
Dua anak kecil berlari-lari kecil di halaman, mengejar bola berwarna-warni milik salah satunya. Keduanya sudah sangat akrab meskipun statusnya adalah paman dan keponakan kecil. Itu Finn dan Ryu yang sedang bermain tendang bola di halaman belakang rumah Ferdian. Sudah menjadi kebiasaan, Arsene selalu membawa keluarga kecilnya menginap di rumah orangtuanya saat akhir pekan. Begitu pula hari itu.
Rencananya, hari itu Keluarga Ferdian akan kedatangan tamu dari jauh. Tamu yang selama ini jarang datang berkunjung karena tinggal di luar negeri. Padahal ia adalah sahabat Ferdian sejak kecil, yaitu Ridho Effendi. Ya, Keluarga Ridho akan datang berkunjung hari Sabtu itu.
Ajeng dan Zaara, juga dibantu Kirei, menyiapkan segala sesuatunya khususnya untuk masalah hidangan. Meski ada Arsene di sana, hanya saja Arsene lebih sibuk memperhatikan putra dan adik bungsunya yang bermain bersama. Sementara Ferdian memastikan semua asisten rumah tangganya merapikan rumahnya.
Matahari sudah naik semakin hangat saja. Arsene mengambil Ryu, dan menyuruh Finn untuk beristirahat. Finn berumur enam tahun, sedangkan Ryu sudah tiga tahun. Kedua bocah itu sangat akrab satu sama lain ketika bertemu. Bahkan Finn selalu merindukan keponakan kecilnya itu.
“Finn, minta minum sama Mommy, gih!” seru Arsene melihat adiknya yang berpeluh keringat dan kehausan.
‘Aku mau mandi lagi,” ucap bocah bermata sipit itu dan berambut tebal seperti ayahnya.
“Bilang dulu sama Mommy!” seru Arsene lagi yang masih menggendong Ryu yang sama-sama berkeringat.
“Mau mandi juga,” ucap Ryu.
“Tanya sama uma dulu ya?” ajak Arsene membawa balita putih itu pada ibunya.
“Uma, Ryu boleh mandi lagi gak?” tanya Arsene menghampiri istrinya yang berada di dapur.
Zaara menghampiri mereka.
“Lengket banget sih!” ucap Zaara menyentuh tubuh anaknya.
“Habisnya lari-lari terus.”
“Udah kalian berenang aja,” seru Ajeng yang sedang membuat sup buah.
“Yeaa aku mau berenang!” seru Finn riang langsung membuka bajunya di dapur dan berlari menuju kolam renang kecil di belakang.
“Aku mau renang,” Ryu ikut bersorak dengan suaranya imut dan pelafalan yang belum jelas.
“Aduh, ayah jadi ikut basah-basahan!” keluh Arsene.
“Ya udah bentar aja, tamunya juga belum dateng,” ucap Zaara.
“Ya deh!” Terpaksa Arsene mengikuti keinginan anaknya dan ikut terjun ke kolam renang kecil itu untuk mengawasinya.
Bola-bola kecil dan pelampung bermacam karakter mengambang di atas kolam renang. Finn dengan riang menciprat-cipratkan air pada wajah Ryu yang juga antusias. Arsene jadi terbawa suasana, ia ikut bermain dengan adik bungsu dan anaknya di sana.
Selama beberapa puluh menit, ketiganya asyik bermain. Zaara menghampiri, membawakan handuk bagi anaknya.
“Ryu udahan yuk?!” ajaknya ramah.
“Tuh kata uma udah, besok lagi ya?” bujuk Arsene membawa balita itu ke atas teras.
Zaara segera melilit tubuh anaknya yang hanya mengenakan celana dalam saja dengan handuk dan pergi dari sana untuk dibersihkan kembali.
“Finn, udahan! Besok lagi. Nanti ada temen daddy datang,” ajak Arsene.
“Huuuuh!” bocah itu hanya bisa mengeluh sebelum akhirnya Ajeng datang dan mengajaknya untuk mengakhiri permainan itu.
\======
Sebuah mobil van hitam terparkir di depan pagar kediaman Ferdian. Tak lama beberapa orang turun dari sana. Dua orang remaja berambut cokelat gelap, satu anak kecil berusia lima tahun yang rambutnya dikuncir dua, satu orang balita berambut pirang, dan sepasang suami istri.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” seru pria berambut shortcut khas dengan setelan kemeja kaos dan celana jeansnya. Kacamata bertengger di wajahnya, ia menggendong seorang balita berkulit terang khas bule, diikuti oleh keempat anggota keluarga lainnya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Ferdian yang keluar dari pintu depan rumahnya.
“Masya Allah, Idhoo!” seru Ferdian riang melihat sahabat yang sudah lama tidak ditemuinya, kecuali saat reuni 5 tahun yang lalu.
Ridho menurunkan balitanya dan berpelukan dengan sahabatnya. Saling menepuk punggung dan melepas rindu. Mereka saling bertatapan, antusias dengan momen ini.
“Apa kabar, Men?” tanya Ridho menepuk pundak sahabatnya yang tinggi.
