
Kevin mengemudikan mobilnya di jalan yang lengang. Sudah lama sekali ia tidak melewati jalan-jalan ini. Jalan yang dulu sering dilewatinya ketika akan berangkat ke kampus atau pulang ke rumahnya. Alunan musik jazz membahana di dalam mobilnya yang dikemudikannya pelan. Ia tidak ingin terburu-buru, ia masih ingin menikmati sambil mengingat masa-masa kuliahnya dulu.
Pria berwajah lancip itu sesekali tersenyum. Pikirannya sedikit terusik oleh kejadian tadi sore. Mengapa ia sampai bisa bertemu dengan wanita itu disana? Kevin menggigit jari telunjuknya. Entah kenapa hatinya menjadi gelisah. Kevin melajukan mobilnya kencang agar bisa tiba di rumahnya.
"Sudah selesai acaranya?" tanya Nyonya Yuana, ibunda Kevin, melihat kepulangan puteranya malam itu.
"Sudah, Mi! Aku mau langsung istirahat ya?" izin Kevin masuk ke dalam kamarnya.
Kevin melepas kemejanya dan segera menggantinya dengan kaos polos. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam.
Angin sepoi di sore hari membelai wajah dengan lembut. Atap tertinggi di gedung B adalah favorit mereka. Tidak ada banyak orang di sana, kecuali para petugas kebersihan yang biasanya bersantai sambil menikmati puntung rokok mereka. Ajeng dan Kevin duduk di sebuah kursi besi yang catnya sudah mulai berkarat akibat gesekan hujan yang membuatnya tidak lagi mulus. Langit mulai memunculkan semburat jingganya.
"Jadi kamu mau lanjut studi di Amerika?" tanya Ajeng menatap Kevin yang menatap langit luas.
"Iya! Aku juga sudah mulai mengajukan beasiswa dari beberapa perusahaan besar yang punya program studi di luar negeri," jawab Kevin tersenyum.
"Bagus lah, semoga kamu beruntung dimana pun berada!"
"Kamu gak mau ikut aku?"
Ajeng berpikir sejenak. Ia kemudian tersenyum.
"Aku akan tunggu kamu di sini," jawabnya kemudian.
"Kenapa? Padahal kita sama-sama punya potensi besar, sayang kalau kamu hanya diam di sini!" tanya Kevin menatap lekat pada Ajeng.
"Aku akan tetap belajar di kampus ini dan mengajar di sini nanti," ucap Ajeng tersenyum.
Kevin memejamkan matanya. Ia berusaha menerawang masa depannya di luar sana. Ia yakin harapan untuk masa depannya akan bersinar ketika melanjutkan studinya di luar negeri. Lalu pulang kembali ke Indonesia untuk memajukan usaha Papinya yang terseok-seok. Dan wanita di sampingnya itu ada dalam rencana masa depannya.
"Jadi, kalau aku sudah kembali, aku harus mencari kamu di sini?"
"Yup, bisa jadi. Tapi aku komit sama rencanaku kok, jadi aku akan berusaha bisa mengajar di sini," jawab Ajeng mengikat rambutnya.
Kevin tersenyum berseri menatap Ajeng, dan wanita itu balik membalasnya.
Kevin menghembuskan nafasnya kasar. Ajeng sudah menikah, dan ia kini tengah berbadan dua. Pria itu benar-benar terlambat datang menemuinya, padahal ia datang sejak satu tahun lalu. Kalau saja ia segera menemuinya setelah pulang, mungkin masih ada harapan untuk masa depan yang berjalan sesuai dengan rencananya.
Kevin menatap layar ponselnya. Ia bahkan masih menyimpan baik-baik nomor ponsel Ajeng di sana, meskipun nomor itu miliknya ketika masih berkuliah dulu. Ia menekan tombol 'call'. Bodoh sekali batinnya, tentu saja tidak akan tersambung.
Namun, panggilan itu benar-benar tersambung. Seketika jantungnya berdegup. Ah, mungkin juga sudah diambil alih oleh orang lain, batinnya.
"Halo, selamat malam?" sebuah suara lembut terdengar mengangkat panggilan telepon Kevin yang asal.
Tiba-tiba Kevin menjadi gugup. Haruskah ia menjawab atau memutus telepon itu? Namun hatinya terlalu penasaran.
"Selamat malam," jawab Kevin ragu.
"Maaf dengan siapa saya berbicara?" tanya suara wanita itu.
