
(S2) Ep 4. Preman Sekolah
Arsene sedang berbincang hangat dengan kawan barunya, Fahri dan Abdul, yang ternyata cukup cocok dengannya. Ia jadi tidak harus terjebak dengan gadis aneh di sebelah kursinya itu. Ketiga remaja itu mengobrol di sebuah kursi di koridor di depan kelas mereka setelah pelajaran olahraga usai. Dengan keringat bercucuran di dahi, membuat Arsene mengibas kerah baju olahraganya.
“Lo keren main basketnya, Sen!” puji Abdul yang duduk di sampingnya.
“Ah biasa aja,” ucap Arsene merendah.
“Ajarin gue lah,” lanjut Abdul menyiku lengan kawan barunya itu.
Arsene tertawa, “banyakin latihan aja, nanti juga pasti jago!” jawabnya.
Tiba-tiba dua orang siswi menghampiri ketiga remaja itu.
“Nih, spesial buat atlet hari ini!” ujar Cinta menyodorkan sebotol air mineral pada Arsene.
“Thanks!” jawab Arsene dan langsung mengambil botol itu sambil menyungging salah satu sudut bibirnya.
“Sama-sama!” ucap Cinta tersenyum lebar.
Arsene meminum air mineral itu. Kebetulan sekali dan rezeki tidak boleh ditolak, hanya itu yang dipikirkannya. Sementara Cinta terlihat riang karena Arsene menerima pemberiannya, lalu kembali ke kelasnya.
“Lo jangan deket Cinta deh!” ucap Fahri memberitahu.
“Emang kenapa?” tanya Arsene penasaran sambil menutup botol air mineralnya.
“Dia kan gebetan si Ricky. Eh, pacar deng!” jawab Fahri mengoreksi perkataannya tadi.
“Ooh…”
“Ya meskipun cewek itu yang kegatelan sih ya,” ucap Fahri lagi.
“Eh… Pak Jono datang tuh! Yuk masuk!” pungkas Abdul menyenggol tubuh Arsene.
Ketiga remaja itu langsung masuk ke dalam kelas, masih mengenakan seragam olahraga mereka.
Arsene terduduk di atas kursinya, masih sibuk dengan keringatnya.
“Hei, kalau pelajaran Pak Jono tuh gak boleh pakai baju olahraga tau,” ucap Zaara memberitahu cowok yang ada di sebelahnya.
“Oh ya?”
“Iya, ntar kamu diusir lho!”
“Masa?” tanya Arsene tidak percaya.
Arsene menatap Fahri dan Abdul yang ternyata sedang terburu-buru mengganti baju di meja mereka tanpa malu di dalam kelas. Ia menepuk jidatnya.
Arsene mengeluarkan kemeja seragamnya dan menaruhnya di atas meja. Ia melirik ke depan dan ke arah kanannya, berharap tidak ada yang memperhatikan. Setelah memastikan aman, tangannya bersiap-siap menarik kaos olahraganya ke atas.
“Eh, eh… kamu mau ngapain?!” sergah Zaara sambil menutup wajahnya.
“Jangan lihat! Tutup mata kamu!” protes Arsene sambil berdesis, antara terburu-buru dan panik.
Kedua teman yang ada di depan mereka menoleh berbarengan, membuat Arsene menyengir kaku. Pria itu mencoba mengangkat lagi kaosnya, tetapi gurunya itu keburu masuk ke dalam kelas. Arsene menjatuhkan kepalanya di atas meja sambil menghela nafas.
“Gara-gara kamu sih, jadi saya gak sempet ganti baju!” protesnya pada Zaara.
“Lah, kenapa jadi nyalahin aku?! Bukannya ganti dari tadi, pergi ke toilet. Bukan sembarang buka di sini. Aurat tuh!” ucap Zaara mendengus.
Arsene berdecak kesal.
Pak Jono, guru Bahasa Indonesia, memperhatikan siswa didiknya. Melihat ada satu siswa yang memakai seragam berwarna biru muda, sontak tatapannya tertuju ke belakang, pada Arsene.
“Hey kamu!” panggil bapak berkumis tebal itu.
Arsene menelan salivanya, wajah bapak itu cukup menyeramkan apalagi dengan kumis tebal nan panjangnya itu.
__ADS_1
“Mana seragam belajar kamu?” tanyanya.
“Maaf Pak, saya izin ke toilet dulu, boleh?” pintanya ragu-ragu.
