ucap Ferdian percaya diri.
Gina mencebik, diikuti oleh teman-temannya yang lain. "Lo mah udah gak pantes dibilang lucu, Fer!"
"Terus apa? Keren ya?"
Ajeng menggeleng-geleng saja melihat suaminya yang kepedean itu. Sementara teman-temannya yang lain, yang kebanyakan laki-laki memasang ekspresi seperti menahan mual dan muntah.
__ADS_1
"Nah tuh, datang baby daddy yang paling ganteng!" ucap Ferdian. Ia menghampiri Arsene yang masih duduk di dalam stroller sambil memegang boneka Teddy Bear mini kesukaannya. Ferdian menggendongnya dan membawanya ke hadapan kawan-kawannya.
"Pinjem dong Fer!" seru Gina yang sudah tidak sabar. Ferdian pun memberikan Arsene padanya.
"Ya Allah, berat banget!" seru gadis tomboy itu. Sementara Arsene memandangi wajah perempuan di hadapannya dengan heran, merasakan gendongannya tidak nyaman, bayi itu mulai merengek dan melihat ke arah ayahnya.
"Ah lo mah gak bisa gendongnya tuh makanya nangis!" ucap Ferdian mengambil kembali tubuh Arsene dari Gina.
"Ya gue gak pernah gendong bayi sih!"
"Buruan nikah makanya biar bisa gendong."
"Ya elah mau gendong bayi aja kudu nikah dulu, ogah lah entaran aja gue mah!"
Ferdian tertawa-tawa saja mencandai temannya itu.
Tidak lama, Syaiful, Danu, Ghani, Sally dan Lisa datang. Mereka mengucapkan selamat kepada kawan-kawan mereka yang diwisuda hari ini dan meminta doa agar mereka juga bisa segera menyusul.
"Hey Acen, Om ganteng datang nih!" ucap Syaiful mengambil tangan Arsene dan menyalaminya.
"Ganteng-ganteng apes!" celetuk Danu.
Kawan-kawannya yang lain menertawainya. "Eh entar liat aja ya, taun depan gue sebar undangan!" ucap Syaiful percaya diri.
"Undangan khitanan, wkwk!" kali ini celetukan Sally, berhasil membuat kawan prianya itu merah padam. Ia menjambak rambut panjangnya.
"Sakit, Ipul!" protes Sally.
"Kalian tuh cocok tau gak! Sering berantem gitu nanti lama-lama suka!" ucap Ferdian, yang kemudian membuat mata mereka membesar.
"Najis!" seru Syaiful
"Ih amit-amit deh!" seru Sally.
"Kalian mending nikah aja habis lulus, soalnya sama-sama senasib. Cinta Ipul selalu kandas, Sally juga kandas gara-gara Mister Andre tunangan sama mahasiswanya yang lain. Haha!" ucap Ghani. Sally memandangi Syaiful yang juga memandangnya.
"Hoek!" ucap keduanya berbarengan.
Kawan-kawan mereka pun hanya bisa menertawai mereka.
"Oh iya ini spesial buat kalian yang wisuda, masing-masing satu buket!" ucap Lisa memberikan satu buket bunga pada Ferdian, kemudian Gina.
Sementara Sally memberikan buket bunga yang dipegangnya pada Ridho dan Malik.
"Thanks ya!" ucap Ferdian.
Arsene yang masih digendong oleh ayahnya itu terlihat senang ketika melihat warna-warna mencolok dari bunga-bunga itu. Ia pun berhasil meraih salah satu kelopak bunga mawar berwarna merah dan memasukannya ke dalam mulut.
"Oh no! That's not good, Cen!" ucap Ferdian menahan lengan bayinya.
Ferdian memberikan Arsene pada istrinya. Ia pun memeluk ayah dan bundanya yang sedari tadi belum ditemuinya. Pak Gunawan telah sembuh, ia sudah bisa berjalan kembali meski masih sedikit terpincang-pincang.
"Ayah sehat?" tanya Ferdian.
"Alhamdulillah, gak pernah sesehat ini sebelumnya! Apalagi lihat kamu wisuda sambil momong cucu ayah gitu," ucap ayah menepuk pundak anaknya.
Ferdian tersenyum lebar.
"Yuk kita langsung ke resto aja, Bunda udah reservasi meja di sana untuk makan siang!" ucap ayah lagi. Ia juga mengajak Pak Yusuf dan keluarganya, yang adalah orang tua dari Ridho.
