
“Hijrah secara bahasa adalah berpindah dari sesuatu ke sesuatu yang lain atau meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Jadi hijrah itu identik dengan perubahan. Tentu perubahan ke arah yang baik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.
“Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah meninggalkan apa yang wajib ditinggalkan, yakni apa saja yang dilarang oleh Allah SWT. Inilah hijrah yang bisa dilakukan kapan saja. Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud: ‘Seorang Muslim adalah orang yang menjadikan kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya. Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang Allah larang atas dirinya.’
“Selain dilakukan berdasarkan kemampuan secara maksimal, perintah Allah harus segera ditunaikan. Allah SWT berfirman dalam surat adz-Dzariyat ayat 50 : ’Bersegeralah kembali kepada Allah. Sungguh aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untuk kalian.’
“Muhasabah atau introspeksi diri juga sangat penting dilakukan terus-menerus. Tentu agar setiap dari kita bisa memperbaiki diri atau berhijrah.”
Seorang ustadz berusia kurang lebih 50 tahunan mengisi tabligh akbar di hari itu mengenai hijrah. Ia juga adalah salah satu pembina DKM yang sudah sangat senior di kampus ini.
Dengan penjelasan dan gaya bicaranya yang mudah dipahami, membuat para jamaah yang didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa itu semakin fokus saat menyimak.
Alice begitu tertegun mendengarkan isi kajian di siang itu. Ia bersyukur karena dirinya mengambil pilihan untuk segera berubah.
“Mengapa kita perlu bermuhasabah diri terus-menerus? Kita tidak pernah tahu yang namanya kematian. Yang jelas, setiap manusia akan melewati pintu itu. Entah di usia yang sangat muda atau mungkin sangat tua. Adalah pilihan kita dalam menjemput kematian, husnul ataukah su’ul khatimah. Kita bisa memilihnya. Jika kita ingin memilih menjemput kematian dalam keadaan seburuk-buruknya, gampang, kita tinggal pergi ke tempat maksiat sering-sering. Tetapi apa ganjarannya? Neraka menjadi tempat kembali di akhirat nanti.
“Sedangkan jika kita memilih untuk husnul khatimah, maka kita harus sering berbuat baik, beramal sholeh, mengajak pada kebaikan dan mengingatkan pada keburukan. InsyaAllah, surga akan menunggu kedatangan kita, dengan izin-Nya.
“Saat ini kita masih diberi kesempatan hidup. Sudah seharusnya, kita bisa memanfaatkan waktu yang tersisa di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Susah memang berbuat baik itu, apalagi di dalam sistem yang justru menghalalkan maksiat. Hanya saja itu tantangan bagi Kaum Muslimin di akhir zaman, dimana badai fitnah terjadi dimana-mana. Pagi hari ia taat, sore hari maksiat. Kuncinya, teguhkan iman, tancapkan ketakwaan, layarkan kesabaran. Mintalah kepada Allah agar istiqomah dalam ketaatan. Itulah hijrah yang bisa mengantarkan kita pada ketaatan sempurna kepada Allah swt.”
Kajian tabligh akbar dalam rangka menyemarakkan tahun baru Islam 1 Hijriyah itu sudah selesai tepat di jam 11.30. Para jamaah bersiap-siap untuk menunaikan shalat dzuhur. Zaara dan Alice, juga bersama teman-teman keputrian LDK sedang duduk di selasar, mereka bergantian untuk mengambil air wudhu.
“Ra, lu wudhu aja dulu. Kakak lagi gak sholat kok!” ucap Alice.
“Oh ya?!”
“Iya, sini Ryu sama gue aja,” tawar Alice.
Ryu memang sedang tidur setelah Zaara sempat menyusuinya tadi. Bayi itu sedang tertidur pulas, meski suasana di luar masjid sedang ramai.
“Titip dulu ya Kak!” seru Zaara memindahkan Ryu pada lengan Alice.
“Iya santai aja!”
Untung saja, Ryu tidak bangun meski tadi sempat menggeliat. Zaara bergegas mengambil air wudhu ke tempat khusus akhwat. Di perjalanan menuju tempat wudhu Arsene sempat mencegatnya sebentar.
“Neng Zaara!” itu panggilan Arsene pada Zaara jika sedang di tempat umum. Agak sungkan jika memanggilnya dengan panggilan sayang seperti biasa.
