Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Bonus Episode 11


__ADS_3

Rangkaian acara akad nikah Alice dan Angga sudah selesai sebelum adzan dzuhur, bahkan sebagian besar keluarga Angga sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Arsene dan Angga mendudukkan diri di sofa.


“Jadi kapan rencana resepsinya?” tanya Arsene yang sedang memangku Ryu.


“Bulan depan mungkin. Masih rencana sih. Mau survey dulu,” jawab Angga melonggarkan dasi merah di kerah kemejanya.


“Kalian bakal tinggal dimana?” tanya Arsene lagi.


“Mungkin sementara di sini. Alice yang minta, karena kakek dan nenek juga kesepian kayanya kalau Alice pergi.”


Arsene mengangguk-angguk.


“Sen keluar bentar yuk, ada sesuatu yang mau gue tanyain!” ajak Angga, wajahnya terlihat gugup.


“Apaan sih? Kenapa gak disini aja?!” sergah Arsene.


“Terlalu ramai di sini, Mas Bro!”


“Halah! Bentar gue titip Ryu sama Zaara dulu, ngantuk kayanya nih!” Arsene menggendong anaknya yang mulai kasak-kusuk dan memberikannya pada istrinya yang baru saja selesai makan siang. Ia kembali menghampiri sahabatnya.


Angga mengajaknya duduk di luar karena sepi dari orang lain.


“Apaan sih?!” tanya Arsene duduk di kursi teras.


“Lu punya referensi bacaan kaya gituan gak?!” tanya Angga terdengar ragu-ragu.


“Kaya gituan gimana maksud lu?” Arsene tidak mengerti.


“Itulah… kalau habis nikah emang ngapain coba!” Angga menggaruk-garuk pelipisnya, grogi.


Arsene tertawa-tawa.


“Ya elah, gue kira seorang Angga udah pakar informasi tentang gituan! Ternyata…”


“Gue grogi dan gue khawatir kalau Alice gimana-gimana. Lu tau sendiri, dia kayak masih jaga jarak sama gue!”


“Baru nikah wajar, Ga! Zaara juga dulu galak sama gue. Pinter-pinter aja lu ngeluluhin hatinya. Dia mau nikah sama lu aja, berarti hatinya udah takluk sama lu,” Arsene menyemangati. Angga mengangguk.


“Kalau malam pertama emang wajib gituan?” tanya Angga lagi.


“Ya tergantung kesiapan kalian lah. Kalau udah sama-sama siap, ngapain ditunda?! Pahala lho!” jawab Arsene santai, ia pun jadi teringat malam pertama setelah menikah dengan Zaara. Bahkan dia harus menahan hasratnya lebih lama.


“Lu sendiri dulu siap?! Lu nikah usia berapa sih? Muda banget kan?!”


“Gue nikah 19 tahun, kita sama-sama polos. Enggak juga sih sebenarnya, tapi terpaksa gue harus nunda karena lu tau kan, gue harus ke Sydney dan pisah sama Zaara.”


“Wah seriusan? Lu nunda gituan selama pisah ama Zaara?!” suara Angga terdengar keras.


“Sst, berisik amat sih lu!”


“Hebat banget lu, Sen!” Angga menatapnya tidak percaya.


“Kebayang gak?! Kalau gue udah icip ***-*** selama 3 hari, tapi ladang gue jauh, bakalan gak kuat gue, ya udah tunda aja sekalian!”


“Mantap Mas Bro!” Angga memberikan dua jempolnya.


“Baca aja nih, nanti gue kirim pdf nya! Emang sempet baca gitu?” tanya Arsene.


“Sebenernya gue udah baca-baca, cuma kan teori selalu gak sejalan dengan prakteknya. Jadi gue tanya aja sama elu yang udah pengalaman!”


Arsene terkekeh-kekeh, mengingat pengalaman kecutnya.

__ADS_1


“Ya udah belajar dari pengalaman sendiri aja kalau gitu!” sahut Arsene.


"Heleh! Gak bantu sama sekali!”


“Ya iyalah, masalah gituan mah skillnya teruji kalau udah praktek, bukan baca teori aja. Yang penting tau adab dan ilmu sebelum praktek,” jawab Arsene.


“Ya ya deh!” Angga menyerah.


“Jangan maksa kalau salah satu di antara kalian belum siap. Saling terbuka dan jujur. Bikin diri kalian sama-sama nyaman satu sama lain, insyaAllah manjur,” ucap Arsene percaya diri. Padahal dirinya dulu pernah gagal juga saat percobaan pertama.


“Sip lah! Nuhun!”


Kedua pria itu masih melanjutkan percakapan mereka hingga akhirnya adzan dzuhur berkumandang. Mereka memutuskan untuk langsung berjalan ke masjid yang letaknya tidak jauh dari kediaman Kakek Jaya.


“Kak, kita pamit pulang dulu ya?” pamit Arsene pada kakak sepupunya yang sudah berganti baju.


“Pulang sekarang, Cen?!” tanya Alice.


“Iya, capek! Kayanya mau coba mengenang malam pertama juga deh!” jawab Arsene membuat Zaara menyenggol tubuh suaminya.


“Gue takut, Cen!” seru Alice pelan. Angga masih berada di dalam kamarnya sedang berganti pakaian.


