Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 1. Murid Baru


__ADS_3

Hello semuanya, selamat membaca kelanjutan dari serial "Mahasiswaku, Calon Suamiku" season 2


Q: Kenapa gak dipisah aja ceritanya Thor?


A: Karena saya masih kejar target level dan penghasilan kontrak, hehe, makanya tetap stay di sini


Well, selamat membaca kisah putra putri Ajeng dan Ferdian ^_^


\=====


Derap langkah terdengar riuh setelah bel pagi berbunyi nyaring. Para siswa-siswi salah satu sekolah menengah atas negeri favorit di Kota Bandung berlarian ke kelas masing-masing. Murid-murid kelas XII IPA 5 telah duduk rapi menempati kursi mereka. Posisi tangan bersedekap di atas meja hampir dilakukan oleh mereka semua untuk menyambut mata pelajaran Bahasa Inggris yang akan dibawa oleh wali kelas mereka sendiri.


Ibu Alisa yang terkenal ramah dan baik hati masuk ke dalam kelas dengan senyumannya yang lebar. Para murid memberi salam.


“Good Morning, Student! How are you?” sapanya sambil meletakan tas dan buku pelajarannya di atas meja.


“I’m fine, thank you!” ucap para murid serentak.


“Good! Today I’ll inform you that we’re going to have a new friends in our class! (Bagus! Hari ini saya akan menginformasikan kalau kita kedatangan murid baru di kelas kita)!" ucapnya riang. Seketika para murid saling berpandangan dengan teman sebangku mereka. Bermacam-macam ekspresi terpasang di wajah mereka, terkejut, senang, cemas, dan takut. Memang jarang sekali sekolah mereka menerima murid baru di tahun ajaran terakhir, apalagi untuk kelas tiga. Jadi heran dan terkejut lebih mendominasi perasaan para murid XII IPA 5 yang terkenal sebagai kelas paling ribut.


“Okay, you may come in, please! (Oke, silakan masuk)!” seru Bu Alisa, menyuruh seorang pria remaja di luar kelas untuk masuk ke dalam.


Seorang pria remaja dengan potongan rambut highcut yang sudah disisir sedikit rapi ke arah pinggir, berjalan di depan kelas dengan langkah santai. Hidung mancung, mata sipit dengan kantung mata bagian bawah menyembul, serta bibir tipisnya membuat dari sudut pandang manapun, pria itu bisa dikatakan sangat tampan. Postur tubuhnya ideal dan tinggi bak model. Hampir semua murid terpana menatapnya, saat pria muda itu menghadapkan dirinya ke arah teman-teman barunya.



*“Come on\, introduce yourself please! **(Ayo perkenalkan dirimu)!” ucap Bu Alisa yang sudah berdiri di samping anak muda itu.


“Hi… my name is Arsene Rezka, you can call me Arsene(Hai, namaku Arsene Rezka, kalian boleh memanggilku Arsene),” ucapnya singkat sekali.


“Good Arsene! Would you tell us, where do you come from (Bagus, Arsene! Maukah kamu menceritakan kepada kami, darimana kamu berasal)?”


“Actually, I was born here in this city. But formerly, I came from Singapore, and now I’m going back to this city to have study with you all (Sebenarnya, saya lahir di kota ini. Tetapi sebelum ini saya pindahan dari Singapura, dan sekarang saya kembali ke kota ini untuk belajar bersama kalian),” ujarnya terdengar sangat fasih dalam berbahasa Inggris. Hal itu tentu saja semakin membuat teman-teman yang ada di hadapannya takjub karena ucapan dalam bahasa Inggrisnya itu, meski sebenarnya sangat sederhana.


“Very nice! Umm…” Bu Alisa tampak memperhatikan bangku kosong, memperkirakan dimana Arsene akan duduk. Ia tersenyum tipis meski tampak ragu-ragu.


“Okay,  you may have your seat with Zaara! Because we don’t have any empty seat. So, just make a friend with her (Oke, kamu bisa duduk dengan Zaara, karena tidak ada lagi bangku kosong di sini. Jadi bertemanlah dengannya) !” ucapnya ramah.