Mereka pun berlalu dan pergi menuju sebuah resto khas Sunda di kawasan dekat Gedung Sate. Ferdian memarkir mobilnya. Ia pun keluar bersama istrinya yang menggendong Arsene yang tertidur pulas setelah disusui. Mereka menghampiri sebuah meja panjang yang sudah ditempati oleh ayah dan bunda Ferdian, juga ada Pak Yusuf, Ridho, dan keluarganya di sana. Keluarga Ridho memang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Pak Gunawan, karena Pak Yusuf sendiri sudah menjadi supir andalan Pak Gunawan sejak ia masih muda.
Ferdian duduk di hadapan ayahnya, sementara Ajeng di sampingnya. Arsene tertidur di dalam stroller dengan nyaman, agar Bi Asih bisa juga menikmati hidangan makan siang kali itu. Tak lama kemudian, mereka disuguhi oleh berbagai macam masakan khas Sunda yang tersaji di atas meja. Ada gurame goreng, ayam rempah goreng, sayur asam, karedok, tumis kangkung, berbagai jenis sambal uleg dan ikan asin, juga sayur lalapan. Ada juga berbagai jenis makanan penutup mulut yang manis dan segar juga jus buah-buahan.
"Makan yang banyak ya Jeng!" ucap bunda ketika menantunya itu mengambil nasi untuk suaminya.
"Iya Bun!" jawab Ajeng.
"ASI kamu banyak ya?" tanya bunda.
"Alhamdulillah Bun, berlebih malah. Kulkas aja udah penuh sama stok ASI buat Arsene, makanya kemarin beli freezer buat nyimpen," terang Ajeng.
"Wah bagus ya! Gak heran Arsene gemuk gitu."
"Iya rezeki Arsene!"
Mereka semua pun menyantap hidangan makan siang dengan nikmat dan lahap. Restoran khas Sunda itu memang sudah jadi langganan Keluarga Winata jika ada acara besar mereka selalu mampir kesana. Sambal terasi selalu jadi andalan, membuat nafsu makan semakin besar saja. Apalagi kalau sudah disantap bersama sayur asam yang segar. Rasanya kepala yang cenat-cenut pun akan hilang seketika.
Ferdian tampak sedang menikmati es sup buah segar setelah berhasil menghabiskan nasi dua porsi bersama lauk dan sayur lainnya.
"Kamu udah pikirkan baik-baik rencana kamu setelah lulus Fer?" tanya ayahnya yang juga sedang menikmati es goyobod.
"Udah Yah!" jawab Ferdian.
"Terus apa rencana kamu?" ayahnya pasti merasa penasaran akan kemana anak laki-laki terakhirnya itu berlayar setelah kuliahnya selesai.
"Aku mau fokus sama bisnis aku dulu!" jawab Ferdian.
Jawaban Ferdian tentu saja membuat ayah di hadapannya itu tersenyum lebar.
"Kita akan coba menggeluti bidang fashion, mungkin Leon sudah kasih tau kamu. Nanti rencananya ayah akan tunjuk kamu di divisi itu. Tapi..." ucapan ayahnya itu terputus.
"Tapi apa Yah?"
"Nanti lah, kita obrolkan lagi lain kali. Kamu nikmati dulu aja acara kamu hari ini," ucap ayah sembari kembali menyuapkan dessert itu ke mulutnya.
Ferdian tersenyum singkat, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya terkait ucapan ayahnya tadi.
__ADS_1
\=====
Hari sudah petang, setelah menikmati hidangan makan siang bersama-sama, keluarga Winata langsung berangkat menuju foto studio langganan mereka. Akhirnya foto keluarga Winata dengan anak-anaknya yang berkostum pakaian wisuda sebentar lagi lengkap. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
"Udah nyampe Sayang!" ucap Ferdian pada istrinya yang tertidur sambil memangku Arsene.
"Mmh..."
"Yuk sini biar aku yang gendong Arsene!" ucap Ferdian.
Mereka pun keluar dari mobil dan kembali menuju hunian apartemen mereka. Ajeng membantu Bi Asih membawa perlengkapan milik Arsene.
Ferdian menaruh tubuh Arsene di atas kasurnya. Ia pun berlalu dan melepas kemejanya.
"Sayang..." panggil Ajeng.
"Kenapa?"
"Tolong ini kalung aku nyangkut di belakang!" ucap Ajeng.
Ajeng memilin rambutnya dan menaruhnya di depan dadanya agar suaminya itu bisa melihat kalungnya yang tersangkut di kain brukat gaunnya. Sementara itu Ferdian mencoba melepas benang yang tersangkut dengan hati-hati.
