Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 29


__ADS_3

Angin sepoi meniup lembut, mendorong ombak lautan saling mengejar satu sama lain berlomba hingga mencapai pesisir pantai. Burung-burung menari di atas lautan lepas yang bebas. Langit dengan sabar menunggu senja yang cantik di ujung hari.


Siang itu diklat yang diikuti Ajeng telah selesai. Para panitia memberikan waktu hingga sore kepada para peserta diklat untuk bisa menikmati waktu santai di pantai atau untuk membeli oleh-oleh. Tentu saja hal itu tidak disia-siakan oleh para peserta. Mereka langsung berjalan menuju pantai untuk menikmati pemandangan yang ada.


Ajeng, Susan, Novi, dan Ardi berjalan berbarengan di sisi pantai, menikmati sentuhan-sentuhan ombak yang kadang terasa lembut atau justru menghempas kaki dan tubuh mereka dengan kasar. Mereka tertawa-tawa saja ketika hal itu terjadi. Keempatnya terlihat cukup akrab karena berasal dari jurusan yang sama.


Tak terasa matahari sudah di ujung langit, tenggelam ditelan lautan, semburat warna jingga keemasan terpancar sangat cantik. Keempatnya masih menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah. Novi dan Susan yang melihat Ajeng dan Ardi sedang berduduk bersampingan, akhirnya bersepakat memutuskan untuk meninggalkan keduanya.


"Jeng, aku ke toilet dulu ya sama Susan!" ucap Novi beralasan, "Sebentar kok!" serunya lagi.


"Oke!" jawab Ajeng singkat.


"Jeng, jagain Ardi, biar ga diculik Ratu Pantai Selatan!" seru Susan, membuat Ajeng menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara pria di sampingnya itu hanya terkekeh geli.


Rasa canggung pun mulai menyelimuti keduanya.


"Jeng, kalau aku main ke rumah kamu sekali-kali, boleh?" tanya Ardi ragu.


Mata Ajeng terbelalak.


"Ru...rumah mana?" tanya Ajeng memastikan, karena ia sendiri memang punya rumah dan juga rumah orang tuanya.


"Rumah orang tua kamu, tentunya, hehe!" jawab Ardi kaku.


"Oh, mau apa ya?" tanya Ajeng polos, benar-benar pikirannya tidak mengacu ke arah mana pun.


"Ya, main aja! Pengen gitu ketemu orangtua kamu, sambil ngobrol santai," jawab Ardi.


"Ooh.... boleh, boleh sih!" jawabnya polos lagi. Ia hanya ingat papanya itu pernah bertemu dengannya sekali, dan ternyata Ardi adalah anak dari salah satu klien papanya. Jadi, untuk mengobrol saja sepertinya tidak ada masalah.


"Makasih!" Ardi tersenyum lebar, ia menatap Ajeng lembut.


"Eh, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Ardi lagi.


"Kenapa?"


"Apa kamu ada target menikah dekat?" tanya Ardi membuat Ajeng menelan air ludahnya.


"Eh...eh itu, gimana ya? Aku belum tau sih!" jawabnya gugup.


"Santai aja sih, Jeng! Kayanya kalau ditanya nikah kamu selalu gelagapan," ujar Ardi yang tentu saja bisa menangkap kegugupan wanita itu.


"Hehe, agak sensitif soalnya," jawab Ajeng menyengir. "Kamu sendiri emang gimana?" Ajeng bertanya balik.


"Aku sih, ya kamu tau lah, usia aku udah matang. Kerja juga udah aman, jadi mau tunda sampai kapan lagi," jawab Ardi percaya diri.


"Iya ya, tinggal cari jodohnya aja dong! Udah ada calon?"


"Belum sih, tapi ada lah yang diincar!" jawab Ardi.


"Bagus dong, tinggal action aja ya?"


"Iya, cuma masih ragu aja sih, apa dianya mau sama aku atau enggak?" jawab Ardi grogi.