DEG. Sang empunya nama yang merasa disebut tiba-tiba jantungnya melonjak kaget. Kursi duduk di sebelahnya memang kosong. Gadis muda berhijab itu tampak memperhatikan ke sekelilingnya. Semua temannya itu sudah memiliki teman sebangku, kecuali dia sendiri. Dan kini, ia harus duduk dengan seorang pria di sebelahnya. Oh No!


“But, Mrs. Alisa! I can’t sit with him, he is a boy (Tapi Bu Alisa, saya tidak bisa duduk dengannya. Dia seorang laki-laki)!” ucap gadis berhijab itu menginterupsi.


Bu Alisa menggeleng-geleng. “Zaara, ini sekolah! Bukan masjid, jadi bertemanlah dengan Arsene!” seru wali kelasnya itu.


Para murid terdengar cekikikan setelah wali kelasnya itu berucap. Sebagian lagi menyoraki Zaara dengan suara pelan.


Zaara mengepalkan kedua tangannya di bawah mejanya. Bagaimana hal itu bisa terjadi padanya? Padahal dia terkenal sebagai akhwat paling anti dengan pria manapun yang berusaha mendekatinya atau sekedar berteman dengannya. Terpaksa ia harus menahan diri dulu atas perintah ibu gurunya itu.


Arsene mengangguk pada gurunya setelah ia dipersilakan untuk duduk. Dengan langkah santai, ia menghampiri bangku kosong di sebelah gadis cantik yang wajahnya memasang tampang seperti cabai rawit merah, sangat pedas. Murid lainnya tetap memandang takjub sekaligus iri karena ia malah duduk bersebelahan dengan gadis yang selalu mengatakan anti kepada pria di sekolahnya itu.


“Hai!” sapa Arsene ramah.


Bukannya membalas, Zaara malah mendelik kesal pada pria itu. Namun Arsene tidak peduli, ia tetap duduk di kursi sebelah Zaara yang terlihat tengah menahan nafasnya.


“Saya gak bakal gigit kamu kok!” celetuk Arsene tanpa memandang gadis itu, membuat darah gadis itu semakin naik saja.


“Okay, we’re going to start the lesson!” seru Bu Alisa membuka laptopnya.


\=====


Sehabis pelajaran kedua usai, para murid gadis mengerubungi meja Zaara dan Arsene yang berada di pojok kiri belakang ruangan. Zaara mendelik kesal. Ia ingin sekali kabur dari suasana itu dan pergi ke masjid untuk menemui teman-teman rohisnya. Namun ia enggan berkata pada pria di sampingnya itu, apalagi geng cewek heboh sudah mengerubungi mereka. Zaara pura-pura membaca buku ketika mereka mulai mengeluarkan suara.


“Hai, Arsene! Kenalan dong! Nama gue Cinta!” ucap seorang siswi berambut panjang lurus. Wajahnya cantik dengan hidung mancung yang lancip, matanya besar.


Arsene sedikit melirik ke arahnya. “Hai!” ucapnya singkat lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


“Kalau gue Anindya, panggil aja Anin!” kali ini seorang siswi berambut ikal berkaca mata yang memperkenalkan diri.


“Gue Marsha!” ucap siswi berponi lurus dengan rambutnya yang tipis dan jatuh. Tubuhnya kurus dan tinggi.


“Kalau gue…”


“Elu bear,” sahut Cinta memotong ucapan teman satu gengnya yang memang memiliki tubuh besar agak berisi. Kawan-kawannya itu tertawa-tawa.


“Eh, elo dasar gak sopan! Gue Utami! Panggil aja Tami!” ujarnya sambil menyibakan rambut sebahunya.


 


Arsene tersenyum lebar melihat keempat cewek di sampingnya.


“Lo ganteng banget sih! Mau gak jadi pacar gue? Pasti kita jadi seleb couple di sekolah lho….” ujar Cinta sangat percaya diri.


