Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 8


__ADS_3

Jalanan masih dipenuhi oleh kendaraan berplat non Bandung. Mereka memenuhi parkiran baik outlet, pusat oleh-oleh, maupun tempat-tempat makan. Sudah biasa hal itu terjadi di Kota Kembang ini


Kami berdua masih asyik berbincang saja di dalam mobil.


"Eh, Ferdian, menurut kamu apa perlu kita mengumumkan pernikahan kita nanti di kampus?" tanyaku di sela kemacetan.


"Hanya menginformasikan? Maksudku tidak ada undangan untuk mereka?" tanyanya menatapku.


"Iya! Jujur kalau aku sendiri sih belum mau memberitakan pernikahan ini kepada khususnya teman-teman dosen dan staf di kampus. Biarlah hubungan kita menjadi rahasia. That will be fun (ini bakalan asyik)!" kataku.


Ferdian menatapku. Kemudian matanya melirik ke kanan.


"Boleh juga sih. Tapi kalau ada isu atau gosip tentang kita gimana tuh?" tanyanya serius.


"Mungkin di sana saatnya kita meluruskan isu. Biar pada akhirnya, semua orang tidak akan salah paham lagi," ucapku.


"Hmm... oke deh! Tapi asal tetap dijaga aja ya hubungan dengan yang lain," katanya sambil menginjak pedal gas, melihat mobil di depannya sudah berjalan.


"Maksud kamu?" tanyaku tidak mengerti.


"Maksud aku, kita harus tetap menjaga jarak dengan lawan jenis ketika sudah menikah nanti. Meskipun hubungan ini kita sembunyikan, pasti banyak orang yang memang mengira kita masih jomblo, seperti sekarang. Bukan hal yang tidak mungkin, suatu saat kita jadi sasaran 'tembak' seseorang," katanya. Matanya tetap melihat ke depan memperhatikan jalan.


Aku terkekeh kecil. Cowok ini manis juga ternyata.


"Kenapa ketawa?" tanyanya melirikku.


"Enggak kok! Kamu lucu aja," kataku sambil tertawa.


"Lucu gimana?" tanyanya tidak mengerti, terlihat agak grogi.


"Lucu kalau lagi serius gitu. Iya, aku ngerti kok! Jadi kita rahasiakan hubungan ini selama di kampus, deal?"


"Okay, deal!" Katanya melirikku.


\=\=\=


Kami telah tiba di sebuah kafe kawasan Punclut, Dago, Bandung. Hawanya cukup sejuk. Meski banyak rumah mewah di kawasan ini, tapi pohon-pohon masih tumbuh menjulang tinggi.


Ferdian membawaku ke sebuah kafe bergaya industrial. Corak batu bata, aksen kayu & besi, juga kaca lebar yang tinggi mendominasi desainnya. Suasana kafe tidak terlalu ramai siang itu. Banyak meja diisi oleh kaum muda, ada yang berkelompok, ada juga yang berpasangan seperti kami.


Kami memilih sebuah meja dengan kursi kayu yang nyaman di bawah sebuah pohon rimbun. Ya, kafe ini mengadopsi konsep outdoor dan indoor sekaligus. Selain kafe, ternyata juga ada distro fashion cowok dan cewek. Cukup menarik.


Lagi-lagi, hari ini dietku bakalan gagal. Aku memesan menu pizza khas Italia dan segelas chocolate milkshake. Aku bisa berbagi menu dengan Ferdian. Sedangkan Ferdian memilih menu dessert pannacota untuk kami berdua dan segelas frappucino.


"Kamu sering main kesini?" tanyaku setelah memberikan pesanan kepada pramusaji.


"Kadang-kadang aja, kalau lagi pengen hang out," jawabnya, sambil menautkan jari-jari tangannya satu sama lain.


"Oh ya, temen dekat kamu di kampus siapa sih?" aku penasaran sekali dengan hal ini.


"Temen dekat ya? Temen biasa atau temen yang suka diajak berbagi?" tanyanya lagi.


"Ya bisa dibilang sahabat sejati, hehe," kataku


"Kalau temen dekat sebenarnya banyak, tapi kalau sahabat kayanya cuma Ridho aja," jawabnya.


Seorang pramusaji membawakan dua gelas minuman pesanan kami tak lama kemudian. Aku menyeruput milkshake milikku. Hmm... nikmat sekali.


"Ridho? Yang orangnya agak gemuk itu bukan ya?" Tanyaku memastikan, seingatku yang namanya Ridho di kelas Ferdian, fisiknya seperti itu.


"Iya betul, cuma dia yang bisa aku ajak buat berbagi cerita. Dia juga tahu kok perjodohan ini," ujarnya santai sambil mengaduk minumannya.


