
Tak terasa waktu terus berjalan, bumi terus mengerjakan tugasnya untuk berputar mengelilingi sang pusat tata surya. Usia kehamilan Ajeng sudah memasuki bulan ke-4. Selama itu juga ia telah mengalami banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Bukan hanya berat badannya, melainkan juga tingkah lakunya. Ia cukup beruntung, di kehamilan pertamanya ini, ia tidak mengalami morning sickness yang parah. Tentu saja hal ini membantunya untuk tetap fit dalam kinerja mengajarnya.
Sementara itu, Ferdian tetap berusaha mengawal, menjaga, dan memberi perhatian penuh pada istrinya. Meskipun saat ini ia merasa traumanya belum terlalu mengganggunya. Mudah-mudahan saja memang tidak akan berpengaruh.
Ujian tengah semester para mahasiswa baru saja selesai. Ajeng turun dari ruang kerjanya dengan perlahan. Ferdian telah menunggunya di teras gedung dekanat. Siang itu mereka berencana untuk makan siang bersama di kantin. Selama kehamilan ini, Ajeng selalu meminta Ferdian untuk menemuinya saat jam makan siang. Entah karena bawaan hamil, ia selalu merindukan suaminya itu dimana pun berada. Bahkan ia meminta Ferdian mengajak kawan-kawannya saja jika memang ingin suasana terasa lebih seru.
Ferdian tersenyum melihat kedatangan Ajeng. Ajeng merangkul lengan suaminya dan berjalan beriringan ke kantin. Pemandangan Ajeng dan Ferdian memang selalu menarik perhatian. Ada yang berdecak kagum, ada juga yang memandang sinis. Rumor mengenai keadaan mereka pun sudah benar dan lurus, yaitu keduanya memang sudah menjalin ikatan pernikahan yang sah. Jadi tidak ada lagi rumor kalau keduanya masih berpacaran, kecuali pacaran halal. Tentu saja hal ini banyak membuat patah hati para mahasiswa dan mahasiswi yang menaruh rasa ketertarikan pada mereka berdua. Kecuali bagi mereka yang sama sekali tidak peduli atau bahkan memang tertutup dari informasi semacam itu. Bahkan kabar kehamilan Ajeng pun sudah tersebar.
"Miss Ajeng sehat?" tanya Ghani sopan ketika melihat istri kawannya itu sudah duduk di salah satu kursi meja makan.
"Alhamdulillah," jawab Ajeng tersenyum.
"Benaran kita gak apa-apa duduk di sini, Miss?" tanya Malik memastikan.
"Kalian santai aja, saya bukan mau ngajar kok!" ujar Ajeng terkekeh.
"Maklum ya kawan-kawan, ada yang bucin sekarang!" ucap Ferdian yang duduk di samping istrinya itu.
Tentu saja Ajeng jadi merasa tersipu dikatakan 'bucin' oleh suaminya itu. Ia memukul-mukul lengan suaminya itu.
"Asyik atuh dibucinin sama Miss Ajeng mah ya? Jadi iri gitu deh!" ucap Syaiful.
"Ssstt....sstt! Yuk kita makan, kasian bumil udah laper ya? Iya kan Sayang?" tanya Ferdian, sementara istrinya hanya tersenyum saja.
Sebenarnya Ajeng sendiri sudah membawa bekal. Hanya keenam pria heboh di sekitarnya saja yang memesan makanan di kantin. Ia mengeluarkan kotak makan dan botol minumnya dan menaruhnya di atas meja.
Melihat Ajeng bersama Ferdian dan kawan-kawannya yang berada di kantin, banyak mahasiswa memandang ke arahnya, lalu membisikan sesuatu di antara mereka yang senang sekali membicarakan orang-orang dengan lidahnya yang tajam.
"Ih itu Miss Ajeng gak risih apa dikelilingin cowok kaya gitu?" tanya seorang mahasiswi berambut panjang.
"Kan ada Ferdian, suaminya! Ya enggak lah, lagian Miss Ajeng duduk di pojok kok, terhalang sama Ferdian!" jawab seorang perempuan berhijab pendek yang melihat posisi Ajeng memang tidak dikerumuni oleh kawan-kawan Ferdian.
"Ah gue mah tetep aja risih. Tapi kok pesona Miss Ajeng jadi menurun gitu sih semenjak nikah sama Ferdian?" ucap mahasiswi berambut panjang lagi.
