Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 75


__ADS_3

"Lepasin tangan istriku!" ucap Ferdian yang tiba-tiba muncul, membuat Ajeng dan Kevin terkejut bersamaan.


Kevin malah menarik lengan Ajeng ke belakang tubuhnya, sementara wanita itu tengah menahan rasa sakit di lengannya, Kevin terlalu kencang memegangnya.


Ferdian berusaha tetap menahan amarahnya, ia berusaha bersikap wajar, meski ia melihat istrinya yang dicengkram oleh lelaki asing. Ia melangkah maju ke depan berusaha menghampiri.


"Lepasin dia!!" teriak Ferdian. Ia tak peduli banyak orang memandang ke arah mereka sekarang.


"Lepasin aku, Kev!" pinta Ajeng merintih, matanya berkaca-kaca. Melihat Ajeng yang seperti itu, hati Kevin terenyuh.


Akhirnya, Kevin melepaskan tangan Ajeng, ia mengangkat tangannya lalu melangkah mundur dari wanita itu. Ajeng langsung berlari menghampiri suaminya dan berlindung di balik tubuhnya sambil memegang lengannya yang terasa linu..


Ferdian menatap tajam dan dingin pada Kevin, seperti akan menerkamnya. Nafasnya terdengar tidak teratur karena ada api di dalam dirinya yang siap meledak keluar. Namun ia tidak tahu apa yang terjadi di hadapannya. Ia hanya mengancam Kevin dengan tatapannya saja, lalu menarik lengan istrinya menuju mobil mereka. Sedikit, Ajeng merasa lega sudah bersama suaminya, meskipun hatinya tetap takut apalagi menghadapi Ferdian yang tak pernah dilihatnya semarah itu.


Ferdian membanting pintu mobilnya setelah istrinya itu berada di dalam. Ia mengemudikan mobilnya dengan kencang, tanpa berkata apapun. Wajahnya menyiratkan amarah yang tidak bisa disembunyikannya, meskipun ia tidak berbicara satu patah kata pun.


"Fer, aku bisa jelasin!" sergah Ajeng di dalam mobil.


Namun Ferdian tetap tidak bergeming, sorot matanya tetap tajam menatap jalanan. Nafasnya memburu.


Ferdian memberhentikan mobilnya di halaman parkir gedung perkuliahan di kampusnya. Ia masih belum berkata-kata. Ajeng menatapnya cemas, takut, dan bersalah.


"Fer!" panggil Ajeng lirih, matanya berkaca-kaca.


Ferdian keluar dari mobil, mengambil tas ranselnya dan membanting keras pintu mobilnya itu. Ajeng tertunduk dengan air mata yang mengalir deras. Ia mengambil tisu dan berusaha menghapus air matanya. Sementara suaminya itu telah melangkah jauh dari mobil meninggalkannya sendirian di dalam mobil. Ajeng menyadari bahwa Ferdian benar-benar marah padanya, bahkan ia tidak menoleh sedikit pun padanya. Ia sadar telah menyalahgunakan kepercayaan suaminya itu.


Ajeng berusaha menguatkan dirinya, masih ada satu mata kuliah yang harus diisinya siang ini. Ia harus bisa menguasai dirinya, dan akan berusaha berbicara pada suaminya nanti. Ia keluar dari mobilnya masih dengan mata yang sembap. Ia menatap punggung suaminya yang berjalan kencang menunduk menuju gedung perkuliahan. Ingin sekali wanita itu mengejarnya dan memeluknya dari belakang lalu menjelaskan segala hal yang terjadi. Namun ia tidak bisa, tak mungkin juga untuk mengejarnya dengan kondisi dirinya yang sedang hamil besar. Ajeng memutuskan pergi ke mushola gedung dekanat.


Sementara Ferdian terduduk lesu di sebuah kursi taman setelah ia berada jauh dari Ajeng. Beruntung suasana taman tidak terlalu banyak mahasiswa. Ia berdiri berkacak pinggang, lalu berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak dan menjambak rambutnya sendiri. Ia menendang sebuah batang pohon yang ada di hadapannya beberapa kali. Rasanya ingin berteriak, namun ia hanya mengepalkan tangannya kemudian menumbuk batang pohon itu dengan tangannya. Ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Ia harus berpikir sehat, ia tidak boleh dikuasai amarahnya apalagi di depan istrinya. Oleh karena itu, ia memilih menghindar sementara dari istrinya, khawatir ia akan melukainya secara fisik.


Seketika itu adzan dzuhur pun berkumandang dari masjid kampus. Terdengar sangat menyentuh hati, ia memutuskan untuk pergi ke masjid siang itu, menyerahkan segala sesuatunya pada Yang Di Atas.


\=====


Waktu menunjukan pukul 14.30, perkuliahan siang Ajeng telah selesai di hari itu. Lagi-lagi ia hanya memberikan tugas soal kepada mahasiswanya. Ia pun tidak banyak bicara di depan kelas. Wanita itu lebih sering membuat dirinya tenang selama mahasiswanya mengerjakan soal-soal di buku grammar. Ajeng menatap layar ponselnya setelah mahasiswanya keluar dari kelas. Ia ingin sekali menghubungi Ferdian, ia tahu kalau suaminya itu baru pulang sore nanti. Namun ia mengurungkan niatnya. Ajeng memutuskan untuk pulang ke rumah menggunakan taksi online saja.

