Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 81. Reuni


__ADS_3

Ajeng mengenakan hijab instannya ketika ia sudah selesai dengan dress cantiknya yang berwarna salmon. Sebuah bros berbentuk bunga disisipkannya di atas bahunya. Wanita beranak empat itu sudah terlihat cantik dan modis meski riasannya tampak tipis. Wajahnya segar seperti masih berusia 30 tahun saja. Ia memang selalu mengkonsumsi buah dan sayuran segar agar berat badannya ideal dan awet muda. Maklum saja, memiliki suami berusia lebih muda 5 tahun darinya, ia harus selalu usahakan agar penampilannya tetap menarik apalagi di depan suaminya yang tampan itu.


 


 


“Cantik bangeeet!” ucap Ferdian merangkul tubuh istrinya dari belakang.


“Makasih, Sayang!”


“Istri siapa ini?” tanya Ferdian, memperhatikan wajah istrinya dari cermin.


“Udah tau nanya!” jawab Ajeng tersenyum sambil mencolek hidung mancung suaminya.


 


 


Ferdian terkekeh. Sudah 20 tahun usia pernikahannya dengan dosennya itu. Kemesraan, keakraban, dan keterbukaan selalu menghiasi pernikahan mereka. Meskipun begitu, tetap saja selalu ada ujian yang menghadang. Pundak mereka semakin berat ketika sudah diamanahi oleh anak-anak yang luar biasa. Sifat anak-anak mereka pun bermacam-macam, maka kesabaran dan ketelatenan adalah kunci agar bisa mendidik anak sebagai investasi di dunia dan akhirat.


 


 


Ajeng membetulkan kerah kemeja milik suaminya yang berada di bawah jas hitam.


“Deg-degan gak mau ketemu temen-temen di kampus?” tanya Ferdian.


“Enggak juga, biasa aja!”


“Ini reuni akbar lho! Kamu gak punya mantan kan?”


“Dih, mantannya juga gak ada. Aku lebih deg-degan karena bakal ketemu lagi rekan-rekan dosen yang dulu selalu bantu aku. Mereka yang sangat menyayangkan kepergian aku dari kampus. Tapi ya.... sekarang pasti udah berubah! Aku jauh lebih bahagia setelah itu.”


“Ah kamu emang istri sholehahku,” ucap Ferdian membuat wajah Ajeng tersipu. Pria itu mengecup kecil bibir istrinya.


 


 


“Untuk lipstick-ku jenis matte, jadi gak nempel di bibir kamu!”


Ferdian tertawa-tawa.


“Abang Acen tuh yang lucu, bibirnya belepotan sama lipcream Zaara, haha!” ujar Ajeng mengingat tingkah anaknya beberapa bulan lalu.


“Mata kamu tuh jeli banget sih, Sayang! Pasti Abang malu banget keciduk gitu!”


“Hahaha, anak kita udah dewasa aja. Kadang gak nyangka aja, Abang udah nikah mungkin bentar lagi kita bakal momong cucu. Perasaan jiwa aku masih berasa usia 25-an aja deh!” Ajeng tersenyum jika ia mengingat momen bersama Arsene, apalagi di saat-saat sulit ketika Arsene menjalani terapi.


“Kamu selalu terlihat muda di mata aku, Sayang!” Ferdian menggenggam kedua tangan istrinya sambil menatapnya tajam.


 


 


“Yuk berangkat!” ajak Ajeng.


“Finn kemana?” tanya Ferdian. Finn memang sudah bisa berjalan meski masih meraba-raba tembok atau meja ketika berdiri.


“Sama Kirei.”


Ferdian dan Ajeng akan menghadiri acara reuni akbar kampusnya yang dihelat hari ini di sebuah gedung megah nan luas. Seperti namanya, reuni akbar ini akan dihadiri dari hampir 10 angkatan Universitas Mentari, dimulai dari angkatan Ajeng sampai 9 angkatan berikutnya. Angkatan Ferdian termasuk di dalamnya. Mereka membawa dua anaknya, Kirei dan Finn pada acara itu.


 


 


“Eh, Ridho datang gak, Yang?” tanya Ajeng memangku Finn di atas pahanya.


“Udah dua hari ini katanya nyampe di Indonesia.”


“Oh ya? Waaaah jadi penasaran!”


“Ridho udah banyak berubah, Sayang! Dia udah jadi pengusaha kelas internasional macam Abang Damian,” terang Ferdian mulai melajukan mobil SUV miliknya.


“Iyalah, perusahaan mertuanya juga besar.”


 

__ADS_1


 


“Anaknya itu seumuran Kirei ya?” tanya Ajeng.


“Iya kalau gak salah dan mereka kembar.”