"Coba aja dulu, kan gak ada salahnya dicoba, kalau diterima alhamdulillah, kalau ditolak ya move on," ucap Ajeng tanpa beban.


"Iya sih, betul juga! Kalau ga dicoba kita gak akan pernah tau kan ya?"


Ajeng mengangguk tersenyum.


Ardi menatap wanita di sampingnya itu penuh harap. Meski wanita itu sepertinya tidak sadar, kalau selama ini, ialah wanita yang diincarnya itu. Padahal Ajeng sadar, makanya ia menjawab pertanyaan Ardi seolah wanita itu adalah bukan dirinya. Tentu saja, karena ia sudah bersuami.


"Pulang yuk, ah!" ajak Ajeng.


"Itu Susan sama Novi mana lagi, katanya sebentar!" ujar Ardi sambil celingukan mencari sosok dua orang rekannya.


"Ya udah tunggu sebentar lagi aja," ucap Ajeng.


"Ya itung-itung sambil nikmatin sunset kaya gini, cantik banget! Apalagi bareng perempuan cantik!" goda Ardi sambil meliriknya.


"Kenapa ya, cowok itu pada jago buat gombal?" tanya Ajeng, jarinya menepuk-nepuk dagunya seperti sedang berpikir.


"Emang siapa yang gombal?" tanya Ardi pura-pura tidak mengerti.


"Gak tau tuh!" Ajeng mendeliknya, membuat Ardi tertawa-tawa.


Tertangkaplah momen sesaat ketika Ardi menatap Ajeng sambil tertawa riang, yang dibalas tatapan dan cengiran Ajeng, berlatar belakang pemandangan laut dengan matahari terbenam yang indah.

__ADS_1


"Yes dapat, nih!"


"Sipp, keren banget lah! Langsung upload aja, Nov!"


"Siap! Misi perjodohan dimulai!"


"Jangan lupa tag akun mereka!"


[Begitu indahnya pemandangan sunset kali ini, semoga bisa datang lagi di lain hari] tulis Novi di kolom keterangan.


\=\=\=\=\=


Malam itu, kumpulan mahasiswa heboh Ferdian cs. masih menginap di kamar asramanya. Selepas pertandingan final melawan tim Sasun (Sastra Sunda), mereka sempat makan malam bersama untuk merayakan kemenangan tim mereka. Meski hanya makan pecel lele, tetapi nikmat makan sambil kumpul bareng teman-teman dekat adalah yang terbaik.


"Kamu ngasih tau Malik?" tanya Ridho yang berjalan di koridor kepada Ferdian.


"Kamu denger percakapan aku sama Malik tadi malam?" tanya Ferdian memastikan.


"Iya, gak sengaja kedengeran!"


"Iya, aku percaya Malik, kok!"


"Oh sip!" ujar Ridho.


Ferdian membuka kunci kamar asramanya, seketika itu kelima lelaki di belakangnya berebut masuk.


"Nonton lagi yuk!" ajak Ghani.


"Apaan, kalian pada molor pas nonton!" ejek Ferdian, mengingat Ghani dan Ridho tertidur pulas selagi menonton film.


"Wkwkwk! Nonton yang seru lah! Horor kek, atau thriller yang gore gitu!"


"Ah ogah gue kalau nonton yang ada potong-potong daging, mendingan nonton pas idul adha aja gue mah!" protes Syaiful.


"Jadi kambingnya aja sekalian, Pul!" celetuk Danu.


"Pilih aja lah sendiri!" ujar Ferdian kesal dan bingung pada pilihan kawan-kawannya.


Ferdian membuka akun whatsapp miliknya dan mengetikan pesan instan pada Ajeng.


[Kapan pulang? Aku jemput!] ketiknya.



[Enjoy the sunset, while heart desires something (Menikmati matahari terbenam, sementara hati ini berharap sesuatu)] tulisnya.


Ferdian tersenyum, rasanya ingin sekali memberi komentar : I am your desire, right? (Aku ini yang kamu inginkan, kan?). Namun ia urungkan niatnya itu dan malah melihat-lihat foto akun istrinya.