"Apakah ini dengan Ajeng Chandra Diningrat?" tanya Kevin ragu-ragu.
"Iya betul, dengan siapa ya?"
DEG.
Seketika Kevin memutus sambungan teleponnya.
\=====
"Siapa, Sayang?" tanya Ferdian sambil mengeringkan rambutnya yang basah karena baru saja membersihkan diri.
"Gak tau tuh! Tiba-tiba aja putus!" jawab Ajeng terheran-heran.
Ajeng menaruh ponselnya di atas nakas sampingnya.
"Bobo yuk, aku ngantuk banget!" ajak Ferdian.
"Rambut kamu masih basah, keringin dulu yang bener! Nanti masuk angin lho!" seru Ajeng.
"Ya udah temenin aku!" ucap Ferdian sambil terus menggosok-gosokan rambut dengan handuknya.
Ajeng mengelus-elus perutnya yang besar sambil berdoa dalam hatinya.
"Ah capek!" seru Ferdian melempar handuknya ke atas sofa.
"Ditaruh di jemuran dong, Sayang!" ucap Ajeng lembut.
"Besok aja ah!" ucap laki-laki yang kini sudah membalut tubuhnya dengan selimut.
Ajeng menggeleng saja, lalu mematikan lampu.
"Sayang, aku mau tanya boleh?" ucap Ferdian lembut.
"Katanya mau tidur!"
"Satu aja!" pintanya sambil memeluk tubuh istrinya.
"Hmm...." Ajeng menyetujuinya.
"Apa hubungan kamu sama pria donatur itu selain teman sekelas?"
DEG. Jantung Ajeng melompat, sebenarnya ia sudah mengira, Ferdian pasti akan bertanya seperti itu. Ia harus jujur mengatakannya karena itu hanya bagian dari masa lalunya.
__ADS_1
"Mau tau banget atau biasa aja?" tanya Ajeng berbasa-basi.
"Banget, banget, banget!" jawab Ferdian.
"Oke deh, aku kasih tau semuanya!"
Seketika Ferdian merasa berdebar.
Ajeng menghela nafas.
"Kevin, buat aku dulu, adalah lebih dari sekedar teman sekelas. Dia itu temen belajar, temen curhat, temen bermain, pokoknya aku ngerasa nyaman bareng sama dia, dulu."
Ferdian menahan nafas. Ia ingin menyumbat telinganya saat ini. Namun, ia sendiri yang meminta Ajeng untuk menjawab pertanyaannya. Rasa kantuknya hilang begitu saja. Ia tetap diam dan akan terus mendengarkan cerita istrinya.
"Dulu kita sempet punya keinginan yang sama yaitu lanjut studi bareng-bareng. Dia bilang dia mau lanjut ke Amerika, sementara aku pengen lanjut di Indonesia. Jadinya, keinginan kita itu gak kesampaian, karena keinginan kita yang berbeda dalam masalah tempat."
"Aku harap, kamu gak ada masalah dengan ini ya Fer? Soalnya dia cuma bagian dari masa lalu aku aja. Inget, kamu itu masa kini dan masa depan aku!" ucap Ajeng menegaskan.
Ferdian semakin berdebar tak menentu. Apa lagi yang akan dikatakan Ajeng tentang pria itu?
"Jujur aja, dulu kita punya perasaan yang sama. Rasanya, agak mustahil deh kalau perasaanku datar-datar aja, aku dekat sama Kevin sementara dia itu pria yang almost perfect (hampir sempurna), jadi aku menyimpan perasaan lebih untuk dia. Begitu juga dengan dia. Kita gak pacaran, karena memang kita gak mau. Tapi dibilang hubungan tanpa status pun juga enggak, karena kita jarang bersama. Kita barengan itu kalau ada tugas aja, dan itu pun selalu di kampus, di kelilingi banyak orang. Ya tapi kadang kita sering main ke atap gedung B, cuma untuk lihat sunset sambil ngobrolin masa depan. Tapi ya udah sebatas itu."
Ferdian menenggak salivanya yang tertahan sejak tadi.
"Tapi perasaan kamu setelah tadi ketemu dengan dia gimana?" tanya Ferdian.
"You said only one question (kamu bilang cuma satu pertanyaan)?!" ujar Ajeng mengingatkan.
"Oh come on, satu lagi ini aja!" pinta Ferdian memelas.