"Really?!"


Ferdian mengangguk, "Tenang aja, dia orang terpercaya kok!"


"Okay!" kataku mengangguk.


"Ridho udah kaya saudara buat aku. Kita barengan terus sejak kecil. Dia itu anaknya Pak Yusuf, supir andalan ayah sejak dulu. Jadilah kita selalu main dan belajar bareng," ceritanya.


"Ooh gitu! Jadi aku bisa gali informasi tentang kamu ke dia?"


"Kenapa gak langsung aja ke aku?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Aku ingin lihat kepribadian kamu dari sudut pandang orang lain, gapapa kan?" tanyaku sambil mengaduk milkshake.


"Oh gitu! Boleh deh," ujarnya singkat.


Tak lama kemudian, pizza dan pannacota pun datang. Terlihat sangat menggiurkan. Potongan pizza dengan topping jamur dan daging sapi juga keju parmesan begitu menggoda. Wanginya langsung membuat perut keroncongan. Aku langsung mengambil potongan pizza tanpa jaga image, karena perutku sudah sangat lapar. Begitu juga dengannya yang mengambil potongan pizza setelah giliranku.


"Princess! Kamu udah urus berkas-berkas untuk KUA?" tanyanya, panggilan itu sebenarnya membuatku agak geli.


"Senin mau aku urus, soalnya hari Senin aku gak ada jadwal mengajar! Kamu sendiri?"


"Aku udah beres sih!" jawabnya sambil melahap pizza.


"Kok bisa?" Tanyaku tidak percaya.


"Aku titip sama Pak Yusuf. Soalnya jadwal kuliahku padat. Jadi pasti gak akan sempat ngurusin berkas."


"Wuih, enaknya!" Ujarku.


"Jadi gak sabar pengen cepet-cepet hari H," santai sekali ucapannya itu.


"Kenapa ayo pengen cepet-cepet? Hmm... mencurigakan!" kataku sambil memicingkan mata dan menunjuk-nunjuk jari tanganku ke wajahnya.


Tiba-tiba wajah putihnya memerah, blushing. Ia membuang wajahnya ke arah lain.


"E...e...enggak kok!" katanya grogi sambil mengusap leher belakangnya.


Aku tertawa keras, setelah menahan tawa sekuatnya.


"Duh anak Om Gunawan udah dewasa aja ya?! Padahal dulu, aku masih inget, aku pernah ngasih kamu permen dan cubit-cubit pipi chubby kamu tuh," ceritaku mengingat waktu kecilku.


"Iya kah?" tanyanya tidak percaya, ia menutup setengah wajahnya dari bawah.


"Iya, waktu itu pesta ulang tahun aku yang ke 7 kalau ga salah! Kamu nangis terus, dikasih balon sama mamaku, gak mempan. Pas aku kasih permen yang melingkar itu baru deh diam. Karena gemas, kucubit pipi kamu yang gembul itu! Nangis lagi deh!" kataku sambil mengambill potongan pizza yang kesekian kalinya.


"Oh ya?"


"Kok sekarang gak gembul ya pipinya?" tanyaku menatapnya. Tanganku menopang dagu.


"Oh jadi kalau udah dewasa, pipi gembulnya hilang ya? Jadi kekar gitu?" tanyaku.


"Nanti giliran aku yang cubit kamu ya?!" ujarnya tidak mau kalah.


"Boleh!" jawabku menantang.


Ferdian kembali membuang muka. Entah apa yang ada dipikirannya, sampai-sampai membuat telinganya pun merah merona.


Aku kembali menahan tawa. Astaga lucu sekali anak ini.


"Ehem, aku mau ke toilet dulu ya?!" ujarnya sambil berdiri dari kursinya.


"Jangan lama-lama ya, aku masih butuh kamu di sini," godaku.


Ia menggelengkan kepalanya, dan kudengar ia terbatuk-batuk beberapa kali. Kuyakin dia juga menahan tawa sampai tersedak. Asyik sekali mencandai mahasiswa yang satu ini.


Ya ampun, aku kelewat batas. Harusnya aku bisa menjaga image di depan dia. Bisa-bisa hancur reputasiku sebagai dosen di kampus. Aku mencoba menenangkan diri dengan meminum milkshake cokelatku. Kulihat ponsel Ferdian yang diletakannya di atas meja itu berdering. Sedikit kulirik siapa yang orang yang menghubunginya.


Sepertinya seorang perempuan muda. Tertera nama Sally di layar. Oh, ternyata teman sekelasnya. Kira-kira ada apa ya dia menghubungi Ferdian?


