
Dedaunan kering berserakan di atas rerumputan hijau. Entah mengapa begitu indah terlihat meskipun rapuh, apalagi ketika sang angin menyentuh dedaunan lembut dan menjatuhkannya ke bumi, seolah girang menyambut pemuda yang sedang tersenyum sendiri itu sambil melangkahkan kakinya ke halaman parkir masjid.
Pria itu membawa motornya melaju menuju aspal jalanan yang panas, terlihat dari fatamorgana di ujung jalan. Akan tetapi entah mengapa, siang ini cuaca terasa sejuk baginya.
Ia masih tidak bisa berhenti menyembulkan senyumannya, meski hanya dirinya saja yang bisa melihatnya di balik spion yang mengarah ke wajahnya. Biarlah orang-orang tidak tahu betapa bahagia hatinya saat ini.
Meskipun begitu ia sadar, kebahagiaan ini masih semu, masih banyak batu pijakan yang mungkin akan menjadi penghalang di jalan yang akan ia lewati.
Pria itu telah tiba di rumahnya, dan langsung berlari kecil setelah mengucap salam. Senyuman lebar itu masih terus menempel di bibirnya, dan seseorang berhasil menangkapnya.
“Abang… gimana tadi kurbannya udah beres?” tanya Ferdian yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
Arsene menghentikan langkahnya. “Udah, Dad!” ucapnya singkat dan langsung menghampiri ayahnya untuk mengecup tangannya.
“Kamu kenapa sih senyum-senyum gitu?” tanya Ferdian penasaran, terus memandangi anaknya itu.
Arsene semakin melebarkan senyumnya, pria itu berlari ke dapur untuk meletakan daging yang sudah diberi oleh panitia karena orangtuanya menitip hewan qurban di masjidnya. Kemudian kembali pada ayahnya dan duduk di sampingnya. Ferdian sedang memindahkan stasiun televisi dengan remotenya, seperti kebiasaannya sejak dulu.
“Tebak Dad!” ucap Arsene kembali tersenyum.
Ferdian mengernyitkan keningnya sambil berpikir.
“Dapat daging banyak? Atau mau bikin sate nanti malem?” tebak ayahnya itu asal saja karena malas berpikir.
Arsene menyandarkan tubuhnya ke sofa, tanpa menanggapi tebakan salah ayahnya.
“Mana mommy?” tanya Arsene mencari sosok ibunya.
“Masih tidur siang sama Finn. Kamu mandi sana, bau!” seru Ferdian sambil menutup hidungnya.
“Udah barusan di masjid. Huh, masih bau ya?” Arsene mencubit lengan bajunya dan mengendusnya. Bau pakaiannya ternyata memang masih tercium bau daging. Sepertinya pakaiannya harus segera dicuci bersih dan diberi pewangi di laundry.
“Ya udah deh aku mandi dulu, nanti aku mau kasih tau sesuatu sama Mommy sama Daddy!” ucapnya beranjak dari sofa dan berlari menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.
Ferdian geleng-geleng saja melihat anak sulungnya, masih terheran-heran apa yang membuat Arsene tersenyum lebar seperti tadi. Dasar anak muda.
\=\=\=\=\=\=
Arsene tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia berjalan menuju meja belajarnya, lalu merogoh tas ransel di bagian depannya. Pria muda itu mengambil amplop berwarna ungu. Perekatnya telah lepas, karena memang ia sudah membukanya tadi di masjid. Arsene mendudukan dirinya di kursi kemudian membuka kembali amplop yang berisi tulisan tangan milik gadis yang mencuri hatinya.
Assalamu’alaikum wr. wb.
__ADS_1
Semoga Allah swt. senantiasa mengampuni dan melimpahkan keberkahan serta perlindungan kepada kita semua. Aamiin.
Abi sudah menerima surat kamu. Di sini aku mencoba menjawabnya. Aku gak akan berbasa-basi lagi. Bismillahirrahmanirrahim. Aku akan coba berta’aruf dengan kamu.
Terkait ta’aruf ini, nanti abi yang akan mengaturnya. Jadi, tunggu aja pesan dari abi aku.
