Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 132. Hadiah


__ADS_3

Suasana Toko Sweet Recipes cukup ramai di hari biasa. Arsene yang sudah pulih total kembali ke tokonya. Untung saja perkuliahannya masih libur, jadi kabar mengenai dirinya menjadi korban penyekapan tidak akan terekspos oleh pihak kampus.


“Udah sehat, Cen?!” tanya Alice yang baru saja datang.


“Alhamdulillah, Kak!”


“Jangan terlalu dipaksain kerja kalau belum enakan.” Alice menasihatinya saat wanita itu duduk di hadapan sepupunya.


“Aku udah pulih kok! Udah bisa gerak cepet juga!” Arsene menyengir.


“Gerak cepet apaan? Mencurigakan!” Alice memicingkan matanya.


“Ada lah, yang jomblo mana ngerti, wkwk!”


“Uuuh dasar bocah mesum!” Alice menoyor kepala sepupunya.


Arsene tertawa lepas.


“Disuruh datang ama Kakek tuh! Katanya ada sesuatu.”


“Ada apa emangnya?”


“Entah, gue juga gak tau! Yang jelas gue dan elu disuruh kumpul.”


“Yang lain?”


“Kakek bilang, Alice dan Arsene harap menghadap kakek besok Sabtu! Mungkin karena kita paling gede kali ya? Yang laen masih pada labil!”


Arsene mengangguk-angguk.


“Ervin kuliah dimana Kak?” Arsene menanyakan adik Alice satu-satunya yang berusia seumuran Rainer.


“Kuliah di Jakarta. Papa gak izinin dia keluar negeri soalnya.”


“Kenapa?”


“Ervin bandel dan liar, dia mah harus pake kalung rantai kemana-mana. Pusing gue liat tingkah dia! Lah Rain mau kuliah dimana?” tanya Alice membetulkan rambutnya.


“Rencananya Rainer balik ke SG kak, dia mau masuk Lasalle College of the Arts!” jawab Arsene santai.


“Uh wow! Ambil jurusan apa?”


“Seni animasi.”


“Buset, mantap kali lah?!” Alice terkejut.


“Dia emang selalu tertarik di dunia animasi.” Arsene menyeruput teh hijaunya.


“Ervin sih ambil jurusan bisnis, biar bisa terusin usaha papa atau kakek-lah! Lu gak ada niatan buat ngisi jabatan di perusahaan kakek lo!”


“Opa Gunawan?”


Alice mengangguk.


“Gak ah. Aku mau kembangin bisnis di dunia kuliner kaya daddy aja, biar jadi pesaingnya, haha!”


“Padahal lu cucu pertama Opa Gunawan, kan?”


“Iya, tapi gimanapun, anak Pakde Damian yang lebih berhak ngisi. Aku gak nafsu kerja di perusahaan. Gak tau tuh kalau Rain!” Arsene menyesap lagi teh hijaunya.


“Fea dong!” Seketika Alice tertawa-tawa, tidak terbayang olehnya jika Fea harus mengisi posisi jabatan tertinggi di perusahaan besar milik Keluarga Winata.


“Eits, dia udah di Amerika tuh. Mau kuliah bisnis juga!”


“Fea di Amerika sekarang?!" tanya Alice tidak percaya.


Arsene mengangguk.


“Pantesan ngilang tuh anak. Kagak ngasih kabar lagi!” dengus Alice, Fea memang menjadi rekan kerja yang menyenangkan selama di Sweet Recipes.

__ADS_1


“Kakak sendiri kenapa malah pilih kerja bareng aku? Padahal Kak Al bisa langsung isi posisi manajer keuangan di perusahaan Kakek Jaya kan?!”


Alice menyengir kaku. “Gue sama kayak lo, Cen! Gak nafsu buat kerja di perusahaan. Kalau di sini kan nyantei. Tapi gue doain usaha lo ini makin berkembang, punya cabang dan franchise atau mungkin lo bisa bangun lagi jenis usaha yang lain kaya Uncle Ferdi! Bisa lah gue jadi general manajer.”


Arsene terkekeh. “Aamiiin, Kak!”


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, saatnya toko buka. Alice kembali ke meja kerjanya setelah berbincang dengan sepupunya itu.


