Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 80


__ADS_3

Malam itu di apartemen milik Ferdian dan Ajeng. Keduanya tengah asyik mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Ajeng memeriksa tulisan skripsi dari mahasiswa bimbingannya, sedangkan Ferdian mencoba memulai menulis skripsinya mulai dari bab pendahuluan. Buku-buku bertumpuk di meja kerja mereka masing-masing, begitu juga dengan laptop yang terbuka dan menyala. Keduanya sibuk.


"Fer, aku udah selesai!" ucap Ajeng yang sedang mematikan laptop miliknya.


"Hmm..." Ferdian terlihat sangat serius. Ajeng menatapnya dari samping, pria itu terlihat sangat lucu jika serius seperti itu. Lalu tatapan itu dialihkan ke layar laptopnya. Ajeng terkejut ternyata Ferdian sudah banyak menulis skripsinya meski masih di bab pendahuluan.


 


"Hebat! Kayanya udah matang banget tugas akhir penelitian kamu," ujar Ajeng yang takjub.


Ferdian tidak merespon. Ajeng terkekeh saja, ia menutup laptopnya, kemudian mengecup pipi suaminya.


 


"Kamu mau kemana?" kali ini Ferdian tersadar.


"Aku udah selesai, ngantuk banget, Sayang!" jawab Ajeng yang akan melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya.


Ferdian menarik tangannya, lalu ia mengecup bibirnya lembut.


"Ya udah, tidur duluan aja!" ucap Ferdian.


"Gak apa-apa nih?"


"Iya!"


 


Ajeng tersenyum dan berjalan ke dalam kamarnya. Ia menyelimuti tubuhnya setelah sebelumnya mencuci muka dan kakinya. Ia hendak memejamkan matanya. Tiba-tiba saja, kasur bergoyang karena seseorang ambruk di sampingnya, dan langsung memeluknya dari belakangnya.


"Kamu ngagetin aja?!" ujar Ajeng yang menatap suaminya sudah menenggelamkan wajahnya di balik punggungnya.


"Mmmhh..."


"Cuci kaki dulu sana!" seru Ajeng.


"Mmhh..."


"Ferdian..."


Laki-laki itu akhirnya berlalu ke kamar mandi, semenit kemudian sudah kembali dan melakukan hal yang sama seperti tadi.


 


"Kamu kenapa sih?" tanya Ajeng melihat tingkah suaminya yang mendadak manja.


"Mmhh..." tangannya mulai menggerayang ke bagian-bagian yang sensitif.


"Aku ngantuk Sayang, bisa gak nanti pagi aja?" ucap Ajeng melepaskan diri dari tangan suaminya.


 


Tanpa menjawab, lelaki itu membalikan tubuhnya ke arah yang berlawanan lalu memeluk gulingnya. Ajeng menghela nafasnya, serba salah. Kalau sudah seperti itu, ia jadi tidak mengantuk. Pasti Ferdian akan uring-uringan seharian besok, karena paginya pasti ia akan menolak. Meskipun ia sendiri sebenarnya sudah sangat lelah. Terpaksa, ia akan membujuk kembali suaminya.


Ajeng menggeser tubuhnya sehingga menempel pada tubuh suaminya. Ia mulai memainkan tangannya, menyentuh kulit lengan suaminya, lalu menggenggam tangannya. Tubuh pria itu belum bergeming. Apa sudah tidur? Tanya Ajeng dalam hati. Ia memastikan dan menarik guling yang dipeluk suaminya itu. Seketika Ferdian terbangun, ia malah menindih tubuh Ajeng meski sambil tetap menahan beban tubuhnya agar tidak menekan perut istrinya itu. Ia tersenyum menyeringai sambil mengcengkeram tangan istrinya.


 


"Ferdian! Jangan senyum gitu ih, serem!" ujar Ajeng berusaha melepas cengkeraman suaminya.


"Masa ganteng gini dibilang serem?"


"Kamu pura-pura ngambek ya?!" tanya Ajeng.


"Hehehe!"


 


Ajeng mendeliknya kesal.


"Sebentaaaaar aja ya, Sayang?!" pintanya kemudian.


Terpaksa Ajeng mengiyakannya.


\=====


"Kamu mau mulai bimbingan sama Ardi kapan?" tanya Ajeng sambil menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya di meja makan.