Arsene mengangkat alis dan melebarkan matanya tidak percaya. Mulutnya belum mengucapkan satu kata pun.


“Gak usah dianggap, dia mah bercanda doang!” ucap Utami.


“Ah bilang aja elu yang cemburu, Mi!” timpal Cinta.


“Ish ish! Biarkan pangeran kita bicara dulu!” sahut Anin.


Zaara mual mendengar celotehan kawan sekelasnya itu. Namun ia tetap tidak bergeming, ia tidak ingin mencari masalah dengan geng heboh itu.


“Sorry, I have to go!” ucap Arsene yang beranjak dari tempat duduknya sambil membawa sebuah goody bag, lalu pergi begitu saja meninggalkan keempat gadis yang ribut menginterview-nya.


“Yaaaah… kabur dia!” celetuk Marsha.


“Gara-gara elu sih, Mi!”


“Eh kok gue! Pan elu yang mulai nembak, baru juga kenalan udah main tembak aja!” sungut Tami kesal.


“Habisnya ganteng bangeeeeet! Sayang kalau keburu diambil Zaara, ya kan?!” timpal Cinta mendelik Zaara yang masih pura-pura membaca.


“Cih, kok bisa lah, dia sebangku sama cowok ganteng begitu! Tukeran dong Ra!” ucap Cinta duduk di sebelah Zaara.


Zaara pura-pura tidak memperhatikan percakapan mereka, sehingga ia memasang tampan terkejut dan heran. Meskipun hatinya sendiri sudah kesal sekali karena geng heboh ini menanyainya.


“Eh, ada apa ya?” tanyanya pura-pura tidak tahu.


“Tukeran tempat duduk sama Arsene, lo sama Anin mau gak?!”


“Iiiih… Cinta! Gue gak mau duduk sama gadis sok alim ini!” sergah Anin menarik Cinta dari tempat duduk.


“Kalau mau tuker sebaiknya kamu minta aja sama Mrs. Alisa!” ucap Zaara berusaha tenang.


“Cih! Mrs. Alisa mana mau pastinya! Yuk ah ke kantin!” ajak Cinta melenggang begitu saja keluar kelas. Sementara ketiga kawannya mendelik ke arah Zaara sebelum mengikuti ketua geng mereka.


Zaara menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya dia bisa lepas. Langsung saja ia tutup bukunya, dan pergi menuju masjid sambil membawa kotak bekal makannya.


Sementara itu Arsene duduk di kursi koridor depan kelasnya seorang diri. Kepalanya menoleh kanan dan kiri, seolah sedang mencari seseorang. Tiba-tiba tatapannya bertemu dengan Zaara yang baru saja keluar dari kelas. Hati Zaara terkejut, ia meneruskan langkahnya menuju masjid.


“Zaara!” panggil Arsene, langkah gadis itu berhenti lalu menoleh, menahan kesal.


“Apa?” jawabnya ketus.


“Kamu tahu kelas X-1 dimana?” tanya Arsene menghampiri gadis itu. Zaara melangkah mundur dan menempelkan tubuhnya di tembok.


“Eh, i-itu di lantai 2. Ya, kelas X-1 ada di lantai 2,” ucapnya sambil melirik ke arah lain, karena Arsene tengah menatapnya.


“Bisa tolong antar saya ke sana?” pinta Arsene.


Zaara mengerucutkan mata dan alisnya. Kenapa harus aku yang mengantar cowok ini? Apa jadinya kalau teman-teman rohis melihatku berjalan dengan cowok ini? Sekelumit pertanyaan bercampur dalam benaknya.

__ADS_1


“Oke! Kamu ikuti saya! Tapi tolong, kamu harus jalan di belakang saya! Kasih jarak 2 meter, oke?!” pintanya kaku.


Bahu Arsene bergidik, ia tampak menahan tawanya karena tingkah aneh gadis yang ada di hadapannya itu.


“Oke!”