"Aku kaget, tapi ya cuma kaget aja karena akhirnya kita bertemu lagi. Meski ada rasa gugup, itu aku kira wajar karena dulu kita pernah dekat dan setelah sekian tahun kita baru ketemu lagi! Udah ya Fer, aku mau tidur! Aku ngantuk dan besok pagi ada jadwal!"
Ferdian menghela nafas. Ia melepas pelukannya dan berbaring menghadap langit-langit. Ajeng tidak ambil pusing, ia hanya akan memejamkan matanya dan beristirahat penuh, karena tubuhnya sudah meminta haknya.
Ajeng sudah terlelap. Sementara pria di sampingnya masih berpikir akan kemungkinan yang bisa saja terjadi di hari-hari mendatang. Ia harus lebih mempersiapkan diri, bukan hanya karena Ajeng akan melahirkan, akan tetapi seberapa besar kemungkinan pria itu muncul lagi di hadapannya.
\=====
Ferdian memainkan pulpennya, sementara ia menaruh beban kepalanya di tangan kirinya. Pandangannya kosong, pikirannya melompat pada kejadian kemarin. Hatinya belum tenang.
"Woy! Ngelamun!" Malik mengejutkannya.
"Enggak kok, lagi kepikiran sesuatu aja!" jawab Ferdian datar.
"Kenapa Lo? Cerita dong!" ujar Malik menaruh tasnya di kursi samping Ferdian.
Kelas hari itu masih sepi. Ferdian memang datang lebih cepat karena Ajeng memintanya. Jadi terpaksa Ferdian harus menunggu lebih lama untuk jadwal kuliahnya. Beruntung, kelas yang dipakainya di jam kedua tidak ada yang mengisinya. Kini lima belas menit lagi perkuliahan akan dimulai.
"Saingan apa nih? Kok bisa?" tanya Malik mengangkat alisnya.
"Masa lalu istri gue muncul!"
"Mantan maksud Lo?"
"Mantan hati, bukan mantan pacar."
"Kenapa lo risau? Bukannya Miss Ajeng udah jatuh cinta sama Lo?"
"Iya, gue khawatir aja!"
"Santai aja Men, yang penting Lo harus selalu ada dimana pun dan kapan pun istri lo butuh. That's the key (Itu kuncinya)! Kalau lo ilang sepersekian detik aja, dimana istri lo sedang butuh-butuhnya, bye bye deh!"
Ferdian bergumam. Malik benar, ia harus bisa selalu ada di samping istrinya.
"Semangat dong, bentar lagi jadi Hot Daddy nih! Kalau Lo jadi ayah yang keren buat anak-anak lo, pasti istri itu makin cinta, percaya gak?"
Ferdian terdiam memandangi Malik.
"Perempuan itu paling demen sama laki-laki yang bertanggung jawab, dan buktiin kalau lo adalah laki-laki itu," ucap Malik lagi.
"Thanks, Lik! Mungkin gue terlalu berlebihan. Harusnya gue fokus aja sama persiapan lahiran Ajeng dan anak gue nanti," ujar Ferdian yang kini suasana hatinya lebih baik.
Tidak lama kemudian mahasiswa-mahasiswa lainnya pun berdatangan. Perkuliahan pagi menjelang siang pun berjalan, Ferdian berusaha fokus menyerap ilmu yang disampaikan oleh dosennya hari itu.
\=====
"Menurut kamu, lebih baik dicintai atau mencintai seseorang?" tanya Novi pada Ajeng di sela istirahat perkuliahan.
Ajeng bergumam. Ia berpikir sejenak ke masa awal-awal bertemu Ferdian.
"Lebih baik dicintai sama seseorang," jawab Ajeng, ia membuka botol minumannya dan langsung meneguknya.
"Meskipun kita gak mencintai orang itu?"
Ajeng mengangguk.
"Emang bisa ya mencintai seseorang yang awalnya mencintai kita lebih dahulu?" tanya Novi ragu.
"Bisa aja, asal hati kamu terbuka!"
"Oh ya? Hmm..."
"Dulu awal kamu bisa suka sama suami kamu gimana? Padahal kalian kan dijodohkan," tanya Novi penasaran.
"Awalnya suami aku emang udah suka sama aku. Kedewasaan dan cara berpikir dia yang akhirnya membuat aku membuka diri. Lama-kelamaan, aku jadi jatuh cinta sama dia," terang Ajeng.
__ADS_1
"Jadi awalnya pun kamu sempet ragu?"
"Iya lah, toh dia cuma mahasiswa yang aku pandang sebelah mata. Tapi setelah ngobrol sama dia, ternyata malah dia yang lebih dewasa."