“Alhamdulillah. Gimana kamu, Dho?”
“Alhamdulillah luar biasa, emejing!” ucap Ridho tertawa-tawa.
Ajeng, Arsene, dan Zaara keluar juga untuk menyambut tamu mereka.
“Udah nambah lagi Dho?” tanya Ferdian menatap pada balita bule yang selalu meminta untuk digendong Ridho.
“Ya gitu lah!” ucap Ridho terkekeh-kekeh menggendong kembali balita itu.
“Ayo masuk-masuk!” ajak Ferdian.
Ferdian membawa tamunya ke teras belakang yang luas, agar pertemuan itu terasa hangat karena banyak anak-anak mereka.
“Masya Allah, anak-anak kamu Dho, cakep semua!” seru Ajeng ketika anak-anak Ridho menyapanya.
“Alhamdulillah Miss. Rezeki dapet istri bule, hehe…” ucapnya terkekeh dan tidak pernah melepas panggilan untuk dosennya itu.
__ADS_1
Ajeng, Ferdian, Ridho dan Patricia duduk di sofa yang sudah dipindahkan ke teras.
“Siapa ini namanya?” tanya Ferdian pada balita yang selalu digendong Ridho.
“Marcello, panggilannya Cello.”
Balita itu tampak dingin dan terdiam menatap semua wajah baru di sana.
“Berapa usianya?” tanya Ajeng.
“Tiga tahun,” jawab Patricia.
“Wah, seumuran atuh ya sama Ryu,” ucap Ajeng.
“Siapa Ryu?” tanya Ridho polos.
“Cucu, Dho! Cucu!” seru Ferdian tertawa-tawa.
Ridho tertawa-tawa lupa kalau sahabatnya itu sudah menjadi kakek muda.
“Abaaang, mana Ryu?” tanya Ajeng pada Arsene baru menata kue di meja prasmanan.
“Ryu masih di atas sama umanya.”
“Sini ajak main, ada temen sebayanya,” seru Ajeng.
“Yes, Mom!”
Mereka saling berbincang hangat, menanyakan kabar dan saling bercerita di sana.
“Tumben pulang, Dho! Padahal bukan lebaran,” ucap Ferdian yang mengambil cookies di atas meja.
“Iya lagi ada perlu nih.”
“Sama Leo?” tebak Ferdian, menyelidiki kakak kandung Patricia.
“Ya gitu lah. Leo yang punya perlu, dia butuh bantuan aku. Ya Hon?” Ridho menyenggol istrinya yang sedang menyuapi Cello.
“Ya, kakakku yang sedang ada perlu. Sekalian berlibur di sini,” jawab Patricia.
Ferdian memang mengetahui keberadaan Leonardo Bocchi, kakak kandung Patricia, yang mendirikan perusahaan media di kota ini, yang juga bagian dari grup Winata Media Utama, perusahaan media milik keluarga besarnya.
“Dho, ini anak bungsu kamu bule, mirip Paty banget ya? Beda sama kakak-kakaknya yang keliatan banget blasteran Indo-nya,” ucap Ajeng.
“Biasa, Miss. Anak bungsu biasanya dapet sari yang paling cakep,” ucap Ridho asal saja.
“Nah tuh Ryu datang. Ryu, sini kenalan sama Cello!” seru Ajeng antusias melihat cucunya yang sudah rapi dengan pakaian barunya.
Kedua balita lelaki itu saling bertatapan dingin. Ajeng dan Patricia menggerakkan tangan mereka dan saling berjabat tangan, meski enggan.
“Duh ini kalian kenapa sama-sama dingin begini kenalannya sih?” seru Ajeng memangku Ryu.
Patricia tertawa-tawa.
“Cello memang seperti itu, Ajeng! Dia tidak terlalu akrab dengan orang asing.”
“Kalau Ryu sebenarnya enggak. Mungkin kebawa suasana sama lawannya ya?”
“Mungkin.”
Sementara para orang tua berbincang hangat. Anak-anak muda yang duduk di kursi taman terlihat canggung satu sama lain. Mereka adalah Mikail dan Malala, saudara kembar, yang kini ditemani oleh Kirei, yang juga sepantaran dengan mereka. Terakhir kali bertemu, mereka akrab. Mungkin karena usia yang semakin dewasa, jadi rasa canggung menyelimuti. Meskipun begitu, Kirei, yang kini sudah duduk di kursi XII SMA, berusaha akrab.
“Lala, apakah tahun depan kamu sudah masuk kuliah?” tanya Kirei dengan bahasa Inggris.
“Yup. Rencananya aku akan mengambil perkuliahan Desain seperti Mama,” jawab Malala tersenyum.
Malala memiliki wajah blasteran yang cantik. Matanya besar seperti Patricia, dengan manik kecokelatan seperti warna rambutnya yang panjang. Tubuhnya tidak terlalu ramping, dan tidak terlalu tinggi.
“Berarti kalian akan kuliah bersamaan?” tanya Kirei lagi menatap pada Malala dan Mikail bergantian.
“Yang pasti aku akan kuliah. Aku tidak tahu dengan Mike!” ucap Lala, melirik pada saudara kembarnya.