__ADS_1


Ajeng berjalan gontai menuju hunian apartemennya. Bahkan air matanya terus mengalir selama menaiki lift. Ferdian berhak marah pada dirinya tetapi ia harus mendengar penjelasannya terlebih dulu. Ajeng menaruh tasnya di atas meja kerjanya. Ia merubuhkan tubuhnya di atas kasur dan menenggelamkan wajahnya pada guling yang dipeluknya dan menangis di sana.


Ferdian tidak fokus belajar pada saat ini. Pikirannya melayang pada kejadian tadi siang yang dilihatnya. Kevin yang mencengkeram tangan istrinya itu, dan Ajeng yang terlihat ketakutan dan ingin melawan. Ia berusaha berpikir jernih agar tidak ada salah paham. Ferdian langsung bergegas keluar dari kelas setelah dosennya selesai memberi perkuliahan.


"Fer, kamu mau kemana?" tanya Ridho melihat sahabatnya yang berlari keluar.


"Aku izin gak masuk kelas terakhir!" teriaknya.


Kawan-kawan yang lain menggeleng-geleng saja melihat tingkah laku Ferdian.


Ferdian mengambil ponselnya, ia berusaha menghubungi istrinya. Namun panggilan yang dituju tidak tersambung. Ia mencoba lagi tetapi tetap saja tidak tersambung. Ia tahu istrinya itu pulang lebih siang. Ferdian menghentikan langkahnya, ia malah kembali lagi ke kelas.


"Kenapa balik lagi?" tanya Ridho.


"Gak jadi! Aku ikut kelas aja!" jawabnya yang sudah kembali duduk di kursi tadi. Karena perkuliahan selanjutnya diadakan di kelas yang sama.


Ferdian berniat akan memberikan sedikit pelajaran untuk istrinya itu.


\=====


Ia berjalan menuju meja kerjanya dan meraih ponsel di dalam tasnya. Ternyata sejak tadi ponselnya itu mati karena kehabisan baterai. Ajeng menyambungkan ponselnya dengan kabel penambah daya lalu menyalakannya. Ternyata Ferdian sempat menghubunginya tadi. Ajeng menjadi sedikit merasa lega. Ia ingin menghubunginya, namun baterai ponselnya belum kuat. Ia akan menunggu saja.


Satu jam sudah berlalu, tetapi Ferdian belum juga pulang. Ajeng sudah berusaha menghubunginya, tetapi teleponnya itu malah tidak tersambung. Air mata kembali menetes di pipinya. Ia memandangi masakan yang sudah disiapkannya. Hidangannya sudah dingin,


Dua jam telah terlewati lagi. Ajeng semakin merasa cemas dan risau. Hidangannya masih tertata rapi di atas meja makan. Ia sendiri tidak mau memakan masakannya, seleranya sama sekali tidak muncul. Ia hanya memakan sebuah apel dan segelas susu khusus untuk ibu hamil saja. Ia mengelus-elus perutnya yang besar. Sebuah tendangan kecil terasa beberapa kali.


"Bunda sedih, Nak! Tapi ini salah Bunda yang bikin Ayah marah! Kamu maafin Bunda kan, Nak?" ucapnya pada anaknya yang ada di dalam perutnya.


Ajeng kembali menangis.


"Apa menurut kamu Ayah mau maafin Bunda?"


Tendangan kecil itu kembali terasa. Ajeng tersenyum getir. Ia melipat kedua tangannya di atas meja makan dan menaruh kepalanya di atas tangannya itu. Matanya terpejam meski tetap saja air matanya itu masih mengalir. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.


Tepat pukul 21.00, Ferdian datang memasuki apartemennya. Pandangannya lesu dan letih. Ia sehabis mengerjakan tugas kelompoknya hari itu besama teman-temannya. Ponselnya mati dan sengaja tidak ia isi baterai.

__ADS_1


Ferdian menatap terkejut pada istrinya yang tertidur di atas meja makan, bersama hidangan makan malam yang sudah disiapkannya. Ia tersenyum kecil, dan merasa bersalah karena tidak memberitahukannya kalau ia pulang lebih malam. Namun ia sudah komitmen, akan memberikan istrinya sedikit pelajaran.


Ferdian menghampiri istrinya. Ia menyeka rambut panjang yang menutupi wajahnya. Mata istrinya itu terlihat bengkak, dengan hidungnya yang bersemu merah. Ferdian menjadi terenyuh. Ia menggendong tubuh istrinya yang tertidur itu menuju kasurnya, mengecup keningnya dan perutnya. Seketika perutnya itu menghentak. Ferdian jadi tersenyum dan membisikan sesuatu pada perut istrinya.


"Kamu jangan bangunin Bunda ya, Dek!" bisik Ferdian sambil mengelus-elus.


Pria itu pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


\=====


Ajeng terbangun dari tidurnya. Ia terkejut karena keberadaannya di kasur, padahal ia ingat kalau ia tertidur di meja makan tadi malam. Di sampingnya tidak ada siapa-siapa, hanya ada guling dan bantal milik Ferdian. Hatinya jadi terkejut dan segera beranjak mencari ponselnya yang ia ingat masih tersambung kabel penambah daya. Ia segera menghubungi nomor Ferdian ketika waktu menunjukan pukul 01.30 WIB. Namun lagi-lagi teleponnya tidak tersambung juga.


"Ferdian, maafin aku...." isaknya pada dini hari.


"Ferdian....!" teriaknya. Tangisannya pecah menjadi lebih kencang.


\=====


Kok Author jadi sedih? Apalagi ngetiknya ditemenin lagu Isyana yang judulnya Sekali Lagi


Kira-kira besok seperti apa?


Yuk Like, Comment, Vote & Tips buat semangatin Author


Terima kasih ^_^


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2