Semoga Allah memudahkan segala ikhtiar kita. Aamiin.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Zaara
Meski surat itu berisi kata-kata singkat tidak seperti isi surat Zaara untuk Raffa, tetapi isinya membuat hati pria yang sedang membacanya terus saja tersenyum. Ia kembali melipat surat itu, memasukkan dalam amplop, dan menaruhnya di dalam laci mejanya.
Arsene menghela nafas, ia harus bersikap tenang dan tidak boleh terlalu senang. Zaara belum tentu menjadi jodohnya, ta’aruf ini masih sebatas ikhtiarnya. Ia tetap harus menggantungkan semua harapan pada Allah agar tidak kecewa dan mendapat hasil terbaik dari-Nya.
Arsene membuka ponselnya lalu menghubungi sebuah nomor di sana.
“Mommy udah bangun belum?” tanyanya pada ayahnya yang mungkin masih berada di ruang keluarga.
“Udah nih!”
“Yes, Abang turun!”
“Hati-hati Abang!” seru Ajeng.
Kini Arsene sudah duduk di atas karpet empuk di hadapan kedua orangtuanya, memasang wajah bahagianya lagi.
“Kenapa sih?” tanya Ajeng terheran-heran melihat anaknya itu. Ia menoleh pada suaminya yang mungkin sudah tahu, tetapi Ferdian pun mengangkat bahunya.
Bukannya menjawab, Arsene terus saja tersenyum.
“Abaaaang!” seru Ajeng lagi.
“Tau nih dari tadi pulang senyam-senyum terus!” ujar Ferdian.
Arsene terkekeh, lalu mulai berbicara.
“Zaara terima lamaran ta’aruf aku, Mom!” jawabnya pada akhirnya.
Ajeng dan Ferdian saling bertatapan terkejut.
“Kapan kamu ajukan ta’aruf? Kok gak bilang-bilang?!” sergah Ajeng tidak percaya anaknya itu melakukan sesuatu lagi yang membuatnya kaget.
__ADS_1
“Tiga hari yang lalu, Mom!” ucap anak muda itu menyeringai kaku.
“Masya Allah! Terus sekarang udah diterima?!” tanya Ajeng memastikan.
Arsene mengangguk cepat.
“Udah siapin CV lamaran ta’arufnya belum?” tanya Ferdian.
“CV?” tanya Arsene belum mengerti.
“Iya, Om Ridho waktu taaruf pakai CV gitu, biar kalian bisa jujur satu sama lain di sana terkait biodata diri, rencana masa depan, dan hal-hal kecil untuk saling mengenal.” Ferdian mengingat proses ta’aruf Ridho dan almarhumah Namira dulu.
“Aku belum bikin gimana dong?”
“Coba browsing aja dulu formatnya gimana. Terus sekarang lanjutannya gimana?” tanya Ferdian.
Arsene sejenak terdiam memikirkan curriculum vitae-nya.
“Hmm… Kata Zaara nanti abinya yang urus terkait ta’aruf kita!”
“Ya udah tunggu aja. Kamu jangan terlalu senang dulu, Cen! Ingat, serahkan pada Allah, biar kalau bukan jodoh gak terlalu kecewa.” Ferdian mengingatkan anak muda yang merangkul lututnya itu.
“Siap, Dad!”
Tiba-tiba suara notifikasi ponsel berbunyi. Itu bukan dari satu ponsel, melainkan tiga ponsel yang berbunyi bersamaan. Biasanya memang berasal dari grup chat whatsapp keluarga mereka. Ajeng membuka ponselnya, sebuah notifikasi whatsapp muncul. Ia terkejut karena telah diundang dalam sebuah grup dengan nama ‘Ta’aruf Zaara & Arsene’ oleh Karin.
“Buka hp kamu, Cen!” seru Ajeng masih memperhatikan grup itu.
Arsene membelalakan matanya ketika melihat sebuah grup dengan nama dirinya dan Zaara di sana. Bukan grup itu yang membuatnya terkejut, melainkan anggota di dalamnya yang berjumlah enam orang yaitu dirinya, Zaara, Om Reza, Tante Karin, dan kedua orangtuanya pun terdaftar di sana.
Bagaimana mungkin?!
“Oh My God! Is this serious?!” ucapnya tidak yakin sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas karpet.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung duluuuu
Ayo jangan lupa vote dan tipsnya yaa :D
Like dan komennya juga
Makasiiiih ^_^
__ADS_1