 


 


Ferdian memarkirkan mobilnya di samping deretan mobil lainnya di halaman parkir luas dari gedung milik militer itu. Beberapa orang terlihat berjalan menuju gedung yang juga para peserta reuni. Ferdian menatap layar ponselnya, membaca pesan dari grup sekelasnya saat kuliah dulu. Mereka sudah banyak yang tiba dan sudah berkumpul di dekat panggung. Ferdian jadi tidak sabar untuk bertemu kawan-kawannya yang lain, terutama Ridho, sahabatnya sejak kecil.


 


 


Ferdian menggendong anak bungsunya, Finn. Sementara Ajeng merangkul tubuh Kirei. Penerima tamu menyambut kedatangan mereka, lalu mereka pun masuk ke dalam gedung yang sudah didekorasi rustic.


 


 


Ferdian mengajak istri dan anak-anaknya untuk langsung menuju meja dekat panggung dimana teman-teman kuliahnya sudah berkumpul di sana. Ajeng hanya mengikuti saja.


 


 


“Ow, ow, ow! Ini bos besar internasional datang euy!” ucap Ferdian sumringah ketika melihat keberadaan Ridho di sana. Mereka saling berpelukan erat karena sudah lama sekali tidak bertemu.


“Gimana kabar kamu, Dho?!” tanya Ferdian.


“Ya gini aja lah, Fer! Alhamdulillah!” jawab pria yang kini berkacamata dengan rambut shortcutnya yang tidak berubah. Tubuhnya tetap ideal seperti terakhir mereka bertemu. Ferdian menepuk-nepuk bahu Ridho, tidak menyangka mereka akan bertemu lagi karena Ridho sudah lama tinggal di London. Ridho menyapa Finn kecil yang masih digendong oleh Ferdian.


“Rajin amat bikin anak!” celetuk Ridho.


“Rajin dong! Biar rame, bentar lagi tinggal nunggu cucu!”


“Ahhh iya ya, Arsene udah nikah ya?”


“Iya, haha!”


 


 


 


 


“Cuma dua aja Dho?” tanya Ferdian bersalaman dengan dua anak kembar sahabatnya itu.


“Itu tuh mau nambah!” jawab Ridho menunjuk pada istrinya.


“Eh iya?”


“Alhamdulillah udah 4 bulan.”


“Alhamdulillah…”


 


 


Setelah itu berdatangan kawan mereka lainnya bergabung di sana, saling menanyakan kabar dan melepas rindu. Waktu yang dilewati selama ini tentu saja telah banyak menorehkan hal-hal yang luar biasa yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Reuni ini memperlihatkan apa yang pernah mereka mulai dan saat kini mereka raih. Memang saat-saat muda tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa mimpi dan harapan. Belajar dan kerja keras saat muda tentu akan lebih baik dibandingkan dengan bersenang-senang saja. Menjadi muda yang berbakat disertai impian, akan menentukan kesuksesan sepuluh tahun ke depan bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan. Kesuksesan itu diciptakan sejak dini dengan perencanaan matang dan keseriusan. Akan tetapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.


Kumpulan wanita-wanita sedang berkerumun di salah satu meja dekat panggung. Ajeng berjalan mendekati meja prasmanan hidangan untuk mengantarkan Kirei yang sudah lapar dan mengambil beberapa kue kecil di sana. Terdengar perbincangan yang cukup keras dari meja di sebelahnya.


“Eh tau gak sih, Ajeng udah nikahin anaknya lho…”


“Dia datang kesini gak sama suami brondongnya?”


“Gak tau tuh, denger-denger dia pindah ke Singapura setelah berhenti ngajar di kampus.”


“Udah balik lagi tau! Makanya beberapa bulan lalu anaknya yang baru lulus SMA itu nikah.”


“Jangan-jangan anaknya korban pergaulan bebas?”


“Ah masa sih?”

__ADS_1


“Ah itu sih udah biasa, anak remaja terlibat pergaulan bebas terus pas hamil, tetep aja ada pestanya kaya artis-artis.”


“Iya sih, biasa orang kaya. Apalagi suaminya itu kan anak pengusaha sukses multinasional.”


Kuping Ajeng yang sedang mengambilkan kue-kue untuk Kirei terasa panas terbakar, begitu juga dengan hatinya. Hanya saja ia ingin menunggu perbincangan apalagi yang akan diobrolkan oleh teman-teman kuliahnya itu.


“Eh Ajeng tuh bukannya mantan Kevin?”


“Kevin dateng ya?”


“Tadi aku ketemu, dia sendirian. Padahal udah nikah.”


“Haha, mungkin dia gagal move on sama Ajeng!”


“Jangan-jangan Kevin udah cerai sama istrinya!”


“Wah wah, gosip menarik nih. Kalau mereka ketemuan di sini kayanya bakal ada cinta lama bersemi. Mereka kan dulu deket banget!”


“Iya betul.”