"Aku mau coba ketemuan dulu hari ini, bareng temen-temen lain. Mudah-mudahan sih bisa cepet!" jawab Ferdian sambil meminum jus jeruknya.


"Iya nih, nanti dia keburu sibuk sama yang lain, haha!" ujar Ajeng yang mengingat kejadian kemarin. Ia menyerahkan sepiring berisi nasi sup iga sapi pada suaminya.


"Waduh, dapet dosen pembimbing lagi kasmaran semua nih!" ujar Ferdian mengambil sendok.


"Haha, iya ya?! Andre juga, luar biasa ujian kamu, Sayang! Mudah-mudahan mereka semua profesional!"


"Kenapa harus barengan gitu sih kasmarannya? Kok aku jadi mikirin masalah pribadi mereka?" seru Ferdian mengaduk-aduk isi piringnya sembarangan.

__ADS_1


"Ya udah, kita doain aja kisah asmara mereka semua juga lancar, biar bimbingan kamu lancar!"


"Aamiiin!"


 


Keduanya pun menikmati sarapan sebelum berangkat menuju kampus, sambil membicarakan hal-hal yang terjadi belakangan ini.


\=====


Ajeng pergi ke perpustakaan untuk meminjam sebuah buku teori sastra umum yang berhubungan dengan tulisan mahasiswa bimbingannya. Ia tampak fokus mencari-cari buku yang berkaitan. Tanpa sadar, ia menyenggol seseorang di sebelahnya.


"Eh, maaf!" ujarnya sambil menatap orang yang tidak sengaja disenggolnya.


"Gak apa-apa!" jawabnya tersenyum ramah.


"Eh, Nava! Lagi apa di sini?" tanya Ajeng antusias.


"Hey, Ajeng! Lagi cari buku sejarah literatur Inggris nih!" jawab perempuan itu.


"'Ooh...ya udah lanjutin aja, aku juga masih cari nih!" ujar Ajeng.


Nava berterima kasih. Keduanya pun kembali sibuk mencari buku masing-masing. Nava terlihat memikirkan sesuatu, namun ia ragu juga khawatir. Ia menatap Ajeng yang masih fokus mencari bukunya, sementara ia sudah mendapatkannya.


"Mau aku bantu?" tawar Nava.


"Ah, boleh! Aku cari buku teori sastra umum apa aja sih!" jawab Ajeng.


"Siap!"


Tak lama kemudian Nava menghampiri Ajeng sambil membawa dua buah buku.


"Yang ini gimana?" tanya Nava menyodorkan dua buku itu kepada Ajeng. Ajeng memperhatikan daftar isi kedua buku itu.


"Wah makasih banget, hebat nih langsung ketemu!" jawab Ajeng.


"Masih ada yang dicari lagi?" tanya Nava.


"Enggak sih, mau keluar?"


"Yuk!"


Kedua wanita mungil berparas cantik itu pun menuju petugas perpustakaan untuk dicatat. Lalu mengambil sepatu mereka dan duduk di kursi depan gedung perpustakaan untuk mengenakan sepatu mereka.


"Ajeng kamu ada waktu gak siang ini?" tanya Nava yang sudah selesai lebih dulu memasang sepatunya.


"Sekarang? Gak ada sih!"


"Boleh banget!" jawab Ajeng antusias,"mau dimana nih?" tanya Ajeng.


"Kantin di depan Fisip mau?"


"Ayo aja!"


"Gak apa-apa nih? Nanti suaminya nyari," tanya Nava khawatir.


"Ah, gampang, Ferdian nanti aku kasih kabar aja!" jawab Ajeng.


"Ya udah, makasih ya, Bu Dosen!"


"Yuk kita kesana!"


Kedua wanita itu pun berjalan kaki menuju kantin yang dimaksud Nava. Memang kantin di depan Fisip itu tidak terlalu jauh mengingat FIB bersebelahan dengan Fisip. Kantin itu pun memang tidak terlalu ramai. Keduanya duduk di sebuah kursi di samping jendela yang menghadap keluar.


"Kita seumuran ya?" tanya Nava, agar dirinya tidak canggung ketika mengobrol nanti.


"Iya ya, Andre pernah cerita katanya seumuran denganku, kalau kalian sekelas selama SMA berarti memang seumuran," jawab Ajeng.