“Jam istirahat sudah habis! Harusnya kamu bisa ganti sejak tadi. Dah sana keluar!” seru Pak Jono mengangkat dagunya.
“Baik, Pak! Terima kasih!” jawabnya lalu mengambil seragam sekolahnya dan berjalan keluar.
Kawan-kawan sekelasnya tampak menahan tawa melihat kawan baru mereka jadi korban Pak Jono. Sementara Fahri dan Abdul merasa bersalah karena tidak memberitahukannya. Arsene berjalan menunduk sopan ketika melewati gurunya itu. Kemudian Pak Jono berdehem. “Setelah itu kamu tunggu saja di luar kelas!” ujarnya.
Lagi-lagi Arsene menelan salivanya, sambil memutar bola matanya. Sial, umpatnya dalam hati.
Setelah berganti pakaian, remaja lelaki tampan itu mendudukan tubuhnya di atas kursi kecil dekat dengan kantin, sambil memakan sebuah permen yang diambil dari sakunya. Ia terus mengumpat dirinya sendiri seraya menunduk. Tiba-tiba, tiga orang siswa berdiri di depannya.
“Lo, Arsene kan? Si murid baru itu?” tanya seorang siswa yang berdiri paling depan, membuat Arsene mendongakan wajahnya.
“Iya, kenapa?” tanyanya datar.
“Gue Ricky, dari kelas IPS. Ini Nicko dan Beni,” ucap pria dengan hidung lancip yang tidak terlalu mancung itu.
“Hai!” jawab Arsene memandang kepada tiga orang di depannya.
Ternyata ini yang dibilang oleh Fahri dan Abdul, preman sekolah Blackdot, entah apa tujuannya untuk menyapa. Bukankah ini masih jam pelajaran? Mengapa mereka justru ada di luar kelas?
“Bisa ikut gue?” tanya Ricki.
Namun sebelum menjawab pertanyaan itu, tubuh Arsene sudah diseret paksa oleh Nicko dan Beni yang berbadan kekar ke sebuah lorong kecil di samping toilet sekolah. Tubuh Arsene didorongnya hingga membentur tembok dan ditahan oleh lengan kekar Beni.
“Apa mau lo?!” tanya Arsene berusaha bersikap tenang.
“Katanya lo pindahan dari Singapura ya? Duit lo pasti banyak, ya kan?” tanya Ricky sambil terkekeh
“Lo mau duit?” tanya Arsene.
“Ngapain gue bilang kaya tadi kalau gue gak mau! Gue minta 200 aja! Gak banyak kan?” pintanya sambil mendekatkan wajahnya kepada Arsene.
Arsene membalas tatapan mata itu tidak kalah tajam, meski dirinya masih bersikap setenang mungkin.
“Gak usah bohong lo!” seru Ricky mendorong tubuh Arsene sehingga kembali membentur ke tembok. Arsene menahan rasa sakitnya di kepala.
“Gue gak bohong!” ucapnya tegas.
“Tetep aja gue gak percaya!”
“Terserah lah!”
“Ben, kasih dia pelajaran!” seru Ricky yang kemudian pergi berlalu meninggalkannya.
Beni, siswa dengan kulit gelap dan rambut sedikit ikal itu membunyikan tulang persendian tangannya. Ia tersenyum pada Arsene.
“Sorry, kita bikin noda dulu di wajah porselen lo ini!”
BUG! BUG! BUG!
Tiga bogem mentah berhasil didaratkan Beni ke pipi Arsene, membuatnya menjadi memar merah kebiruan. Arsene mengernyitkan satu matanya menahan nyeri di pipi kirinya. Kemudian kedua siswa itu pergi begitu saja meninggalkan Arsene yang memegangi pipinya.
Sial lagi! umpatnya dalam hati. Ia berjalan menuju kantin untuk membeli satu botol air dingin untuk mengurangi rasa nyeri di pipinya yang terasa berdenyut. Lalu berjalan menuju kelasnya yang ia yakini bahwa mata pelajaran Pak Jono telah selesai, sambil menutupi pipinya dengan kaos olahraga yang tadi dipakainya. Benar saja, pelajaran telah usai dan guru berikutnya belum masuk.
Zaara memandangi kawan sebangkunya yang berekspresi aneh, datar dan dingin, tidak seperti sebelumnya. Apa karena Pak Jono mengusirnya? Bisa jadi, asumsi sementaranya.
Arsene mendudukan diri dan memasukan baju olahraganya ke dalam tas, lalu menunduk.
“Pipi kamu kenapa berdarah?” tanya Zaara keheranan.
