
Ferdian menarik koper dari lemari penyimpanannya. Sebuah koper berwarna hitam ia buka resletingnya. Hatinya terasa sedih. Sementara Ajeng sedang melipat baju dan celana suaminya.
"Kamu main sama Arsene aja ya, aku yang beresin barang kamu!" ucap Ajeng sambil melipat sebuah kaos kesukaan Ferdian berwarna hitam.
"Iya," jawab Ferdian.
Ferdian pun berjalan ke ruang tengah, dan bermain bersama anaknya di sana. Rencananya, dua hari lagi adalah keberangkatan Ferdian ke Chicago, Amerika Serikat. Kantor perusahaan ayah Ferdian bekerja sama dengan lembaga bisnis dan pusat pelatihan para pemimpin perusahaan berkualitas di sana. Jadi, Ferdian akan mengambil short course selama enam bulan terkait kepemimpinan dan manajemen bisnis. Ternyata pelatihan itu pun pernah dilahap juga oleh kedua kakaknya yang lain, yaitu Damian dan Resha ketika usia mereka masih 25 tahun. Ferdian akan pergi mengikuti pelatihan ini di usianya yang akan menginjak 23 tahun.
Ajeng mengenakan headset di telinganya. Ia memutar alunan musik yang menemani aktivitas hariannya. Sambil merapikan dan memasukan baju suaminya ke dalam koper, wanita itu mulai terisak, menangisi kepergian suaminya dua hari lagi. Ia berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar keluar. Beberapa kemeja, kaos, celana jeans, celana tidur ia masukan ke dalam koper. Ia mengambil sebuah dress miliknya. Sebuah gaun tidur bermotif bunga mawar berwarna peach ia keluarkan dari lemari. Ia tahu dressnya itu adalah favorit suaminya ketika ia kenakan di malam hari. Ia menyemprotnya dengan parfum miliknya dengan banyak semprotan sehingga tercium menusuk hidung. Lalu ia melipat dan memasukannya ke dalam sebuah kantung kertas. Ia selipkan di antara pakaian milik suaminya. Ia mengusap pipinya yang basah karena tangisnya.
Ia mengambil sesuatu dari dalam laci lemarinya. Ada sebuah kotak kecil di sana. Lalu ia menulis di sebuah kertas.
"Especially for you, semoga kamu selalu pakai ini kemana pun pergi. Love from us, Ajeng & Arsene! We always miss you!"
Kertas itu disisipkan di dalam kotak itu bersama isinya. Lalu Ajeng menaruhnya di tumpukan pakaian Ferdian paling bawah.
Ajeng telah selesai merapikan dan memasukan semua pakaian dan barang-barang milik suaminya itu ke dalam koper. Ia berdiri di depan sebuah kaca dan memperhatikan wajahnya yang terlihat sembab. Lalu ia membubuhi sedikit bedak dan concealer di wajahnya agar tidak terlihat baru saja menangis.
Ajeng pun keluar, ia memperhatikan suami dan anaknya yang ternyata sekarang sama-sama sedang tertidur pulas di atas karpet bulu yang tergelar di sana. Ajeng tersenyum melihat pemandangan itu. Tubuh Arsene berada di atas tubuh daddy-nya, mereka sama-sama pulas. Ajeng mengambil foto mereka berdua. Lalu menghampiri dan menciumi ke dua laki-laki kesayangannya.
\=====
Ajeng baru saja menaruh Arsene di atas kasurnya setelah anak itu tertidur pulas di pangkuan ibunya, sehabis menyusui. Ferdian tampak gelisah dalam tidurnya. Pria itu memang belum benar-benar tertidur. Besok siang ia akan pergi ke bandara. Ya, besok adalah kepergiannya ke Amerika. Ia tidak bisa tidur untuk menyambut hari esok.
Ajeng merasakan kekhawatiran itu. Ia menghampiri suaminya dan mendekatkan wajahnya.
"Kamu gak bisa tidur?"
Ferdian membuka matanya dan menatap istrinya. Ia hanya mengelus kepala istrinya itu tanpa bersuara.
"Butuh bantuan?"
"Bantu apa?" tanya Ferdian mengernyitkan alisnya.
Ajeng bangun dan terduduk di atas kasurnya. Ia menyalakan ponselnya lalu menyetel sebuah musik instrumental yang syahdu dari alunan piano. Lalu ia menarik tangan suaminya sehingga Ferdian pun ikut terduduk. Ajeng memandangnya lekat. Ia menyentuh kening lalu turun ke pipi kekar suaminya. Satu jarinya ia sentuhkan ke bibir suaminya. Ferdian menatapnya dengan hati berdebaran, jantungnya terus berpacu setiap merasakan sentuhan lembut istrinya. Darahnya berdesir ke seluruh tubuh, mengirimkan sinyal cinta ke otaknya.
Ajeng menatapnya sendu lalu mulai mendekatkan wajah dan bibirnya sehingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Mata mereka saling terpejam, dengan bibir yang saling bertautan lembut diiringi oleh alunan musik instrumental sehingga suasana begitu syahdu. Ciuman mereka semakin terasa basah, karena salah satu dari mata milik mereka tengah meneteskan air mata.
"Please don't cry (Kumohon jangan menangis)!" ucap Ferdian lembut dengan iringan nafas yang tidak beraturan. Ia mengusap air mata yang menetes mengaliri pipi istrinya.