"Baguslah, biar aku gak canggung, hehe!"


"Ada apa nih sebenarnya?" tanya Ajeng tersenyum.


 


"Hehe, maaf ya sepertinya aku butuh temen curhat. Aku bingung mau cerita dan butuh nasihat dari siapa," ujar Nava gugup.


"Aku kira kamu dekat sama Andre!"


Nava tertawa, "Ya, masa mau omongin ini langsung ke orangnya?"


"Ooh, jadi ini tentang Andre?!" tanya Ajeng membesarkan matanya. Seketika rasa ketertarikan dan antusias untuk mendengar semakin lebih besar.


Nava mengangguk.


"Emang Andre kenapa?" tanya Ajeng penasaran.


"Umm...dia.., ah bolehkah aku bertanya dulu?"

__ADS_1


"Boleh kok!"


Nava tersenyum dan berterimakasih.


 


"Kalau ada dua orang melamar di satu waktu yang bersamaan menurut kamu gimana?" tanya Nava grogi.


"Dua orang bersamaan?!" tanya Ajeng memastikan.


Nava mengangguk.


"Apalagi mereka punya hubungan yang cukup dekat sebagai seorang teman baik."


 


Ajeng membuka mulutnya, kemudian menaruh kepala di tangannya.


"Gampang aja sih. Pilih aja orang yang kamu cinta," jawab Ajeng.


"Iya tapi,..."


"Kenapa?"


"Ada satu orang yang lebih bekerja keras untuk bisa bikin aku bahagia. Dia berjuang udah lama, meski sudah beberapa kali aku tidak pernah menggubrisnya. Aku kira dia akan menyerah, tetapi tidak!"


"Lalu satunya?" tanya Ajeng.


"Andre! Maksudku kita baru aja bertemu kali ini setelah sekian lama tidak ada kabar. Aku jadi bingung menjawab keduanya," ujar Nava tertunduk.


"Jadi kamu membingungkan antara dua orang pria? Satu berjuang keras untuk bisa bahagiakan kamu, meski kamu tidak juga bahagia? dan yang satunya baru ketemu, tapi kamu cinta kan sama dia?" tanya Ajeng memastikan.


 


Nava tidak merespon, ia hanya menunduk.


"Kalau mereka berteman baik, sepertinya keduanya sudah tahu perasaan masing-masing di antara kalian. Aku kira itu resiko keduanya karena menyukai perempuan yang sama, mereka pasti tahu betul salah satu mereka mungkin akan mengalami penolakan dan patah hati. Jadi kalau kamu berjuang untuk cinta dan masa depan kamu, pilihlah orang yang benar-benar kamu cintai. Janganlah mengorbankan perasaan kamu sendiri, Va! Karena kamu berhak juga untuk bahagia. Apalagi kamu dan Andre sudah memendam perasaan yang sama sejak lama, kan? Terlepas kalian baru bertemu sekarang ini, aku kira cinta kalian pantas untuk diperjuangkan."


 


Nava memandang Ajeng, teman asingnya yang ia percaya untuk mencurahkan isi hatinya kali ini.


"Apa Andre pernah bercerita sama kamu, Jeng?"


Ajeng mengangguk tersenyum.


"Bahkan ia selalu membeli cokelat untuk membuat hatinya tenang, karena dia selalu galau memikirkan kamu!" ujar Ajeng terkekeh kecil.


Nava mengangkat alisnya.


"Kamu itu cinta pertamanya, dan bagi seorang pria, setia menunggu tanpa kabar itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dia pun berjuang untuk mempertahankan kamu di hatinya."


 


 


"Jadi Andre melamar kamu?" tanya Ajeng.


"Iya!" jawab Nava tersenyum.


"Dan kamu juga cinta sama dia kan?"


Nava mengangguk.


"Kamu harus tegas, Va! Kasih jawaban tegas untuk kedua pria itu."


 


"Makasih ya Jeng, maaf jadi curhat dadakan gini!"


"Gak apa-apa, santai aja! Kamu boleh cerita kapan aja kok sama aku!"


 


\=====


 


Duh Ajeng jadi tempat curhat ya


Nextnya apa nih?


 


 


Yuk like, comment, dan vote dulu

__ADS_1


Biar ide di kepala author Aerii mengalir lancar, haha


Makasiiih ^_^


__ADS_2