\=======


Seperti yang sudah dikabarkan Alice saat itu. Arsene mendatangi rumah Kakek Jaya, ayahanda dari Ajeng, hari Sabtu pagi bersama Zaara. Alice yang memang tinggal di sana terpaksa mengambil jam siang untuk kerja di toko Arsene.


Nenek Aryani menaruh beberapa cemilan di meja ruang keluarga untuk cucu-cucunya itu. Sementara Kakek Jaya sudah duduk di sofa bersiap-siap untuk berbicara. Ada beberapa map yang dibawa di tangannya.


"Alice, Acen, kalian itu cucu-cucu kakek paling dewasa. Tidak hanya secara usia kalian paling besar, tapi pola pikir kalian juga sudah kakek anggap matang. Apalagi Abang Acen, sekarang udah punya istri. Kenapa Kakek kumpulin kalian? Karena Kakek punya sesuatu untuk kalian." Kakek Jaya Diningrat menatap satu persatu Alice dan Arsene bergantian.


Alice dan Arsene saling bertatap, penasaran. "Apa itu Kek?" tanya Arsene.


"Di tangan Kakek, sudah ada sertifikat tanah. Tanah ini sudah lama dibeli kakek yang dulu rencananya akan diberikan pada ibu kalian. Tapi karena ibu kalian juga memiliki suami yang alhamdulillah mapan, akhirnya kakek tahan tanah ini sampai sekarang. Jadi, kakek akan memberikan tanah itu untuk kalian berdua."


Alice dan Arsene sama-sama terperanjat, terkejut dan tidak percaya. Hanya saja mereka masih menahan lisan khawatir salah tangkap maksud kakeknya itu.


"Di sini udah ada sertifikat yang akan kalian pegang sebagai bukti kepemilikan. Sertifikat itu juga udah kakek urus dan ganti sehingga sudah atas nama kalian. Terserah kalian mau apakan tanahnya, mau dibangun rumah atau sebagai investasi masa depan. Yang jelas kakek berharap, tanah itu bisa membawa manfaat bagi kalian!" Kakek Jaya memberikan sertifikat tanah itu pada kedua cucunya.


Arsene benar-benar merasa ini seperti mimpi. Apalagi ketika melihat alamat lokasi tanah itu terletak di pusat kota Bandung yang pasti harganya sudah sangat mahal untuk dibeli. Lokasi tanah Arsene dan Alice memang berendeng dengan luas tanah yang tidak terlalu besar yaitu masing-masing seluas 200 meter persegi.


"Kakek ini beneran buat kita?!" tanya Arsene seolah ini tidak nyata.


"Iya Abang Acen. Itu hadiah untuk kalian."


"Masya Allah, semoga Allah memberikan kesehatan dan keberkahan selalu untuk kakek dan nenek. Acen gak tau harus kasih apa buat ngebalas kebaikan kakek dan nenek," ucap Arsene bergetar dan berkaca-kaca.


"Doa kalian untuk kami sudah cukup. Apalagi ngeliat kalian bisa terus bersama, akur, dan saling membantu adalah kebahagiaan tersendiri buat kakek dan nenek, Cen! Kakek harap kalian bisa terus seperti itu juga dengan adik-adik kalian."


Kakek Jaya dan Nenek Aryani tersenyum lebar.


"Terus gimana dengan adik-adik kita, Kek? Aku khawatir mereka iri kalau liat kita dapat hadiah ini dari Kakek." Alice berucap.


Alice dan Arsene mengangguk bersamaan.


Arsene meraih tangan kakeknya dan membungkuk di depannya untuk berterimakasih. Begitu juga dengan Alice dan Zaara yang mengikutinya. Arsene tidak berhenti bersyukur di dalam hatinya. Kini rencana untuk membangun rumah impiannya semakin dekat saja. Meski ia akan melihat lokasi tanah lebih dahulu untuk memastikan semuanya.


Arsene dan Zaara sudah berada di apartemennya siang itu sepulang dari kediaman Kakek Jaya. Pria muda itu tampak sedang mengecek saldo tabungan via *mobile banking-*nya. Zaara yang duduk di sampingnya hanya menunggu suaminya berbicara.


“Tabungan kita 70% buat rencana bangun rumah, sedangkan 30% nya untuk keperluan kita. Kayanya masih kurang banyak. Bisa aja sih sebenarnya, tapi belum sesuai dengan rumah impian kita,” ucap Arsene memainkan bibirnya setelah itu.