Zaara menghentikan langkahnya, Arsene mendekatinya.
“Kamu udah denger dari Kak Alice?” tanya Arsene memastikan kalau istrinya sudah tahu rencana mereka setelah ini,
“Mau temenin Kak Al sama Angga?” tanya Zaara pelan, berusaha agar suaranya tidak terdengar yang lain.
“Iya, gapapa mau temenin mereka?”
“Gapapa. Emang dimana?”
“Belum tau sih. Mungkin di kafe daddy aja. Tadi aku ajak Angga ke sana.”
“Ooh, ya udah!”
“Ryu mana?” tanya Arsene.
“Ryu sama Kak Alice, dia lagi tidur!”
“Alhamdulillah dia tenang ya. Gak rewel kan?”
“Alhamdulillah gak kok! Dari tadi juga anteng, habis nyusu bobo deh!”
Arsene tersenyum. “Yuk sholat dulu!”
Selepas shalat dzuhur, seperti rencana, mereka akan mampir dulu ke kafe milik Ferdian yang memang tidak jauh dari kampus UBP. Zaara menaiki mobil Alice untuk ke sana, sementara Arsene dan Angga menaiki motor mereka masing-masing.
Suasana kafe di tanggal merah dan jam makan siang cukup ramai hari itu. Mereka memilih sebuah meja dengan enam kursi. Seorang pelayan membawakan mereka buku menu. Meski kafe itu milik Ferdian, Arsene tetap bersikap seperti pelanggan pada umumnya.
__ADS_1
Mereka sudah memilih menu masing-masing. Angga dan Alice terlihat canggung satu sama lainnya. Mereka tidak duduk berhadapan, karena Alice lebih memilih duduk di ujung meja bersama Zaara di sampingnya yang masih menggendong Ryu yang tertidur.
Arsene dan Angga saling melirik.
“Lu duluan yang ngomong, Ga!” bisik Arsene.
Angga tertunduk, hatinya tegang. “Kok gue jadi deg-degan ya, bantuin cairin suasana kek!” balas Angga.
“Kak Al, ini Angga mau ngomong sesuatu!” sahut Arsene, membuat Angga terkejut. Bukan itu maksudnya, setidaknya suasana tegang ini harus cair terlebih dahulu.
Angga menggaruk leher belakangnya, grogi. Alice meliriknya sesaat.
“Kenapa gue jadi grogi gini sih?!” ucap Angga terlalu jujur.
Alice terkekeh pelan menutup mulutnya.
“Dah lah, makan dulu aja. Itu mah salatri kali, Ga!” celetuk Arsene membuat Angga menyenggol tubuhnya. Salatri adalah istilah bahasa sunda untuk kondisi badan yang bergetar akibat kelaparan. Kedua wanita di sana tertawa-tawa.
Tidak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesanan mereka masing-masing. Mereka menikmati makan siang itu dengan percakapan ringan sehingga suasana menjadi lebih cair.
“Kamu bisa makannya, Sayang?” tanya Arsene melihat istrinya menyuapkan sendok tetapi sedikit kesulitan karena ia harus menahan Ryu yang tertidur pulas.
“Bisa, pelan-pelan aja!” jawab Zaara. Arsene berpindah posisi dan duduk di sebelah istrinya.
“Mau gantian atau mau aku suapin?” tawar Arsene.
Kedua lajang di sana berdeham bersamaan. “Ehem, ehem!”
“Ciyee jodoh! Barengan gitu ehem-ehemnya!” goda Arsene tertawa-tawa.
Hal itu tentu saja berhasil membuat keduanya tersipu-sipu.
“Apa sih Cen!” Alice memelototi sepupunya.
“Jaim Kak! Ada calon suami, jangan galak-galak, ampun!” ucap Arsene menggoda.
Makanan sudah habis, Zaara masih berusaha menghabiskannya.
“Ngobrol dong, katanya mau ada yang dibicarain!” seru Arsene.
“Tau tuh, yang ngajak duluan siapa?!” ucap Alice.
Angga melirik Arsene seolah menunjuknya. “Kok gue?!” seru Arsene.
"Ehem, baiklah, gue aja yang mulai," ucap Arsene. “Coba deh, gue tanya sama kalian berdua,” ucap Arsene membuat Alice dan Angga menatapnya. “Kalian udah kenalan selama tiga bulan ini kan? Apa kalian merasa cocok satu sama lain? Jawab dulu Ga, harus jujur demi masa depan!” seru Arsene.