Zaara memelototi Arsene, kemudian dagunya ia angkat ke sebelah kiri, menandakan ajakannya untuk segera pergi dari sana. Zaara pun melangkahkan kakinya dengan kaku, mengambil sebuah tangga yang jaraknya cukup jauh dari kelasnya. Padahal ada tangga yang lebih dekat, hanya saja itu lebih dekat dengan masjid sekolah. Jadi berusaha mungkin ia mengambil jalan lain agar tidak terlihat kawan rohisnya.


Sementara Arsene berjalan sambil memperhatikan gadis yang menunjukinya jalan. Seragam Zaara tampak aneh, meskipun sekilas mirip dengan yang lain, yaitu terdiri dari putih dan abu. Hanya saja bentuknya lebih longgar daripada seragam putri yang lain. Ia tidak mengenakan sabuk pinggang. Kerudung bagian belakangnya cukup panjang hingga menutupi lekuk tubuhnya. Ia heran mengapa Zaara terlihat aneh di matanya, meskipun wajahnya bisa dibilang cukup cantik.


Zaara melirik ke belakang, sekedar memastikan kalau Arsene masih mengikutinya dengan jarak yang sudah ditentukannya. Beberapa orang siswa tampak menoleh pada Arsene, apalagi ketika ia melewati beberapa kerumunan siswi yang sedang duduk manis di koridor sekolah. Zaara mulai menaiki tangga diikuti Arsene di belakangnya. Tak lama kemudian gadis itu berhenti.


“Ini kelas X-1!” ucapnya ketus.


“Oke terima kasih! Tunggu sebentar!” ucap Arsene menahan Zaara membuat kernyitan di keningnya.


Apaan sih kok aku disuruh nunggu gini? Apa dia takut nyasar balik ke kelas? ucapnya kesal dalam hati.


Arsene berdiri di samping pintu kelas sepuluh itu, sambil memperhatikan keadaan kelas. Zaara memperhatikannya dan mempertanyakan kenapa Arsene pergi ke kelas ini? Apa ada pacarnya di sana? Ah, ia tidak peduli.


Beberapa murid memperhatikan Arsene dengan heran, sebagian lainnya takjub dan terpana. Arsene melambaikan tangan kepada seorang di dalam sana. Tidak lama, seorang siswa keluar. Wajahnya tampan dan mirip sekali dengan Arsene. Hanya saja wajahnya lebih lonjong daripada wajah Arsene.



 


Arsene membawa siswa itu ke tempat yang lebih sepi. Zaara penasaran dengan mereka berdua. Diam-diam, ia mendekati agar bisa mencuri dengar percakapan kedua pria itu.


“Rain, Ini buat kamu! Kata kakek, bekal makanmu ketinggalan kan?” ucap Arsene memberikan kantong itu pada Rain.


“Iya! Lah, bekal Abang gimana?” tanyanya mengambil kantong itu.


“Gampang, aku bisa makan di kantin nanti!”


Zaara mendengar percakapan itu. Ternyata siswa kelas X itu adalah adiknya Arsene. Berarti mereka berdua adalah murid baru di sekolah ini.


“Makasih, Bang!” ucap Rain dan langsung berlalu lagi ke dalam kelasnya.


Arsene tersenyum.


Zaara pura-pura menoleh ke arah lain, seolah ia tidak mendengarkan percakapan itu. Arsene menghampirinya.


“Yuk!” ajaknya.


“Kamu jalan di belakang! Ingat, jarak 2 meter!” seru Zaara.


“Perasaan kursi kita juga gak ada sampai satu meter!” sahut Arsene menatap Zaara.


Zaara berdecih dan beringsut pergi dari hadapan pria itu. Arsene hanya terkekeh geli sambil menggeleng.


\=====


Visual Zaara



\=====


Yang suka sama cerita lanjutan ini, jangan lupa klik favorite yaa


dan pertahankan tombol favorite, like, comment, dan vote


Thank youuu ^_^


Insya Allah diusahakan terbit satu episode setiap hari

__ADS_1


masih di jam 10


__ADS_2