Zaara mendengar saja.


“Mmh… masih sabar kan, Sayang?” tanya Arsene menatap istrinya yang diam menyimak.


“Aku ikut kamu aja, Abang Sayang! Yang penting waktu kita bangun rumah, kita gak sampai repot-repot pinjem uang. Jadi pas kita tempatin rumah tuh udah tenang, tinggal fokus ke hal lain yang mau diraih lagi,” jawab Zaara.


“Iya betul. Lagian kita masih bisa nabung banyak kok tahun ini. Promosi toko kita harus gencar, biar profitnya makin besar. Mungkin kita tunggu satu sampai dua tahun lagi.”


“Aku siap bantu. Aku coba pangkas pengeluaran kita yang gak terlalu penting dan gak terlalu efektif ya?”


“Makasih istri shalehaku! Nanti kita ngobrol sama abi terkait properti rumah ya?” Arsene mengelus pipi istrinya.


“Sip sip!”


\=======


Nada musik nursery rhymes mengalun merdu pada audio dalam mobil minivan putih. Mobil milik Ajeng sudah ditemukan setelah kemarin-kemarin sempat menghilang karena disembunyikan oleh preman tempat hiburan. Untung saja masih bisa diselamatkan. Ajeng dan Finn, yang duduk di carseat, hendak berjalan-jalan menuju sebuah mall di Kota Bandung. Rencananya ibu beranak empat itu akan berbelanja sedikit kebutuhan fesyen hijab dan anak bungsunya.


Meski pakaiannya sudah sempurna menutup aurat, Ajeng tetap terlihat modis dengan gamis dan hijab yang mengulur menutupi dadanya. Ia menurunkan sebuah stroller kecil untuk menaruh balitanya yang berusia 2 tahun untuk ditaruh di sana agar ia tidak perlu repot menggendong atau menuntunnya.


“Finn, temani mommy ya, jadi anak baik setiap hari!” ucap Ajeng mendudukkan Finn di stroller.


“Yaya!” ucapnya imut sekali. Ajeng tersenyum.

__ADS_1


Ajeng mendorong stroller menuju mall yang cukup besar itu. Suasana di sana cukup ramai, mengingat hari itu adalah akhir pekan. Ferdian terpaksa membiarkan istrinya itu pergi sendiri, karena ia sedang berada di Jakarta untuk mengurusi perusahaan keluarganya di bidang perhotelan. Sementara Kirei sedang aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya. Rainer? Remaja tampan itu paling malas untuk bepergian keluar, apalagi bersama ibunya.


Rencananya Ajeng akan mampir di sebuah butik milik seorang teman di kampusnya dulu. Temannya itu adalah seorang pengusaha fesyen syari terkenal yang produknya bahkan sudah go internasional. Butik itu terletak di lantai dasar, sehingga Ajeng tak perlu repot mencari lift ke lantai atas.


Finn tampak tenang melihat-lihat pemandangan apa yang tersaji di depan matanya. Sambil membawa boneka koala pemberian abangnya, matanya berpendar menangkap benda-benda yang terlihat menarik.


Ajeng memasuki sebuah butik bernuansa gold dan salem, terlihat sangat modern dengan banyak manekin tanpa kepala menunjukkan koleksi busana syari yang elegan. Wanita yang mengenakan hijab dusty pinknya itu mulai melihat-lihat. Seorang pegawai toko menyambutnya dengan ramah.


“Selamat siang, Bu! Ada yang bisa dibantu?” tanya pegawai berhijab navy itu.


“Saya mau cari koleksi Athalia Gown syari terbaru, apa ada di sini?” Ajeng menanyakan produk terbaru dan premium dari butik bernama Primrose Atelier itu.


“Oh masih Bu, silakan ikuti saya!”


Ajeng mengikuti pegawai toko yang mengantarnya. Sebuah gaun syari elegan dan mewah terlihat dipakai oleh manekin di dalam butik. Terbuat dari bahan mewah eksklusif menggunakan permata swarovski asal Rusia yang menghiasi bagian bawah roknya, gaun berwarna mint bermodel dress semi kaftan itu membuat mata Ajeng terpesona. Rencananya ia akan mengenakan gaun syari itu di pesta peresmian hotel baru milik suaminya bulan depan di Bandung. Jadi ia ingin tampil sebaik mungkin untuk mendampingi suaminya yang akan menyambut para tamu dan kolega.