“Aku akan kuliah di jurusan Bisnis, seperti Papa Leo!” ujar Mikail.
Entah mengapa melihat Mikail, Kirei merasa was-was. Meski tampan, tetapi ada aura menyeramkan dari pribadinya yang ia tidak ketahui. Mikail dan Malala memang tidak kembar identik, terlebih lagi karena keduanya berjenis kelamin berbeda. Bentuk mata Mikail terlihat lebih kecil daripada Malala. Meski warna rambut dan manik mereka sama. Wajah Mikail blasteran, tetapi wajah Ridho tampak lebih dominan.
Sementara itu Mariya, anak ketiga Ridho, sedang asyik bermain ayunan sendiri. Lalu turun dari sana dan berlari ke arah ibunya.
“Cello, ayo kita bermain ayunan!” Gadis kecil itu menarik lengan saudaranya.
“Hati-hati, Sayang!” Patricia membiarkan keduanya bermain bersama.
Arsene membawa Ryu ke sana dan mengawasi anak-anak di sana. Datang Finn membawa bola lagi. Melihat bola itu, Mariya dan Cello jadi antusias untuk memainkan bola yang dibawa Finn.
__ADS_1
“Uma, sini bantuin ayah jagain bocil-bocil!” seru Arsene melambaikan tangan pada istrinya.
“Iiih lucu-lucu kalian pada main di sini,” Zaara tampak asyik memandangi anak-anak di sana. Arsene dan Zaara duduk di atas rerumputan hijau yang sudah rapi.
“Tambah yuk!” Arsene menyenggol tubuh istrinya.
“Yuuuk! Kayanya rame ya punya anak banyak gini,” seru Zaara.
“Tuh kan, kata aku juga sekalian aja bikin kesebelasan, haha!” sontak perkataan Arsene membuat Zaara mencubit lengan suaminya.
“Sakit, Sayang!”
Zaara cekikikan saja melihat suaminya yang mengusap lengan kekarnya.
“Minggu depan ke rumah nenek ya?” pinta Zaara.
“Ada apa emangnya?”
“Kata Abi, ada yang mau kenalan sama Tante Jingga.”
“Kenalan apa maksudnya?” tanya Arsene tidak mengerti.
“Kenalan, ta’aruf, Abang Sayang!”
“Oh ya? Alhamdulillah!”
“Bawain kue!”
“Siap!”
Keduanya memperhatikan bocah cilik yang ada di sana. Beberapanya sempat berebut. Tetapi mereka akur kembali. Lucunya, komunikasi di sana saling menyambung, padahal Mariya menggunakan bahasa Inggris, sedangkan Finn menggunakan bahasa Indonesia campur bahasa Inggris. Sedangkan Ryu dan Cello asyik melihat bunga-bunga.
Jam makan siang telah tiba. Mereka semua menikmati dulu sajian menu yang tersedia.
“Di sini sampai kapan, Dho?” tanya Ferdian di sela-sela makan siang.
“Minggu depan kayanya. Gimana beres acara Leo aja,” jawab Ridho.
“Ooh, emang acara apa sih kalau boleh tau?” tanya Ferdian penasaran.
Ridho saling berpandangan dengan istrinya, meminta pendapat. Patricia mengangguk.
“Acara silaturahmi aja, Fer. Kebetulan Leo udah dapat perempuan yang mau diajaknya nikah.”
“Wow, orang Bandung?” tanya Ferdian.
“Iya, perempuannya tinggal di Bandung.”
“Hebat, mudah-mudahan lancar acaranya.”
“Aamiiin.”
Patricia benar-benar kewalahan dengan Cello yang selalu mengajaknya pulang dari sana.
“Sebentar Sayang, sebentar lagi kita pulang. Okay?”
“Aku ingin bertemu Papa Leo!” ucapnya menggunakan bahasa Inggris.
“Okay, setelah ini kita bertemu Papa Leo.”
Ferdian dan Ajeng tampak kebingungan melihat Cello, sampai akhirnya Arsene memberikan sebuah cupcake berwarna pink yang sangat cantik.
“Say what, Cello?” tanya Patricia.
“Thank you!” ucapnya imut.
“You’re welcome,” jawab Arsene.
Cello baru bisa terdiam, sambil menikmati krim lembut.
“Apa dia memanggil pamannya dengan Papa Leo?” tanya Ajeng.
“Ya, anak-anak kami memanggil kakakku dengan Papa Leo. Leo sendiri yang memintanya saat si kembar lahir.”
“Ooh…”
Akhirnya jamuan makan selesai, begitu pula dengan pertemuan mereka sore itu. Keluarga Ferdian mengantar tamunya sampai mobil.
“Dho, kabarin kalau nanti balik ya?” pinta Ferdian sebelum Ridho menaiki mobilnya.
“Siap, Men! Kita pamit ya, makasih banyak Fer, Miss Ajeng!”
“Sampai ketemu lagi!”
__ADS_1
\======
Karena di cerita sebelah lagi kedatangan Ridho, ya udah aku sekalian bikin cerita mereka di sini. Sekaligus mengobati kangen, hihi...