Iseng-iseng Ferdian memperhatikan kembali foto-foto wanitanya itu. Ia juga membuka kolom foto lainnya, dimana biasanya pemilik akun ditandai fotonya oleh akun orang lain.


BRAKKK!


Seketika kelima pemuda yang sejak tadi berdebat karena memilih film yang akan ditonton malam ini, menoleh heran pada Ferdian dan pada ponsel yang retak layarnya di depan mereka. Wajah Ferdian terlihat merah padam, otot leher dan rahangnya mengeras, matanya menyorot tajam, dan nafasnya terdengar kasar.


"Ari maneh kunaon (kamu kenapa)?!" tanya Syaiful heran, memecah keheningan.


Ferdian diam tak menjawab. Pandangannya menyorotkan amarah. Lelaki itu memang semengerikan itu ketika marah, membuat kawan-kawannya itu menjadi tegang karena serba salah. Ferdian menendang pintu kamar mandi, lalu mendudukan tubuhnya kembali di atas kasur. Ia mengacak-acakĀ  rambutnya sambil menghela nafas.


Ridho yang paling mengerti sahabatnya itu mendekatinya.


"Fer, tenang! Kenapa? Jangan buat kita bingung," ujar Ridho tenang, meski hatinya pun ikut tegang.


"Lo pada, buka akun instagram Miss Novi, deh!" perintahnya dengan nada ketus.


Malik membuka ponselnya dan mengikuti apa yang diperintahkan Ferdian. Sementara yang lain memperhatikan saja. Mata Malik terbelalak ketika menemukan foto itu, yang tentu saja membuat Ferdian menjadi marah seketika. Meski itu hanya foto Ardi dan Ajeng yang sedang berduaan di pantai, tetapi ia mengerti kawannya itu pasti merasa kesal dan cemburu.


"Apaan sih? Coba gue lihat!" Syaiful merebut ponsel milik Malik.


"Hahaha! Lo cemburu Men?!" seru Syaiful terbahak-bahak setelah melihat foto. Ferdian menatapnya tidak suka.


"Gitu aja cemburu! Sampai banting hp mahal Lo! Horang kaya mah bebas sih!" celetuknya lagi, membuat Ferdian beranjak berdiri dari duduknya


Baru saja Malik hendak menarik Syaiful, namun Ferdian justru lebih dahulu mendorong tubuh kawannya itu ke tembok.


"Lo ngomong jangan sembarangan!" seru Ferdian yang dikuasai amarah.


Malik dan Ridho berusaha memisahkan Ferdian yang mencengkram kerah Syaiful. Bukannya merasa terancam, Syaiful malah berucap lagi.

__ADS_1


"Lo tuh masih bocah manja, pengen dapetin Miss Ajeng, jangan mimpi! Jangan belagu!" ucapnya dengan kepala yang terangkat, karena kerah bajunya terus ditarik oleh Ferdian.


"Ajeng itu istri gue!!" seru Ferdian menatap Syaiful, seketika membuat kawan-kawan yang belum tahu membelalakan matanya terkejut.


"Hahahaahahaha!! Jangan mimpi Fer, lo kebanyakan halusinasi, makanya jadi gila!! celetuk Syaiful.


Ferdian mengepalkan tangannya, dan hendak mengangkat tangannya. Ridho langsung menahannya.


"Fer, tenang Fer! Lepasin Ipul, Fer! Dia gak tau apa-apa!" ujar Ridho menarik tubuh Ferdian dan mendudukannya di atas kasur.


Syaiful membenarkan kerah bajunya yang sedari tadi dicengkram oleh Ferdian, dan mendelik kesal pada kawannya itu.


"Apaan sih?! Kagak ngerti gue?!" tanya Danu yang kebingungan.


Ferdian mencoba menenangkan dirinya agar tidak dikuasai amarah.


"Fer?!" tanya Ridho, ia ingin memberitahukan semuanya pada kawan-kawannya itu agar tidak ada salah paham.