“Ukuran M-nya ada, Sis?” tanya Ajeng.


“Saya cek dulu ya Bu, tunggu sebentar!” pegawai itu mengecek ukuran di gantungan baju tepat berada di bawah manekin putih itu.


“Oh ada di sini ternyata. Wah warna lainnya juga ada ya?”


“Iya Bu. Mbak Kaniya rilis produk Athalia ini dalam tiga warna. Ada warna mint, dusty rose, dan gold. Ibu suka yang mana?”


“Duhh warnanya kesukaan semua! Saya lihat-lihat dulu ya, Sis!”


Ajeng malah mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.


“Hai Sayang, kamu sibuk gak?” tanya Ajeng menelepon suaminya.


“Kenapa Sayang? Aku lagi istirahat dulu nih!”


“Cek whatsapp kamu!”


Ajeng mengambil foto warna-warna dari gaun yang mengkilap dan lembut itu, lalu mengirimkannya kepada suaminya. Ajeng tahu sebenarnya Ferdian sangat suka dirinya memakai warna dusty rose, hanya saja warna itu sudah banyak ada di lemarinya. Jika suaminya menunjuk warna itu lagi, terpaksa akan ia beli juga.


[Aku harus beli warna apa?]


[Aku suka yang warna hijau itu, kamu belum punya kan?] balas Ferdian.


Ajeng tersenyum, ternyata suaminya masih perhatian pada outfit yang ia miliki.


[Yes, makasih Sayang!]


[Oke]


“Mba warna mint size M ya, ada kan?” tanya Ajeng penuh harap.


“Ada Bu!” pegawai toko mengambilkan produk pesanan Ajeng dan memberikannya untuk diperiksa.


Ajeng menanyakan detail produk itu sehingga ia tidak harus repot-repot mencoba gaunnya. Ternyata ukurannya sudah cocok dengan miliknya, sehingga tidak perlu waktu lama Ajeng membayar pesanannya.


Selesai dengan belanjaan pribadinya, Ajeng mengajak Finn ke lantai tiga untuk membeli mainan sekalian mencari makan siang di food court.


Ting. Pintu lift terbuka. Ajeng dan Finn tiba di lantai tiga mall dan keluar bersama pengunjung yang lainnya. Ajeng menyanyikan nursery rhyme untuk Finn yang masih anteng sambil berjalan melewati beberapa outlet atau toko yang banyak memuat koleksi anak-anak. Mata Ajeng yang sejak tadi tertuju pada jalan di depan tiba-tiba tertarik pada dua orang yang baru saja tiba di lantai tiga turun dari eskalator. Seorang wanita paruh baya yang ia kenal wajahnya dan satu orang wanita muda ramping yang berjalan anggun dengan midi dressnya.


“Bukannya itu Maminya Kevin ya?” ucap Ajeng pada dirinya sendiri. Keduanya dilihat Ajeng sedang memasuki butik gaun pengantin. Ajeng tidak mengindahkan hal itu, ia pikir adiknya Kevin yang seusia Ferdian, mungkin akan melangsungkan pernikahan.


Ajeng mendudukkan Finn pada sebuah kursi makan anak yang dipinjamnya di foodcourt. Mereka sedang menikmati makan siang sebelum pulang setelah berhasil membelikan Finn sebuah mainan balok terbaru untuk mengasah logika balita itu.


“Makan dulu ya, Finn! Baru kita pulang.” Ajeng menyuapi Finn dengan menu sup krim yang dipesannya. Setelah menyuapi Finn, Ajeng baru menikmati makan siangnya sendiri.


“Ajeng ya?” tanya seseorang yang menghampirinya tiba-tiba. Seorang laki-laki tegap tinggi berbadan proporsional berdiri di hadapannya.


Mata Ajeng membesar, terkejut mendapati teman lamanya di sana.


\======


Bersambung dulu okey?

__ADS_1


Kutunggu like, comment, dan votenya sebagai bentuk support gratis dari kalian


Makasiiiih ^_^


__ADS_2