
Alice termenung sendiri di dalam pikirannya. Ia mengakui Angga telah mencuri perhatiannya di awal pertemuannya. Laki-laki muda itu terlihat tampan apalagi dengan sifatnya yang ramah dan kenarsisan konyolnya. Mendengar pria itu aktif di LDK, membuat hatinya menciut tiba-tiba. Perempuan itu merasa tidak pantas bersanding dengannya.
Namun, penjelasan Arsene seolah telah membuka hatinya yang mengkerut itu. Hanya saja keraguan kini melandanya, apakah dirinya bisa berhijrah, mengikuti kajian, menutup aurat dengan sempurna, dan dekat dengan Allah?
Kekhawatiran akan ketidakkonsistenan menyebabkan dirinya kalut. Dulu saat ia SMA, ia pernah berhijab, meski hanya ke sekolah saja. Setelah pulang ke rumah atau untuk berjalan-jalan, ia tidak pernah memakai hijabnya. Ia kembali melepas hijabnya saat berkuliah hingga saat ini. Orangtuanya tidak pernah mempermasalahkan hal itu, meski sempat mengingatkannya beberapa kali. Oleh karena itu, dirinya memutuskan untuk tidak berhijab sampai saat ini.
Ia sadar perintah Allah bukan untuk dipermainkan. Hanya saja kadang orang-orang berpikir salah dan keliru. Karena tidak ingin mempermainkan agama, akhirnya mereka justru lebih memilih berbuat maksiat secara total. Padahal hal itu lebih lebih lagi menjerumuskan terhadap dosa, dan membuat mereka semakin jauh dari agama.
Alice menundukkan kepalanya di atas meja belajarnya. Ia tidak ingin Allah menghempaskannya dalam kemaksiatan sebelum terlambat. Arsene benar, dirinya harus berhijrah. Bukan untuk Angga, karena ia sama sekali tidak tahu pria itu apalagi masalah keimanannya. Ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri dan juga orangtuanya. Masalah jodohnya, biarlah Allah yang akan menuntunnya nanti.
Hati Alice bergetaran, apakah niatnya ini sudah lurus? Atau dirinya masih butuh waktu untuk berpikir. Yang jelas pikiran dan hati gadis itu tengah bergejolak.
\======
Zaara terlihat panik sambil terus menggendong anaknya yang berusia lima bulan. Ditepuk-tepuknya punggung bayi gemuk itu agar mereda tangisannya. Tetapi tidak kunjung berhenti. Suhu tubuhnya terasa panas, wajar jika Ryu tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri.
Zaara membawanya ke lantai bawah. Abi dan umi sedang tidak ada di rumah. Mereka menginap di rumah nenek karena Nenek Yasmin sedang sakit. Zayyan juga belum pulang karena ada kegiatan alam yang mengharuskannya untuk menjelajahi satu tempat yang indah untuk menaklukan adrenalin sekaligus mentadaburi alam.
“Ayah cepet pulang! Ryu nangis terus!” ucap Zaara pada dirinya sendiri.
“Ryu sayang, bobo ya!” Zaara menimang-nimang anaknya.
Tidak lama suara motor berhenti di depan pagar. Zaara merasa lega karena suaminya telah pulang siang itu. Lantas ia membuka kunci dan pintu untuk menyambut suaminya.
“Assalamu’alaikum…” ucap Arsene, ia membuka alas kaki dan menaruhnya di rak.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Zaara.
“Gimana Ryu?”
“Belum mau tidur, Abang! Tadi udah aku susuin tapi malah ditolak, kenapa ya?” ucap Zaara panik.
“Bentar aku cuci tangan dan kaki dulu!”
Arsene bergegas ke kamar mandi. Setelah itu ia menggendong anaknya yang masih terus menangis.
“Kamu coba kompres aja badannya. Mommy suka gitu waktu Kirei demam.”
“Pakai air hangat?” tanya Zaara.
“Iya!”
Zaara mengambil termos dan menuangkannya dalam sebuah wadah, mencampurkannya sedikit dengan air bersuhu normal. Lalu ia mengambil sebuah handuk kecil dan membawanya ke ruang tengah, dimana Arsene sedang menggendong anaknya.
Arsene membuka baju anaknya.
__ADS_1
“Tadi udah diukur suhunya?” tanya Arsene.
“38 derajat!” jawab Zaara.
“Kompres aja dulu untuk hari ini, kalau belum turun-turun kita ke dokter!”
Zaara mengangguk dan memeras handuk yang terasa hangat di tangannya itu. Arsene memangku Ryu saat Zaara menempelkan handuk itu pada ketiak anaknya.
Ryu menangis meronta-ronta. Mungkin terasa panas. Zaara tidak tega, tetapi Arsene menyuruhnya untuk tidak mencabut handuk itu. Ia sering melihat ibunya merawat adik-adiknya yang sedang demam dengan cara seperti itu.
“Lagi, Sayang!”
Zaara menempelkan handuk hangat itu pada tubuh Ryu yang lain setelah Arsene memberitahu titik-titik tubuh tertentu agar suhu panas tubuh Ryu segera normal.
“Sebentar lagi ya, Ryu sholeh!” ucap Arsene yang terlihat tenang meski anaknya terus menangis kencang. Setelah usai, Arsene membawa anaknya ke dalam kamar dan memakaikannya pakaian baru yang tipis. Tangisan Ryu sudah lebih tenang dari sebelumnya. Zaara memasuki kamar.