Cowok berkemeja biru itu kembali. Sepertinya dia sudah membasuh mukanya. Ia berjalan dengan gayanya yang terlihat cool, benar-benar seorang model. Kulihat berapa perempuan di kafe memperhatikannya dan ribut sambil berbisik-bisik pada temannya.


"Kok cuci muka?" tanyaku penasaran.


"Gerah!" jawabnya singkat.


Rasanya ingin tertawa lagi. Tapi aku berusaha untuk menahannya.


"Barusan ada telepon tuh," ucapku memberitahu sambil menyuap sesendok pannacotta strawberry yang lembutnya langsung lumer di lidah.


"Oh ya?" dia mengecek layar ponselnya.


"Iya, beberapa kali!" kataku lagi.


Ferdian kembali menaruh ponselnya dan meminum frappucino miliknya.

__ADS_1


"Maaf ya, tadi candaku berlebihan kayanya!" ucapku.


"Gak apa-apa, anggap aja latihan!" ucapnya kaku.


"Kamu marah?" tanyaku memastikan dirinya tidak merasa kesal padaku.


"Enggak! Cuma sedikit malu aja, ternyata dosen favoritku ini usil banget," katanya, wajahnya menggerutu.


"So sorry!"


Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Ferdian hanya menatapnya saja, tanpa mengangkatnya.


"Kenapa gak diangkat? Siapa tahu penting," ucapku yang masih sibuk menghabiskan pannacotta.


Ferdian menatapku sebentar, lalu mengambil ponselnya. Ia mengangkat teleponnya.


"Halo?" ucapnya.


Maaf, aku ingin sekali menyimak percakapan mereka, lagipula Ferdian tidak beranjak dari tempat duduknya. Suara di seberang agak terdengar meski sayup-sayup.


"Halo, Ferdian! Kamu mau temenin aku jalan malam ini gak?" Sebuah suara cempreng, terdengar agak manja.


"Maaf, aku gak bisa!"


"Yaaah, kenapa? Padahal aku mau ajakin kamu nonton film thriller lho, itu kesukaan kamu kan?"


"Kalau gak ada hal yang penting, jangan hubungi aku!"


Ferdian menutup teleponnya.


Ternyata, tajam juga lidah cowok ini. Aku tidak tahu dia akan sedingin itu merespon dari teman ceweknya. Aku berpura-pura tidak menyimak dan terus menikmati pizza yang belum habis. Ia sepertinya telah mematikan ponselnya.


"Ferdian, bisakah kita bicara hal yang serius?" tanyaku setelah menghabiskan potongan pizza. Aku mengelap tanganku dengan tisu dan meminum segelas air putih


"Ada apa?"


"Umm, ini terkait masalah karirku!" kataku.


"Apa ada masalah dengan karir kamu?" tanyanya masih belum mengerti.


"Bukan. Hanya saja ketika menikah nanti, apakah kamu masih izinkan aku untuk bekerja menjadi dosen?" tanyaku ragu-ragu.


Wajahnya menunduk, matanya melirik kanan.


"Sebenarnya, aku gak ada masalah kalau kamu tetap mau berkarir. Aku tahu, pekerjaan ini adalah cita-cita kamu. Aku gak akan mempermasalahkan hal itu kok. Hanya saja lain halnya kalau nanti, ...." kata-katanya terputus.


"Kalau nanti....?"


"Kalau nanti kita punya anak," lanjutnya, membuat hatiku bergetar tiba-tiba. "Kalau nanti punya anak, menurut kamu gimana?" ia bertanya balik.


"Nah itu yang aku pikirkan! Apa lebih baik untuk saat ini kita menunda punya momongan dulu?" tanyaku ragu.


Aku tidak tahu apa dia bisa menangkap apa yang aku maksudkan atau tidak. Aku akan mendengar pendapatnya dulu.


Ferdian bergumam.


"Aku belum memikirkan jauh kesana sebenarnya. Karena aku pun masih berkuliah, kamu juga baru merintis karir impianmu. Aku kira ini keputusan yang masuk akal untuk saat ini," ujarnya.


Thank God! Dia ngerti banget apa mau aku. Sepertinya mataku kali ini yang berbinar menatapnya just like a cute kid.


Ferdian membuang muka. Blushing again and again. Aku ingin sekali memeluknya, dan mengucapkan terimakasih banyak. Tetapi aku masih sadar diri, jadi aku cukup menggenggam tanganku saja.


"Thank you so much, Ferdian!" ucapku tulus.


Ia hanya tersenyum lebar dengan mata berbinarnya. It's a lovely day.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa like kalau suka sama cerita Ajeng dan Ferdian


Kasih masukan juga buat author


Makasih buat supportnya ^^

__ADS_1


__ADS_2