"Kasih tau aja, Dho!" ujar Ferdian tertunduk.


Semua kawannya memandang ke arah Ridho yang dari bahasa tubuhnya akan menjelaskan sesuatu.


"Jadi kawan-kawan, begini! Ferdian dan Miss Ajeng itu,.... sudah menikah! Sudah halal ya!" jelas Ridho.


"SERIUSAN?!!!" semua kawannya kecuali Malik, refleks berteriak. Mereka tidak pernah meragukan apapun yang dikatakan Ridho, karena kawan mereka itu terlalu jujur.


"Iya, aku salah satu saksinya, ya Men!" jawab Ridho tenang.


"Mana buktinya?! Buku nikah Lo mana, Fer?!" ketus Syaiful menatap Ferdian.


"Di apartemen gue! Mau lihat?!" jawab Ferdian yang sudah agak tenang.


"Lo punya apartemen? Dimana?" tanya Ghani.


"Itu apartemen baru gue sama Ajeng, di daerah Kenanga!"


"Buset! Apartemen modern yang 30 lantai itu?" tanya Ghani tidak percaya.


Ferdian mengangguk.


"Mana cepetan kasih bukti gue kalau kalian udah nikah!!!" seru Syaiful beringas.


"Hp gue rusak, ada fotonya di drive online gue! Buka aja akun gue di laptop!" jawab Ferdian.


Syaiful menatapnya tidak percaya, hatinya kesal dan tidak menyangka kalau kawannya itu sudah menikah dengan dosen kesayangannya. Ia langsung membuka laptop milik Ferdian dan mengakses data penyimpanan online Ferdian dan membukanya.


Danu, Ghani, dan Syaiful melihat foto-fotonya. Benar, foto pernikahan Ajeng dan Ferdian ada di sana, banyak sekali jumlahnya. Aura kebahagian tergambar jelas di wajah keduanya. Begitu juga buku nikah keduanya terdapat di sana. Hal ini membuat ketiganya tidak bisa menyangkal lagi kenyataan yang ada.


"Sorry Fer, gue gak maksud ngehina Lo!" ucap Syaiful kemudian.


"Gak apa-apa, bukan salah lo juga! Gue juga minta maaf ya, bikin kaget lo semua!" ujar Ferdian.


"Ya pupus sudah harapan gue untuk Miss Ajeng!!!" rengek Syaiful.


"Masih banyak dosen lain yang single tuh, ada Miss Novi dan Miss Susan!" celetuk Ghani, membuat Syaiful itu mengkerutkan wajahnya.


"Tenang, Fer! Lo udah dapetin Miss Ajeng! Pikirin caranya biar si Ardi itu gak deketin lagi!" ujar Malik menyemangati.


"Lagian lo aneh, yang namanya nikah itu diumumin, bukan disembunyiin, emangnya zina, kagak kan?!" kali ini Danu mengomentari.


"Ya kagak lah! Toh gue dijodohin sama ayah gue,"


"Kasih tau aja langsung sama si Ardi, kalau lo suaminya Ajeng! Clear kan?!" Ghani memberi ide yang memang sudah seharusnya dilakukan.


"Oke, gue bakalan kasih tau, kita lihat aja nanti gimana reaksinya! Tapi please, jangan kalian bocorin hubungan gue ini ke yang lain ya, Ajeng belum mau soalnya,"


"Kasian amat dah, ini suami disembunyiin macam simpanan aja!" celetuk Syaiful.


"PR sih buat gue, biar seharusnya dia bangga punya suami kaya gue,"


"Ya, semangat lah lo, Fer! Kita mah bantu doa aja," ucap Ghani.


Ferdian tersenyum lega melihat kawan-kawannya yang mengerti dirinya. Tetapi kini ponselnya rusak, jadi bagaimana bisa menghubungi Ajeng?


\=\=\=\=\=


Thanks for reading

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote


klik bintang 5 juga yaa ^^


__ADS_2