“Coba sekarang susui lagi. Dia pasti mau!” seru Arsene.
Zaara sudah bersiap dengan posisi menyusuinya di atas kasur. Melepas kancing bajunya dan mulai menyusui anaknya. Dengan lahap, akhirnya Ryu mau meminum air susu ibunya.
Zaara merasa lega seketika. Dielus kepala anaknya itu dengan lembut. Mata Ryu sudah sayu.
Arsene menatap lekat wajah istrinya. Ia tersenyum.
“Panik ya?” tanya Arsene.
“Sekarang udah tau kan? Yang penting jangan panik, karena kalau kamu panik jadinya gak bisa mikir. Ryu jadi bakal tambah panik juga. Demam itu biasa buat anak-anak. Jangan langsung mutusin ke dokter, kalau kita masih bisa mengantisipasi.”
Perhatian Arsene pada adik-adiknya membuat ia sangat tahu apa yang dilakukan oleh ayah dan ibunya jika mereka sakit. Bahkan Ajeng jarang sekali membawa anak-anaknya ke dokter jika dirinya masih bisa mengantisipasi. Orangtua memang harus selalu terbuka dengan informasi dan pengetahuan semacam ini. Arsene sudah belajar banyak dari penanganan Ajeng kepada Kirei dan Finn.
“Kamu udah makan, Sayang?” tanya Arsene selagi mengganti bajunya.
“Belum sempet.”
“Aku ambilkan ya? Tadi dapat bingkisan dari nenek karena kateringnya kebanyakan,” tawar suaminya itu.
Zaara mengangguk tersenyum. Arsene lekas turun ke lantai bawah untuk mengambilkan makan siang untuk istrinya. Ia membawa kotak makan yang sudah diberikan oleh neneknya dan kembali ke kamar.
“Aku suapin aja! Kamu pasti udah nahan lapar dari tadi kan?” Arsene menawarkan diri.
Zaara menyengir saja. Ryu memang belum selesai menyusu, karena sejak tadi bayi itu tidak minum. Arsene menyuapi istrinya.
“Gimana tadi Kak Al? Beneran Angga?” tanya Zaara setelah berhasil menelan makanannya.
“Iya dong!” jawab Arsene sambil memberikan suapan lain pada istrinya.
__ADS_1
“Kayanya Kak Al tertarik sama Angga. Tapi dia ngerasa gak percaya diri, gara-gara tau Angga anak LDK!”
Zaara yang terus mengunyah, menyimak cerita suaminya itu.
“Terus?”
“Aku ceritain aja pengalaman aku dulu waktu naksir kamu kaya gimana. Intinya aku ngajak dia hijrah tanpa mikirin siapa jodohnya. Karena Allah akan kasih yang terbaik dan sepadan dengan apa yang dia usahakan. Bahkan bukan perkara jodoh aja, tapi secara keseluruhan hidupnya.”
Zaara memberikan jempol untuk suaminya.
“Gimana respon Kak Al setelah kamu ngomong gitu?”
“Dia diem sih, tapi kaya merenung. Aku tau dia mungkin dia butuh waktu. Ya mudah-mudahan aja dia mau. Apa kamu mau bantu Kak Al kalau seandainya dia mau hijrah?”
“Mau banget! Tapi… aku gak mau menggurui, soalnya aku juga kan belum tentu lebih baik dari Kak Al.”
“Iya. Pelan-pelan aja, Sayang! Syukur-syukur kalau Kak Al itu kaya adik mentoring kamu yang terbuka hatinya sehingga mereka memutuskan untuk mengkaji bareng-bareng. Dakwah itu kan mirip kita yang sedang bercermin. Apa yang kita sampaikan kepada mereka, apakah diri kita juga sudah melakukannya?” Arsene mengingatkan istri dan dirinya sendiri.
“Iya. Kalau mereka udah membuka hati, insyaAllah apa yang kita sampaikan bakalan masuk. Beda kalau mereka tetap menutup diri. Sekeras dan segiat apapun kita coba mengingatkan, akan mental lagi,” ucap Zaara.
“Ya semoga Kak Al mau berubah.”
“Aamiin.”
Arsene menyuapi istrinya lagi hingga makanan di kotaknya itu habis. Nafsu makan ibu menyusui memang besar dan memang harus dipenuhi, agar ASI yang mengalir bisa deras.
Ryu sudah tertidur pulas dalam pelukan ibunya. Zaara berharap, anaknya itu bisa lekas turun demamnya hari ini juga. Ia menaruh Ryu di samping ranjangnya.
“Capek, Sayang?” tanya Arsene mengusap kepala istrinya.
“Ya gimana lagi, harus aku nikmati semua waktu ini. Gimana nanti pas aku udah masuk kuliah ya?”
“Mudah-mudahan umi sehat terus. Mau gimana lagi, kamu harus selesaikan kuliahnya. Itu janji kamu sama abi dan umi kan?” Arsene mengingatkannya.
“Iya. Aku udah janji, apapun yang terjadi aku bakal selesaikan kuliah aku. Termasuk ketika aku udah punya anak.”
“InsyaAllah gak lama. Kita harus lulus bareng-bareng ya?!” pinta Arsene menatap wajah istrinya.
“Aamiiin…”
\======
Bonus Episode bersambung, yess...
Hihihi sesuai janjiku sampai akhir bulan Agustus yaa
__ADS_1
Tetap dukung aku, dengan like, comment, dan vote
makasih banyaak