Ajeng berjalan angkuh menuju meja itu setelah menyuruh Kirei kembali pada ayahnya. Mungkin teman-teman semasa kuliahnya tidak pernah tahu keberadaan dirinya yang sudah berhijab saat ini. Membicarakan dirinya serta anaknya membuat hatinya tergores, tetapi bukan Ajeng namanya kalau ia tidak melabrak kumpulan wanita-wanita berlidah dua itu.


“Haiiii….” sapanya memasang wajah ramah dengan senyuman penuh intrik.


“A-a-ajeng?!” tanya salah satu perempuan dengan gelung rambut tinggi.


Wanita yang berjumlah enam orang itu seketika memasang wajah terkejut dan ketakutan melihat sosok yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


Ajeng mendudukan dirinya di salah satu kursi kosong yang ada di sekitar para wanita dengan riasan tebal dan kilauan emas di tangan serta leher mereka.


“Ka-kamu pakai hijab se-sekarang?” tanya wanita bergelung tadi.


“Iya alhamdulillah. Semakin tua itu sudah seharusnya jadi lebih baik, lebih bijak, lebih taat sama agama. Kita gak tau kan kapan kematian menjemput. Jadi aku putuskan berhijrah!” ucap Ajeng terlihat santai tapi menusuk hati keenam wanita di sampingnya.


Keenam dari mereka menyeringai kaku.


“Oh ya perlu kuluruskan juga ya?! Anakku menikah bukan karena pergaulan bebas. Anakku menikah pun dengan proses ta’aruf bukan pacaran. Dia gak pernah sentuh perempuan yang belum jadi mahramnya. Maaf kalau kalian gak terima undangan pernikahan anakku kemarin. Dan masalah Kevin, itu bukan urusanku lagi, meski kita sekarang sudah menjadi satu keluarga besar, karena dia adalah paman dari menantuku. Satu lagi, tolong jangan bicarakan hal yang tidak penting tentang orang lain di acara yang katanya untuk menyambung tali persaudaraan. Permisi semuanya!” Ajeng bangkit dan berlalu dari sana.


Keenam wanita tersebut hanya melongo melihat kepergian Ajeng dari sana, setelah wanita berhijab salmon itu mengklarifikasi apa yang menjadi pembicaraan mereka sejak tadi.


“Kamu darimana, Sayang?” tanya Ferdian sambil menyerahkan Finn pada istrinya.


“Ketemu temen lama!”


“Ooh… ada temen deket kamu?”


Ajeng mengedikkan bahunya, “temen perempuan di kampus ini gak ada, makanya sering digosipin bareng Kevin. Mereka punya lidah banyak soalnya.” Ajeng menarik kerudungnya yang tertahan oleh Finn.


“Lidah banyak?” tanya Ferdian tidak mengerti.


“Tau sendiri mahasiswi kampus kita tuh kebanyakan biang gosip. Lucu ya?”


“Aah, iya betul!” jawab Ferdian.


Ajeng dan Patricia saling berbincang di kursi bercerita tentang kisah hidup mereka masing-masing, sementara Ferdian dan Ridho berjalan ke taman sambil mengawasi anak-anak mereka yang sedang bermain. Kirei memang sudah fasih berbahasa Inggris, itu membuatnya bisa cepat akrab dengan Mikail dan Malala, anak-anak dari Ridho.


“Dho, kamu gak ada rencana tinggal di Indonesia lagi?” tanya Ferdian yang duduk di sebuah kursi taman.


“Belum tau, Fer! Apalagi setelah bapak dan ibu meninggal rasanya makin susah aja pindah lagi ke sini.” Ridho menatap pada anak-anak mereka yang terlihat berbincang-bincang di atas rerumputan.


“Iya ya. Jadi gak ada alasan untuk pulang ke sini kecuali ngumpul sama kakak-kakak kamu.”


Ridho mengangguk dan membetulkan posisi kacamatanya.


“Iya apalagi mertuaku juga udah tua. Dia gak mau jauh-jauh dari cucunya. Jadi terpaksa pulang ke Indonesia seperlunya aja.”


“Gak apa-apalah yang penting kumpul bareng istri dan anak.” Ferdian memainkan rumput teki yang dipetiknya.


“Iya betul!”


Suasana reuni yang ramai memang tidak kondusif. Kebanyakan peserta berkumpul masing-masing dengan teman dekat selama kuliahnya. Acara hiburan di panggung juga hanya sebatas hiburan musik. Setelah siang, Ajeng dan Ferdian memutuskan untuk kembali pulang.


“Besok main ke rumah ya?!” ucap Ferdian pada Ridho yang dijemput oleh supir sewaannya di Indonesia.


“Insya Allah!”


“Bye Kirei!” pamit Mikail dan Malala bersamaan.


“Bye bye! See you!”

__ADS_1


\======


Bersambung....


__ADS_2