"Aku pergi cuma sebentar," ucap Ferdian lagi dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Ajeng mengangguk, lalu kembali memejamkan matanya lagi, membuang air mata yang tersisa di sana. Sementara suaminya melanjutkan pekerjaannya untuk menyisakan kenangan yang tidak akan pernah terlupa di malam itu, malam perpisahan sementara untuk enam bulan kedepan. Sehingga cinta di antara mereka akan terus bersemi meski raga mereka berpisah untuk waktu yang sebentar saja.
\=====
Hari itu telah tiba. Hari kepergian Ferdian menuju Amerika. Pak Yusuf mengantar mereka ke bandara internasional di Cengkareng. Tidak banyak percakapan di jalan selama menuju bandara. Ferdian hanya membiarkan istrinya tertidur di pelukannya. Sementara Arsene tampak nyaman berada di dalam carseat. Ayah dan Bunda ikut mengantarnya. Tidak lupa, ada Ridho di sana yang akan membersamainya sampai Amerika.
Angin meniup lembut rambut Ajeng ketika ia turun setelah Pak Yusuf memberhentikan mobil mereka di depan pintu lobi bandara dan menurunkan semua barang. Ferdian dan Ridho akan take off di malam hari setelah isya. Sore itu mereka telah sampai. Ferdian menghela berat nafasnya. Di lengannya masih ada Arsene yang terus digendongnya. Lalu ia memberikannya pada istrinya.
"Bunda, Ayah, aku berangkat dulu. Aku titip Ajeng dan Arsene," ucap Ferdian lirih menatap pada ayah bundanya.
"Sehat dan lancar ya kamu di sana!" ucap bunda memeluk anaknya itu.
Ajeng melihatnya dengan tatapan sendu. Sementara hatinya sendiri sudah terasa sesak.
"Hubungi ayah kalau terjadi sesuatu, ayah yakin kamu bisa!" ucap ayah ketika memeluk Ferdian.
Ferdian menggeser tubuhnya ke hadapan istrinya yang sudah berderai air mata.
Bunda mengambil alih Arsene dari Ajeng. Ferdian menangkup kedua pipi istrinya, ia memperhatikan wajah istrinya itu, lalu mengusap air matanya dengan jempolnya. Ia menempelkan keningnya pada kening istrinya. Keduanya bernafas terasa berat, seperti ada yang mencekik leher mereka.
"I'll be back soon (Aku akan kembali secepatnya)," ucap Ferdian lirih.
Ajeng tidak bisa berkata apa-apa. Suaranya tertahan di dalam dadanya.
Mata Ajeng terus berderai air mata yang tidak pernah bisa dihentikannya saat ini. Ayah dan bunda memandang mereka dengan simpati.
"I love you so much!" ucap Ferdian, ia mencium bibir istrinya untuk terakhir kali dalam enam bulan ini, lalu mendekapnya erat, erat sekali seakan tak pernah ia ingin lepaskan. Cintanya untuk Ajeng begitu besar.
"I love you too," ucap Ajeng dengan susah payah, karena nafasnya tercekat.
Ferdian menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman. Lalu ia menggendong anaknya.
"Please wait for Daddy, okay(Tunggu ayah pulang ya)?"
"Okay!" jawab Arsene lembut dengan suaranya yang imut.
"You're a great boy, take care of your mom (Kamu anak baik, jaga ibumu ya)!"
"Okay, Daddy!" jawab Arsene lagi.
Ajeng dan yang lainnya tersenyum melihat Arsene yang sudah pandai menjawab pertanyaan daddy-nya. Ferdian mengecup pipi Arsene beberapa kali. Arsene pun membalas kecupan itu. Ferdian tersenyum lega. Ia memberikan Arsene pada istrinya. Lalu ia menarik koper miliknya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum...." ucap Ferdian berpisah dengan keluarga tercintanya, ia menatap satu persatu anggota keluarganya. Sebelum pergi, ia sempat mengambil tangan istrinya. Lalu melepasnya dengan pelan, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Wa'alaikumsalam..." jawab semuanya.
Ridho pun berjalan duluan, ia juga sudah pamitan dengan orangtuanya, dan orang-orang yang juga bersama Ferdian.
"Dho, titip Ferdian ya?" ucap Ajeng lirih ketika Ridho berpamitan padanya.
"Siap, Miss!" ucap Ridho tegas.
Ajeng melihat punggung Ferdian yang sedang menarik koper kemudian mulai memasuki bandara, setelah ia memperlihatkan boarding pass miliknya pada petugas bandara.
Ferdian melambaikan tangannya seraya tersenyum.
"Bye, daddy!" ucap Ajeng mengintruksikan pada anaknya.
"Bye bye, daddy!" ucap Arsene yang ikut melambaikan tangannya.
"Mwuaah.." Arsene memberinya kecupan jarak jauh.
Ferdian tersenyum memperlihatkan giginya ketika mendapat kecupan jauh dari anaknya itu. Ia pun berlalu dari sana, membawa hati yang berat karena cintanya yang tertanam.
"If only I could choose, then I'll choose that I will never be far from you even a second
But I believe, our love will last forever wherever we are"
(Jika saja aku boleh memilih, maka aku akan memilih untuk tidak berjauhan denganmu meski sedetik saja
Tetapi aku percaya, cinta kita akan selalu bertahan selamanya, dimana pun kita berada)
- Ferdian
\=====
Dengerin lagu instrumen, makin kerasa sedihnya
Hiks hiks
Mana komennya nih
Like dan votenya yaa
__ADS_1
Makasiiiih ^_^