“Hah?” tanya Arsene mendongakan kepalanya, menatap Zaara.
“Itu, pipi kamu berdarah gitu?”
__ADS_1
Arsene menyentuh pipi yang terasa berdenyut tadi, ternyata benar ada sedikit darah di pipinya.
“Ah gak apa-apa!” jawabnya datar, lalu kembali menundukan kepala.
“Mau ke UKS? Aku anak PMR, ada obat luka di sana,” seru Zaara sedikit mengkhawatirkan kawannya itu.
“Gak usah, makasih!” jawab Arsene.
“Pipi kamu tuh bengkak, berdarah, dan memar. Makin cepat dapat penanganan, makin cepat sembuh!” lanjut Zaara lagi.
Arsene menghela nafas. Cerewet sekali cewek di sebelahnya ini, membuat ia terpaksa mengiyakannya. Setelah mendapat persetujuan, Zaara meminta izin kepada ketua kelas untuk pergi ke UKS bersama Arsene.
Keduanya berjalan cepat menuju UKS yang terletak di samping masjid. Zaara mengetuk pintu UKS yang terbuka. Namun tidak ada ‘dokter’ jaga di sana. Terpaksa gadis itu turun tangan sendiri untuk mengobati kawannya itu.
“Duduk di sana!” instruksi Zaara pada Arsene yang masih memegangi pipinya dengan botol air mineral. Arsene menurutinya saja, ia duduk di atas kasur di samping pintu masuk UKS. Sementara Zaara mengambil kompresan, obat luka, dan plester.
“Kamu habis berantem ya?” tebak Zaara memberikan sebuah handuk kecil berisi es batu pada Arsene agar pria itu sendiri yang memegangnya dan menempelkannya pada pipinya sendiri.
“Enggak!” jawab Arsene.
“Terus kenapa sampai memar berdarah gitu?” tanya Zaara lagi, kini ia membuka botol cairan berisi obat antiseptik.
“Gak perlu tahu!”
“Dih, galak!”
“Kamu lebih galak!” sahut Arsene.
Zaara berdecih saja sambil mencebikkan bibirnya.
“Coba aku lihat lukanya!” sergah Zaara. Arsene melepas kompresannya, lalu gadis berhijab itu memperhatikan pipi Arsene yang terluka. Ada beberapa luka dengan lapisan kulit terlepas, sehingga darah keluar dari sana. Tetapi karena sudah dikompres, darah itu sudah tidak lagi keluar.
Entah kenapa, hati Arsene begitu gugup dan tegang ketika gadis di hadapannya itu memperhatikan lukanya. Rahang pipinya mengeras saking gugupnya. Wajar, karena jarak mereka terasa begitu dekat, meskipun tampaknya Zaara bersikap biasa saja, karena niatnya membantu temannya.
“Aku obatin ya, awas jangan nangis kalau perih!” goda Zaara.
Arsene berdecak saja. Kali ini rasa gugupnya kembali menghampiri, ketika Zaara menepuk lembut pipi Arsene yang terluka dengan kapas yang sudah dilapisi dengan cairan antiseptik. Arsene mengernyitkan wajahnya menahan perih.
“Aww…” ucapnya refleks ketika obat itu mengenai luka yang paling parah.
“Eh maaf!”
Kemudian Zaara mengambil selembar plester luka dan menempelkannya di pipi Arsene.
“Sudah selesai,” ucap gadis itu bangga, lalu mundur beberapa langkah dari tubuh Arsene.
“Terima kasih banyak!” ucap Arsene melirik sebentar ke arah gadis yang sedang tersenyum bangga itu.
“Sama-sama.”
Arsene kembali berdiri, sambil menunggu Zaara yang sedang membereskan barang-barang yang dipakainya tadi.
“Yuk!” ajak Zaara setelah mencuci tangan.
Keduanya berjalan menuju kelas, Arsene membuat jarak dengan gadis berhijab yang berjalan di depannya itu. Ternyata guru pelajaran berikutnya belum juga masuk, membuat seisi kelas menjadi ribut dan terdengar dari luar.
Zaara melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, diikuti oleh Arsene. Seketika, banyak siswa menyorakinya ketika dua siswa itu masuk kelas berbarengan.
“Ciyeeee….”
Sontak hal itu membuat mata Zaara membesar terbelalak.
Ada apa ini?! tanyanya dalam hati.
\=====
Ehemm...
__ADS_1
Yuk like, vote, dan commentnya jangan lupa
terima kasiiiih ^_^