"Kenapa Nov? Tumben curhat!" tanya Ajeng.
"Aku dikenalin sama orangtua aku, tapi aku kurang sreg sama orang itu."
"Kenapa kurang sreg?"
"Karena ...., alasan klasik sih. Aku gak tertarik sama fisiknya!"
"Atau jangan-jangan kamu udah punya gebetan ya, makanya hati kamu tertutup untuk orang lain. Betul atau betul?" tanya Ajeng mendeliknya curiga.
Wanita berhijab pendek itu menyengir.
"Hehe, iya!"
"Siapa? Kasih tau dong!"
"Gak mau ah, malu aku!"
Ajeng menyeringai, ia akan menebak gebetan Novi.
"Ardi ya?" tanya Ajeng memicingkan matanya.
"Ssstt! Jangan ribut!" sergah Novi.
"Apakah kamu udah coba ngobrol sama Ardi?"
"Udah tapi kita kaya gak nyambung gitu. Aku juga gak tau apa dia udah move on atau belum dari kamu!"
"Astaga! Ardi kayanya udah move on deh, dia itu tipe realistis, dia pasti lagi cari juga."
"Aku belum berani jujur sama dia, Jeng!"
"Mau aku bilangin?"
"Jangan!!!"
"Kamu harus berusaha sendiri, Nov! Gak usah gengsi meski kita cewek, jujur aja, dulu aku yang sering bikin Ferdian jadi makin suka sama aku!"
"Wah masa?"
"Iya, dulu aku sering gombalin dia, haha! Kacau! Tapi aku suka lihat dia kaya gitu, eh taunya malah aku juga yang akhirnya salah tingkah! Nah kalau Ardi, aku gak tau tuh, cara apa yang bisa bikin dia nyaman?"
"Menurut kamu, kenapa dulu Ardi bisa suka sama kamu?"
"Entahlah Nov! Aku juga gak yakin!"
"Jadi menurut kamu, aku harus gimana?"
"Tembak Ardi, jujur sama dia! Kalau dia jawab yang gak sesuai harapan, kamu mesti move on, jangan sedih terlalu lama. Buka hati kamu untuk orang lain, yang mungkin jauh lebih baik dari Ardi!" jawab Ajeng tanpa basa-basi.
"Gitu ya? Jadi aku harus berani?"
"Iya! Kadang emang kita harus bertindak lebih cepat daripada nunggu terus, mau sampai kapan coba?!"
Novi menghela nafasnya, ia membetulkan hijabnya. Ia berterima kasih pada Ajeng untuk masukannya itu. Seketika itu Ardi berjalan melewati mereka.
"Hey Jeng, Nov!" sapanya.
"Hai!"
Ajeng mengerlingkan matanya pada Novi.
"Gimana caranya?" bisik Novi.
"Ajak dia makan di luar!"
"Oh iya, sip sip!"
Ajeng mengangkat kedua jempolnya.
\=====
Seorang pria berdiri di atas atap gedung B Fakultas Ilmu Budaya. Ia memandang langit sore seperti dulu, angin kencang berhembus menerpa rambutnya. Para mahasiswa, dosen, dan staff yang baru saja menyelesaikan kegiatan, tampak berjalan di atas trotoar. Sebagian lagi menghampiri kendaraan-kendaraan mereka di lahan parkir. Pemandangan di halaman kampus memang sangat tampak jelas terlihat dari atap gedung B, gedung yang memiliki lantai lebih tinggi dibandingkan gedung lain.
Ajeng baru saja keluar dari gedung dekanat. Angin menyapa rambutnya yang panjang. Ia tersenyum cantik sekali sambil menyambut seseorang di hadapannya. Ia mencium punggung tangan kekar suaminya. Pria tinggi itu, balik mengecup kening wanitanya, berlanjut ke perutnya. Sang pria menuntun Ajeng masuk ke dalam mobilnya. Mobil mereka pun melaju, meninggalkan jejak ban yang tidak terlihat di atas aspal.
Kevin melihat pemandangan itu dari atas. Ia tersenyum menyunggingkan bibirnya. Ajeng sudah bahagia sekarang. Namun ada satu hal yang menggelitiki pikirannya. Mengapa wanita itu tidak ingat akan janjinya dulu, yang akan menunggunya sampai kembali?
Haruskah ia menagih janji itu padanya?
\=====
Bersambung....
__ADS_1