“Gak usah takut, Angga bukan monster kok! Dia pasti bakal lembut perlakuin kakak!” jawab Arsene.


“Santai aja Kak Al, aku juga dulu gitu, hehe!” jawab Zaara tersipu-sipu.


“Iya deh! Makasih banyak ya, nanti gue tanya-tanya sama lu ya Ra, kalau ada apa-apa!”


“Siap Kak!”


“Ga, kita balik dulu ya?!” teriak Arsene. Angga bergegas keluar dari kamar istrinya.


“Aamiin!”


“Cepet kasih Ryu temen ya?!” goda Arsene.


Keduanya tersipu-sipu. “Doain aja!”


“Ga, lu masih izinin Kak Al kerja di toko gue?!”


Angga melirik istrinya.


“Nanti ya kita obrolin dulu.”


“Sip deh! Selamat bersenang-senang! Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumsalam.”


Keduanya kembali ke rumah setelah acara akad nikah Alice dan Angga sore itu.


Zaara telah berhasil membuat Ryu tertidur pulas malam itu setelah menyusuinya selama satu jam. Matanya bahkan sempat terpejam ketika menyusui. Perempuan itu langsung menunaikan shalat isya-nya yang tertunda.


“Sayang…” Arsene memasuki kamar, di tangannya ada sepiring potongan buah-buahan yang sengaja ia siapkan untuk istrinya itu.


Zaara yang baru selesai menuntaskan doanya menoleh.


“Nih makan dulu!” seru Arsene.


Arsene memang sering sekali menyiapkan makan malam untuk istrinya, meski hanya buah-buahan segar saja. Dia suami yang benar-benar perhatian.


“Makasih, Sayang!” Zaara melipat mukena dan menaruhnya di dalam lemari.

__ADS_1


Keduanya duduk di atas karpet yang tergelar di dalam kamar mereka.


“Kamu gak makan?” tanya Zaara menusuk buah dengan garpunya


“Aku masih kenyang, tadi kan makan banyak di rumah kakek sebelum pulang.”


“Kamu capek?” tanya Arsene.


“Gak sih, biasa aja. Lagian acara nikahan Kak Alice kan sederhana banget.”


“Iya. Gak kaya kita dulu ya, berdiri sambil nungguin tamu yang mau salaman.”


Zaara tersenyum mengingat pernikahannya.


Rambut Zaara yang tergerai mengeluarkan aroma wangi yang menggoda. Apalagi Zaara baru saja memotong rambut dan poninya, membuat wajahnya terlihat segar dan cerah, persis seperti ketika pertama kali Arsene melihatnya membuka aurat.


Pria itu berpindah posisi duduk sehingga duduk berdampingan dengan istrinya. Zaara mulai mengendus gelagat suaminya yang terlihat mencurigakan. Hanya saja, ia tetap fokus untuk menghabiskan potongan buahnya. Zaara menaruh piringnya yang kosong di atas meja dan meneguk air minumnya. Ia kembali duduk di samping suaminya yang sedang termenung.


“Kamu mikirin apa sih, Abang Sayang?” tanya Zaara memandang wajah suaminya lekat.


Arsene balas menatapnya, tersenyum lebar dengan sembulan kelopak mata bawah.


“Enggak! Cuma sedang berkelana ke tiga tahun silam,” jawabnya.


Zaara mengernyit, lalu terkekeh kecil.


Arsene menyelonjorkan kakinya.


“Duduk sini sih!” perintahnya pada Zaara, menepuk pahanya.


Zaara tidak memprotesnya, ia mengikuti perintah suaminya begitu saja untuk duduk di atas paha dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya yang terus menatapnya teduh.


“Mau nostalgia ya?” tebak Zaara.


Arsene tertawa kecil.


“Dulu pas hari pertama setelah kita nikah, kita cuma bisa begini aja tanpa ada lanjutannya kan?!” ucap Arsene membetulkan anak rambut istrinya yang tergerai di samping pipinya.


“Iya, tapi kamu pake handuk doang! Bikin aku grogi setengah mati,” jawab Zaara.


“Kalau sekarang coba lagi, mau gak? Tapi sampai acaranya selesai,” pinta Arsene, membuat Zaara tersipu-sipu menunduk kemudian mengangguk setelahnya.


Arsene mulai mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Matanya terlihat sayu ketika bibirnya meraih bibir ranum bagian bawah milik Zaara. Lembut ia meraihnya hingga membuat terlena. Kedua mata mereka sama-sama terpejam menikmati momen yang berasa kembali seperti ke tiga tahun yang lalu, saat keduanya sama-sama merasakan ciuman pertama yang membuat candu. Terasa hangat dan menyenangkan.


Desiran menyapa, mengalir ke seluruh penjuru tubuh, membangkitkan hasrat terdalam yang melenakan. Embusan nafas terasa kuat tatkala tautan bibir itu terlepas sejenak. Dada yang naik turun menandakan keduanya memiliki keinginan yang sama. Keduanya mulai terbuai.


Selimut cinta menutupi keduanya yang tengah menyatu.


“I love you, Sayang!” bisik Arsene.


“I love you too!”


\======


Ehemm... ada yang nostalgia, wkwk


Ayoo jangan pelit klik tombol likenya yaa


Terus dukung aku


Makasiiih banyak ^_^

__ADS_1


__ADS_2