"Udah!"
"Makasih Sayang!"
"Sama-sama," jawab Ferdian.
"Eh kamu mau mandi?" tanya Ajeng melihat suaminya melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya.
"Iyalah, gerah banget! Kenapa, mau bareng?"
Ajeng menyengir dan langsung saja mencuri start masuk ke dalam kamar mandi, meski ia masih mengenakan gaunnya. Ia melepasnya di dalam kamar mandi.
Keduanya memutuskan untuk berendam bersama, aktivitas yang tidak pernah mereka lakukan setelah Arsene lahir.
"Sayang...." panggil Ferdian.
"Hmm?"
"Kalau menurut kamu, misalnya nih ya, kalau aku tiba-tiba ditunjuk ayah jadi pimpinan perusahaan gimana?" tanya Ferdian yang masih berada di dalam bathub. Ia menyandarkan tubuhnya, sementara Ajeng berada di depannya, menghadap ke arahnya.
"Kamu ukur diri dan kapasitas aja, kira-kira bisa gak? Menurut aku sih kesempatan bagus, apalagi ayah percaya sama kamu. Kesempatan ini harusnya jangan kamu sia-siakan."
"Gitu ya? Kalau aku sih bisa-bisa aja naikin potensi aku. Cuma yang aku khawatirkan, apakah kakak-kakakku nanti bakal gak suka? Soalnya kan mereka yang ngurus bisnis ayah selama sakit."
"Aku rasa kakak-kakak kamu bukan tipikal orang kaya gitu deh."
"Aku cuma khawatir."
"Jangan terlalu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Meskipun kamu tetep aja harus mempersiapkan diri untuk hal-hal yang tidak terduga yang akan terjadi nanti," ucap Ajeng yang menopang dagu pada lututnya.
"Iya betul sih. Lagian mungkin entah kapan ayah tunjuk aku jadi pimpinan perusahaan, hihi!"
"Siapin diri aja, Sayang! Kamu mesti belajar banyak setelah ini untuk fokus ke bisnis kamu."
Ferdian menghela nafas.
"Rasanya aku ingin terus jadi mahasiswa sastra aja deh!"
"Kenapa?"
"Ya biar aku bisa barengan sama kamu terus. Biar aja sambil bawa Arsene ke kampus. Yang penting kita barengan."
Ajeng tertawa. "Tiap hari juga kita barengan di siini!"
"Ngurusin bisnis itu masalah pelik, bukan cuma urusan kita aja yang dipikirin. Tapi masalah hidup orang lain pun harus kita pikir baik-baik, agar mereka bisa tetep bertahan kerja di perusahaan kita dan mereka bisa hidup dengan layak dari kerjaannya itu."
"Aku yakin kamu bisa. Kamu aja bisa pikirin hidup aku dan Arsene, bikin kita bahagia. Berarti kamu juga bisa pikirin masalah karyawan kamu nanti dan bisa bikin hidup mereka lebih baik."
"Makasih Sayang!" ucap Ferdian, ia menarik lengan istrinya dan mencium bibirnya.
Suasana di sana sebenarnya mulai panas, hanya saja sesuatu berhasil membuat mereka terkejut.
"Arsene bangun!" ucap Ajeng melepas dirinya dari tubuh suaminya. Tangisan Arsene begitu kuat sehingga membuat wanita itu segera beranjak dari bathub dan langsung pergi ke shower room untuk membersihkan tubuhnya.
Ferdian tampak melongo dan membeku melihat istrinya pergi, padahal ia berharap mendapat hadiah istimewa dari istrinya hari ini.
\=====
Sabar ya Fer >.<
Jangan lupa
LIKE (wajib yes? maksa :D)
COMMENT (tinggalin jejak kalau kamu baca karya ini, meski cuma 'up' atau 'lanjut')
VOTE (support author okey, 10 poin juga gak apa-apa yang penting ikhlas)
TIPS (yang punya koin bisa kasih sedekah, wkwk)
Follow instagram author @aeriichoi
Makasih banyak buat yang sejauh ini udah support dan terus membaca karya ini
Love youuu <3 <3
Di episode ini sebenarnya udah masuk ke tahap selanjutnya kehidupan Ajeng dan Ferdian. Ferdian udah lulus, dan Arsene sudah tumbuh.
Duh author jadi terharu :')
Ujian hidupnya otomatis akan bertambah, meski author juga belum tau ujian apa yang akan dihadapi Ferdian dan Ajeng nantinya
__ADS_1
Love love for you
Keep support yaa