"Iya ya, aku pikir selera Miss Ajeng high quality gitu deh. Pria dewasa yang macho dan gagah gitu kaya Pak Ardi atau dosen baru itu," kali ini seorang mahasiswa berponi rata yang menimpali.
"Ya punya selera masing-masing kali! Lagian ngapain kalian ngeributin kehidupan orang? Kalau Miss Ajeng nyaman dan cinta sama mahasiswanya sendiri apa ngaruhnya buat kalian?" teman perempuan berhijab tadi malah mengingatkan keduanya.
"Iya emang gak ada ngaruhnya buat kita. Cuma buat seneng-seneng aja kok. Kan asyik ya ngomongin orang itu, hihi..." ucap mahasiswi berambut panjang cekikan bersama temannya yang berponi rata itu.
Temannya yang berhijab hanya mendelik kesal dan kemudian pergi meninggalkan kedua temannya tadi.
Begitulah kerja para lambe turah yang senang sekali mengomentari kehidupan orang lain, meskipun sebenarnya hati terdalam mereka begitu iri dengan kehidupan orang yang mereka bicarakan. Tak sedikit mahasiswa-mahasiswi yang justru lebih senang membicarakan perkara orang lain, dibandingkan mengurusi perkuliahan mereka sendiri. Jadilah, otak mereka sedikit terganggu, menyerap lambat mata perkuliahan, tetapi bisa memproses cepat ketika ada gosip. Ah, begitulah dunia.
"Kamu pulang jam berapa, Sayang?" tanya Ferdian setelah makan siang usai.
"Siang, tapi aku mau ke perpustakaan dulu, ngasih review jurnal yang aku pinjem," jawab Ajeng.
"Jadi nanti janjian di perpus aja ya?"
"Boleh!"
"Gak apa-apa kan nunggu aku sebentar?"
"Iya, enggak apa-apa kan udah biasa! Kamu mah terus aja nanya tiap hari!" ucap Ajeng, membuat laki-laki di depannya itu terkekeh.
__ADS_1
Ferdian memang selalu pulang lebih sore daripada Ajeng, apalagi di hari Kamis seperti saat ini. Hal ini membuat Ajeng akan menunggu kepulangan Ferdian. Biasanya ia menunggu di ruang kerjanya atau di perpustakaan atau bahkan di masjid kampus. Ia hanya ingin pulang bersama suaminya dan bukan dengan orang lain. Ia juga sudah tidak diizinkan oleh Ferdian untuk membawa motornya sendiri, karena khawatir dengan kesehatan janinnya.
"Ya udah, nanti hubungi aku aja ya!" seru Ferdian mengacak-acak rambut Ajeng.
"Ih kebiasaan deh!" dengus Ajeng merapikan rambutnya yang kini cat merahnya sudah memudar.
"Ini kan tanda kalau aku sayang kamu!" ucap Ferdian mengacak-acak rambut istrinya lagi.
"Fer!!!" seru Ajeng kesal.
Ferdian tertawa-tawa saja melihat istrinya yang kesal karena tingkahnya.
"Ya udah aku ganti deh!" ucap Ferdian.
Sejurus kemudian ia mengecup pipi kanan istrinya itu, membuat wanita itu merah padam wajahnya. Bagaimana tidak? Ferdian melakukannya di samping ruangan kelas, di koridor gedung perkuliahan dimana mahasiswa biasanya berlalu-lalang untuk masuk ke dalam kelas. Meskipun pada saat suaminya melakukan itu, kondisi koridor sedang sepi.
Ajeng mencubit lengan suaminya.
"Aku suka, tapi gak disini juga kali!" seru Ajeng cemberut.
Ferdian menahan tawanya.
"Ya udah aku kuliah dulu ya, Sayang! Lagi ngajar yang fokus ya, jangan pikirin aku terus!"
"Hmm...."
"Dede yang baik ya jangan bikin Bunda marah, Ayah belajar dulu, nanti malam kita ketemu yaa!" ucap Ferdian mengelus perut Ajeng, meskipun masih terasa kaku baginya, namun Ajeng selalu memintanya berbuat seperti itu.
Wajah Ajeng yang masih cemberut memang terlihat gemas. Apalagi pipi wanita itu kini lebih berisi, membuat Ferdian tidak tahan untuk mengecup satu pipinya lagi.