Mata Angga membesar. Lidahnya terasa kelu meski hatinya bergetar.
“Umm, jujur. Gue ngerasa cocok sama Alice.”
“Apa yang membuat hati lu sreg sama sepupu gue?” tanya Arsene lagi, Alice menatap Angga meski wajahnya tertunduk. Jantungnya berdebar tidak karuan.
“Sebenarnya dari sebulan pertama kenalan, gue udah ngerasa sreg. Gue suka sifatnya yang tegas, easy going, tapi agak galak dikit. Gue juga suka karena lu bisa nerima nasihat kecil gue, sehingga lu putusin untuk berhijab dan ikut kajian, meski itu bukan untuk gue. Gue salut. Dan satu lagi, gue selalu minta petunjuk sama Allah, gue istikhoroh, dan hati gue semakin mantap milih lu, Al!” terang Angga yang tatapannya lurus ke bawah melihat tanaman di seberang matanya.
Jantung Alice semakin bergetaran. Tangannya basah karena gugup. Meski ia sudah tahu, karena Angga pernah mengatakan juga hal serupa di chat mereka. Tetapi mendengarnya langsung dari mulutnya, membuat hatinya tersentuh dan meleleh bersamaan.
“Kalau Kak Al gimana?” tanya Arsene kali ini. “Apa Kak Al sudah menaruh kecocokan pada sahabat aku?” tanya Arsene.
Alice berdeham menetralkan suasana hatinya yang canggung. Ia tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya sama sekali. Perempuan itu menarik nafasnya panjang.
“Gue …."
Angga memasang telinganya tajam-tajam.
“Gue tau, gue belum bilang apa-apa sama lu, Ga! Tetapi setelah selama ini gue berpikir dan berdoa sama Allah, sepertinya gue bakal terima lu jadi suami gue. Gue terima lamaran lu, Ga!” ucap Alice tersenyum kecil.
__ADS_1
Angga melebarkan matanya. Ia saling berpandangan dengan Arsene.
“Lu serius kan, Al?” tanya Angga tidak percaya.
“Iya. Gue serius. Gue bakal bilang sama papi mami. Gue tunggu kedatangan keluarga lu di rumah kakek minggu depan!”
“Minggu depan?!” tanya Angga lagi. Terkejut.
“Mau kapan? Besok?!” tantang Alice.
“Boleh!” jawab Angga tegas. “Nikah minggu depan!” imbuhnya.
Alice membuka mulutnya tidak percaya.
“Sssh sshh, bentar bentar!” Arsene berusaha membuat suasana kembali normal layaknya wasit.
“Angga lu serius?!” tanya Arsene.
“Gue gak main-main!” jawabnya tegas.
“Kak Alice siap? Besok lamaran, minggu depan nikah?!” tanya Arsene pada sepupunya.
Alice memandangi Zaara. Kemudian ia mengernyitkan matanya.
“Gue….”
Angga menunggu jawaban perempuan itu.
“Gue siap aja kayanya!”
“Yakin?!”
“Siap!” jawab Alice.
Wajah Angga terlihat sumringah.
“Tapi akad aja dulu. Resepsinya dibicarain lagi,” ucap Alice.
“Siap!” jawab Angga.
“Ya udah, semoga Allah meridhoi dan melancarkan semuanya,” ucap Arsene merangkul bahu Angga.
“Gue balik langsung ya? Eh lu mau mahar apa Al?” tanya Angga langsung.
Alice melirik ke kanan dan kiri.
“Apa ya? Mahar lu apa, Ra?” tanya Alice.
Zaara menunjukkan cincin di jari manisnya. “5 gram cincin emas!”
“Ya udah samain aja!” jawab Alice.
“Oke, yuk kita beli sekarang!” ajak Angga.
“Serius?” tanya Alice.
“Ya kan katanya mau nikah minggu depan. Gak ada waktu lagi nanti!” jelas Angga.
Alice menatap Arsene dan Zaara, meminta bantuannya lagi untuk mengantarnya.
“Ayooo!” seru Arsene semangat.
\=\=\=\=\=\=
Bonus Episode bersambung dulu
__ADS_1
Jangan lupa tetap LIKE, komen, dan Votenya
Makasiiih ^_^