Sementara pria berkemeja kotak-kotak itu lari dari hadapan istrinya dengan menahan tawa.
\=\=\=\=
Sore itu, Ajeng keluar dari perpustakaan. Setelah mengembalikan kumpulan jurnal, ia sempat meminjam buku yang membahas tentang sejarah Islam pada abad pertengahan. Ia merasa pengetahuan sejarahnya tentang Islam mesti bertambah apalagi ia juga sudah membuat anggaran traveling bersama suaminya. Siapa tahu, suatu saat ia bisa mengunjungi Turki seperti yang ia katakan pada saat memainkan permainan kartu heart to heart di rooftop.
Ajeng mendudukan dirinya di kursi panjang yang terdapat di luar gedung perpustakaan. Sebentar lagi perpustakaan tutup, ia memutuskan untuk keluar terlebih dahulu sebelum para petugas menyuruh para pengunjung keluar. Ia berniat akan menunggu Ferdian di sini. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi keluar dan mengenakan sepatunya. Mereka tersenyum ramah menyapa Miss Ajeng yang duduk di kursi.
Seorang mahasiswa berambut ikal tampak repot memasukan buku-buku ke dalam tasnya. Ia menaruh sepatunya di atas keramik batu dan mendudukan dirinya di sebelah Miss Ajeng. Mahasiswi itu menengok ke sebelahnya, menyadari bahwa dosen favoritnya ada di sebelahnya, ia menyapanya ramah.
"Maaf Miss, saya duduk di sini ya?" izin Serena mengangguk.
"Iya, silakan!" jawab Ajeng ramah.
Ajeng sedang menatap layar ponselnya, sambil membuka beberapa aplikasi favoritnya.
"Miss Ajeng belum pulang?" tanya Serena selepas memasang sepatunya.
"Belum, sebentar lagi!" jawab Ajeng.
"Ooh..., oh iya Miss, kalau tugas dari Miss bisa saya kumpulkan sebelum kuliah minggu depan?" tanya Serena yang diajari grammar level 2 oleh Miss Ajeng.
"Boleh aja! Kamu udah selesai ngerjain tugasnya?"
"Udah Miss, kebetulan karena grammar pelajaran favorit saya, jadi saya bisa kerjain cepet tugasnya," jawab Serena.
__ADS_1
"Bagus dong! Kamu bawa tugasnya sekarang?"
"Iya Miss!" jawab Serena mengambil beberapa lembar kertas yang telah disatukan itu dari dalam tasnya. Kemudian ia menyerahkannya pada dosen di sampingnya itu.
"Ini, Miss!"
"Baik, nanti saya periksa ya!" ujar Ajeng menyelipkan kertas itu ke dalam tasnya.
"Miss lagi nunggu siapa?" tanya Serena sedikit penasaran.
"Lagi nunggu suami," jawab Ajeng tersenyum.
Mata Serena membesar dan ia merasa takjub. Ia merasa tidak percaya kalau dosen favoritnya itu ternyata sudah menikah.
"Jadi Miss Ajeng benaran udah nikah ya?" tanya Serena memastikan.
"Sudah!"
"Wah, selamat ya Miss! Apa dosen baru itu suami Miss Ajeng?"
"Dosen baru? Maksud kamu, Mister Andre?" Ajeng memastikan kalau Serena menganggap itu, karena memang hanya Andre dosen baru di jurusannya.
"Iya, soalnya Miss kayak akrab banget sama Mister Andre," jawab Serena polos.
Ajeng tertawa kecil mendengar ucapan polos Serena. Gadis itu menatapnya heran.
"Bukan kok!"
"Ohh ya?"
"Iya, Mister Andre cuma sepupu aja kok!"
"Ooh gitu ya?"
Ajeng mengangguk.
"Pak Ardi?" tanya Serena lagi, ia benar-benar ingin mengetahuinya.
"Bukan juga!" jawab Ajeng terkekeh.
Serena bertanya-tanya dalam hati. Seketika hatinya menjadi gugup dan berdebar. Rasa penasarannya masih berputar-putar. Wajahnya tertunduk, pikirannya masih berusaha menebak siapa suami Miss Ajeng.
"Yuk, Sayang!" ucap sebuah suara yang dikenal Serena.
DEG.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaaa :D
Yuk poinnya sumbangin buat Author, biar makin semangat lanjutnya ^^
Komen dan likenya juga yaa
Makasiiiih
__ADS_1